<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771</id><updated>2012-02-16T01:41:11.579-08:00</updated><title type='text'>StoryBook</title><subtitle type='html'>Where you find beginning and Ending</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>103</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-6138523287301393051</id><published>2009-07-14T02:13:00.000-07:00</published><updated>2009-07-14T02:14:18.780-07:00</updated><title type='text'>Star Fish</title><content type='html'>&lt;p&gt;Di suatu pagi, seorang pemuda berjalan menyusuri pantai, dia memperhatikan seorang anak laki laki yang mengambil sesuatu dari pasir dan dengan lembut melemparkannya kembali ke lautan. &lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sambil mendekati anak tersebut, dia bertanya,"Nak, apa yang engkau lakukan?"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Anak tersebut menjawab,"Melemparkan bintang laut ini kembali ke lautan". "Matahari akan segera bersinar dan gelombang laut akan segera reda, jika aku tidak melempar mereka kembali ke laut, mereka akan mati".&lt;/p&gt;&lt;p&gt;"Nak," kata pemuda itu, "tidakkah, kamu menyadari bahwa pantai ini panjang dan ratusan bintang laut yang terdampar di sana? Kamu tidak memberikan perbedaan apa-apa"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Setelah mendengar dengan sopan, anak tersebut membungkuk dan mengambil satu bintang laut, dan melemparkannya kembali ke laut. Kemudian, sambil tersenyum kepada pemuda itu, ia berkata," Aku memberikan perbedaan terhadap bintang laut tadi"&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-6138523287301393051?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/6138523287301393051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=6138523287301393051' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/6138523287301393051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/6138523287301393051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/07/star-fish.html' title='Star Fish'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-8694426315007809044</id><published>2009-06-26T06:22:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T06:25:22.178-07:00</updated><title type='text'>Honesty is Best Image</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span style=""&gt;Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar untuk berjualan asongan. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.&lt;/span&gt;&lt;span id="more-239"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya , pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari sipemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata “dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Uang untuk biaya rumah sakit,karena anak ibu baru saja mengalami kecelakan korban tabrak lari, saat ini anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak, kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Pagi ini ibu baru saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit, Ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Lalu anak kecil tersebut berkata,” benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan. “Ini bu !, milik ibu”. setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang , sesampai dirumah ia ceritakan semua kejadian yang baru saja dialami kepada Ibu nya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Lalu ibunya berkata , “ Benar anak ku ! “, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walau pun itu dijalanan , karena barang itu bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau pun kita miskin , namun kamu &lt;strong&gt;KAYA&lt;/strong&gt; dengan &lt;strong&gt;KEBAIKAN &lt;/strong&gt;dan &lt;strong&gt;KEJUJURAN&lt;/strong&gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Untuk apa kita memiliki kekayaan yang melimpah, sementara kita harus mengorbankan nyawa orang lain . “Kamu sungguh anak yang baik nak” , ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti mu.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p align="justify"&gt;&lt;span style=""&gt;Hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuran mu, kamu harus jaga terus kejujuranmu , karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana . “Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style=""&gt;(“Matamu adalah pelita tubuhmu, Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi gelap. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” )&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-8694426315007809044?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/8694426315007809044/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=8694426315007809044' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8694426315007809044'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8694426315007809044'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/06/honesty-is-best-image.html' title='Honesty is Best Image'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-525284265654810313</id><published>2009-06-26T06:21:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T06:22:25.446-07:00</updated><title type='text'>Little Girl with Beautiful Heart</title><content type='html'>&lt;p&gt;Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran. Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan. Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya banjir di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Aku mengambil mangkok dan berkata Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.&lt;span id="more-293"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata “boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta” agak ragu2 sejenak “akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku menjawab “oh pasti, sayang.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sindu tanya sekali lagi, “betul nih ayah ?”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;“&lt;span lang="id-ID"&gt;Yah pasti sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sindu menjawab : jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok. Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku coba membujuk: Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada yah, tak ada keinginan lain, kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu : tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Sindu dengan menangis berkata : ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku : janji kita harus ditepati. Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah gila? Tidak, jawabku, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi. Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak : Sindu tolong tunggu saya. Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu botak.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Aku berpikir mungkin”botak” model jaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: “anak anda, Sindu benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu, “bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Aku berdiri terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang kasih.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-525284265654810313?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/525284265654810313/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=525284265654810313' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/525284265654810313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/525284265654810313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/06/little-girl-with-beautiful-heart.html' title='Little Girl with Beautiful Heart'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-5075835920852344716</id><published>2009-06-26T06:18:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T06:19:27.284-07:00</updated><title type='text'>Broken Jar</title><content type='html'>&lt;p&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan satunya lagi tidak. Tempayan yang utuh selalu dapat membawa air penuh, walaupun melewati perjalanan yang panjang dari mata air ke rumah majikannya. Tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Hal ini terjadi setiap hari selama dua tahun. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan utuh&lt;br /&gt;merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugas dengan sempurna. Di pihak lain, si tempayan retak merasa malu sekali akan ketidaksempurnaanya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya ia dapat berikan.&lt;/span&gt;&lt;span id="more-295"&gt;&lt;/span&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;&lt;strong&gt;Setiap Orang Memiliki kekurangan&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak berkata&lt;br /&gt;kepada si tukang air, “Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya” “mengapa?” tanya si tukang air,”mengapa kamu merasa malu ?””Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa. Adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuat mu rugi.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Si tukang air merasa kasihan kepada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia menjawab,” Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.” Tuhan sanggup memakai kelemahan kita untuk maksud yang indah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali merasa sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali tempayan retak itu meminta maaf kepada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu tidak memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu ? tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan lain yang tidak retak itu ?” Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini, aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk dapat menghias meja majikan kita. Tanpa adanya kamu , majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Setiap orang memiliki cacat dan kelemahan sendiri. Kita semua adalah tempayan&lt;br /&gt;retak, namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk maksud&lt;br /&gt;tertentu. Dimata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma, Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Ketahuilah dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-5075835920852344716?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/5075835920852344716/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=5075835920852344716' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/5075835920852344716'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/5075835920852344716'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/06/broken-jar.html' title='Broken Jar'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-1010548377614596311</id><published>2009-06-26T06:16:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T06:17:02.084-07:00</updated><title type='text'>Seven Words</title><content type='html'>&lt;p&gt;Aku tahu aku berbeda dari anak-anak lain. Dan aku amat membencinya. Ketika aku mulai bersekolah, teman-teman selalu mengejekku, maka aku semakin tahu perbedaan diriku. Aku dilahirkan dengan cacat. Langit-langit mulutku terbelah.Ya, aku adalah seorang gadis kecil dengan bibir sumbing, hidung bengkok, gigi yang tak rata. Bila berbicara suaraku sumbang, sengau dan kacau. Bahkan aku tak bisa meniup balon bila tak kupejet hidungku erat-erat.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Jika aku minum menggunakan sedotan, air akan mengucur begitu saja lewat hidungku. Bila ada teman sekolahku bertanya, “Bibirmu itu kenapa?” Aku katakan bahwa ketika bayi aku terjatuh dan sebilah pecahan beling telah membelah bibirku.&lt;/span&gt;&lt;span id="more-299"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Sepertinya aku lebih suka alasan ini daripada mengatakan bahwa aku cacat semenjak lahir. Saat berusia tujuh tahun aku yakin tidak ada orang selain keluargaku yang mencintai aku. Bahkan tidak ada yang mau menyukaiku. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Saat itu aku naik ke kelas dua dan bertemu dengan bu Leonard. Aku tak tahu apa nama lengkapnya. Aku hanya memanggilnya bu Leonard. Beliau berparas bundar, cantik dan selalu harum. Tangannya gemuk. Rambutnya coklat keperakan. Matanya hitam lembut yang senantiasa tampak tersenyum meski bibirnya tidak. Setiap anak menyukainya. Tetapi tak ada yang menyintainya lebih daripada aku. Dan aku punya alasan tersendiri untuk itu.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Pada suatu ketika sekolah melakukan test kemampuan pendengaran; yaitu mendengar kata yang dibisikkan dengan satu telinga ditutup bergantian. Terus terang sulit bagiku untuk mendengar suara-suara dengan satu telinga. Tidak ada orang yang tahu akan cacatku yang satu ini. Aku tak mau gagal pada test ini lalu menjadi satu-satunya anak dengan segala cacat di sekujur tubuhnya.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Maka aku mencari akal untuk menyusun rencana curang.&lt;/span&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt; Aku perhatikan setiap murid yang ditest. Test berlangsung demikian: setiap murid diminta berjalan ke pintu kelas, membalikkan tubuh, menutup satu telinganya dengan jari, kemudian bu guru akan membisikkan sesuatu dari mejanya tulisnya. Lalu murid diminta untuk mengulangi perkataan bu guru. Hal yang sama dilakukan pada telinga yang satunya. Aku menyadari ternyata tak ada seorang pun yang mengawasi apakah telinga itu ditutup dengan rapat atau tidak. Kalau begitu aku akan berpura-pura saja menutup telingaku. Selain itu aku tahu dari cerita murid-murid yang lain bu guru biasanya membisikkan kata-kata seperti, “Langit itu biru” atau “Apakah kau punya sepatu baru?”.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Kini tiba pada giliran terakhir; giliranku. Aku berjalan ke luar kelas, membalikkan tubuh lalu menutup telingaku yang cacat itu dengan kuat tetapi kemudian perlahan-lahan merenggangkannya sehingga aku bisa mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh bu guru.&lt;/p&gt;&lt;p style="text-indent: 0.38in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Aku menunggu dengan berdebar-debar kata-kata apa yang akan dibisikkan oleh bu Leonard. Dan bu Leonard, bu guru yang cantik dan harum, bu guru yang aku cintai itu, membisikkan tujuh buah kata yang aku telah mengubah hidupku selamanya. Ia berbisik dengan lembut, “Maukah kau jadi putriku, wahai gadis manis?” Tanpa sadar aku berbalik, berlari, memeluk bu Leonard erat-erat, dan membiarkan seluruh air mataku tumpah di tubuhnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-1010548377614596311?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/1010548377614596311/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=1010548377614596311' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/1010548377614596311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/1010548377614596311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/06/seven-words.html' title='Seven Words'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-8920419163005798316</id><published>2009-06-26T06:13:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T06:14:48.269-07:00</updated><title type='text'>Angel or Demon?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.&lt;br /&gt;–John Scheffer-&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?&lt;br /&gt;&lt;span id="more-380"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:&lt;/p&gt;&lt;p&gt;—–&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;—–&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-8920419163005798316?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/8920419163005798316/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=8920419163005798316' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8920419163005798316'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8920419163005798316'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/06/angel-or-demon.html' title='Angel or Demon?'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-6347504160308009154</id><published>2009-06-26T06:11:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T06:13:05.302-07:00</updated><title type='text'>Robe of Happiness</title><content type='html'>Suatu ketika, tersebutlah seorang raja yang kaya raya. Kekayaannya sangat melimpah. Emas, permata, berlian, dan semua batu berharga telah menjadi miliknya. Tanah kekuasaannya, meluas hingga sejauh mata memandang. Puluhan istana, dan ratusan pelayan siap menjadi hambanya.&lt;p&gt;Karena ia memerintah dengan tangan besi, apapun yang diinginkannya hampir selalu diraihnya. Namun, semua itu tak membuatnya merasa cukup. Ia selalu merasa kekurangan. Tidurnya tak nyenyak, hatinya selalu merasa tak bahagia. Hidupnya, dirasa sangatlah menyedihkan.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-459"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, dipanggillah salah seorang prajurit tebaiknya. Sang Raja lalu berkata, “Aku telah punya banyak harta. Namun, aku tak pernah merasa bahagia. Karena itu, ujar sang raja, “aku akan memerintahkanmu untuk memenuhi keinginanku. Pergilah kau ke seluruh penjuru negeri, dari pelosok ke pelosok, dan temukan orang yang paling berbahagia di negeri ini. Lalu, bawakan pakaiannya kepadaku.”&lt;/p&gt;&lt;p&gt;“Carilah hingga ujung-ujung cakrawala dan buana. Jika aku bisa mendapatkan pakaian itu, tentu, aku akan dapat merasa bahagia setiap hari. Aku tentu akan dapat membahagiakan diriku dengan pakaian itu. Temukan sampai dapat! ” perintah sang Raja kepada prajuritnya. “Dan aku tidak mau kau kembali tanpa pakaian itu. Atau, kepalamu akan kupenggal !!&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Mendengar titah sang Raja, prajurit itupun segera beranjak. Disiapkannya ratusan pasukan untuk menunaikan tugas. Berangkatlah mereka mencari benda itu. Mereka pergi selama berbulan-bulan, menyusuri setiap penjuru negeri. Seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, seperti perintah Raja. Di telitinya setiap kampung dan desa, untuk mencari orang yang paling berbahagia, dan mengambil pakaiannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sang Raja pun mulai tak sabar menunggu. Dia terus menunggu, dan menunggu hingga jemu. Akhirnya, setelah berbulan-bulan pencarian, prajurit itu kembali. Ah, dia berjalan tertunduk, merangkak dengan tangan dan kaki di lantai, tampak seperti sedang memohon ampun pada Raja. Amarah Sang Raja mulai muncul, saat prajurit itu datang dengan tangan hampa.&lt;br /&gt;“Kemari cepat!!. “Kau punya waktu 10 hitungan sebelum kepalamu di penggal. Jelaskan padaku mengapa kau melanggar perintahku. Mana pakaian kebahagiaan itu!” gurat-gurat kemarahan sang raja tampak memuncak.&lt;br /&gt;Dengan airmata berlinang, dan badan bergetar, perlahan prajurit itu mulai angkat bicara. “Duli tuanku, aku telah memenuhi perintahmu. Aku telah menyusuri penjuru negeri, seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, untuk mencari orang yang paling berbahagia. Akupun telah berhasil menemukannya.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Kemudian, sang Raja kembali bertanya, “Lalu, mengapa tak kau bawa pakaian kebahagiaan yang dimilikinya?&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Prajurit itu menjawab, “Ampun beribu ampun, duli tuanku, orang yang paling berbahagia itu, TIDAK mempunyai pakaian yang bernama kebahagiaan.”&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Teman, bisa jadi, memang tak ada pakaian yang bernama kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan, seringkali memang tak membutuhkan apapun, kecuali perasaan itu sendiri. Rasa itu hadir, dalam bentuk-bentuk yang sederhana, dan dalam wujud-wujud yang bersahaja.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seringkali memang, kebahagiaan tak di temukan dalam gemerlap harta dan permata. Seringkali memang, kebahagiaan, tak hadir dalam indahnya istana-istana megah. Dan ya, kebahagiaan, seringkali memang tak selalu ada pada besarnya penghasilan kita, mewahnya rumah kita, gemerlap lampu kristal yang kita miliki, dan indahnya jalinan sutra yang kita sandang.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Seringkali malah, kebahagiaan hadir pada kesederhanaan, pada kebersahajaan. Seringkali rasa itu muncul pada rumah-rumah kecil yang orang-orang di dalamnya mau mensyukuri keberadaan rumah itu. Seringkali, kebahagiaan itu hadir, pada jalin-jemalin syukur yang tak henti terpanjatkan pada Ilahi.&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebab, teman, kebahagiaan itu memang adanya di hati, di dalam kalbu ini. Kebahagiaan, tak berada jauh dari kita, asalkan kita mau menjumpainya. Ya, asalkan kita mau mensyukuri apa yang kita punyai, dan apa yang kita miliki.&lt;br /&gt;Adakah “pakaian-pakaian kebahagiaan” itu telah Anda sandang dalam hati? Temukan itu dalam diri.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-6347504160308009154?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/6347504160308009154/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=6347504160308009154' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/6347504160308009154'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/6347504160308009154'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/06/robe-of-happiness.html' title='Robe of Happiness'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-2972815631332047725</id><published>2009-06-26T06:05:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T06:08:56.837-07:00</updated><title type='text'>Little Wing</title><content type='html'>Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang.&lt;div&gt;Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span id="more-445"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih.&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.”&lt;/div&gt;&lt;div&gt;Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan.Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat.&lt;/div&gt;Semoga bermanfaat&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-2972815631332047725?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/2972815631332047725/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=2972815631332047725' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/2972815631332047725'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/2972815631332047725'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/06/little-wing.html' title='Little Wing'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-4944321244398333198</id><published>2009-06-26T06:04:00.000-07:00</published><updated>2009-06-26T06:05:30.008-07:00</updated><title type='text'>Wooden Table</title><content type='html'>Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.&lt;br /&gt;~Author Unknown&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-4944321244398333198?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/4944321244398333198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=4944321244398333198' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/4944321244398333198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/4944321244398333198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/06/wooden-table.html' title='Wooden Table'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-513190497164536774</id><published>2009-05-23T07:27:00.001-07:00</published><updated>2009-05-23T07:27:44.628-07:00</updated><title type='text'>Dream Stealer</title><content type='html'>Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari&lt;br /&gt;sangat menonjol dibanding dengan rekan-rekannya, sehingga dia seringkali&lt;br /&gt;menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir, dengan apa&lt;br /&gt;yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi&lt;br /&gt;penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika,&lt;br /&gt;Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepuk tangan&lt;br /&gt;kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari&lt;br /&gt;luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat, dan dari tangan dinginnya telah&lt;br /&gt;banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali&lt;br /&gt;menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan&lt;br /&gt;jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang&lt;br /&gt;pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si gadis muda bertanya "Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia.&lt;br /&gt;Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari ? Saya ingin tahu&lt;br /&gt;pendapat anda tentang tarian saya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit", jawab sang pakar.&lt;br /&gt;Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu&lt;br /&gt;berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah&lt;br /&gt;kata pun. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis&lt;br /&gt;langsung berlari keluar. Pulang kerumah, dia langsung menangis&lt;br /&gt;tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian&lt;br /&gt;yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang&lt;br /&gt;pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam&lt;br /&gt;gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan lagi menari.&lt;br /&gt;Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga&lt;br /&gt;orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi keluarganya, dia&lt;br /&gt;bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Nampak&lt;br /&gt;sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang&lt;br /&gt;pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga&lt;br /&gt;anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Seusai acara, ibu ini&lt;br /&gt;membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan&lt;br /&gt;memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar. Sang pakar masih&lt;br /&gt;mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si ibu bertanya, "Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya.&lt;br /&gt;Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda bertahun-tahun&lt;br /&gt;yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda&lt;br /&gt;langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah&lt;br /&gt;katapun?". "Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat&lt;br /&gt;tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi&lt;br /&gt;penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba berhenti dari&lt;br /&gt;dunia tari", jawab sang pakar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. "Ini tidak adil", seru si ibu muda.&lt;br /&gt;"Sikap anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya&lt;br /&gt;bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari&lt;br /&gt;beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya&lt;br /&gt;begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari&lt;br /&gt;kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko !".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pakar menjawab lagi dengan tenang "Tidak .... Tidak, saya rasa saya&lt;br /&gt;telah berbuat dengan benar. ANDA TIDAK HARUS MINUM ANGGUR SATU BAREL UNTUK&lt;br /&gt;MEMBUKTIKAN ANGGUR ITU ENAK. Demikian juga saya. Saya tidak harus nonton&lt;br /&gt;anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya juga&lt;br /&gt;sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk&lt;br /&gt;mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi&lt;br /&gt;saya lagi keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan&lt;br /&gt;satu hal yang perlu anda camkan, bahwa ANDA MESTINYA FOKUS PADA IMPIAN ANDA,&lt;br /&gt;BUKAN PADA UCAPAN ATAU TINDAKAN SAYA. Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian?&lt;br /&gt;Ah, waktu itu kamu sedang bertumbuh. PUJIAN ITU SEPERTI PEDANG BERMATA DUA.&lt;br /&gt;ADA KALANYA MEMOTIVASIMU, BISA PULA MELEMAHKANMU. Dan faktanya saya melihat&lt;br /&gt;bahwa sebagian besar PUJIAN YANG DIBERIKAN PADA SAAT SESEORANG SEDANG&lt;br /&gt;BERTUMBUH, HANYA AKAN MEMBUAT DIRINYA PUAS DAN PERTUMBUHANNYA BERHENTI. SAYA&lt;br /&gt;JUSTRU LEBIH SUKA MENGACUHKANMU, AGAR HAL ITU BISA MELECUTMU BERTUMBUH LEBIH&lt;br /&gt;CEPAT LAGI. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya&lt;br /&gt;sendiri. TIDAK PANTAS ANDA MEMINTA PUJIAN DARI ORANG LAIN".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya anda pada&lt;br /&gt;waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari&lt;br /&gt;ini anda sudah menjadi penari kelas dunia. MUNGKIN ANDA SAKIT HATI PADA&lt;br /&gt;WAKTU ITU, TAPI SAKIT HATI ANDA AKAN CEPAT HILANG BEGITU ANDA BERLATIH&lt;br /&gt;KEMBALI. TAPI SAKIT HATI KARENA PENYESALAN ANDA HARI INI TIDAK AKAN PERNAH&lt;br /&gt;BISA HILANG SELAMA-LAMANYA ...".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-513190497164536774?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/513190497164536774/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=513190497164536774' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/513190497164536774'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/513190497164536774'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/05/dream-stealer.html' title='Dream Stealer'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-5189243363038361452</id><published>2009-03-15T01:05:00.000-07:00</published><updated>2009-03-15T01:07:51.249-07:00</updated><title type='text'>Pass Book</title><content type='html'>Priya menikah dengan Hitesh. Pada pesta pernikahan, ibu Priya memberinya sebuah buku tabungan. Di dalamnya berisi tabungan sejumlah Rs.1000 (Rp 246.000). Dia berkata, "Priya, terimalah buku tabungan ini. Gunakan sebagai buku catatan dari kehidupan pernikahanmu. Jika ada satu peristiwa bahagia atau yang bisa dikenang, masukkan sejumlah uang tabungan di dalamnya. Tulis kejadian yang kamu alami di baris catatan yang ada di sampingnya. Semakin besar kenangan terhadap peristiwa itu, masukkan uang tabungan yang lebih besar. Ibu sudah melakukan di awal pernikahanmu ini.. Lakukan selanjutnya bersama Hitesh. Saat kamu melihat kembali tahun-tahun yang telah berlalu, kamu akan mengetahui betapa bahagianya kehidupan pernikahan yang kamu miliki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priya memberitahukan hal ini kepada Hitesh setelah pesta usai. Mereka berdua setuju bahwa ini adalah ide yang sangat bagus dan mereka tidak sabar menanti saatnya untuk memasukkan tambahan uang tabungan ke dalam buku itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini yang mereka lakukan setelah beberapa waktu :&lt;br /&gt;- 7 Februari : Rs 100 (Rp 24.600), perayaan ultah pertama untuk Hitesh setelah menikah.&lt;br /&gt;- 1 Maret : Rs 300 (Rp 73.800), gaji Priya naik&lt;br /&gt;- 20 Maret : Rs 200 (Rp 49.200), berlibur ke Bali&lt;br /&gt;- 15 April : Rs 2.000 (Rp 492.000), Priya hamil&lt;br /&gt;- 1 Juni ; Rs 1,000 (Rp 246.000), Hitesh dipromosikan ... dan seterusnya ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi setelah beberapa tahun berlalu, mereka mulai beradu pendapat dan bertengkar untuk hal-hal yang sepele. Mereka saling diam. Mereka menyesal telah menikahi orang yang paling buruk di dunia ... tidak ada lagi cinta ... sesuatu yang sangat tipikal di masa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Priya berkata pada ibunya, "Ibu, kami tidak bisa bertahan lagi. Kami setuju untuk bercerai. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya telah memutuskan menikah dengan orang ini !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibunya menjawab, "Baiklah, apa pun yang kamu ingin kerjakan kalau sudah tidak bisa bertahan.. Tetapi sebelum kamu melangkah lebih jauh, tolong lakukan hal ini. Ingat buku tabungan yang ibu berikan saat pesta pernikahan kalian? Ambil semua uangnya dan belanjakan sampai habis. Kamu tidak bisa terus menyimpan catatan di buku tabungan itu untuk sebuah pernikahan yang buruk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priya berpikir bahwa itu benar. Jadi dia pergi ke bank, menunggu di antrian dan berencana menutup buku tabungan itu. Ketika menunggu, dia melihat catatan yang ada di buku tabungan di tangannya. Dia melihat, melihat, dan melihat. Kemudian ingatan akan semua kebahagiaan dan sukacita di masa-masa yang telah lewat muncul kembali di pikirannya. Air mata menggenang dan berurai di pipinya. Kemudian dia bergegas meninggalkan bank dan pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika sampai di rumah, Priya memberikan buku tabungan itu pada Hitesh, dan memintanya untuk memasukkan sejumlah uang ke tabungan itu sebelum mereka bercerai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari esoknya, Hitesh mengembalikan buku tabungan itu pada Priya. Dia menemukan tambahan tabungan sebesar Rs 5000 (Rp 1.230.000) dengan catatan di dalam buku tabungan: 'Ini adalah hari dimana saya menyadari betapa saya mencintaimu sepanjang tahun-tahun yang telah kita lewati. Betapa besar kebahagiaan telah kamu bawa untukku." Mereka berdua berpelukan dan menangis, dan meletakkan buku tabungan itu kembali di tempat semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda tahu berapa uang yang terkumpul saat mereka pensiun? Saya tidak bertanya pada mereka. Saya percaya uang bukan masalah lagi setelah mereka berhasil melalui tahun-tahun yang indah di sepanjang kehidupan pernikahan mereka..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * * * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat engkau jatuh, jangan melihat tempat di mana kamu jatuh, tetapi lihatlah tempat di mana kamu mulanya tergelincir. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;= Hidup adalah memperbaiki kesalahan-kesalahan =&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-5189243363038361452?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/5189243363038361452/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=5189243363038361452' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/5189243363038361452'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/5189243363038361452'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/03/pass-book.html' title='Pass Book'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-9077744835297203476</id><published>2009-03-10T05:27:00.000-07:00</published><updated>2009-03-10T05:28:46.601-07:00</updated><title type='text'>Greatest Archivement</title><content type='html'>Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik.Seorang Pak Guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas.Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan. " Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini.Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuat kalian bahagia ? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Murid-murid tampak saling pandang.Terdengar suara lagi dari Pak Guru," Ya, ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidup kalian ..."Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan Pak Guru itu menunjuk pada seorang murid." Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui ? Berbagilah dengan teman-temanmu ..."Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid," Seminggu yang lalu, adalah saat-saat yang sangat besar buat saya.Orang tua saya, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang saya impikan selama ini."Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu. " Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka, terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung. Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara,hingga terdengar suara dari arah belakang. " Pak Guru ... Pak, saya belum bercerita." Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;" Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua," ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu.&lt;br /&gt;" Apa hal terbesar yang kamu dapatkan ?" ujar Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali. " Keberhasilan terbesar buat saya, dan juga buat keluarga saya adalah ... saat nama keluarga kami tercantum dalam Buku Telepon yang baru terbit 3 hari yang lalu." Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, " Ha ? Saya sudah sejak lahir menemukan nama keluarga saya di Buku Telepon. Buku Telepon ? Betapa menyedihkan ... hahaha ..." Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, " Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu ?" Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan. Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan. " Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara. " Ya, memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah saya dapatkan. Dulu, Papa saya bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi." Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan." Tapi, kini Papa telah berubah. Dia telah mau menjadi Papa yang baik buat keluarga saya. Sayang, semua itu tidak butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja. Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Papa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini, Papa berhasil. Bukan hanya itu, Papa juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi." " Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluarga saya ada di Buku Telepon ? Itu artinya, saya tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan Papa untuk terus berlari. Itu artinya, saya tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang saya sayangi. Itu juga berarti, saya tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, saya, dan juga keluarga saya, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya." Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir. " Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang saya dapatkan nanti ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk. Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;b&gt;Mereka juga belajar satu hal : " Bersyukurlah dan berbahagialah setiap kali kita mendengar keberhasilan orang lain.Sekecil apapun ...Sebesar apapun ..."&lt;/b&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-9077744835297203476?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/9077744835297203476/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=9077744835297203476' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/9077744835297203476'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/9077744835297203476'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/03/greatest-archivement.html' title='Greatest Archivement'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-3439533885975463524</id><published>2009-02-18T17:22:00.000-08:00</published><updated>2009-02-18T17:24:05.471-08:00</updated><title type='text'>Overcome the Injustice</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:Times New Roman;font-size:100%;"&gt;Ada&lt;br /&gt;seorang anak perempuan kecil bernama Kinh, dia lahir di  Vietnam utara&lt;br /&gt;zaman dahulu. Orang tuanya berharap kelahiran seorang pria,  namun yang&lt;br /&gt;lahir adalah perempuan, walaupun demikian mereka tetap bahagia  dan&lt;br /&gt;memberikan nama kecil Kinh kepadanya. Kinh berarti "respek,  yang&lt;br /&gt;disanjung tinggi". Sebuah nama indah. Anda menghormati orang  lain,&lt;br /&gt;binatang, termasuk menghormati kehidupan tumbuhan dan  mineral.&lt;br /&gt;Menghormati kehidupan, menghormati kehidupanmu juga kehidupan  mereka&lt;br /&gt;dekat denganmu. Kinh seorang perempuan cilik cantik, seperti  setangkai&lt;br /&gt;bunga. Kinh sering bersama ibunya berkunjung ke wihara dekat  desanya&lt;br /&gt;untuk memberikan persembahan bunga teratai kepada Buddha  dan&lt;br /&gt;mendengarkan ceramah dharma yang diberikan oleh biksu. Kinh  senang&lt;br /&gt;mendengar dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kink punya niat besar untuk menjadi  biksu,&lt;br /&gt;karena dia melihat bahwa biksu hidup bahagia dan bisa menolong  banyak&lt;br /&gt;orang. Dia ingin menjadi biksu, karena berlatih, tinggal di  wihara,&lt;br /&gt;semua tampak begitu indah dan damai. Ia senang dengan sikap para  biksu,&lt;br /&gt;pergi dan datang dengan penuh kelembutan, menyentuh segala  sesuatu&lt;br /&gt;dengan penuh hormat. Ia begitu senang terhadap dharma walaupun ia  masih&lt;br /&gt;sangat kecil. Dia bertanya-tanya apakah bisa menjadi seorang  biksu,&lt;br /&gt;tentu saja mereka jawab tidak, tidak untuk perempuan. Ajaran  Buddha&lt;br /&gt;baru saja masuk ke Vietnam dan hanya ada wihara untuk biksu,  mungkin&lt;br /&gt;ada wihara untuk biksuni namun sangat langka. Pada waktu itu belum  ada&lt;br /&gt;pesawat terbang, tidak ada bus, jadi Kinh tidak terpikir untuk pergi  ke&lt;br /&gt;tempat lain. Dia tidak bahagia karena tidak bisa menjadi biksu  hanya&lt;br /&gt;karena dia seorang perempuan. Tampaknya dia frustasi, dia percaya  bahwa&lt;br /&gt;perempuan juga bisa berlatih seperti seorang biksu, hidup bahagia  dalam&lt;br /&gt;dharma seperti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinh tumbuh menjadi seorang  perempuan&lt;br /&gt;cantik dan orang tuanya ingin dia menikah dengan seorang pria di  desa&lt;br /&gt;tetangga. Pada zaman dahulu, pernikahan diatur oleh orang tua, dan  anak&lt;br /&gt;wajib menuruti, karena itu adalah kebijaksanaan orang tua, mereka  tahu&lt;br /&gt;siapa yang cocok buatmu. Harapan tertinggi orang tua adalah  melihat&lt;br /&gt;anak perempuanya menikah dengan seorang pria yang punya masa  depan&lt;br /&gt;cerah. Ada sebuah keluarga dari desa tetangga mengirim surat  lamaran,&lt;br /&gt;pria itu bernama Sung Tin yang berarti "cendekiawan kebaikan,  murid&lt;br /&gt;kebaikan", saya tidak tahu seberapa baik pria itu, seberapa cerah  masa&lt;br /&gt;depannya, tampaknya pria ini terlahir di keluarga cukup berada  dan&lt;br /&gt;status sosial tinggi. Tampaknya pria ini memiliki masa depan  cerah,&lt;br /&gt;karena dia adalah seorang murid yang baik dan mungkin saja telah  lulus&lt;br /&gt;ujian dan menjadi pegawai tinggi pemerintahan. Para pelajar  zaman&lt;br /&gt;dahulu sangat mendambakan kelulusan ujian dan dipilih menjadi  menteri&lt;br /&gt;oleh raja, atau ketua propinsi, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kinh  harus&lt;br /&gt;menuruti kehendak orang tuanya untuk menjadi istri Sung Tin,  walaupun&lt;br /&gt;niat sesungguhnya ingin menjadi biksuni. Tidak ada jalan lain  baginya,&lt;br /&gt;waktu itu sangatlah berbeda dengan zaman sekarang ini, jika  seorang&lt;br /&gt;perempuan ingin menjadi biksuni, dia bisa saja menelepon dan  mencari&lt;br /&gt;tahu di mana ada wihara untuk biksuni, namun Kinh tidak  punya&lt;br /&gt;kesempatan untuk bertanya. Oleh karena itu, ia mengubur  keingiannya&lt;br /&gt;dalam-dalam dan menuruti kehendak orang tuanya untuk menikah  dengan&lt;br /&gt;Sung Tin. Tentu saja sang istri wajib menyokong pendidikan  suaminya,&lt;br /&gt;menjaga dan mendukung suaminya agar lulus ujian, itulah  kewajiban&lt;br /&gt;seorang istri pada zaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Sung Tin cukup kaya,  jadi&lt;br /&gt;Kinh tidak perlu bekerja keras untuk menyokong suaminya. Namun  perlu&lt;br /&gt;anda ketahui bahwa banyak istri yang masih muda harus menjual beras  di&lt;br /&gt;pasar atau memanggul beras pada musim panas demi mendapatkan uang  untuk&lt;br /&gt;mendukung suaminya untuk sekolah. Tentu saja kondisi demikian  tidak&lt;br /&gt;terjadi pada Kinh karena dia menikah ke sebuah keluarga kaya. Jadi  Kinh&lt;br /&gt;hanya mengerjakan pekerjaan dapur, bersih-bersih, memasak,  menjahit&lt;br /&gt;pakaian, dan sebagainya. Kinh dididik oleh orang tuanya menjadi  seorang&lt;br /&gt;yang bisa merawat rumah dengan telaten. Suatu hari ketika Kinh  sedang&lt;br /&gt;menambal pakaian, suaminya sedang belajar di sisinya  kemudian&lt;br /&gt;ketiduran. Seorang pelajar berupaya untuk belajar  sebanyak-banyaknya,&lt;br /&gt;suaminya juga demikian, belajar siang dan malam hari,  pada hari itu&lt;br /&gt;suaminya belajar di sisinya dan ketiduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Kinh  melihat&lt;br /&gt;Sung Tin, dia melihat ada beberapa kumis yang tidak tercukur  rapi,&lt;br /&gt;dengan penuh cinta kasih ia menggunakan sepasang gunting mencoba  untuk&lt;br /&gt;meratakan cukurannya. Namun, tiba-tiba suaminya terbangun dan  dalam&lt;br /&gt;keadaan begitu, suaminya menyangka bahwa Kinh mencoba membunuhnya,  oleh&lt;br /&gt;karena itu ia berteriak. Saya tidak tahu seberapa dalam cinta  mereka&lt;br /&gt;berdua, seberapa dalam mereka saling mengerti, namun inilah  yang&lt;br /&gt;terjadi. Orang tuanya datang dan bertanya, "Mengapa engkau  berteriak?"&lt;br /&gt;Ia menjawab, "Ketika aku sedang ketiduran, ketika aku bangun,  aku&lt;br /&gt;melihat dia menggunakan sepasang gunting seperti itu, jadi saya  tidak&lt;br /&gt;tahu." Orang tuanya bilang, "Bisa saja seorang istri tidak setia  akan&lt;br /&gt;membunuh suaminya, karena jatuh hati pada pria lain, oleh karena  itu&lt;br /&gt;kami tidak ingin kamu sebagai menantu kami lagi. Kami akan  mengirim&lt;br /&gt;anda pulang ke rumah." Kinh mencoba untuk memberi penjelasan,  namun&lt;br /&gt;orang tua Sung Tin tidak percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya berlatih  melihat&lt;br /&gt;secara mendalam atas kejadian ini, saya melihat bahwa pengusiran  itu&lt;br /&gt;terjadi bukan karena kecurigaan, namun penyebabnya adalah  kecemburuan.&lt;br /&gt;Setelah menikah, pria itu selalu menghabiskan waktu bersama  istrinya,&lt;br /&gt;dan orang tuanya merasa kehilangan anaknya. Wanita yang baru masuk  ke&lt;br /&gt;keluarga itu telah memonopoli seluruh kehidupan anaknya,  jadi&lt;br /&gt;kecemburuan muncul dalam diri orang tuanya tanpa disadari. Jadi,  mereka&lt;br /&gt;menulis surat untuk keluarga Kinh dan meminta mereka untuk  menjemput&lt;br /&gt;balik anak perempuannya. Bayangkan betapa pedih derita keluarga  itu.&lt;br /&gt;Bagi satu sisi keluarga, anak perempuannya sangat sempurna,  jujur,&lt;br /&gt;setia. Ini sebuah ketidakadilan, dan ini merupakan  ketidakadilan&lt;br /&gt;pertama yang harus dia dera, terima, dan telan mentah-mentah.  Akhirnya&lt;br /&gt;mereka membawa pulang Kinh, mereka percaya bahwa Kinh tidak punya  niat&lt;br /&gt;untuk membunuh suaminya, ini sungguh sebuah kemalangan, dan  mereka&lt;br /&gt;bertiga sangat menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Gong]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun Kinh  mendapat&lt;br /&gt;pelajaran berharga dari kehidupan suami-istri. Dia melihat bahwa  banyak&lt;br /&gt;orang hidup dalam persepsi keliru. Bahkan dalam keluarga  kaya&lt;br /&gt;sekalipun, mereka saling menyebabkan penderitaan. Cinta Kinh  dalam&lt;br /&gt;keluarga itu tidak bisa membuat dirinya bahagia, tidak bisa  membuat&lt;br /&gt;dirinya mekar seperti bunga. Cinta seperti itu, kehidupan seperti  itu&lt;br /&gt;tidak memberikan kepuasaan kebutuhan hidup terdalamnya. Tiba-tiba  niat&lt;br /&gt;untuk menjadi biksuni kembali muncul. Dia menghabiskan beberapa  malam&lt;br /&gt;untuk berpkir bagaimana menjadi biksuni agar bisa berlatih di  wihara,&lt;br /&gt;agar dia bisa sepenuh hati terjun ke dalam dharma dan  mendedikasikan&lt;br /&gt;sepanjang hayatnya untuk berlatih dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam  ia&lt;br /&gt;memutuskan untuk menyamarkan dirinya menjadi seorang pria supaya  bisa&lt;br /&gt;diterima di sebuah wihara. Tentu saja dia tidak pergi ke wihara  dekat&lt;br /&gt;dengan desanya karena takut ada orang yang mengenalinya, kalau  ketahuan&lt;br /&gt;maka tentu saja akan ditentang oleh keluarganya. Oleh karena itu,  dia&lt;br /&gt;pergi sangat jauh karena cukup banyak wihara di tempat-tempat lain.  Ia&lt;br /&gt;berjalan kaki sekitar 100 mil agar tidak ketahuan orang tuanya.  Dia&lt;br /&gt;tidak memberitahu siapapun termasuk sahabatnya atas niatnya itu.  Kalau&lt;br /&gt;saja ia memberitahu sahabatnya, tentu saja orang tuanya akan  pergi&lt;br /&gt;mencari di setiap wihara dan membawanya pulang, dia akan  ketahuan&lt;br /&gt;seketika itu juga, dia menjaga ketat rahasia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu  hari,&lt;br /&gt;Kinh kabur dan menghilang dengan meniggalkan beberapa barangnya  beserta&lt;br /&gt;sepucuk surat yang berisi, "Ibunda dan Ayahnda, Aku punya sebuah  niat&lt;br /&gt;yang sangat aku cinta, aku akan mengerjakannya, mohon maafkan  saya&lt;br /&gt;karena tidak bisa tinggal di rumah untuk menjaga kalian berdua,  karena&lt;br /&gt;ketetapan hati saya sudah begitu kuat." Anda tahu bahwa tekad  itu&lt;br /&gt;adalah Bodhicitta, tekad besar untuk berlatih dharma dan  menghadirkan&lt;br /&gt;kebahagiaan bagi banyak orang, di banyak tempat orang menderita  dan&lt;br /&gt;terjebak dalam persepsi keliru, mereka melakukan ketidakadilan  terhadap&lt;br /&gt;sesamanya setiap hari. Ia tidak ingin mengulangi kehidupan yang  sama&lt;br /&gt;lagi, dia ingin menjadi biskuni. Setelah berjalan sekitar 100 mil,  dia&lt;br /&gt;menemukan sebuah wihara bernama Phap Van, "Awan dharma", tidak  jauh&lt;br /&gt;dari Hanoi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menyamar sebagai seorang pria, ia memohon  untuk&lt;br /&gt;bertemu dengan kepala wihara. Dia ikut mendengarkan ceramah dharma  dan&lt;br /&gt;sangat tersentuh, dia menunggu sampai semua orang pulang, ia  mendekati&lt;br /&gt;biksu itu dan mengutarakan niatnya untuk bergabung menjadi  anggota&lt;br /&gt;sangha monastik, samanera. Biksu itu pun minta dia duduk dan  berkata,&lt;br /&gt;"Anak muda, mengapa engkau ingin masuk anggota sangha?" Dia  berkata,&lt;br /&gt;"Oh guru, Aku melihat segala sesuatu tidak kekal, tidak ada yang  bisa&lt;br /&gt;berlangsung selamanya. Semua ini seperti mimpi, bagaikan kilat.  Ketika&lt;br /&gt;saya memandang ke langit, aku meliat awan berbentuk anjing,  begitu&lt;br /&gt;cepat awan itu berubah wujud, sekarang aku melihat awan itu  sudah&lt;br /&gt;berubah bentuknya menjadi pakaian. Semua orang mencoba untuk  memperoleh&lt;br /&gt;ketenaran, memperoleh keuntungan dari dunia ini dan tampaknya  mereka&lt;br /&gt;tidak bahagia. Aku ingin kebahagiaan sesungguhnya, aku percaya  bahwa&lt;br /&gt;hanya dharma bisa memberikan aku kedamaian dan kebahagiaan."  Setelah&lt;br /&gt;mengutakan alasan itu, biksu itu mengucapkan selamat kepadanya,  "Anak&lt;br /&gt;muda engkau telah mengerti ajaran tentang ketidakkekalan aku  berharap&lt;br /&gt;kamu bisa sukses dalam latihan biksu. Kinh diizinkan untuk menetap  di&lt;br /&gt;wihara itu, tiga bulan kemudian ia ditahbiskan menjadi  samanera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama dharmanya adalah Kinh Tam. Ia mempertahankan nama Kinh,  "rasa&lt;br /&gt;hormat" dan biksu itu menambahkan Tam "Intisari" di belakang  namanya.&lt;br /&gt;"Intisari rasa hormat". Semua muridku mendapat nama  belakang&lt;br /&gt;"Intisari", "Sumber paling inti", "Pintu hati (inti)" dan semua  adalah&lt;br /&gt;inti "hati", jadi mereka memiliki nama belakang sama.&lt;br /&gt;Kinh  Tam&lt;br /&gt;selalu berlatih dengan baik dan rajin. Ketika belajar sutra, ia  sangat&lt;br /&gt;cepat mengerti dan memperoleh manfaat besar dalam kehidupan  monastik.&lt;br /&gt;Gurunya sangat mencintainya dan selalu percaya dia adalah seolah  anak&lt;br /&gt;laki-laki. Samanera muda itu sangat rupawan, walaupun dia  menyamar&lt;br /&gt;sebagai seorang pria, walaupun dia tidak mengenakan perhiasan emas  atau&lt;br /&gt;parfum dan sejenisnya, dia tampak begitu menawan, seorang  samanera&lt;br /&gt;rupawan, kondisi demikian membawa dampak bahaya baginya. Tidak  jauh&lt;br /&gt;dari wihara itu ada sebuah desa, ada seorang gadis dari keluarga  kaya,&lt;br /&gt;dia selalu datang ke wihara bersama ibunya setiap bulan gelap  dan&lt;br /&gt;penuh, mereka mempersembahkan bunga, dupa dan sebagainya. Gadis  itu&lt;br /&gt;melihat samanera muda itu, seketika itu juga dia jatuh cinta  padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku&lt;br /&gt;tidak yakin jatuh cinta pada pandangan pertama gadis itu  karena wajah&lt;br /&gt;cantik samanera itu, wajahnya tentu saja menawan, namun ada  sesuatu&lt;br /&gt;lain di balik samanera muda itu, ia berlatih perhatian murni  sangat&lt;br /&gt;baik, kita memanggilnya "samanera", ia berlatih meditasi jalan,  minum,&lt;br /&gt;dan melakukan segala sesuatu dengan penuh perhatian, oleh karena  itulah&lt;br /&gt;ia tampak begitu rupawan. Mereka yang hidup di tengah-tengah  masyarakat&lt;br /&gt;tidak begitu rupawan, mereka selalu tergesa-gesa, lari ke sini dan  ke&lt;br /&gt;sana dengan begitu cepat, mereka tidak punya kebebasan sama  sekali.&lt;br /&gt;Wajah relaks, kedamaian yang tertampak di wajahmu tercerminkan  dari&lt;br /&gt;cara kamu melakukan segala sesuatu, apakah melalui cara kamu  duduk,&lt;br /&gt;berjalan dan oleh karena itulah gadis kaya itu langsung jatuh  cinta&lt;br /&gt;pada "samanera" itu pada pandangan pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gadis kaya  itu&lt;br /&gt;bernama Mau, Mau berarti "warna", warna apa? Saya tidak tahu,  saya&lt;br /&gt;tidak menyalahkan gadis itu karena dia jatuh cinta pada samanera  itu&lt;br /&gt;karena tampang rupawannya. Anda boleh menyebut dia "tampan", namun  dia&lt;br /&gt;lebih tampan daripada sekedar tampan, dia tampak menawan karena  ada&lt;br /&gt;kedamaian dalam hatinya. Jadi, jika ada seorang gadis yang jatuh  cinta&lt;br /&gt;pada biksu, ini tentu saja bukan hal yang luar biasa, hal  demikian&lt;br /&gt;selalu saja terjadi. Saya ingat, suatu ketika ada seorang pria  datang&lt;br /&gt;ke Plum Village dan bertanya kepada Sister Jina, "Anda begitu  cantik,&lt;br /&gt;mengapa anda mau menjadi biksuni? Sungguh sayang sekali."  Setelah&lt;br /&gt;berdiam sejenak dan berpikir, Sister Jina membalas, "Jika  engkau&lt;br /&gt;melihat bahwa saya ini cantik, itu dikarenakan saya sudah  menjadi&lt;br /&gt;biksuni, apabila saya tidak menjadi biksuni, mungkin saya  tidak&lt;br /&gt;secantik yang engkau lihat".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya rasa itu kejadian  nyata,&lt;br /&gt;ketika engkau menjadi biksu atau biksuni, engkau menjadi cantik  dan&lt;br /&gt;tampan. Engkau dihiasi oleh kedamaian, perhatian penuh  kesadaran,&lt;br /&gt;latihan dharma dan oleh sebab itulah engkau memancarkan  sejenis&lt;br /&gt;kecantikan yang sangat sulit ditemukan dalam masyarakat. Jadi,  saya&lt;br /&gt;tidak menyalahkan Mau sama sekali. Jika saya adalah Mau, mungkin  saya&lt;br /&gt;juga bisa jatuh cinta pada samanera itu. Mau mencoba untuk  berbicara&lt;br /&gt;dengan samanera itu, mencoba untuk mencari kesempatan untuk  berbicara&lt;br /&gt;berdua, namun samanera itu selalu menghindar, Mau sangat  frustasi.&lt;br /&gt;Kadang-kadang Mau mencoba untuk menebak ke mana samanera itu  akan&lt;br /&gt;pergi, dan menunggu dia di sana, namun ketika samanera itu  melihat&lt;br /&gt;gadis itu, ia langsung berubah haluan dan pergi. Mau mencoba  berulang&lt;br /&gt;kali menyatakan cintanya terhadap samanera muda itu, namun tekad  dalam&lt;br /&gt;hatinya sangat kuat untuk terus berlatih sebagai  monastik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau&lt;br /&gt;sangat frustasi, dia tidak tahu bagaimana  mentransformasikan perasaan&lt;br /&gt;cintanya, dia tidak mengerti dharma, latihannya  sangat dangkal, hanya&lt;br /&gt;pergi ke wihara memberikan persembahan pisang, nasi  pulut manis, bunga&lt;br /&gt;dan bersujud di depan altar. Dia tidak tahu bagaimana  berlatih untuk&lt;br /&gt;menjaga nafsu keinginannya, kemarahannya, dan sebagainya.  Apabila&lt;br /&gt;engkau ke wihara, seharusnya engkau belajar dharma, engkau  perlu&lt;br /&gt;merubah dirimu dengan cara berlatih dharma, jangan seperti gadis  Mau.&lt;br /&gt;Cinta nafsunya begitu besar kepada samanera itu, dia begitu  frustasi.&lt;br /&gt;Suatu hari, ketika orang tuanya tidak ada di rumah, dia  memanggil&lt;br /&gt;pelayan pria masuk ke kamarnya, pelayan itu tinggal di  rumahnya,&lt;br /&gt;mengurus kebun dan pekerjaan rumah, pada malam itu bulan purnama,  Mau&lt;br /&gt;tidak sanggup menahan cinta nafsunya lagi, dia memanggil pelayannya  dan&lt;br /&gt;mengizinkannya untuk melakukan hubungan badan dengannya, kemudian  Mau&lt;br /&gt;membayangkan bahwa pelayan itu adalah samanera muda itu. Dalam  kisah&lt;br /&gt;sejarah disebutkan dengan jelas bahwa Mau setengah sadar,  dia&lt;br /&gt;membanyangkan pelayan itu sebagai samanera muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemalangan  pun&lt;br /&gt;telah terjadi, dan beberapa bulan kemudian Mau merasa dia telah  hamil,&lt;br /&gt;ia mencoba untuk menutupinya agar tidak ketahuan orang tuanya,  namun&lt;br /&gt;semakin lama semakin jelas, orang tuanya bertanya, "Anakku, apa  yang&lt;br /&gt;terjadi pada dirimu? Engkau tidak mau makan, engkau tidak mau  makan&lt;br /&gt;nasi, namun hanya makan makanan asam saja." Mau membalas, "Tidak  ada&lt;br /&gt;apa-apa, saya baik-baik saja, saya sehat, mungkin darah saya  perlu&lt;br /&gt;pemurnian." Beberapa hari kemudian tetua desa memanggil seluruh  sesepuh&lt;br /&gt;desa bersama orang tua Mau, seluruh desa sudah mengetahui bahwa  seorang&lt;br /&gt;gadis hamil tanpa suami. Mereka memanggil Mau dan bertanya siapa  ayah&lt;br /&gt;sang anak diperutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau berpikir lama, pelayan itu  sudah&lt;br /&gt;diusir dari rumahnya, walaupun saya berkata jujur, tidak ada orang  mau&lt;br /&gt;percaya. Kepala desa bilang bahwa Mau harus bicara jujur.  Seandainya&lt;br /&gt;Mau menyebut samanera muda itu, maka dia punya kesempatan  untuk&lt;br /&gt;menjadikan dia sebagai suami resminya, jadi dia berpikir  sebaiknya&lt;br /&gt;bilang bahwa ia tidur bersama samanera Kinh Tam yang berlatih di  Wihara&lt;br /&gt;Phap Van. Jadi Mau bilang, "Para tetua, saya sering pergi ke wihara  dan&lt;br /&gt;jatuh cinta pada seorang samanera bernama Kinh tam. Kami berdua  tak&lt;br /&gt;sanggup membendung cinta yang begitu besar, oleh karena itu  kami&lt;br /&gt;melakukan kesalahan ini, mohon maafkan kami berdua"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para  sesepuh&lt;br /&gt;desa memanggil seluruh warga wihara, biksu, samanera dan beberapa  orang&lt;br /&gt;yang tinggal di wihara itu. Ketika Kinh Tam tiba, dia diberitahu  bahwa&lt;br /&gt;Mau menyatakan dia telah tidur bersamanya sehingga sekarang  sudah&lt;br /&gt;hamil, dan para sesepuh desa bilang, "Kinh Tam, engkau samanera  muda,&lt;br /&gt;bertekad untuk menjadi biksu, mengapa engkau tidak berlatih  peraturan&lt;br /&gt;kamu dengan baik? Engkau tidur bersama gadis muda di desa. Apa  lagi&lt;br /&gt;yang bisa engkau jelaskan?" Samanera muda itu membalas, "Saya  menjaga&lt;br /&gt;peraturan saya dengan baik, saya tidak pernah tidur bersama siapapun  di&lt;br /&gt;desa ini, mohon pertimbangkan baik-baik, sangat tidak adil  bagiku,&lt;br /&gt;mohon pengertian, mohon berbelas kasih. Aku tidak pernah melakukan  hal&lt;br /&gt;begitu." Ketika sesepuh itu kembali konfirmasi kepada Mau,  ia&lt;br /&gt;bersikeras menyatakan bahwa samanera itu telah tidur bersamanya  dan&lt;br /&gt;akhirnya hamil. Samanera muda itu tetap menolak, "Saya  seorang&lt;br /&gt;samanera, berlatih ketat dalam peraturan, saya tidak pernah  berbuat&lt;br /&gt;demikian, Buddha, Dharma, dan Sangha menjadi saksi atas  kejujuranku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya,&lt;br /&gt;mereka harus menggunakan hukuman cambuk.  "Engkau harus berbicara jujur,&lt;br /&gt;kalau tidak engkau akan dicambuk 30 kali.  Engkau harus mengaku telah&lt;br /&gt;tidur bersama Mau." Mereka mengikat samanera muda  itu di sebuah tiang&lt;br /&gt;dan mencambuknya 30 kali. Hukuman seperti inilah yang  dilakukan pada&lt;br /&gt;zaman dahulu. Cambuk itu sangat keras dan darah pun mulai  mengalir&lt;br /&gt;membasahi jubahnya. Namun dia tetap tidak menyerah, dia tetap  bilang&lt;br /&gt;bahwa "Ini kekeliruan, aku tidak bersalah, mohon pertimbangkan  ulang."&lt;br /&gt;Mau melihat kejadian itu dan ia bilang, "30 cambuk cukup." Mau  merasa&lt;br /&gt;kasihan melihat samanera muda itu, karena dia orang kaya maka  bisa&lt;br /&gt;memohon keringanan. Samanera itu diizinkan pulang, ketika tiba  di&lt;br /&gt;wihara, orang lain ingin membantu merawat lukanya, namun dia  bilang,&lt;br /&gt;"Jangan, aku bisa menjaga diriku sendiri, saya bisa membalut  lukaku,&lt;br /&gt;aku akan merawat luka ini sendiri," karena dia tidak ingin orang  lain&lt;br /&gt;mengetahui rahasianya bahwa dia sebenarnya adalah seorang wanita,  dia&lt;br /&gt;bukanlah seorang pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah merawat lukanya yang  disebabkan&lt;br /&gt;oleh cambukkan, dia pergi menghadap gurunya, kemudian gurunya  bilang,&lt;br /&gt;"Anakku, aku tidak tahu, aku tidak pasti, aku tidak tahu apakah  engkau&lt;br /&gt;telah berbuat demikian atau tidak, aku sungguh tidak tahu, jika  engkau&lt;br /&gt;telah berbuat seperti itu, aku harap engkau memulai lembaran  baru&lt;br /&gt;secara mendalam setiap hari, jika engkau tidak melakukannya,  mohon&lt;br /&gt;berlatih kesabaran (Kshanti Paramita) dan mencoba untuk menemukan  suka&lt;br /&gt;cita di dalam latihan." Ini yang disampaikan oleh gurunya. Oleh  karena&lt;br /&gt;kejadian itu, para komunitas wihara memohon Kinh Tam diasingkan  ke&lt;br /&gt;ruang dekat gerbang wihara dan tidak tinggal bersama monastik  lainnya.&lt;br /&gt;Anda tahu bahwa Kinh Tam diperintah untuk tinggal sendirian di  ruang&lt;br /&gt;terpisah, ruang dekat gerbang wihara sehingga masyarakat tidak  bisa&lt;br /&gt;menyalahkan sangha secara keseluruhan, karena dia berada dalam  status&lt;br /&gt;tersangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seandainya saya adalah guru Kinh Tam, saya tidak  tahu&lt;br /&gt;apakah saya juga akan mengizinkan Kinh Tam untuk tetap tinggal  bersama&lt;br /&gt;dalam satu gedung dengan sangha atau tidak. Saya tidak tahu  karena&lt;br /&gt;zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang ini, orang zaman  dahulu&lt;br /&gt;penuh dengan kecurigaan dan sebagainya. Saya punya cukup  pengertian&lt;br /&gt;untuk mengetahui apakah murid saya melakukan sesuatu yang buruk  atau&lt;br /&gt;tidak karena saya mencoba untuk menjalin komunikasi baik dengan  muridku&lt;br /&gt;dan berlandaskan pengertian dalam, perhatian murni, saya bisa  tahu&lt;br /&gt;apakah murid saya melakukannya atau tidak, karena saya bukan  menjadi&lt;br /&gt;guru untuk menyalahkannya, namun saya akan berada di sana  untuk&lt;br /&gt;membantunya, jadi muridku akan berkata jujur  kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika&lt;br /&gt;bayi itu lahir, Mau tidak tahu harus berbuat apa. Dia  tidak ingin orang&lt;br /&gt;tahu bahwa bayi itu adalah bayi sang pelayan rumahnya,  kalau orang lain&lt;br /&gt;tahu, maka ini akan membawa reputasi buruk kepada  keluarganya. Dia&lt;br /&gt;lebih baik memilih mati daripada harus mengatakan bahwa dia  telah tidur&lt;br /&gt;dengan pelayan rumahnya. Kejadian seperti ini tidak sanggup dia  hadapi,&lt;br /&gt;demikian juga keluarganya tak sanggup menerima kenyataan itu.  Engkau&lt;br /&gt;telah berbuat kesalahan, engkau telah bertindak keliru, namun  engkau&lt;br /&gt;tak sanggup mengaku kesalahan itu dan hanya melemparkan tanggung  jawab&lt;br /&gt;kepada orang lain, hal demikian selalu terjadi setiap hari.  Akhirnya&lt;br /&gt;Mau membawa bayinya kepada Kinh Tam, dia membawa bayinya ke ruang  dekat&lt;br /&gt;gerbang wihara dan bilang, "Ini anakmu, terimalah" Kemudian  Mau&lt;br /&gt;meletakkan bayi itu di tangga dan pergi. Bayi itu terus menangis,  Kinh&lt;br /&gt;Tam merasa, "Bayi itu diletakkan di situ begitu saja, jika saya  tidak&lt;br /&gt;merawatnya, siapa lagi yang akan merawatnya? Saya berlatih belas  kasih&lt;br /&gt;dan pengertian, jika saya tidak menjaga dan melindunginya, siapa  yang&lt;br /&gt;mau melakukannya?" Jadi Kinh Tam bilang, "Biarkahlah aku  yang&lt;br /&gt;merawatnya!" dan dia memungut bayi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[Gong]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayi itu  kelaparan dan Kinh Tam tak punya susu, jadi dia&lt;br /&gt;terpaksa membawa bayi itu ke  desa dan mencoba untuk meminta susu.&lt;br /&gt;Setiap hari dia pergi ke masyarakat dan  meminta susu untuk bayi itu.&lt;br /&gt;Ada orang yang sangat tersentuh oleh tindakannya  dan ada pula mereka&lt;br /&gt;yang bilang, "Bagaimana mungkin dia berlatih sebagai  monastik apabila&lt;br /&gt;ia melakukan hal demikian, tidur dengan wanita dan wanita  itu&lt;br /&gt;menyerahkan bayi kemudian dia harus menerima tanggung jawab  merawat&lt;br /&gt;bayi, mencoba untuk mengasuh anak itu sebagai ayah, bagaimana  mungkin&lt;br /&gt;seseorang berlatih dharma seperti itu?" Kinh Tam sedih  karena&lt;br /&gt;masyarakat tidak mengerti situasinya, sementara dia tetap  berlatih&lt;br /&gt;kesabaran karena dia merasa damai dan bersuka cita hidup dalam  dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika&lt;br /&gt;dia ingin menyingkirkan ketidakadilan, tentu saja bukan  tugas mudah,&lt;br /&gt;kalau mau gampang, Kinh Tam tinggal mengumumkan bahwa dirinya  adalah&lt;br /&gt;seorang wanita, sesegera itu juga dia akan terbebas dari segala  tuduhan&lt;br /&gt;maupun penderitaan. Mengapa dia tidak melakukannya? Karena dia  sangat&lt;br /&gt;cinta dharma, dia ingin terus berlatih sebagai monastik, oleh  karena&lt;br /&gt;itu dia tidak mau menyerah begitu saja. Ketika engkau sangat  senang&lt;br /&gt;dengan sesuatu, engkau terdorong untuk mempertahankannya  walaupun&lt;br /&gt;ketidakadilan jatuh kepadamu. Dia dicambuk, salah paham, dituduh  oleh&lt;br /&gt;banyak orang, namun tetap bisa terus berjalan dengan penuh  ketenangan,&lt;br /&gt;kebahagiaan dalam monastik dan berlatih dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman  sekarang&lt;br /&gt;ini, banyak orang yang hidup bersama dalam sangha dan mereka  berhadapan&lt;br /&gt;dengan banyak kesulian dan ingin meninggalkan sangha. Mereka  tidak&lt;br /&gt;punya kesabaran besar seperti itu. Mereka tidak sanggup memikul  beban&lt;br /&gt;ketidakadilan yang jatuh padanya, karena tekad dan kebahagiaan  mereka&lt;br /&gt;tidak memadai. Oleh karena itu, kuncinya adalah apabila anda  menghadapi&lt;br /&gt;banyak masalah, maka cobalah untuk menghargainya segitu banyak,  apakah&lt;br /&gt;hatimu besar atau tidak. Apabila hatimu kecil, maka engkau  tidak&lt;br /&gt;sanggup memikul ketidakadilan yang jatuh padamu. Pengertian dan  cinta&lt;br /&gt;kasih dapat membantu hatimu tumbuh menjadi lebih besar dan lebih  besar&lt;br /&gt;lagi. Hal ini merupakan latihan empat hati tak terukur, cinta  kasih,&lt;br /&gt;belas kasih, suka cita, dan kesetaraan. Hanya karena hatimu bisa  tumbuh&lt;br /&gt;sebesar kosmos, perkembangan hatimu tidak akan pernah berujung.  Jika&lt;br /&gt;engkau seperti sungai, engkau bisa menerima banyak kotoran dan  tidak&lt;br /&gt;akan memberi efek apa pun bagimu, engkau bisa melakukan  transformasi&lt;br /&gt;kotoran itu dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ceramah dharma sebelum ini,  saya&lt;br /&gt;meminjam perumpamaan yang diberikan oleh Buddha, jika  engkau&lt;br /&gt;mencelupkan kotoran pada stoples kecil yang berisi air, maka air  itu&lt;br /&gt;terpaksa harus dibuang, tidak ada orang yang bisa minum air itu,  namun&lt;br /&gt;apabila engkau mencelupkan sejumlah kotoran yang sama ke sebuah  sungai&lt;br /&gt;besar, masyarakat dari kota tetap bisa minum dari sungai itu,  karena&lt;br /&gt;sungai itu begitu sangat luas. Sungai itu tidak menderita  hanya&lt;br /&gt;gara-gara segumpal kecil kotoran, air dan lumpur di sungai itu  hanya&lt;br /&gt;membutuhkan satu malam untuk merubah segumpal kecil kotoran itu.  Jadi,&lt;br /&gt;jika hatimu sebesar sungai itu, engkau akan sanggup memikul  seberapa&lt;br /&gt;besar maupun kecil ketidakadilan dan engkau tetap bisa hidup  dengan&lt;br /&gt;kebahagiaan, dan engkau sanggup melakukan transformasi  ketidakadilan&lt;br /&gt;itu hanya dalam waktu satu malam. Jika engkau menderita, itu  berarti&lt;br /&gt;hatimu terlalu kecil. Ini merupakan cermaah tentang kesabaran  dalam&lt;br /&gt;ajaran Buddha. Engkau tidak mencoba-coba untuk memikulnya, engkau  tidak&lt;br /&gt;membekap penderitaanmu, engkau hanya berlatih untuk membesarkan hatimu  sebesar sungai, kemudian engkau tidak perlu memikul dan juga tidak&lt;br /&gt;perlu  menderita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak cara untuk membesarkan hatimu,&lt;br /&gt;caranya yaitu  dengan melihat secara mendalam untuk memperoleh&lt;br /&gt;pengertian. Pada saat engkau  mengerti, belas kasihmu akan timbul, dan&lt;br /&gt;belas kasih itu akan  memperkenankanmu terus berjalan, tidak menderita,&lt;br /&gt;tidak melihat orang lain  dengan mata penuh kejengkelan dan kebencian.&lt;br /&gt;Inilah praktik kesabaran yang  sesungguhnya, engkau tidak perlu&lt;br /&gt;menderita. Kesabaran dalam konteks ajaran  Buddha adalah tidak mencoba&lt;br /&gt;untuk menelan atau membekap ketidakadilan, namun  mencoba untuk memeluk seluruh ketidakadilan dengan menggunakan hati besarmu.  Jadi, setiap hati engkau harus pergi ke hatimu, sentuhlah hatimu, tanyalah  padanya, "Hatiku, sayangku, apakah engkau sudah sedikit tumbuh lebih besar  setelah satu malam berlalu?" Kita berkunjung ke hati setiap hari  untuk&lt;br /&gt;melihat apakah hati kita masih terus tumbuh tanpa batas, tumbuh  menjadi&lt;br /&gt;mulia. "Hati yang tumbuh" merupakah istilah yang digunakan oleh  Buddha&lt;br /&gt;ketika beliau mengajarkan tentang empat pikiran tak  terukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati&lt;br /&gt;belas kasihmu menjadi semakin besar, tumbuh semakin  besar setiap waktu,&lt;br /&gt;hati cinta kasihmu, hati suka citamu, hati kesetaraanmu.  Oleh karena&lt;br /&gt;itu paramita diterjemahkan sebagai "titik tertinggi, batas" yang  juga&lt;br /&gt;berarti tidak ada titik lebih tinggi atau melebihi batas ini,  seperti&lt;br /&gt;titik paling utara atau selatan yang disebut kutub utara atau  kutub&lt;br /&gt;selatan. Inilah titik tertinggi, inilah batasnya, namun bagaimana  belas&lt;br /&gt;kasih, cinta kasih, suka cita, dan kesetaraan kita bisa tahu  bahwa&lt;br /&gt;tidak ada batas, oleh karena itulah empat pikiran ini disebut  empat&lt;br /&gt;pikiran tak terukur, karena pikiran ini akan terus berkembang  dan&lt;br /&gt;berkembang tanpa berhenti. Mereka tumbuh membesar menjadi  sebesar&lt;br /&gt;sungai, kemudian menjadi samudra, kemudian terus tumbuh. Semakin  besar&lt;br /&gt;hatimu, maka kemampuan memikul dan menerima ketidakadilan  tanpa&lt;br /&gt;mengalami penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah Kinh Tam  menerima&lt;br /&gt;bayi itu, dia mencoba untuk merawat dan memberikan makan,  kemudian&lt;br /&gt;gurunya memanggilnya, "Anakku, mengapa engkau melakukan hal  demikian?&lt;br /&gt;Engkau tidak tidur dengan perempuan itu dan bayi ini bukanlah  bayimu,&lt;br /&gt;mengapa engkau menerimanya? Perbuatanmu tampaknya tidak  memberi&lt;br /&gt;reputasi baik bagi Sangha." Saya tidak tahu apa yang akan saya  lakukan&lt;br /&gt;seandainya saya sendiri adalah gurunya, saya tidak tahu harus  bertindak&lt;br /&gt;apa terhadap dia, takut marbat jatuh. Namun Kinh Tam bersujud  di&lt;br /&gt;hadapan gurunya dan menjawab, "Guruku, aku sudah belajar dari  sutra&lt;br /&gt;bahwa jika seseorang membangun stupa tujuh tingkat, dan jika  seseorang&lt;br /&gt;membangun seribu stupa, kebajikan yang tidak sepadan dengan  perbuatan&lt;br /&gt;menyelamatkan kehidupan makhluk hidup. Oleh karena itulah saya  menerima&lt;br /&gt;bayi ini dan mencoba untuk merawatnya." Inilah yang dijawab  oleh&lt;br /&gt;samanera muda itu kepada gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Samanera itu  meninabobokan&lt;br /&gt;bayi itu, kadang-kadang ada masyarakat yang mendengar suara  lonceng&lt;br /&gt;besar dan lantunan gatha, "Dengar-dengar, bunyi nan indah ini  membawaku&lt;br /&gt;kembali kepada diriku yang sesungguhnya. Semoga bunyi lonceng  ini&lt;br /&gt;menembus ke dalam kosmos.," dan sebagainya, dan pada kesempatan  lain&lt;br /&gt;masyarakat juga bisa mendengar, "Bayiku, tidurlah, tidurlah  dengan&lt;br /&gt;nyenyak." Dua hal demikian silih berganti terdengar. Saya percaya  bahwa&lt;br /&gt;samanera itu berlatih dengan tekun, menyanyikan nina bobo  sebaik&lt;br /&gt;melantunkan gatha, karena dua hal tersebut mengandung cita rasa  dharma&lt;br /&gt;di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anak laki-laki itu tumbuh cukup besar,  Kinh&lt;br /&gt;Tam sakit keras, dan dia tahu akan segera meninggal dunia  dalam&lt;br /&gt;beberapa hari ini, jadi dia menulis surat untuk orang tuanya dan  dia&lt;br /&gt;menulis alamat lengkap di surat itu, dia meminta anak laki-laki  itu&lt;br /&gt;pergi ke desa asalnya dan memberikan surat itu kepada orang  tuanya&lt;br /&gt;setelah ia meninggal dunia. Dia juga menulis sepucuk surat  untuk&lt;br /&gt;gurunya, jadi ada dua pucuk surat. Setelah Kinh Tam meninggal  dunia,&lt;br /&gt;anak laki-laki itu melakukan semua tugasnya, dia memberikan surat  itu&lt;br /&gt;kepada gurunya dan kemudian memohon izin untuk pergi ke desa asal  Kinh&lt;br /&gt;Tam dan memberikan surat untuk orang tuanya. Setelah membaca surat  itu,&lt;br /&gt;gurunya sangat terkejut dan meminta dua orang biksuni untuk  memeriksa,&lt;br /&gt;dan dua orang biksuni itu melaporkan bahwa samanera itu ternyata  adalah&lt;br /&gt;bukanlah laki-laki, namun seorang perempuan. Semua masyarakat  sangat&lt;br /&gt;terkejut, sang guru mengirim kabar kepada sesepuh desa, kepala  desa&lt;br /&gt;sangat terkejut juga. Mereka mengadakan pertemuan dan mengirim  delegasi&lt;br /&gt;ke wihara untuk melakukan verifikasi. Setelah proses verifikasi,  para&lt;br /&gt;sesepuh desa mengumumkan fakta sesungguhnya dan kemudian  meminta&lt;br /&gt;keluarga Mau untuk tanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keluarga Mau harus  membayar&lt;br /&gt;denda sangat mahal kepada masyarakat, membiayai seluruh proses  upacara&lt;br /&gt;kematian di wihara. Kisah ini tercatat jelas dalam puisi  bahasa&lt;br /&gt;Vietnam, bahkan kita juga punya dua pucuk surat lengkap itu. Kinh  Tam&lt;br /&gt;memohon orang tuanya untuk memaafkannya, memohon maaf karena  tidak&lt;br /&gt;memberikan kabar atas keberadaanya, hanya karena ia ingin  berlatih&lt;br /&gt;dengan sungguh-sungguh sebagai seorang monastik, Kinh Tam  mengisahkan&lt;br /&gt;bahwa dia tidak hanya berlatih untuk dirinya sendiri saja namun  ia&lt;br /&gt;berlatih demi seluruh keluarga dan seluruh makhluk, dia berharap  semua&lt;br /&gt;orang memaklumi dan memaafkannya, kemudian memohon keluarganya untuk  menerima anak lelaki itu dan menjadikannya bagian dari keluarga&lt;br /&gt;walaupun dia  anak yang diadopsi. Orang tua Kinh Tam menangis dan terus&lt;br /&gt;menangis, sudah  sekian tahun tidak ada kabar apa pun darinya, tiba-tiba&lt;br /&gt;pagi itu menerima  surat yang memberitakan bahwa ia telah tiada, mereka&lt;br /&gt;tidak bisa menahan  tangisannya, mereka bergegas berangkat ke Wihara&lt;br /&gt;Phap Van, mereka juga  memberitahu keluarga mantan suaminya, dan Sung&lt;br /&gt;Tin ikut berangkat. Mereka  menghabiskan beberap hari untuk tiba di&lt;br /&gt;Wihara, mereka melihat umbul-mbul  yang bertuliskan nama anaknya,&lt;br /&gt;upacara kematian dengan prosesi sangat  panjang, seluruh warga&lt;br /&gt;masyarakat datang menghadiri upacara itu, mereka  sangat tesentuh dan&lt;br /&gt;tak bisa menyembunyikan tangisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila  engkau berlatih,&lt;br /&gt;berlatihlah seperti itu, cara yang sangat sempurna berlatih  dengan&lt;br /&gt;demikian. Walaupun ketidakadilan jatuh padamu, engkau tetap  punya&lt;br /&gt;energi untuk berlanjut di jalur itu. Engkau tidak menyalahkan  orang&lt;br /&gt;lain atas penderitaanmu. Berlatih seperti itu merupakan latihan  nyata.&lt;br /&gt;Ketika keluarga Kinh Tam tiba, mereka ikut dalam upacara kematian  dan&lt;br /&gt;diterima sebagai tamu luar biasa oleh wihara dan warga desa,  setelah&lt;br /&gt;itu seluruh warga masyarakat mengadakan upacara pelimpahan jasa  kepada&lt;br /&gt;Kihn Tam dan berlatih giai oan. Giai oan berarti "membuka  simpul&lt;br /&gt;ketidakadilan" dan dikisahkan pada akhir cerita itu bahwa Buddha  muncul&lt;br /&gt;dan menyatakan bahwa Kinh Tam telah mencapai pencerahan, dan  sekarang&lt;br /&gt;dia memanifestasikan diri sebagai Avalokiteshvara, namanya Quan Am  Thi&lt;br /&gt;Kinh. Dia merupakan Avalokiteshvara Vietnam dan hampir semua  orang&lt;br /&gt;Vietnam tahu kisah ini. Di wihara, bahkan banyak orang menghapal  puisi&lt;br /&gt;itu dan menjadikan teladan sempurna untuk berlatih  kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada&lt;br /&gt;suatu waktu, kita semua merasa menjadi korban dari  ketidakadilan, kita&lt;br /&gt;begitu menderita, bahkan ketidakadilan yang disebabkan  oleh orang yang&lt;br /&gt;paling kita cintai, kita ingin menjernihkan ketidakadilan  itu, bahkan&lt;br /&gt;kita ingin berteriak. Kita ingin berlatih untuk membuka simpul  yang&lt;br /&gt;telah kita pikul sejak lama di masa lalu. Oleh sebab itu kita  selalu&lt;br /&gt;siap berbicara dengan orang lain tentang penderitaan dan  ketidakadilan&lt;br /&gt;yang kita pikul. Mungkin di dalam lubuk hati kita yang paling  dalam,&lt;br /&gt;kita ingin keadilan hadir dengan berbagai cara, mungkin  kita&lt;br /&gt;menggunakan cara militer sebagai solusi, kadang kita ingin  menggunakan&lt;br /&gt;senapan, kadang kita menggunakan kayu pemukul, kadang kita  menggunakan angkatan bersenjata. Sebagai sebuah negara, apabila engkau merasa  menjadi korban dari ketidakadilan, engkau tergoda untuk menggunakan kekuatan  militer sebagai solusinya, namun engkau bukanlah sebuah negara, engkau condong  menggunakan cara lain untuk membalas dendam, menggunakan kayu pemukul, membayar  orang lain untuk memukul,&lt;br /&gt;menggunakan senapan, atau engkau memanipulasi  situasi, engkau&lt;br /&gt;menggunakan pengaruh politik untuk memperbaiki ketidakadilan  yang&lt;br /&gt;terjadi padamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, berdasarkan ajaran Buddha, engkau  hanya&lt;br /&gt;bisa meluruskan ketidakadilan dalam dirimu dan menembus  ketidakadilan&lt;br /&gt;dalam dirimu dengan cara melakukan transformasi ketidakadilan.  Caranya&lt;br /&gt;adalah dengan berlatih empat pikiran tak terukur, maitri yaitu  cinta&lt;br /&gt;kasih, karuna yaitu belas kasih, mudita yaitu suka cita, dan  upeksha&lt;br /&gt;yaitu kesetaraan, dan untuk menumbuhkan empat kualitas ini,  engkau&lt;br /&gt;perlu berlatih melihat secara mendalam, yaitu tenang (samatha)  dan&lt;br /&gt;melihat (vipasyana). Engkau mencoba sebaik-baiknya untuk tetap  tenang&lt;br /&gt;dan terkonsentrasikan. Engkau berupaya untuk melihat secara  mendalam&lt;br /&gt;sifat asli penderitaan, dan tiba-tiba pengertian bisa hadir dan  hatimu&lt;br /&gt;mulai membesar. Tiba-tiba engkau merasa ada kekuatan untuk  memikul&lt;br /&gt;ketidakadilan, engkau bisa tetap bertahan hidup, engkau bisa  hidup&lt;br /&gt;bersama ketidakadilan, dan engkau bisa mentransformasi  ketidakadilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buddha&lt;br /&gt;bersabda bahwa apabila engkau terpanah oleh  sebuah panah, maka engkau&lt;br /&gt;menderita, namun apabila panah kedua ke titik yang  sama, maka engkau&lt;br /&gt;tidak hanya menderita dua kali lipat, tapi bisa jadi tiga  puluh kali&lt;br /&gt;lipat lebih sakit. Ketika engkau menderita dan engkau akan  marah,&lt;br /&gt;penderitaanmu tidak hanya berlipat ganda, tapi bisa berlipat tiga  puluh&lt;br /&gt;kali lebih besar. Engkau memperbesar penderitaanmu  melalui&lt;br /&gt;ketidaktahuan, kemarahan, frustasi, dan kebencianmu. Mengapa  engkau&lt;br /&gt;begitu menderita? Mengapa engkau rela menerima panah kedua?  Ketika&lt;br /&gt;panah pertama, apabila engkau punya latihan dan pengertian,  engkau&lt;br /&gt;tidak akan begitu menderita dan engkau bisa mencabut panah itu  dengan&lt;br /&gt;cepat, namun ketidaktahuan, kurang latihan, kita menjadi marah,  benci,&lt;br /&gt;putus asa menguasai kita, oleh karena itulah penderitaan sungguh  tak&lt;br /&gt;bisa ditahan. Ajaran Buddha ini tercatat dalam Samyutta  Nikaya&lt;br /&gt;(Samyutta Nikaya: 4: 210) tentang panah pertama dan kedua, panah  kedua&lt;br /&gt;adalah ketidaktahuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari sebelumnya kita  menggunakan&lt;br /&gt;perumpamaan seorang anak kecil yang merobek kupu-kupu, anak kecil  itu&lt;br /&gt;tidak tahu bahwa dia sedang menyebabkan begitu banyak ketidakadilan  dan&lt;br /&gt;penderitaan pada kupu-kupu itu. Anak kecil itu hanya  ingin&lt;br /&gt;bermain-main, dia tidak tahu bahwa merobek kupu-kupu akan  menyebabkan&lt;br /&gt;derita besar bagi serangga itu. Anak kecil itu berbuat demikian  karena&lt;br /&gt;ketidaktahuannya, ketika kita memberitahu kepada anak kecil  itu,&lt;br /&gt;"Sayangku, tahukah kamu kalau kupu-kupu kecil ini tidak bisa  pulang&lt;br /&gt;bertemu orang tuanya? Bagaimana kalau kamu tidak bisa pulang ke  rumah&lt;br /&gt;bertemu orang tuamu malam ini? Orang tuamu akan sangat kuatir."  Apabila&lt;br /&gt;engkau memberitahu anak kecil dengan cara demikian, maka lain  kali&lt;br /&gt;mereka tidak akan merobek serangga lagi dengan kedua tangganya.  Anak&lt;br /&gt;kecil akan bisa melindungi kehidupan. "Tuhan, maafkanlah mereka  karena&lt;br /&gt;mereka tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan." Manusia  menyebabkan&lt;br /&gt;manusia lain menerita, mereka tidak tahu apa yang sedang  mereka&lt;br /&gt;lakukan, mereka melakukan itu atas dasar kemarahan dan  kebencian,&lt;br /&gt;mereka tidak punya kebahagiaan dalam dirinya, mereka terbungkus  oleh&lt;br /&gt;ketidaktahuan, kebencian, kemarahan, oleh karena itu mereka  membuat&lt;br /&gt;orang disekelilingnya menderita. Kita juga bisa melakukan hal  demikian&lt;br /&gt;namun kita tidak sadar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-3439533885975463524?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/3439533885975463524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=3439533885975463524' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/3439533885975463524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/3439533885975463524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/02/overcome-injustice.html' title='Overcome the Injustice'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-9030894755048934273</id><published>2009-02-15T19:40:00.000-08:00</published><updated>2009-02-15T19:42:20.925-08:00</updated><title type='text'>The Doll</title><content type='html'>* Hari terakhir sebelum Natal, aku terburu-buru ke supermarket untuk&lt;br /&gt;membeli&lt;br /&gt;hadiah2 yang semula tidak direncanakan untuk dibeli. Ketika melihat&lt;br /&gt;orang&lt;br /&gt;banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan waktu selamanya, sedang&lt;br /&gt;masih&lt;br /&gt;banyak tempat yang harus kutuju" "Natal benar2 semakin menjengkelkan&lt;br /&gt;dari&lt;br /&gt;tahun ke tahun. Kuharap aku bisa berbaring, tidur, dan hanya terjaga&lt;br /&gt;setelahnya" Walau demikian, aku tetap berjalan menuju bagian mainan,&lt;br /&gt;dan di&lt;br /&gt;sana aku mulai mengutuki harga-harga, berpikir apakah sesudahnya semua&lt;br /&gt;anak&lt;br /&gt;akan sungguh-sungguh bermain dengan mainan yang mahal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Saat sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak laki2 berusia&lt;br /&gt;sekitar&lt;br /&gt;5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut boneka itu dan&lt;br /&gt;terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk siapa boneka itu. Anak&lt;br /&gt;itu&lt;br /&gt;mendekati seorang perempuan tua di dekatnya: 'Nenek, apakah engkau&lt;br /&gt;yakin aku&lt;br /&gt;tidak punya cukup uang?'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan tua itu menjawab: 'Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup uang&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;membeli boneka ini, sayang.' Kemudian Perempuan itu meminta anak itu&lt;br /&gt;menunggu di sana sekitar 5 menit sementara ia berkeliling ke tempat&lt;br /&gt;lain.&lt;br /&gt;Perempuan itu pergi dengan cepat. Anak laki2 itu masih menggenggam&lt;br /&gt;boneka&lt;br /&gt;itu di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada siapa dia&lt;br /&gt;ingin memberikan&lt;br /&gt;boneka itu.'Ini adalah boneka yang paling disayangi adik perempuanku&lt;br /&gt;dan dia&lt;br /&gt;sangat menginginkannya pada Natal ini. Ia yakin Santa Claus akan&lt;br /&gt;membawa&lt;br /&gt;boneka ini untuknya' Aku menjawab mungkin Santa Claus akan membawa&lt;br /&gt;boneka&lt;br /&gt;untuk adiknya, dan supaya ia jangan khawatir. Tapi anak laki2 itu&lt;br /&gt;menjawab&lt;br /&gt;dengan sedih 'Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini ke&lt;br /&gt;tempat&lt;br /&gt;dimana adikku berada saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku harus memberikan boneka ini kepada mama sehingga mama dapat&lt;br /&gt;memberikan&lt;br /&gt;kepadanya ketika mama sampai di sana.' Mata anak laki2 itu begitu sedih&lt;br /&gt;ketika mengatakan ini 'Adikku sudah pergi kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papa berkata bahwa mama juga segera pergi menghadap Tuhan, maka kukira&lt;br /&gt;mama&lt;br /&gt;dapat membawa boneka ini untuk diberikan kepada adikku.' Jantungku&lt;br /&gt;seakan&lt;br /&gt;terhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Anak laki2 itu memandangku dan berkata: 'Aku minta papa untuk&lt;br /&gt;memberitahu&lt;br /&gt;mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk menunggu hingga aku&lt;br /&gt;pulang dari supermarket.' Kemudian ia menunjukkan fotonya yang sedang&lt;br /&gt;tertawa. Kamudian ia berkata: 'Aku juga ingin mama membawa foto ini&lt;br /&gt;supaya&lt;br /&gt;tidak lupa padaku. Aku cinta mama dan kuharap ia tidak meninggalkan aku&lt;br /&gt;tapi&lt;br /&gt;papa berkata mama harus pergi bersama adikku.'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ia memandang dengan sedih ke boneka itu dengan diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil beberapa catatan dan&lt;br /&gt;berkata&lt;br /&gt;kepada anak itu. 'Bagaimana jika kita periksa lagi, kalau2 uangmu&lt;br /&gt;cukup?'&lt;br /&gt;'Ok' katanya. 'Kuharap punyaku cukup.' Kutambahkan uangku pada uangnya&lt;br /&gt;tanpa&lt;br /&gt;setahunya dan kami mulai menghitung. Ternyata cukup untuk boneka itu,&lt;br /&gt;dan&lt;br /&gt;malah sisa. Anak itu berseru: 'Terima Kasih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan karena memberiku cukup uang' Kemudian ia memandangku dan&lt;br /&gt;menambahkan:&lt;br /&gt;'Kemarin sebelum tidur aku memohon kepada Tuhan untuk memastikan bahwa&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini sehingga mama bisa&lt;br /&gt;memberikannya kepada adikku. DIA mendengarkan aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga ingin uangku cukup untuk membeli mawar putih buat mama, tapi&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;tidak berani memohon terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA memberiku&lt;br /&gt;cukup&lt;br /&gt;untuk membeli boneka dan mawar putih.' 'Kau tahu, mamaku suka mawar&lt;br /&gt;putih'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku berlalu dengan&lt;br /&gt;keretaku.&lt;br /&gt;Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati yang sepenuhnya berbeda dari&lt;br /&gt;saat&lt;br /&gt;memulainya. Aku tidak dapat menghapus anak itu dari pikiranku. Kemudian&lt;br /&gt;aku&lt;br /&gt;ingat artikel di koran lokal 2 hari yang lalu, yang menyatakan seorang&lt;br /&gt;pria&lt;br /&gt;mengendarai truk dalam kondisi mabuk dan menghantam sebuah mobil yang&lt;br /&gt;berisi&lt;br /&gt;seorang wanita muda dan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu meninggal&lt;br /&gt;seketika, dan ibunya dalam kondisi kritis. Keluarganya harus memutuskan&lt;br /&gt;apakah harus mencabut alat penunjang kehidupan, karena wanita itu tidak&lt;br /&gt;akan&lt;br /&gt;mampu keluar dari kondisi koma. Apakah mereka keluarga dari anak laki2&lt;br /&gt;ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* 2 hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca di koran&lt;br /&gt;bahwa&lt;br /&gt;wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat menghentikan diriku dan&lt;br /&gt;pergi&lt;br /&gt;membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke rumah duka tempat&lt;br /&gt;jenasah&lt;br /&gt;dari wanita muda itu diperlihatkan kepada orang2 untuk memberikan&lt;br /&gt;penghormatan terakhir sebelum penguburan. Wanita itu di sana, dalam&lt;br /&gt;peti&lt;br /&gt;matinya, menggenggam setangkai mawar putih yang cantik dengan foto anak&lt;br /&gt;laki2 dan boneka itu ditempatkan di atas dadanya. Kutinggalkan tempat&lt;br /&gt;itu&lt;br /&gt;dengan menangis, merasa hidupku telah berubah selamanya. Cinta yang&lt;br /&gt;dimiliki&lt;br /&gt;anak laki2 itu kepada ibu dan adiknya, sampai saat ini masih sulit&lt;br /&gt;untuk&lt;br /&gt;dibayangkan. Dalam sekejap mata, seorang pria mabuk mengambil semuanya&lt;br /&gt;dari&lt;br /&gt;anak itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-9030894755048934273?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/9030894755048934273/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=9030894755048934273' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/9030894755048934273'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/9030894755048934273'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2009/02/doll.html' title='The Doll'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-6037485060024212822</id><published>2008-12-20T05:01:00.000-08:00</published><updated>2009-01-11T20:02:30.572-08:00</updated><title type='text'>Mother's Tale</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Alkisah, ada sepasang              kekasih yang saling mencintai. Sang pria berasal dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;keluarga              kaya, dan merupakan orang yang terpandang di kota              tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sedangkan sang wanita adalah seorang yatim piatu, hidup              serba&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;kekurangan, tetapi cantik, lemah lembut, dan baik hati.              Kelebihan inilah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;yang membuat sang pria jatuh hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang              wanita hamil di luar nikah. Sang pria lalu mengajaknya menikah,              dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;membawa sang wanita ke rumahnya. Seperti yang sudah mereka              duga, orang tua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sang pria tidak menyukai wanita tsb. Sebagai              orang yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;terpandang di kota tsb, latar belakang wanita tsb akan              merusak reputasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;keluarga. Sebaliknya, mereka bahkan telah              mencarikan jodoh yang sepadan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;untuk anaknya. Sang pria berusaha              menyakinkan orang tuanya, bahwa ia sudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menetapkan keputusannya,              apapun resikonya bagi dia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang wanita merasa tak              berdaya, tetapi sang pria menyakinkan wanita tsb&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bahwa tidak ada              yang bisa memisahkan mereka. Sang pria terus berargumen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;dengan              orang tuanya, bahkan membantah perkataan orangtuanya, sesuatu              yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;belum pernah dilakukannya selama hidupnya (di zaman dulu,              umumnya seorang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;anak sangat tunduk pada orang              tuanya).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sebulan telah berlalu, sang pria gagal untuk              membujuk orang tuanya agar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menerima calon istrinya. Sang orang              tua juga stress karena gagal membujuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;anak satu-satunya, agar              berpisah dengan wanita tsb, yang menurut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mereka akan sangat              merugikan masa depannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang pria akhirnya menetapkan              pilihan untuk kawin lari. Ia memutuskan untuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;meninggalkan              semuanya demi sang kekasih. Waktu keberangkatan pun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ditetapkan,              tetapi rupanya rencana ini diketahui oleh orang tua sang              pria.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Maka ketika saatnya tiba, sang ortu mengunci anaknya di              dalam kamar dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;dijaga ketat oleh para bawahan di rumahnya yang              besar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sebagai gantinya, kedua orang tua datang ke tempat              yang telah ditentukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sepasang kekasih tsb untuk melarikan diri.              Sang wanita sangat terkejut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;dengan kedatangan ayah dan ibu sang              pria... Mereka kemudian memohon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;pengertian dari sang wanita, agar              meninggalkan anak mereka satu-satunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Menurut mereka, dengan              perbedaan status sosial yang sangat besar,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;perkawinan mereka              hanya akan menjadi gunjingan seluruh penduduk kota,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;reputasi              anaknya akan tercemar, orang2 tidak akan menghormatinya              lagi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Akibatnya, bisnis yang akan diwariskan kepada anak mereka              akan bangkrut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;secara perlahan2.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Mereka bahkan              memberikan uang dalam jumlah banyak, dengan permohonan              agar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;wanita tsb meninggalkan kota ini, tidak bertemu dengan              anaknya lagi, dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menggugurkan kandungannya. Uang tsb dapat              digunakan untuk membiayai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;hidupnya di tempat              lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang wanita menangis tersedu-sedu. Dalam hati              kecilnya, ia sadar bahwa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;perbedaan status sosial yang sangat              jauh, akan menimbulkan banyak kesulitan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bagi kekasihnya.              Akhirnya, ia setuju untuk meninggalkan kota ini,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tetapi menolak              untuk menerima uang tsb. Ia mencintai sang pria, bukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;uangnya.              Walaupun ia sepenuhnya sadar, jalan hidupnya ke depan akan              sangat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sulit?.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ibu sang pria kembali memohon kepada              wanita tsb untuk meninggalkan sepucuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;surat kepada mereka, yang              menyatakan bahwa ia memilih berpisah dengan sang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;pria. Ibu sang              pria kuatir anaknya akan terus mencari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;kekasihnya, dan tidak mau              meneruskan usaha orang tuanya. 'Walaupun ia kelak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bukan suamimu,              bukankah Anda ingin melihatnya sebagai seseorang yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;berhasil?              Ini adalah untuk kebaikan kalian berdua', kata sang              ibu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dengan berat hati, sang wanita menulis surat . Ia              menjelaskan bahwa ia sudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;memutuskan untuk pergi meninggalkan              sang pria. Ia sadar bahwa keberadaannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;hanya akan merugikan sang              pria. Ia minta maaf karena telah melanggar janji&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;setia mereka              berdua, bahwa mereka akan selalu bersama dalam              menghadapi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;penolakan2 akibat perbedaan status sosial mereka. Ia              tidak kuat lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menahan penderitaan ini, dan memutuskan untuk              berpisah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Tetesan air mata sang wanita tampak membasahi surat              tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang wanita yang malang tsb tampak tidak punya              pilihan lain. Ia terjebak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;antara moral dan cintanya. Sang wanita              segera meninggalkan kota itu,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sendirian. Ia menuju sebuah desa              yang lebih terpencil. Disana, ia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bertekad untuk melahirkan dan              membesarkan anaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;==========000000000 0========              ======&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Tiga tahun telah berlalu. Ternyata wanita tersebut              telah menjadi seorang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ibu. Anaknya seorang laki2. Sang ibu              bekerja keras siang dan malam, untuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;membiayai kehidupan mereka.              Di pagi dan siang hari, ia bekerja di sebuah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;industri rumah              tangga, malamnya, ia menyuci pakaian2 tetangga dan              menyulam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sesuai dengan pesanan pelanggan. Kebanyakan ia melakukan              semua pekerjaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ini sambil menggendong anak di              punggungnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Walaupun ia cukup berpendidikan, ia menyadari              bahwa pekerjaan lain tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;memungkinkan, karena ia harus berada              di sisi anaknya setiap saat. Tetapi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sang ibu tidak pernah              mengeluh dengan pekerjaannya. ..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Di usia tiga tahun,              suatu saat, sang anak tiba2 sakit keras. Demamnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sangat tinggi.              Ia segera dibawa ke rumah sakit setempat. Anak tsb harus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menginap              di rumah sakit selama beberapa hari. Biaya pengobatan              telah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menguras habis seluruh tabungan dari hasil kerja kerasnya              selama ini, dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;itupun belum cukup. Ibu tsb akhirnya juga              meminjam ke sana-sini, kepada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;siapapun yang bermurah hati untuk              memberikan pinjaman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Saat diperbolehkan pulang, sang              dokter menyarankan untuk membuat sup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ramuan, untuk mempercepat              kesembuhan putranya. Ramuan tsb terdiri dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;obat2 herbal dan              daging sapi untuk dikukus bersama. Tetapi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sang ibu hanya mampu              membeli obat2 herbal tsb, ia tidak punya uang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sepeserpun lagi              untuk membeli daging. Untuk meminjam lagi, rasanya tak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mungkin,              karena ia telah berutang kepada semua orang yang ia kenal,              dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;belum terbayar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ketika di rumah, sang ibu              menangis. Ia tidak tahu harus berbuat apa, untuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mendapatkan              daging. Toko daging di desa tsb telah menolak              permintaannya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;untuk bayar di akhir bulan saat              gajian.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Diantara tangisannya, ia tiba2 mendapatkan ide.              Ia mencari alkohol yang ada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;di rumahnya, sebilah pisau dapur, dan              sepotong kain. Setelah pisau dapur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;dibersihkan dengan alkohol,              sang ibu nekad mengambil sekerat daging dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;pahanya. Agar tidak              membangunkan anaknya yang sedang tidur, ia mengikat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mulutnya              dengan sepotong kain. Darah berhamburan. Sang ibu tengah              berjuang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mengambil dagingnya sendiri, sambil berusaha              tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mengeluarkan suara kesakitan yang teramat              sangat?..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hujan lebatpun turun. Lebatnya hujan              menyebabkan rintihan kesakitan sang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ibu tidak terdengar oleh para              tetangga, terutama oleh anaknya sendiri.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Tampaknya langit juga              tersentuh dengan pengorbanan yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sedang dilakukan oleh sang ibu              ............ .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;==========000000000 0========              ======&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Enam tahun telah berlalu, anaknya tumbuh menjadi              seorang anak yang tampan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;cerdas, dan berbudi pekerti. Ia juga              sangat sayang ibunya... Di hari minggu,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mereka sering pergi ke              taman di desa tersebut, bermain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bersama, dan bersama2 menyanyikan              lagu 'Shi Sang Chi You Mama Hau'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;(terjemahannya 'Di Dunia ini,              hanya ibu seorang yang baik').&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang anak juga sudah              sekolah. Sang ibu sekarang bekerja sebagai penjaga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;toko, karena              ia sudah bisa meninggalkan anaknya di siang hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hari2              mereka lewatkan dengan kebersamaan, penuh kebahagiaan. Sang              anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;terkadang memaksa ibunya, agar ia bisa membantu ibunya              menyuci di malam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;hari. Ia tahu ibunya masih menyuci di malam              hari, karena perlu tambahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;biaya untuk sekolahnya. Ia memang              seorang anak yang cerdas.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ia juga tahu, bulan depan              adalah hari ulang tahun ibunya. Ia berniat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;membelikan sebuah jam              tangan, yang sangat didambakan ibunya selama ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ibunya pernah              mencobanya di sebuah toko, tetapi segera menolak setelah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;pemilik              toko menyebutkan harganya. Jam tangan itu sederhana, tidak              terlalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mewah, tetapi bagi mereka, itu terlalu mahal. Masih              banyak keperluan lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;yang perlu dibiayai.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang anak              segera pergi ke toko tsb, yang tidak jauh dari rumahnya.              Ia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;meminta kepada kakek pemilik toko agar menyimpan jam tangan              tsb, karena ia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;akan membelinya bulan depan. 'Apakah kamu punya              uang?'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tanya sang pemilik toko. 'Tidak sekarang, nanti saya akan              punya', kata sang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;anak dengan serius.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ternyata, bulan              depan sang anak benar2 muncul untuk membeli jam tangan tsb.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang              kakek juga terkejut, kiranya sang anak hanya              main2.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ketika menyerahkan uangnya, sang kakek              bertanya 'Dari mana kamu mendapatkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;uang itu? Bukan mencuri kan              ?'. 'Saya tidak mencuri, kakek...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hari ini adalah hari ulang              tahun ibuku. Saya biasanya naik becak pulang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;pergi ke sekolah.              Selama sebulan ini, saya berjalan kaki saat pulang dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sekolah              ke rumah, uang jajan dan uang becaknya saya simpan untuk beli              jam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ini. Kakiku sakit, tapi ini semua untuk ibuku. O ya, jangan              beritahu ibuku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tentang hal ini. Ia akan marah' kata sang anak.              Sang pemilik toko tampak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;kagum pada anak tsb.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Seperti              biasanya, sang ibu pulang dari kerja di sore hari. Sang anak              segera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;memberikan ucapan selamat pada ibu, dan menyerahkan jam              tangan tsb. Sang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ibu terkejut bercampur haru, ia bangga dengan              anaknya. Jam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tangan ini memang adalah impiannya.. Tetapi sang ibu              tiba2 tersadar, dari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mana uang untuk membeli jam tsb. Sang anak              tutup mulut, tidak mau menjawab.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;'Apakah kamu              mencuri, Nak?' Sang anak diam seribu bahasa, ia tidak ingin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ibu              mengetahui bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Setelah              ditanya berkali2 tanpa jawaban, sang ibu menyimpulkan bahwa              anaknya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;telah mencuri. 'Walaupun kita miskin, kita tidak boleh              mencuri. Bukankah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ibu sudah mengajari kamu tentang hal ini?' kata              sang ibu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Lalu ibu mengambil rotan dan mulai memukul              anaknya. Biarpun ibu sayang pada&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;anaknya, ia harus mendidik              anaknya sejak kecil. Sang anak menangis,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sedangkan air mata sang              ibu mengalir keluar. Hatinya begitu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;perih, karena ia sedang              memukul belahan hatinya. Tetapi ia harus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;melakukannya, demi              kebaikan anaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Suara tangisan sang anak terdengar              keluar. Para tetangga menuju ke rumah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tsb heran, dan kemudian              prihatin setelah mengetahui kejadiannya. 'Ia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sebenarnya anak yang              baik', kata salah satu tetangganya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kebetulan sekali, sang              pemilik toko sedang berkunjung ke rumah salah satu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tetangganya              yang merupakan familinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ketika ia keluar melihat ke              rumah itu, ia segera mengenal anak itu. Ketika&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mengetahui              persoalannya, ia segera menghampiri ibu itu untuk              menjelaskan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Tetapi tiba2 sang anak berlari ke arah pemilik toko,              memohon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;agar jangan menceritakan yang sebenarnya pada              ibunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;'Nak, ketahuilah, anak yang baik tidak boleh              berbohong, dan tidak boleh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menyembunyikan sesuatu dari ibunya'.              Sang anak mengikuti nasehat kakek itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Maka kakek itu mulai              menceritakan bagaimana sang anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tiba2 muncul di tokonya sebulan              yang lalu, memintanya untuk menyimpan jam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tangan tsb, dan sebulan              kemudian akan membelinya. Anak itu muncul siang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tadi di tokonya,              katanya hari ini adalah hari ulang tahun ibunya. Ia              juga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menceritakan bagaimana sang anak berjalan kaki dari              sekolahnya pulang ke&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;rumah dan tidak jajan di sekolah selama              sebulan ini, untuk mengumpulkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;uang membeli jam tangan kesukaan              ibunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Tampak sang kakek meneteskan air mata saat              selesai menjelaskan hal tsb,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;begitu pula dengan tetangganya. Sang              ibu segera memeluk anak kesayangannya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;keduanya menangis dengan              tersedu-sedu. 'Maafkan saya, Nak.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;'Tidak Bu, saya yang              bersalah'... ......... .. ....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;===========000=              ========= =======&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sementara itu, ternyata ayah dari sang              anak sudah menikah, tetapi istrinya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mandul. Mereka tidak punya              anak. Sang ortu sangat sedih akan hal ini,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;karena tidak akan ada              yang mewarisi usaha mereka kelak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ketika sang ibu dan              anaknya berjalan2 ke kota, dalam sebuah kesempatan,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mereka              bertemu dengan sang ayah dan istrinya. Sang ayah baru              menyadari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bahwa sebenarnya ia sudah punya anak dari darah              dagingnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sendiri. Ia mengajak mereka berkunjung ke rumahnya,              bersedia menanggung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;semua biaya hidup mereka, tetapi sang ibu              menolak. Kami bisa hidup dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;baik tanpa              bantuanmu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Berita ini segera diketahui oleh orang tua              sang pria. Mereka begitu ingin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;melihat cucunya, tetapi sang ibu              tidak mau mengizinkan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;===========000= =========              ========&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Di pertengahan tahun, penyakit sang anak kembali              kambuh. Dokter mengatakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bahwa penyakit sang anak butuh operasi              dan perawatan yang konsisten. Kalau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;kambuh lagi, akan              membahayakan jiwanya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Keuangan sang ibu sudah agak              membaik, dibandingkan sebelumnya. Tetapi biaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;medis tidaklah              murah, ia tidak sanggup membiayainya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang ibu kembali              berpikir keras. Tetapi ia tidak menemukan solusi yang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tepat.              Satu2nya jalan keluar adalah menyerahkan anaknya kepada sang              ayah,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;karena sang ayahlah yang mampu membiayai              perawatannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Maka di hari Minggu ini, sang ibu kembali              mengajak anaknya berkeliling&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;kota , bermain2 di taman kesukaan              mereka. Mereka gembira sekali, menyanyikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;lagu 'Shi Sang Chi You              Mama Hau', lagu kesayangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mereka. Untuk sejenak, sang ibu              melupakan semua penderitaannya, ia hanyut&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;dalam kegembiraan              bersama sang anak.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sepulang ke rumah, ibu menjelaskan              keadaannya pada sang anak. Sang anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menolak untuk tinggal              bersama ayahnya, karena ia hanya ingin dengan ibu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;'Tetapi ibu              tidak mampu membiayai perawatan kamu, Nak' kata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ibu. 'Tidak apa2              Bu, saya tidak perlu dirawat. Saya sudah sehat, bila              bisa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bersama2 dengan ibu. Bila sudah besar nanti, saya akan cari              banyak uang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;untuk biaya perawatan saya dan untuk ibu. Nanti, ibu              tidak perlu bekerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;lagi, Bu', kata sang anak. Tetapi ibu memaksa              akan berkunjung ke rumah sang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ayah keesokan harinya. Penyakitnya              memang bisa kambuh setiap saat.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Disana ia diperkenalkan              dengan kakek dan neneknya. Keduanya sangat senang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;melihat anak              imut tersebut. Ketika ibunya hendak pulang, sang anak              meronta2&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ingin ikut pulang dengan ibunya. Walaupun              diberikan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mainan kesukaan sang anak, yang tidak pernah ia peroleh              saat bersama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ibunya, sang anak menolak. 'Saya ingin Ibu, saya              tidak mau mainan itu',&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;teriak sang anak dengan nada yang polos.              Dengan hati sedih dan menangis,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;sang ibu berkata 'Nak, kamu harus              dengar nasehat ibu. Tinggallah di sini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ayah, kakek dan nenek              akan bermain bersamamu.' 'Tidak, aku tidak mau&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mereka. Saya hanya              mau ibu, saya sayang ibu, bukankah ibu juga sayang saya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ibu              sekarang tidak mau saya lagi', sang anak mulai              menangis.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Bujukan demi bujukan ibunya untuk tinggal di              rumah besar tsb tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;didengarkan anak kecil tsb. Sang anak              menangis tersedu2 'Kalau ibu sayang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;padaku, bawalah saya pergi,              Bu'. Sampai pada akhirnya, ibunya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;memaksa dengan mengatakan              'Benar, ibu tidak sayang kamu lagi. Tinggallah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;disini', ibunya              segera lari keluar meninggalkan rumah tsb. Tampak              anaknya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;meronta2 dengan ledakan tangis yang              memilukan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Di rumah, sang ibu kembali meratapi nasibnya.              Tangisannya begitu menyayat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;hati, ia telah berpisah dengan              anaknya. Ia tidak diperbolehkan menjenguk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;anaknya, tetapi mereka              berjanji akan merawat anaknya dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;baik. Diantara isak              tangisnya, ia tidak menemukan arti hidup ini lagi. Ia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;telah              kehilangan satu2nya alasan untuk hidup, anaknya              tercinta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Kemudian ibu yang malang itu mengambil pisau              dapur untuk memotong urat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;nadinya. Tetapi saat akan dilakukan, ia              sadar bahwa anaknya mungkin tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;akan diperlakukan dengan baik.              Tidak, ia harus hidup untuk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mengetahui bahwa anaknya diperlakukan              dengan baik. Segera, niat bunuh diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;itu dibatalkan, demi anaknya              juga........ .. ..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;============ 000======              ===&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Setahun berlalu. Sang ibu telah pindah ke tempat              lain, mendapatkan kerja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;yang lebih baik lagi. Sang anak telah              sehat, walaupun tetap menjalani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;perawatan medis secara rutin              setiap bulan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Seperti biasa, sang anak ingat akan hari              ulang tahun ibunya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Uang pun dapat ia peroleh dengan mudah,              tanpa perlu bersusah payah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mengumpulkannya. Maka, pada hari tsb,              sepulang dari sekolah, ia tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;pulang ke rumah, ia segera naik              bus menuju ke desa tempat tinggal ibunya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;yang memakan waktu              beberapa jam. Sang anak telah mempersiapkan setangkai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bunga,              sepucuk surat yang menyatakan ia setiap hari merindukan ibu,              sebuah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;kartu ucapan selamat ulang tahun, dan nilai ujian yang              sangat bagus. Ia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;akan memberikan semuanya untuk              ibu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang anak berlari riang gembira melewati gang-gang              kecil menuju rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Tetapi ketika sampai di rumah, ia              mendapati rumah ini telah kosong.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Tetangga mengatakan ibunya              telah pindah, dan tidak ada yang tahu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;kemana ibunya pergi. Sang              anak tidak tahu harus berbuat apa, ia duduk di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;depan rumah tsb,              menangis 'Ibu benar2 tidak menginginkan saya              lagi.'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sementara itu, keluarga sang ayah begitu cemas,              ketika sang anak sudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;terlambat pulang ke rumah selama lebih              dari 3 jam. Guru sekolah mengatakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;semuanya sudah pulang. Semua              tempat sudah dicari, tetapi tidak ada kabar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Mereka panik.              Sang ayah menelpon ibunya, yang juga sangat terkejut. Polisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;pun              dihubungi untuk melaporkan anak hilang.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ketika sang ibu              sedang berpikir keras, tiba2 ia teringat sesuatu. Hari ini&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;adalah              hari ulang tahunnya. Ia terlalu sibuk sampai melupakannya.              Anaknya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mungkin pulang ke rumah. Maka sang ayah dan sang ibu              segera naik mobil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menuju rumah tsb. Sayangnya, mereka hanya              menemukan kartu ulang tahun,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;setangkai bunga, nilai ujian yang              bagus, dan sepucuk surat anaknya. Sang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ibu tidak mampu menahan              tangisannya, saat membaca tulisan2 imut anaknya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;dalam surat              itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Hari mulai gelap. Mereka sibuk mencari di sekitar              desa tsb, tanpa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mendapatkan petunjuk apapun. Sang ibu semakin              resah. Kemudian sang ibu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;membakar dupa, berlutut di hadapan altar              Dewi Kuan Im, sambil menangis ia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;memohon agar bisa menemukan              anaknya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Seperti mendapat petunjuk, sang ibu tiba2 ingat              bahwa ia dan anaknya pernah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;pergi ke sebuah kuil Kuan Im di desa              tsb. Ibunya pernah berkata, bahwa bila&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;kamu memerlukan              pertolongan, mohonlah kepada Dewi Kuan Im yang welas asih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Dewi              Kuan Im pasti akan menolongmu, jika niat kamu baik.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ibunya              memprediksikan bahwa anaknya mungkin pergi ke kuil tsb untuk              memohon&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;agar bisa bertemu dengan dirinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Benar saja,              ternyata sang anak berada di sana . Tetapi ia pingsan,              demamnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tinggi sekali. Sang ayah segera menggendong anaknya              untuk dilarikan ke&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;rumah sakit. Saat menuruni tangga kuil, sang              ibu terjatuh dari tangga, dan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;berguling2 jatuh ke bawah.......              ... ..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;============ 000====== ========&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sepuluh              tahun sudah berlalu. Kini sang anak sudah memasuki bangku              kuliah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Ia sering beradu mulut dengan ayah, mengenai persoalan              ibunya. Sejak jatuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;dari tangga, ibunya tidak pernah ditemukan.              Sang anak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;telah banyak menghabiskan uang untuk mencari ibunya              kemana2, tetapi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;hasilnya nihil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Siang itu, seperti              biasa sehabis kuliah, sang anak berjalan bersama dengan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;teman              wanitanya. Mereka tampak serasi. Saat melaju dengan mobil,              di&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;persimpangan sebuah jalan, ia melihat seorang wanita tua yang              sedang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mengemis. Ibu tsb terlihat kumuh, dan tampak memakai              tongkat. Ia tidak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;pernah melihat wanita itu sebelumnya. Wajahnya              kumal, dan ia tampak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;berkomat-kamit.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Di dorong rasa              ingin tahu, ia menghentikan mobilnya, dan turun bersama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;pacar              untuk menghampiri pengemis tua itu. Ternyata sang pengemis tua              sambil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;mengacungkan kaleng kosong untuk minta sedekah, ia berucap              dengan lemah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;'Dimanakah anakku? Apakah kalian melihat              anakku?'&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang anak merasa mengenal wanita tua itu. Tanpa              disadari, ia segera&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menyanyikan lagu 'Shi Sang Ci You Mama Hau'              dengan suara perlahan, tak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;disangka sang pengemis tua ikut              menyanyikannya dengan suara lemah. Mereka&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;berdua menyanyi              bersama. Ia segera mengenal suara ibunya yang selalu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;menyanyikan              lagu tsb saat ia kecil, sang anak segera memeluk pengemis tua&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;itu              dan berteriak dengan haru 'Ibu? Ini saya ibu'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Sang              pengemis tua itu terkejut, ia meraba2 muka sang anak, lalu              bertanya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;'Apakah kamu ??..(nama anak itu)?' 'Benar bu, saya              adalah anak ibu?'.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Keduanya pun berpelukan dengan erat, air              mata keduanya berbaur membasahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;bumi ............ ...              .&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;Karena jatuh dari tangga, sang ibu yang terbentur kepalanya              menjadi hilang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;ingatan, tetapi ia setiap hari selama sepuluh              tahun terus mencari anaknya,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;tanpa peduli dengan keadaaan              dirinya. Sebagian orang menganggapnya sebagai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family: arial;"&gt;orang              gila.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-6037485060024212822?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/6037485060024212822/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=6037485060024212822' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/6037485060024212822'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/6037485060024212822'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/12/mothers-tale.html' title='Mother&apos;s Tale'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-1222492082538985524</id><published>2008-12-20T04:55:00.000-08:00</published><updated>2008-12-20T04:57:46.261-08:00</updated><title type='text'>Yu Yuan's Tale</title><content type='html'>Kisah ini tentang seorang gadis kecil yang cantik yang          memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu polos. Dia          adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama          delapan tahun. Satu kalimat terakhir yang ia tinggalkan di batu nisannya          adalah "saya pernah datang dan saya sangat penurut". Anak ini rela          melepasakan pengobatan, padahal sebelumnya dia telah memiliki dana          pengobatan sebanyak 540.000 dolar yang didapat dari perkumpulan orang          Chinese seluruh dunia. Dia membagi dana tersebut menjadi tujuh bagian,          yang dibagikan kepada tujuh anak kecil yang juga sedang berjuang          menghadapi kematian. Dan dia rela melepaskan          pengobatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu lahir dia sudah tidak mengetahui siapa          orang tua kandungnya. Dia hanya memiliki seorang papa yang          mengadopsinya. Papanya berumur 30 tahun yang bertempat tinggal di          provinsi She Cuan kecamatan Suang Liu, kota Sang Xin Zhen Yun Ya Chun Er          Cu. Karena miskin, maka selama ini ia tidak menemukan pasangan hidupnya.          Kalau masih harus mengadopsi anak kecil ini, mungkin tidak ada lagi          orang yang mau dilamar olehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 30 November 1996,          tgl 20 bln 10 imlek, adalah saat dimana papanya menemukan anak kecil          tersebut diatas hamparan rumput, disanalah papanya menemukan seorang          bayi kecil yang sedang kedinginan. Pada saat menemukan anak ini, di          dadanya terdapat selembar kartu kecil tertulis, 20 November jam          12.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat anak kecil ini menangis dengan suara tangisannya          sudah mulai melemah. Papanya berpikir kalau tidak ada orang yang          memperhatikannya, maka kapan saja bayi ini bisa meninggal. Dengan berat          hati papanya memeluk bayi tersebut, dengan menghela nafas dan berkata,          “saya makan apa, maka kamu juga ikut apa yang saya makan”. Kemudian,          papanya memberikan dia nama Yu Yan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah kisah seorang          pemuda yang belum menikah yang membesarkan seorang anak, tidak ada Asi          dan juga tidak mampu membeli susu bubuk, hanya mampu memberi makan bayi          tersebut dengan air tajin (air beras). Maka dari kecil anak ini tumbuh          menjadi lemah dan sakit-sakitan. Tetapi anak ini sangat penurut dan          sangat patuh. Musim silih berganti, Yu Yuan pun tumbuh dan bertambah          besar serta memiliki kepintaran yang luar biasa. Para tetangga sering          memuji Yu Yuan sangat pintar, walaupun dari kecil sering sakit-sakitan          dan mereka sangat menyukai Yu Yuan. Ditengah ketakutan dan kecemasan          papanya, Yu Yuan pelan-pelan tumbuh dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yu Yuan yang hidup          dalam kesusahan memang luar biasa, mulai dari umur lima tahun, dia sudah          membantu papa mengerjakan pekerjaan rumah. Mencuci baju, memasak nasi          dan memotong rumput. Setiap hal dia kerjakan dengan baik. Dia sadar dia          berbeda dengan anak-anak lain. Anak-anak lain memiliki sepasang orang          tua, sedangkan dia hanya memiliki seorang papa. Keluarga ini hanya          mengandalkan dia dan papa yang saling menopang. Dia harus menjadi          seorang anak yang penurut dan tidak boleh membuat papa menjadi sedih dan          marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat dia masuk sekolah dasar, dia sendiri sudah          sangat mengerti, harus giat belajar dan menjadi juara di sekolah. Inilah          yang bisa membuat papanya yang tidak berpendidikan menjadi bangga di          desanya. Dia tidak pernah mengecewakan papanya, dia pun bernyanyi untuk          papanya. Setiap hal yang lucu yang terjadi di sekolahnya di ceritakan          kepada papanya. Kadang-kadang dia bisa nakal dengan mengeluarkan          soal-soal yang susah untuk menguji papanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali melihat          senyuman papanya, dia merasa puas dan bahagia. Walaupun tidak seperti          anak-anak lain yang memiliki mama, tetapi bisa hidup bahagia dengan          papa, ia sudah sangat berbahagia. Mulai dari bulan Mei 2005 Yu Yuan          mulai mengalami mimisan. Pada suatu pagi saat Yu Yuan sedang mencuci          muka, ia menyadari bahwa air cuci mukanya sudah penuh dengan darah yang          ternyata berasal dari hidungnya. Dengan berbagai cara tidak bisa          menghentikan pendarahan tersebut. Sehingga papanya membawa Yu Yuan ke          puskesmas desa untuk disuntik. Tetapi sayangnya dari bekas suntikan itu          juga mengeluarkan darah dan tidak mau berhenti. Dipahanya mulai          bermunculan bintik-bintik merah. Dokter tersebut menyarankan papanya          untuk membawa Yu Yuan ke rumah sakit untuk diperiksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu tiba          di rumah sakit, Yu Yuan tidak mendapatkan nomor karena antrian sudah          panjang. Yu Yuan hanya bisa duduk sendiri dikursi yang panjang untuk          menutupi hidungnya. Darah yang keluar dari hidungnya bagaikan air yang          terus mengalir dan memerahi lantai. Karena papanya merasa tidak enak          kemudian mengambil sebuah baskom kecil untuk menampung darah yang keluar          dari hidung Yu Yuan. Tidak sampai sepuluh menit, baskom yang kecil          tersebut sudah penuh berisi darah yang keluar dari hidung Yu          Yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dokter yang melihat keadaaan ini cepat-cepat membawa Yu          Yuan untuk diperiksa. Setelah diperiksa, dokter menyatakan bahwa Yu Yuan          terkena Leukimia ganas. Pengobatan penyakit tersebut sangat mahal yang          memerlukan biaya sebesar 300.000 $. Papanya mulai cemas melihat anaknya          yang terbaring lemah di ranjang. Papanya hanya memiliki satu niat yaitu          menyelamatkan anaknya. Dengan berbagai cara meminjam uang ke sanak          saudara dan teman dan ternyata, uang yang terkumpul sangatlah sedikit.          Papanya akhirnya mengambil keputusan untuk menjual rumahnya yang          merupakan harta satu satunya. Tapi karena rumahnya terlalu kumuh, dalam          waktu yang singkat tidak bisa menemukan seorang pembeli.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat          mata papanya yang sedih dan pipi yang kian hari kian kurus. Dalam hati          Yu Yuan merasa sedih. Pada suatu hari Yu Yuan menarik tangan papanya,          air mata pun mengalir dikala kata-kata belum sempat terlontar. “Papa          saya ingin mati”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Papanya dengan pandangan yang kaget melihat Yu          Yuan, “Kamu baru berumur 8 tahun kenapa mau mati”. “Saya adalah anak          yang dipungut, semua orang berkata nyawa saya tak berharga, tidaklah          cocok dengan penyakit ini, biarlah saya keluar dari rumah sakit          ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 18 juni, Yu Yuan mewakili papanya yang tidak          mengenal huruf, menandatangani surat keterangan pelepasan perawatan.          Anak yang berumur delapan tahun itu pun mengatur segala sesuatu yang          berhubungan dengan pemakamannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu juga setelah          pulang kerumah, Yu Yuan yang sejak kecil tidak pernah memiliki          permintaan, hari itu meminta dua permohonan kepada papanya. Dia ingin          memakai baju baru dan berfoto. Yu Yuan berkata kepada papanya: “Setelah          saya tidak ada, kalau papa merindukan saya lihatlah melihat foto ini”.          Hari kedua, papanya menyuruh bibi menemani Yu Yuan pergi ke kota dan          membeli baju baru. Yu Yuan sendirilah yang memilih baju yang dibelinya.          Bibinya memilihkan satu rok yang berwarna putih dengan corak          bintik-bintik merah. Begitu mencoba dan tidak rela melepaskannya.          Kemudian mereka bertiga tiba di sebuah studio foto. Yu Yuan kemudia          memakai baju barunya dengan pose secantik mungkin berjuang untuk          tersenyum. Bagaimanapun ia berusaha tersenyum, pada akhirnya juga tidak          bisa menahan air matanya yang mengalir keluar. Kalau bukan karena          seorang wartawan Chuan Yuan yang bekerja di surat kabar Cheng Du Wan          Bao, Yu Yuan akan seperti selembar daun yang lepas dari pohon dan hilang          ditiup angin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mengetahui keadaan Yu Yuan dari rumah          sakit, Chuan Yuan kemudian menuliskan sebuah laporan, menceritakan kisah          Yu Yuan secara detail. Cerita tentang anak yg berumur 8 tahun mengatur          pemakamannya sendiri dan akhirnya menyebar keseluruh kota Rong Cheng.          Banyak orang-orang yang tergugah oleh seorang anak kecil yang sakit ini,          dari ibu kota sampai satu negara bahkan sampai ke seluruh dunia. Mereka          mengirim email ke seluruh dunia untuk menggalang dana bagi anak ini.          Dunia yang damai ini menjadi suara panggilan yang sangat kuat bagi          setiap orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya dalam waktu sepuluh hari, dari perkumpulan          orang Chinese didunia saja telah mengumpulkan 560.000 dolar. Biaya          operasi pun telah tercukupi. Titik kehidupan Yu Yuan sekali lagi          dihidupkan oleh cinta kasih semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, pengumuman          penggalangan dana dihentikan, tetapi dana terus mengalir dari seluruh          dunia. Dana pun telah tersedia dan para dokter sudah ada untuk mengobati          Yu Yuan. Satu demi satu gerbang kesulitan pengobatan juga telah          dilewati. Semua orang menunggu hari suksesnya Yu Yuan. Ada seorang teman          di-email bahkan menulis: “Yu Yuan anakku yang tercinta saya mengharapkan          kesembuhanmu dan keluar dari rumah sakit. Saya mendoakanmu cepat kembali          ke sekolah. Saya mendambakanmu bisa tumbuh besar dan sehat. Yu Yuan          anakku tercinta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 21 Juni, Yu Yuan yang telah          melepaskan pengobatan dan menunggu kematian akhirnya dibawa kembali ke          ibu kota. Dana yang sudah terkumpul, membuat jiwa yang lemah ini          memiliki harapan dan alasan untuk terus bertahan hidup. Yu Yuan akhirnya          menerima pengobatan dan dia sangat menderita didalam sebuah pintu kaca          tempat dia berobat. Yu Yuan kemudian berbaring di ranjang untuk diinfus.          Ketegaran anak kecil ini membuat semua orang kagum padanya. Dokter yang          menangani dia, Shii Min berkata, dalam perjalanan proses terapi akan          mendatangkan mual yang sangat hebat. Pada permulaan terapi Yu Yuan          sering sekali muntah. Tetapi Yu Yuan tidak pernah mengeluh. Pada saat          pertama kali melakukan pemeriksaan sumsum tulang belakang, jarum suntik          ditusukkan dari depan dadanya, tetapi Yu Yuan tidak menangis dan juga          tidak berteriak, bahkan tidak meneteskan air mata. Yu yuan yang dari          dari lahir sampai maut menjemput tidak pernah mendapat kasih sayang          seorang ibu. Pada saat dokter Shii Min menawarkan Yu Yuan untuk menjadi          anak perempuannya. Air mata Yu Yuan pun mengalir tak          terbendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari kedua saat dokter Shii Min datang, Yu Yuan          dengan malu-malu memanggil dengan sebutan Shii Mama. Pertama kalinya          mendengar suara itu, Shii Min kaget, dan kemudian dengan tersenyum dan          menjawab, “Anak yang baik”. Semua orang mendambakan sebuah keajaiban dan          menunggu momen dimana Yu Yuan hidup dan sembuh kembali. Banyak          masyarakat datang untuk menjenguk Yu Yuan dan banyak orang menanyakan          kabar Yu Yuan dari email. Selama dua bulan Yu Yuan melakukan terapi dan          telah berjuang menerobos sembilan pintu maut. Pernah mengalami          pendarahan dipencernaan dan selalu selamat dari bencana. Sampai akhirnya          darah putih dari tubuh Yu Yuan sudah bisa terkontrol. Semua orang-orang          pun menunggu kabar baik dari kesembuhan Yu Yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi efek          samping yang dikeluarkan oleh obat-obat terapi sangatlah menakutkan,          apalagi dibandingkan dengan anak-anak leukemia yang lain. Fisik Yu Yuan          jauh sangat lemah. Setelah melewati operasi tersebut fisik Yu Yuan          semakin lemah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 20 agustus, Yu Yuan bertanya kepada          wartawan Fu Yuan: “Tante kenapa mereka mau menyumbang dana untuk saya?          Tanya Yu Yuan kepada wartawan tersebut. Wartawan tersebut menjawab,          karena mereka semua adalah orang yang baik hati”. Yu Yuan kemudia          berkata : “Tante saya juga mau menjadi orang yang baik hati”. Wartawan          itupun menjawab, “Kamu memang orang yang baik. Orang baik harus saling          membantu agar bisa berubah menjadi semakin baik”. Yu yuan dari bawah          bantal tidurnya mengambil sebuah buku, dan diberikan kepada ke Fu Yuan.          “Tante ini adalah surat wasiat saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fu yuan kaget, sekali          membuka dan melihat surat tersebut ternyata Yu Yuan telah mengatur          tentang pengaturan pemakamannya sendiri. Ini adalah seorang anak yang          berumur delapan tahun yang sedang menghadapi sebuah kematian dan diatas          ranjang menulis tiga halaman surat wasiat dan dibagi menjadi enam          bagian, dengan pembukaan, tante Fu Yuan, dan diakhiri dengan selamat          tinggal tante Fu Yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam satu artikel itu nama Fu Yuan muncul          tujuh kali dan masih ada sembilan sebutan singkat tante wartawan.          Dibelakang ada enam belas sebutan dan ini adalah kata setelah Yu Yuan          meninggal. Tolong,……. Dan dia juga ingin menyatakan terima kasih serta          selamat tinggal kepada orang- orang yang selama ini telah memperhatikan          dia lewat surat kabar. “Sampai jumpa tante, kita berjumpa lagi dalam          mimpi. Tolong jaga papa saya. Dan sedikit dari dana pengobatan ini bisa          dibagikan kepada sekolah saya. Dan katakan ini juga pada pemimpin palang          merah. Setelah saya meninggal, biaya pengobatan itu dibagikan kepada          orang-orang yang sakit seperti saya. Biar mereka lekas sembuh”. Surat          wasiat ini membuat Fu Yuan tidak bisa menahan tangis yang membasahi          pipinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pernah datang, saya sangat patuh, demikianlah          kata-kata yang keluar dari bibir Yu Yuan. Pada tanggal 22 agustus,          karena pendarahan dipencernaan hampir satu bulan, Yu Yuan tidak bisa          makan dan hanya bisa mengandalkan infus untuk bertahan hidup. Mula          mulanya berusaha mencuri makan, Yu Yuan mengambil mie instant dan          memakannya. Hal ini membuat pendarahan di pencernaan Yu Yuan semakin          parah. Dokter dan perawat pun secepatnya memberikan pertolongan darurat          dan memberi infus dan transfer darah setelah melihat pendarahan Yu Yuan          yang sangat hebat. Dokter dan para perawat pun ikut          menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang ingin membantu meringankan pederitaannya.          Tetapi tetap tidak bisa membantunya. Yu Yuan yang telah menderita karena          penyakit tersebut akhirnya meninggal dengan tenang. Semua orang tidak          bisa menerima kenyataan ini melihat malaikat kecil yang cantik yang suci          bagaikan air. Sungguh telah pergi kedunia lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dikecamatan She          Chuan, sebuah email pun dipenuhi tangisan menghantar kepergian Yu Yuan.          Banyak yang mengirimkan ucapan turut berduka cita dengan karangan bunga          yang ditumpuk setinggi gunung. Ada seorang pemuda berkata dengan pelan          “Anak kecil, kamu sebenarnya adalah malaikat kecil diatas langit,          kepakanlah kedua sayapmu. Terbanglah……………” demikian kata-kata dari          seorang pemuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 26 Agustus, pemakaman Yu          Yuan dilaksanakan saat hujan gerimis. Didepan rumah duka, banyak          orang-orang berdiri dan menangis mengantar kepergian Yu Yuan. Mereka          adalah papa-mama Yu Yuan yang tidak dikenal oleh Yu Yuan semasa          hidupnya. Demi Yu Yuan yang menderita karena leukemia dan melepaskan          pengobatan demi orang lain, maka datanglah papa mama dari berbagai          daerah yang diam-diam mengantarkan kepergian Yu Yuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di depan          kuburannya terdapat selembar foto Yu Yuan yang sedang tertawa. Diatas          batu nisannya tertulis, “Aku pernah datang dan aku sangat patuh” (30 nov          1996- 22 agus 2005). Dan dibelakangnya terukir perjalanan singkat          riwayat hidup Yu Yuan. Dua kalimat terakhir adalah disaat dia masih          hidup telah menerima kehangatan dari dunia. Beristirahatlah gadis          kecilku, nirwana akan menjadi lebih ceria dengan adanya          dirimu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesuai pesan dari Yu Yuan, sisa dana 540.000 dolar          tersebut disumbangkan kepada anak-anak penderita luekimia lainnya. Tujuh          anak yang menerima bantuan dana Yu Yuan itu adalah : Shii Li, Huang Zhi          Qiang, Liu Ling Lu, Zhang Yu Jie, Gao Jian, Wang Jie. Tujuh anak kecil          yang kasihan ini semua berasal dari keluarga tidak mampu. Mereka adalah          anak-anak miskin yang berjuang melawan kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tanggal 24          September, anak pertama yang menerima bantuan dari Yu Yuan di rumah          sakit Hua Xi berhasil melakukan operasi. Senyuman yang mengambang pun          terlukis diraut wajah anak tersebut. “Saya telah menerima bantuan dari          kehidupan Anda, terima kasih adik Yu Yuan, kamu pasti sedang melihat          kami diatas sana. Jangan risau, kelak di batu nisan, kami juga akan          mengukirnya dengan kata-kata “Aku pernah datang dan aku sangat          patuh”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;img alt="" border="0" /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sebuah kisah yang sangat          menggugah hati kita. Seorang anak kecil yang berjuang bertahan hidup dan          akhirnya harus menghadapi kematian akibat sakit yang dideritanya. Dengan          kepolosan dan ketulusan serta baktinya kepada orang tuanya, akhirnya          mendapatkan respon yang luar biasa dari kalangan Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun          hidup serba kekurangan, Dia bisa memberikan kasihnya terhadap sesama.          Inilah contoh yang seharusnya kita pun mampu melakukan hal yang sama,          berbuat sesuatu yang bermakna bagi sesama, memberikan sedikit kehangatan          dan perhatian kepada orang yang membutuhkan. Pribadi dan hati seperti          inilah yang dinamakan pribadi seorang Pengasih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-1222492082538985524?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/1222492082538985524/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=1222492082538985524' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/1222492082538985524'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/1222492082538985524'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/12/yu-yuans-tale.html' title='Yu Yuan&apos;s Tale'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-4985408442608994714</id><published>2008-12-18T08:05:00.001-08:00</published><updated>2008-12-18T08:08:03.999-08:00</updated><title type='text'>Little Girl</title><content type='html'>&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Dahulu kala, di sebuah negara yang seperti sekarang engkau dan saya tinggal, terdapat seorang raja yang baik hati.Di negara tersebut terdapat sebuah desa yang agak terpencil, di sana tinggal 5 bersaudara yang sudah tidak mempunyai papa dan mama mereka sudah yatim piatu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Setiap musim dingin, mereka akan tidur sambil berpelukan untuk menghangatkan badan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Setelah Raja mengetahui mereka berlima sudah yatim piatu, raja bermaksud mengangkat mereka menjadi anak-anaknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Dia mengumumkan, bahwa dia akan segera datang kedesa untuk melihat mereka dan akan segera menjadi bapak angkat mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Ketika kelima bersaudara ini mengetahui kabar ini, mereka sangat gembira sekali.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Penduduk desa setelah mengetahui hal tersebut juga sangat bersemangat dan beramai-ramai datang kerumah kelima bersaudara ini menasehati mereka : "Diantara kalian berlima yang bisa menyediakan kado paling istimewa kepada raja tentu akan menjadi kesayangan raja. "&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Mereka semua tidak mengetahui sifat raja yang sebenarnya, mereka hanya menaksir, biasanya seorang raja tentu bersifat siapa yang dapat mengambil hatinya dia yang akan menjadi kesayangan ?.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Setelah mendengar nasehat penduduk desa, kelima bersaudara ini dengan giat segera mempersiapkan kado untuk raja, untuk mengambil hati raja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Salah satu diantara kelima bersaudara ini mempunyai keahlian memahat kayu, dan dia bermaksud mengukir sebuah benda yang istimewa untuk raja, dengan pisaunya dia sibuk mengukir disebuah kayu, karena dia ahli sekali dengan seni ukir maka setiap barang yang diukir kelihatan seperti benda hidup.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Kakaknya bermaksud melukis sebuah lukisan surga, supaya raja dapat mengantungkan lukisannya di istana raja, kakaknya yang lain sangat pintar menyanyi dan bermain alat musik, dia akan menghadiahkan sebuah lagu yang merdu kepada raja, setiap hari dia berlatih menyanyi, sehingga penduduk desa yang lewat akan berhenti didepan jendela rumah mendengarkan suara nyanyiannya yang merdu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Seorang abangnya menginginkan raja mengetahui kepintarannya, sehingga setiap malam dia belajar sampai tengah malam, matematika, ilmu alam, ilmu pasti semua dipelajarinya, dia sangat pintar dan ingin raja mengagumi kepintarannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Tetapi si bungsu diantara kelima bersaudara ini tidak mengetahui akan menghadiahkan kado apa kepada raja? Gerakannya agak lamban sehingga tidak cocok untuk mengukir, tangannya sangat kaku sehingga tidak bisa melukis, suaranya yang tidak merdu membuatnya tidak bisa menyanyi dan otaknya tidak begitu pintar seperti kakak-kakaknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Dia hanya seorang gadis kecil yang menjaga kuda, biasanya dia akan berdiri di depan jalan yang masuk kedesa mereka, dan melihat keramaian orang yang lewat setiap ada kesempatan dia akan membantu penunggang kuda yang lewat untuk memberi makan, minum kuda dan menyikat bulu kuda, mereka akan memberikannya sedikit uang dan dengan uang ini dia akan memberi makanan untuk abang dan kakak-kakaknya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Gadis kecil ini menganggap dirinya tidak ada yang istimewa yang dapat diberikan kepada raja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Tetapi sebenarnya dia mempunyai sebuah hal yang istimewa yang dia sendiri tidak tahu, hatinya sangat baik, dia akan menyapa setiap pengemis dengan namanya. Dia akan memberi makan kepada anjing dan kucing jalanan yang kelaparan. Dia akan dengan ramah menyapa setiap orang yang berkunjung kedesa mereka dan memberi bantuan kepada mereka, dan bertanya kepada mereka : "Apakah kalian capek dalam perjalanan ini? Dapatkah kalian memberitahukan kepada saya apa yang kalian pelajari diperjalanan ini? Apakah engkau menyukai pekerjaan anda yang baru?" Dengan ramah dan sabar dia akan mengobrol dan mendengar keluh kesah orang yang lewat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Karena hatinya yang lapang, dan perhatiannya yang besar kepada orang lain, ia ingin mengetahui keadaan orang lain dia selalu bertanya, tidak pandang bulu kepada siapa saja, terhadap seorang pengemis maupun seorang saudagar kaya yang lewat dia akan selalu menyapa mereka dengan ramah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Gadis kecil ini masih menganggap dirinya bukan apapun, karena itu dia khawatir raja tidak akan menyukainya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Dia ingat nasehat dari penduduk desa maka dia harus memberikan sebuah kado yang istimewa untuk raja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Dia mengambil sebuah pisau kecil, datang ke samping abangnya yang pintar mengukir dan berkata : "Abang, dapatkah engkau mengajar saya mengukir? "Abangnya yang sedang sibuk tidak melihat kearahnya menjawab "Maaf, saya sibuk sekali, engkau tahukan raja akan segera datang."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Gadis kecil ini lalu meletakkan pisau kecilnya dan mengambil sebuah kuas untuk melukis.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Dia lalu datang ke tempat kakaknya di lembah gunung sedang melukis matahari terbenam.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Lukisanmu sungguh cantik kakak !" gadis kecil yang baik hati ini berkata dengan lembut.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Saya tahu." jawab kakaknya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Dapatkah engkau mengajar saya melukis?" gadis kecil ini bertanya "Sekarang tidak bisa" jawab kakaknya tanpa memalingkan kepala kepadanya "Engkau tahukan raja akan segera datang."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Gadis kecil ini teringat kepada kakaknya yang pintar menyanyi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Kakak yang ini tentu akan membantu saya " dalam hati dia berkata.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Dia datang ke tempat kakaknya dan melihat banyak orang yang mengelilingi mendengar kakaknya bernyanyi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Kakak ! Kakak ! saya datang mendengar engkau bernyanyi, bisakah engkau mengajar saya bernyanyi !" teriak gadis kecil ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Tetapi kakaknya tidak mendengar suara teriakannya karena orang ramai sedang bertepuk tangan dengan meriah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Maka dengan sedih gadis kecil ini menundukkan kepala meninggalkan tempat ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Saat ini dia teringat dia masih mempunyai seorang abang yang pintar dan rajin belajar.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Lalu dia mengambil sebuah buku dan lari ketempat abangnya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Gadis kecil ini berkata kepada abangnya "Saya tidak ada kado untuk diberikan kepada raja, dapatkah engkau mengajar saya membaca, supaya raja dapat melihat kepintaran saya membaca." Abangnya yang kutu buku tidak menjawab, dia sedang asyik merenung.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Lalu gadis ini berkata lagi "Abang, dapatkah engkau membantu saya?, saya apapun tidak...."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Pergi dari sini !" teriak abangnya memutuskan percakapan adiknya "Engkau tahukan raja akan segera datang."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Dengan sedih gadis kecil ini meninggalkan abangnya. Tidak ada kado istimewa yang bisa dia sediakan untuk raja, lalu dia pergi ke gerbang masuk ke desa melanjutkan pekerjaan biasa yaitu memberi makan kepada hewan dan duduk disana menunggu orang lewat.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Beberapa hari kemudian, seorang bapak datang ke desa mereka.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Dapatkah engkau memberi makan kepada keledai saya ?" Tanya bapak ini kepada gadis kecil.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Mendengar suaranya lembut, gadis kecil ini langsung berdiri, dan memperhatikan wajah bapak ini. Dibawah cahaya matahari, wajahnya yang berwarna tembaga yang disinari matahari kelihatan bercahaya, matanya kelihatan lembut dan dengan suara ramah membuat gadis kecil ini merasa akrab dengannya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Tentu bisa, serahkan kepada saya saja !" jawab gadis kecil ini dengan cepat dan menarik keledai ketempat penampungan air dan memberi dia minum "tinggalkan saja dia disini saya akan memberi dia makan, minum dan menggosok bulunya sampai kilat." &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Gadis kecil ini sambil memberi keledai minum sambil bertanya kepada bapak ini "apakah engkau akan menginap di desa ini ?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Ia menjawab "Ya saya akan menginap disini beberapa hari, saya datang kedesa ini mencari orang "&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Bapak datang dari tempat yang jauh, dalam perjalanan tentu capek ya"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Ia, saya merasa capek."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Jika capek, bapak bisa duduk dibangku sana beristirahat sebentar" kata gadis kecil ini sambil menunjuk ke sebuah bangku panjang yang terletak didekat dinding. Bapak ini duduk dikursi dan menyandar didinding karena kecapekan lalu tertidur dengan nyenyak.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Tidak berapa lama kemudian, dia terbangun dan melihat gadis kecil ini duduk didekat kakinya sedang memperhatikannya, setelah gadis kecil ini melihatnya terbangun dengan malu memalingkan kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Bapak ini berkata "Anakku, engkau sudah lama duduk disini ?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"He..eh"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Apa yang sedang engkau lihat ?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Tidak ada apa-apa, saya hanya merasa engkau sangat ramah, saya merasa nyaman duduk didekat bapak."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Bapak ini tertawa dengan gembira "Engkau seorang gadis kecil yang baik, setelah saya kembali dari mencari orang saya akan datang menjenguk engkau lagi."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Beberapa saat kemudian Bapak ini kembali lagi.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Engkau sudah bertemu dengan orang yang engkau cari ?" gadis kecil ini bertanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Sudah bertemu, tetapi mereka semua sedang sibuk."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Kenapa bisa begitu ?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Orang yang pertama akan saya cari adalah seorang pengukir, dia sedang sibuk mengukir sebuah benda, dia menyuruh saya kembali lagi besok, orang yang kedua yang akan saya cari adalah seorang pelukis, saya melihat dia sedang melukis diatas gunung, penduduk desa dilereng gunung berkata dia sedang sibuk tidak ingin diganggu orang lain. Yang lain adalah seorang penyanyi, saya duduk mendengar dia bernyanyi dan ingin berbicara dengannya tetapi dia sibuk bernyanyi terus. Yang seorang lagi tidak ada ditempat, dia sedang sekolah di kota .&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Sekarang gadis kecil ini mengetahui siapa bapak ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Dengan mata melotot dan menarik nafas dalam-dalam dia berkata "Engkau tidak kelihatan seperti seorang raja."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Sebisa mungkin saya berusaha tidak serupa dengan raja" jawab raja "Karena menjadi seorang raja akan kesepian, orang-orang disamping saya tidak menganggap saya sebagai orang biasa, mereka selalu menginginkan mendapat keuntungan dari saya, selalu berkeluh kesah dan menjilat kepada saya."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Tetapi, bukankah ini sifat raja ?" jawab gadis kecil ini.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Tentu saja demikian, tetapi kadang-kadang saya juga ingin dekat dengan rakyat saya, kadang-kadang berbicara dengan mereka, mendengar kebiasaan hidup mereka, bercanda dan menangis dengan mereka, kadang-kadang ingin menjadi bapak mereka."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Oh, itu yang membuat engkau ingin memungut anak-anak yatim piatu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Benar, karena orang dewasa biasanya suka menjilat saya, anak kecil tidak demikian, mereka sangat polos dan akan mengobrol dengan saya, mereka tahu saya benar-benar mencintai mereka dan cinta mereka terhadap saya tanpa pamrih."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Tetapi Abang-abang saya sangat sibuk, mereka hanya ingin memberi sebuah kejutan untukmu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;"Saya tahu, saya akan kembali lagi, mungkin disaat itu mereka tidak begitu sibuk lagi."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Gadis kecil ini berpikir sejenak "Bagaimana dengan saya bapak?, saya tidak ada sesuatupun yang bisa saya berikan kepadamu, tetapi saya ingin menjadi anakmu?"&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Dengan tertawa terbahak-bahak raja menjawab "Anakku sayang, engkau adalah hadiah terbaik bagiku, engkau telah memberikan hatimu, kebaikanmu, waktumu, juga cintamu, engkau tentu bisa menjadi anakku, saya mencintai sifat aslimu."&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div&gt;&lt;span style="font-family:Comic Sans MS;font-size:85%;color:#444444;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; font-family: 'Comic Sans MS';"&gt;Kakak-kakaknya yang pintar sibuk dengan keahlian masing-masing, sehingga tidak mempunyai waktu bertemu dengan raja, sedangkan gadis kecil ini yang tidak mempunyai keahlian apapun, hanya mempunyai sebuah hati yang baik, tulus, ramah dan tidak berusaha mengubah sifat aslinya yang baik malah menjadi anak angkat raja.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-4985408442608994714?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/4985408442608994714/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=4985408442608994714' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/4985408442608994714'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/4985408442608994714'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/12/little-girl_18.html' title='Little Girl'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-6287817167873103564</id><published>2008-12-18T07:46:00.000-08:00</published><updated>2008-12-18T07:47:55.182-08:00</updated><title type='text'>The Rice Bowl</title><content type='html'>Pada sebuah senja dua puluh tahun yang lalu, terdapat seorang pemuda yang kelihatannya seperti seorang mahasiswa berjalan mondar mandir di depan sebuah rumah makan cepat saji di kota  metropolitan, menunggu sampai tamu  di restoran sudah agak sepi, dengan sifat yang segan dan malu-malu dia masuk ke dalam restoran tersebut.&lt;br /&gt;"Tolong sajikan saya semangkuk nasi putih." &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kepala menunduk pemuda ini berkata kepada pemilik rumah makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang suami istri muda pemilik rumah makan, memperhatikan pemuda ini&lt;br /&gt;hanya meminta semangkuk nasi putih dan tidak memesan lauk apapun, lalu&lt;br /&gt;menghidangkan semangkuk penuh nasi putih untuknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pemuda ini menerima nasi putih dan sedang membayar berkata dengan pelan :&lt;br /&gt;"dapatkah menyiram sedikit kuah sayur diatas nasi saya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri pemilik rumah berkata sambil tersenyum :&lt;br /&gt;"Ambil saja apa yang engkau suka, tidak perlu bayar !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum habis makan, pemuda ini berpikir : "kuah sayur gratis."&lt;br /&gt;Lalu memesan semangkuk lagi nasi putih.&lt;br /&gt;"Semangkuk tidak cukup anak muda, kali ini saya akan berikan lebih banyak lagi nasinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan tersenyum ramah pemilik rumah makan berkata kepada pemuda ini.&lt;br /&gt;"Bukan, saya akan membawa pulang, besok akan membawa ke sekolah sebagai makan siang saya !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar perkataan pemuda ini, pemilik rumah makan berpikir pemuda ini&lt;br /&gt;tentu dari keluarga miskin diluar kota , demi menuntut ilmu datang kekota,&lt;br /&gt;mencari uang sendiri untuk sekolah, kesulitan dalam keuangan itu sudah pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berpikir sampai disitu pemilik rumah makan lalu menaruh  sepotong&lt;br /&gt;daging dan sebutir telur disembunyikan dibawah nasi, kemudian membungkus&lt;br /&gt;nasi tersebut sepintas terlihat hanya sebungkus nasi putih saja dan  memberikan kepada pemuda ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perbuatannya, istrinya mengetahui suaminya sedang membantu pemuda ini,&lt;br /&gt;hanya dia tidak mengerti, kenapa daging dan telur disembunyikan di bawah nasi ?&lt;br /&gt;Suaminya kemudian membisik kepadanya :&lt;br /&gt;"Jika pemuda ini melihat kita menaruh lauk dinasinya dia tentu akan merasa bahwa kita bersedekah kepadanya, harga dirinya pasti akan tersinggung lain kali dia tidak akan datang lagi, jika dia ket empat lain hanya membeli  semangkuk nasi putih, mana ada gizi untuk bersekolah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Engkau sungguh baik hati, sudah menolong orang masih menjaga harga dirinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika saya tidak baik, apakah engkau akan menjadi  istriku ?"&lt;br /&gt;Sepasang suami istri muda ini merasa gembira dapat membantu orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima kasih, saya sudah selesai makan." Pemuda ini pamit kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dia mengambil bungkusan nasinya, dia membalikan badan melihat&lt;br /&gt;dengan pandangan mata berterima kasih kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Besok singgah lagi, engkau harus tetap bersemangat !"  katanya sambil melambaikan tangan, dalam perkataannya bermaksud mengundang pemuda ini besok jangan segan-segan datang lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepasang mata pemuda ini berkaca-kaca terharu, mulai saat itu setiap sore&lt;br /&gt;pemuda ini singgah kerumah makan mereka, sama seperti biasa setiap hari hanya memakan semangkuk nasi putih dan membawa pulang sebungkus&lt;br /&gt;untuk bekal keesokan hari. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah pasti nasi yang dibawa pulang setiap hari terdapat lauk berbeda yang tersembunyi setiap hari, sampai pemuda ini tamat, selama 20 tahun pemuda ini tidak pernah muncul lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, ketika suami ini sudah berumur 50 tahun lebih,   pemerintah melayangkan sebuah surat  bahwa rumah makan mereka harus digusur,  tiba-tiba kehilangan mata pencaharian dan mengingat anak mereka yang disekolahkan di luar negeri yang perlu biaya setiap bulan membuat suami istri ini  berpelukan menangis dengan panik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat ini masuk seorang pemuda yang memakai pakaian bermerek kelihatannya seperti direktur dari kantor bonafid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kabar?, saya adalah wakil direktur dari sebuah perusahaan, saya diperintah oleh  direktur kami mengundang kalian membuka kantin di perusahaan kami, perusahaan kami telah menyediakan semuanya kalian hanya perlu membawa koki dan keahlian kalian kesana, keuntungannya akan dibagi 2 dengan perusahaan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapakah direktur diperusahaan kamu ?, mengapa begitu baik terhadap kami?  saya tidak ingat mengenal seorang yang begitu mulia !" sepasang suami istri ini berkata dengan terheran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian adalah penolong dan kawan baik direktur kami, direktur kami paling&lt;br /&gt;suka makan telur dan dendeng buatan kalian, hanya itu yang saya tahu,&lt;br /&gt;yang  lain setelah kalian bertemu dengannya dapat bertanya kepadanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, pemuda yang hanya memakan semangkuk nasi putih ini muncul,&lt;br /&gt;setelah bersusah payah selama 20 tahun akhirnya pemuda ini dapat membangun&lt;br /&gt;kerajaaan bisnisnya dan sekarang menjadi seorang direktur yang sukses&lt;br /&gt;untuk kerajaan bisnisnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia merasa kesuksesan pada saat ini adalah berkat bantuan sepasang suami istri ini, jika mereka tidak membantunya dia tidak mungkin akan dapat menyelesaikan kuliahnya dan menjadi sesukses sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berbincang-bincang, suami istri ini pamit hendak meninggalkan kantornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda ini berdiri dari kursi direkturnya dan dengan membungkuk&lt;br /&gt;dalam-dalam berkata kepada mereka :"bersemangat ya ! di kemudian hari&lt;br /&gt;perusahaan tergantung kepada kalian, sampai bertemu besok !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebaikan hati dan balas budi selamanya dalam kehidupan manusia adalah&lt;br /&gt;suatu perbuatan indah dan yang paling mengharukan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-6287817167873103564?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/6287817167873103564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=6287817167873103564' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/6287817167873103564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/6287817167873103564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/12/rice-bowl.html' title='The Rice Bowl'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-6532221760597168997</id><published>2008-10-20T03:22:00.001-07:00</published><updated>2008-10-20T03:22:31.376-07:00</updated><title type='text'>Throne for the princess</title><content type='html'>&lt;p&gt;Seorang ayah, kebetulan pengusaha kaya multi-usaha, menghadapi soal yang amat pelik. Siapakah yang harus dipilihnya menjadi President &amp;amp; CEO menggantikan dirinya memimpin kerajaan bisnisnya yang sudah dibangun susah payah lebih dari setengah abad?&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Kini usianya sudah berkepala tujuh dan penyakit-penyakit tua sudah mulai menggerogoti dirinya. Ia tahu sebentar lagi dirinya akan mengikuti jejak nenek-moyangnya menuju lorong hidup manusia fana.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Anaknya tiga orang. Si sulung amat cerdas, meraih MSc. dan MBA luar negeri, ia berselera canggih, senang glamour, ambisius, dan punya pergaulan yang luas di kalangan jet set. Cuma si ayah cukup khawatir karena si sulung ini punya bakat bercumbu dengan bahaya seperti (konon) keluarga Kennedy. Naluri jdinya gede, dan niat curangnya pun cukup kuat. Singkatnya, ia cerdas, kreatif, namun lihai dan licin.&lt;/span&gt;&lt;span id="more-291"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Si tengah, lebih hebat lagi. Bergelar PhD. bidang kimia dari universitas beken di Amerika, ia lulus dengan predikat magna cum laude. Papernya bertebaran di jurnal-jurnal internasional. Bangga sekali hati si ayah yang cuma lulus SMP zaman Jepang. Dia dosen dan peneliti. Dan di perusahaan ayahnya dia menjabat sebagai Direktur Riset dan Pengembangan. Tetapi menjadi CEO, ia terlalu akademis.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Kurang cocok dengan bisnis mereka yang kini berspektrum sangat lebar.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Si bungsu, satu-satunya perempuan, cuma lulus S1 dalam negeri.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Meskipun sejak lima tahun terakhir ia bergabung dengan usaha ayahnya sebagai Direktur Grup Konsumer, tetapi ia memulai karirnya di perusahaan asing sebagai wiraniaga (marketing executive). Ia merangkak dari bawah hingga 15 tahun kemudian bisa mencapai posisi General Manager. Otaknya kalah brilian dbanding kedua kakaknya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Meskipun cenderung hemat berkata-kata, namun ia menunjukkan bakat memimpin yang baik. Ia mampu mendengar dengan intens. Berbagai pendapat dan gagasan bisa diolahnya dengan dalam.&lt;/p&gt; &lt;p style="margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Gaya hidupnya biasa saja. Ia disenangi sekaligus disegani orang karena sikapnya yang fair, jujur, dan mampu merakyat dengan para bawahannya.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Nah, jika Anda adalah konsultan independen, siapakah pilih an Anda menggantikan sang patriarch menjadi President &amp;amp; CEO? Saya bertaruh, sebagian besar Anda akan menominasikan si bungsu. Dan si ayah juga demikian. Masalah ini menjadi pelik, karena menurut adat-istiadat, si sulunglah pewaris takhta. Dan, ia sangat berambisi untuk itu. Sedang si bungsu, selain paling buncit, perempuan lagi. Jadi ia kalah status, gelar dan gender. Bagaimana jalan keluarnya? Konsultan angkat tangan. Rujukan buku teks tidak ada. Sang patriarch akhirnya hanya bisa mengandalkan wibawa dan hikmatnya sebagai ayah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Lalu dipanggilnya ketiga anaknya. Dibentangkannya persoalan secara gamblang. Diuraikannya plus-minus setiap anaknya. Dianalisisnya kemungkinan sukses masing-masing memimpin grup usaha itu menuju milenium ketiga. Dialog pun dimulai. Dan si ayah segera maklum, dead lock akan terjadi. “Sudahlah, aku akan memutuskan sendiri siapa penggantiku,” kata orangtua itu akhirnya. Ketiganya takzim menurut. Seminggu kemudian, si ayah datang dengan sebuah ujian. “Barangsiapa bisa mengisi ruang ini sepenuh-penuhnya, maka dialah penggantiku,” katanya sambil menunjuk ruang rapat yang cuma terisi empat kursi dan sebuah meja bundar. “Budget maksimum Rp1 juta,” tambahnya lagi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kesempatan pertama jatuh pada si sulung. Enteng, pikirnya. Besoknya, dipenuhinya ruangan itu dengan cacahan kertas berkarung-karung. Dan memang ruangan itu menjadi padat. “Bagus, besok giliranmu,” kata si ayah kepada anak keduanya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Duapuluh empat jam kemudian, ruangan itu pun dipenuhinya dengan butiran styro- foam yang diperolehnya dengan menghancurkan bekas-bekas packaging. “Oke, besok giliranmu,” kata sang patriarch menunjuk putrinya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Esoknya, ketika acara inspeksi dimulai, ternyata ruangan masih kosong. “Lho, kok kosong?” tanya ketiganya hampir serempak. Sang putri diam saja. Dimatikannya saklar lampu. Dari sakunya dia keluarkan sebatang lilin. Ditaruhnya di atas meja. Lalu disulutnya dengan sebatang korek api. “Lihat, ruangan ini penuh dengan terang. Silahkan dinilai, apakah ada celah kosong tak tersinari,” katanya kalem. Tak terbantah siapa pun, dia dinyatakan menang dan sang putri pun berhak menduduki kursi tertinggi. Problem solved. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kualitas yang ditunjukkan sang ayah dan putrinya adalah apa yang saya sebut sebagai hikmat. Ciri utama orang berhikmat (wise person) ialah kemampuan memecahkan masalah secara genuine dan memuaskan. Ini selaras dengan Jerry Pino yang merumuskan hikmat sebagai kemampuan membuat the best decision at any given situation.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify" lang="id-ID"&gt;Pintar, di pihak lain, adalah kemampuan mencerna dan mengolah informasi secara cepat. Ciri-cirinya, rasional, metodik, linier, dan analitik. Kepintaran umumnya diperoleh dengan olah otak sampai botak.&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Dari dulu botak memang ciri orang pintar. Tetapi hikmat (wisdom) tidak hanya memerlukan olah otak tetapi terutama olah hati. Jarang kita sadari, hati kita sebenarnya bisa berpikir. Dalam tradisi literatur kuno, terutama kitab-kitab suci, hati adalah lokasi kebijaksanaan, hikmat dan kepandaian. Lebih spesifik, hati adalah access point kita kepada the higher knowledge, yakni kepada Tuhan sendiri. Dalam arti ini, orang bijak selalu berkonotasi orang alim dan saleh.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p style="text-indent: 0.25in; margin-bottom: 0in;" align="justify"&gt;&lt;span lang="id-ID"&gt;Kini, ketika rasionalisme warisan Descartes dan Immanuel Kant menjadi panglima, kebijaksanaan yang berasal dari hati (nurani atau suara hati) cenderung dinomorduakan. Yang utama adalah kepala. Dunia politik, bisnis dan kemasyarakatan kita kemudian didominasi oleh para pakar dan teknokrat bergelar master, doktor, dan profesor.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-6532221760597168997?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/6532221760597168997/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=6532221760597168997' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/6532221760597168997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/6532221760597168997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/10/throne-for-princess.html' title='Throne for the princess'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-2061612161310377888</id><published>2008-10-20T03:02:00.000-07:00</published><updated>2008-10-20T03:08:14.322-07:00</updated><title type='text'>Legend of white egret's feather</title><content type='html'>Zhuge Liang adalah ahli strategi militer dari negara Han pada zaman Tiga Negara (220-280 A.D.). Dia adalah ahli strategi yang paling cerdik dan terkenal dalam sejarah Tiongkok. Dia acapkali dilukiskan sedang memakai sebuah jubah dan memegang kipas yang terbuat dari bulu burung bangau.&lt;br /&gt;Ketika Zhuge Liang berumur 9 tahun, dia masih tidak dapat berbicara. Keluarganya sangat miskin. Ayahnya menyuruh dia menggembalakan domba di dekat sebuah bukit di sebuah gunung. Di atas gunung ada sebuah kuil Pendeta Tao dimana tinggal seorang Pendeta Tao tua dengan kepala penuh dengan uban. Setiap hari Pendeta Tao tersebut berjalan-jalan santai di luar kuil. Ketika ia berjumpa Zhuge Liang, dia mencoba berkomunikasi dengan anak laki-laki tersebut dengan menggunakan isyarat tangan. Zhuge Liang juga senang “berkomunikasi” dengan Pendeta Tao tersebut dengan isyarat tangan. Pendeta Tao itu menjadi sangat menyayangi Zhuge Liang yang pintar dan menawan itu. Dia mulai mengobati masalah kebisuan anak laki-laki itu. Tidak lama kemudian Zhuge Liang bisa berbicara!&lt;br /&gt;Zhuge Liang sangat gembira ketika akhirnya dia bisa bicara. Dia pergi mendaki menuju ke kuil Pendeta Tao tersebut untuk mengucapkan terima kasih. Pendeta Tao tersebut memberitahukannya, “Ketika kau pulang ke rumah, katakan pada orang tuamu bahwa saya mengangkatmu sebagai murid dan saya akan mengajari kamu membaca. Saya juga akan mengajarimu seni astronomi, geografi dan menerapkan teori Ying dan Yang di dalam strategi militer. Jika orang tuamu setuju, kamu harus hadir di sekolah setiap hari dan kamu tidak boleh membolos!”&lt;br /&gt;Sejak saat itu, Zhuge Liang menjadi murid Pendeta Tao tua tersebut. Hujan atau terang, Zhuge Liang akan mendaki gunung untuk menerima pelajarannya. Dia adalah seorang anak yang sangat pintar dan rajin yang sangat serius dalam pelajarannya. Dia juga mempunyai daya ingat yang sangat tajam. Pendeta Tao tersebut tidak pernah harus mengajari segala sesuatunya sampai dua kali. Dengan sendirinya Pendeta Tao tersebut menjadi semakin menyayanginya.&lt;br /&gt;Delapan tahun berlalu dengan cepatnya dan Zhuge Liang menjadi seorang remaja.&lt;br /&gt;Suatu hari ketika Zhuge Liang seperti biasanya turun gunung, dia melewati sebuah biara yang telah ditinggalkan, terletak di tengah-tengah gunung. Tiba-tiba datang hembusan angin yang sangat kuat, diikuti dengan badai petir. Zhuge Liang tiada pilihan lain selain berlari masuk ke biara yang telah ditinggalkan itu untuk menghindari badai. Di sana ada seorang wanita muda yang belum pernah dijumpai keluar untuk bertemu dengannya. Dia memiliki sepasang mata yang besar dan alis yang tipis. Dia begitu cantiknya sampai-sampai Zhuge Liang hampir salah mengiranya adalah seorang dewi. Dia segera tertarik dengan wanita muda tersebut.&lt;br /&gt;Ketika badai berhenti, wanita cantik itu menemui dia di depan pintu dan berkata padanya dengan tersenyum, ”Karena sekarang kita sudah saling berjumpa. Kamu bebas untuk mampir dan menikmati secangkir teh kapanpun kau ingin beristirahat dalam perjalananmu turun atau naik ke gunung.” Begitu Zhuge Liang berjalan keluar dari biara itu, dia merasa curiga. “Mengapa saya tidak mengetahui ada orang yang tinggal di biara ini sebelumnya?” pikirnya.&lt;br /&gt;Sejak hari itu, Zhuge Liang mulai sering mengunjungi biara tersebut. Setiap kali wanita cantik itu selalu menghiburnya dengan ramah tamah. Dia memasak makanan yang enak untuknya dan selalu membujuknya untuk tinggal lebih lama. Setelah makan malam mereka selalu berbincang-bincang dengan seru dan bermain catur. Dibandingkan dengan kuil Pendeta Tao, biara tersebut bagaikan surga.&lt;br /&gt;Selalu memikirkan wanita itu mengalihkan perhatiannya dari pendidikannya dan dia mulai kehilangan semangat untuk belajar. Dia semakin lama semakin kurang perhatiannya terhadap ajaran dari Pendeta Tao. Dia juga menjadi pelupa dan mengalami kesulitan dalam mempelajari buku pelajaran baru.&lt;br /&gt;Pendeta Tao tua itu menemukan masalahnya. Suatu hari dia memanggil Zhuge Liang dan menarik napas panjang. “Lebih mudah menghancurkan sebuah pohon daripada menanam sebuah pohon!” ujarnya. “Saya telah menyia-nyiakan banyak tahun untuk kamu!”&lt;br /&gt;Zhuge Liang menundukan kepalanya karena malu dan berkata, “Guru, saya tidak akan mengecewakan anda lagi atau menyia-nyiakan ajaran anda!”&lt;br /&gt;“Saya tidak mempercaimu,” kata Pendeta Tao tua. “Saya tahu kamu adalah seorang anak yang sangat cerdas, karena itu saya ingin mengobati penyakitmu dan memberimu sebuah pendidikan yang layak. Delapan tahun terakhir ini kamu telah sangat dalam pendidikanmu, jadi saya berpikir bahwa kerja keras untuk mendidikmu adalah pantas. Tetapi sekarang kamu melalaikan pendidikanmu. Bagaimanapun pandainya kamu, kamu tidak dapat kemana-mana jika kamu terus-menerus seperti ini! Sekarang kamu berjanji padaku untuk tidak akan pernah lagi mengecewakan aku. Bagaimana saya dapat mempercayai kata-katamu?”&lt;br /&gt;Pendeta Tao tua melanjutkan, “Semua ada penyebabnya.” Kemudian dia menunjuk ke sebatang pohon yang terbungkus oleh banyak tumbuhan merambat yang tebal di halaman. “Lihat pohon itu,” katanya. “Mengapa kamu pikir pohon itu setengah hidup dan sedang berjuang dalam setiap pertumbuhannya?”&lt;br /&gt;“Tanaman merambat yang melilit pohon menghalangi pertumbuhannya!” jawab Zhuge Liang.&lt;br /&gt;“Tepat sekali! Pohon ini mengalami kesulitan untuk tumbuh di gunung cadas dengan tanah yang sedikit ini. Tetapi dia tetap tumbuh karena dia teguh untuk mengembangkan akar dan cabangnya. Dia tidak takut udara panas maupun dingin. Tetapi, ketika tanaman merambat membungkusnya, dia tidak dapat tumbuh lebih tinggi lagi. Lucukan bagaimana tanaman merambat yang lembut itu bisa mengalahkan pohon yang tinggi dan tegap itu!”&lt;br /&gt;Zhuge Liang sangat pintar, jadi dia segera memahami apa yang dimaksud oleh Gurunya. Dia bertanya, “Guru, anda mengetahui kunjungan saya ke biara itu”&lt;br /&gt;Pendeta Tao tua berkata, “Hidup di dekat air, seseorang akan mempelajari sifat alami ikan. Hidup di gunung, seseorang akan mempelajari bahasa burung. Saya telah mengamati kamu dan tingkah lakumu. Bagaimana mungkin hubungan asmaramu luput dari perhatianku?”&lt;br /&gt;Dia berhenti sebentar sebelum memberitahukan muridnya dengan tatapan yang serius, “Biar kuberitahu kamu kebenaran mengenai wanita cantik itu. Dia bukan manusia. Dia adalah burung bangau dewa di surga. Dia telah diusir keluar dari istana langit sebagai hukuman karena telah mencuri dan memakan buah persik Ratu Langit. Dia datang ke dunia manusia dan menjelma menjadi seorang wanita cantik. Dia adalah bangau dewa yang telah rusak moralnya yang tahunya hanya mencari kesenangan. Kamu telah terpedaya oleh penampilannya, kamu telah menyia-nyiakan tidak hanya waktumu saja. Jika kamu membiarkan dirimu kehilangan kemauanmu, kamu akan kehilangan segalanya! Selain itu, jika kamu tidak menuruti kehendaknya, akhirnya dia akan menyakitimu.&lt;br /&gt;Sampai waktu itu Zhuge Liang baru menyadari keseriusan dari petualangannya. Dengan cemas dia meminta gurunya cara mengatasinya.&lt;br /&gt;Pendeta Tao tua berkata, “Bangau dewa tersebut mempunyai kebiasaan pada tengah malam menjelma kembali ke bentuk semulanya dan terbang ke sungai langit untuk mandi. Ketika dia menjauhi biara, kamu harus masuk ke kamarnya dan bakar jubahnya. Dia mencuri jubah tersebut dari Istana Langit. Tanpa jubah, dia tidak akan dapat menjelma menjadi seorang wanita cantik.&lt;br /&gt;Zhuge Liang berjanji untuk mengikuti instruksi Gurunya. Sebelum ia pergi, Gurunya memberikan sebuah tongkat dengan ukiran kepala naga di ujung atasnya. Dia memberitahu Zhuge Liang, “Ketika bangau dewa tersebut mengetahui kebakaran di dalam biara, dia akan segera terbang kembali dari sungai langit. Dia akan menyadari bahwa kamu telah membakar jubahnya dan akan menyerang kamu. Ketika itu terjadi, kau harus memukulnya dengan tongkat ini! Sangatlah penting untuk kau ingat dan mengerjakan apa yang telah aku beritahukan kepadamu!”&lt;br /&gt;Tengah malam, diam-diam Zhuge Liang pergi ke biara tersebut. Dia membuka kamar wanita itu dan menemukan jubahnya di atas ranjang. Dia segera membakar jubah tersebut.&lt;br /&gt;Ketika bangau dewa sedang mandi di sungai langit, tiba-tiba dia merasa jantungnya sakit. Dia melihat ke arah biara dan melihat api. Dia segera terbang ke bawah dan melihat Zhuge Liang telah membakar jubahnya. Dia menghampiri Zhuge Liang dan berusaha menyerang matanya dengan paruh. Zhuge Liang mempunyai reflek yang cepat. Dia mengangkat tongkatnya dan memukul jatuh bangau dewa. Kemudian dia menangkap ekor bangau itu. Bangau dewa itu memberontak dan berhasil meloloskan diri, tetapi dia kehilangan bulu ekornya pada Zhuge Liang.&lt;br /&gt;Dia menjadi seekor bangau dengan ekor botak. Dia menjadi malu dengan penampilannya, sehingga dia berhenti mandi di sungai langit. Dia juga tidak berani memasuki Istana Langit untuk mencuri jubah lagi, jadi dia tidak punya pilihan lain selain tetap tinggal di dunia manusia selamanya dan hidup diantara bangau biasa.&lt;br /&gt;Untuk mengingatkan dirinya sendiri akan pelajaran ini, Zhuge Liang menyimpan bulu ekor bangau itu.&lt;br /&gt;Sejak hari itu, Zhuge Liang menjadi semakin rajin. Dia akan menghafal semua yang diajarkan oleh Gurunya dan semua buku pelajaran. Dia benar-benar menyerap apa yang telah dipelajarinya dan dapat menerapkannya dengan mudah. Setahun telah lewat. Tepat pada hari ia membakar jubah bangau dewa setahun yang lalu, pendeta Tao tua memberitahukannya dengan sebuah senyuman lebar, “Muridku, kau telah belajar dibawah pengawasanku selama sembilan tahun. Saya telah mengajarimu semua yang harus kau pelajari dan kamu telah mempelajari semua buku pelajaran di sini. Ada sebuah pepatah, “Guru membawamu ke pintu masuk, dan terserah padamu untuk berlatih kultivasi.’ Sekarang kamu berusia 18 tahun. Sudah saatnya kamu meninggalkan rumah dan mengembangkan karirmu!”&lt;br /&gt;Ketika Zhuge Liang mendengar bahwa ia telah menyelesaikan pendidikannya, dia memohon gurunya untuk mengajarinya lagi. “Guru! Semakin banyak saya belajar, saya merasa semakin rendah hati. Saya merasa masih banyak yang harus saya pelajari dari anda!”&lt;br /&gt;“Pendidikan sejati berasal dari kehidupan nyata. Kau harus belajar menerapkan pengetahuanmu didalam kehidupan dan merancang pemecahan yang berbeda untuk situasi yang berbeda! Sebagi contoh, kau telah belajar sebuah pelajaran yang penting dari kunjunganmu dengan bangau dewa bahwa seseorang tidak seharusnya tergoda oleh nafsu atau perasaan. Ini adalah pelajaran berguna yang diperoleh dari pengalaman nyata. Dengan hal itu didalam pikiran, kamu tidak akan dibuat binggung oleh permukaan maya dari dunia ini. Berhati-hatilah dalam setiap tindakanmu. Kamu harus melihat segalanya dalam bentuk sejatinya. Ini adalah nasihat perpisahan saya kepadamu! Saya akan meninggalkanmu hari ini.”&lt;br /&gt;“Guru, kemana Anda akan pergi?” dengan heran Zhuge Liang bertanya. “dimana saya dapat menemuimu atau mengunjungimu di kemudian hari?”&lt;br /&gt;“Saya akan keliling dunia dan tidak akan menetap lagi.”&lt;br /&gt;Tiba-tiba Zhuge Liang merasakan air mata yang hangat menetes dari matanya. Dia berkata, “Guru! Sebelum anda pergi, anda harus memberikan aku kesempatan untuk bersujud kepada anda dan berterima kasih kepada anda atas pendidikan yang anda berikan padaku!”&lt;br /&gt;Kemudia Zhuge Liang bersujud kepada Gurunya. Ketika dia berdiri, Pendeta Tao tersebut telah menghilang.&lt;br /&gt;Pendeta Tao itu meninggalkannya sebuah jubah dengan gambar patkwa. Zhuge Liang sering memikirkan Gurunya; karena itu, ia sering memakai jubah dengan gambar patkwa sebab memberikannya perasaan bahwa Gurunya berada di sampingnya.&lt;br /&gt;Zhuge Liang tidak pernah lupa nasihat Gurunya, terutama nasihat perpisahannya. Dia membuat kipas dari bulu ekor bangau dewa untuk mengingatkan dirinya sendiri untuk sangat berhati-hati seumur hidupnya. Ini adalah cerita dibalik kipas bulu terkenal yang dibawa oleh Zhuge Liang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-2061612161310377888?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/2061612161310377888/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=2061612161310377888' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/2061612161310377888'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/2061612161310377888'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/10/legend-of-white-egrets-feather.html' title='Legend of white egret&apos;s feather'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-90503736325347603</id><published>2008-09-01T17:38:00.001-07:00</published><updated>2008-09-01T17:38:50.629-07:00</updated><title type='text'>Imperfect Wall</title><content type='html'>Setelah kami membeli tanah untuk vihara kami di tahun  1983, kami&lt;br /&gt;kehabisanuang.&lt;br /&gt;Kami berhutang. Belum ada bangunan di atas  tanah, gubuk pun tidak. Pada&lt;br /&gt;minggu-minggu pertama, kami tidur di atas pintu  tua yang dibeli dengan&lt;br /&gt;murah dari tempat loak; kami menaruhnya di atas  tumpukan batu bata di&lt;br /&gt;setiap sudutnya untuk meninggikan posisinya di atas  tanah. (Tidak ada&lt;br /&gt;matras, tentunya kami adalah bhikkhu hutan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepala  vihara mempunyai pintu terbaik, yang rata. Pintu saya bergelombang&lt;br /&gt;dengan  lubang di tengahnya tempat pegangan pintu. Saya senang karena&lt;br /&gt;pegangan  pintunya telah dicopot, tapi itu meninggalkan sebuah lubang di&lt;br /&gt;tengah-tengah  pintu pembaringan saya. Saya bercanda dengan mengatakan&lt;br /&gt;sekarang saya tidak  perlu meninggalkan&lt;br /&gt;pembaringan untuk ke toilet! Namun sejujurnya, angin  dingin masuk melalui&lt;br /&gt;lubang tersebut. Saya tidak bisa tidur beberapa malam  itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanyalah bhikkhu miskin yang membutuhkan bangunan. Kami tidak  bisa&lt;br /&gt;membayar tukang, bahan-bahan bangunannya sudah cukup mahal. Jadi  saya&lt;br /&gt;belajar untuk bertukang: bagaimana menyiapkan fondasi, menyemen dengan &lt;br /&gt;batu bata, membangun atap, langit-langit semuanya. Saya dulunya ahli &lt;br /&gt;fisika teoritis dan guru sekolah tinggi (SMU) sewaktu masih umat awam, &lt;br /&gt;tidak terbiasa kerja kasar.&lt;br /&gt;Setelah beberapa tahun, saya sudah cukup  mahir dalam bertukang, bahkan&lt;br /&gt;saya menyebut rekan-rekan bhikkhu sebagai BBC  (Buddhist Building Company -&lt;br /&gt;Perusahaan Bangunan Buddhis, pent). Tapi saat  saya memulainya, pekerjaan&lt;br /&gt;itu sangat sulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya memang mudah  untuk menembok dengan sebuah batu bata: seonggok&lt;br /&gt;semen di bawah, ketok sini,  ketok sana . Sewaktu saya mencoba&lt;br /&gt;melakukannya,&lt;br /&gt;saya ketok satu sisi  untuk meratakannya, sisi yang lain jadi menaik. Lalu&lt;br /&gt;saya ketok sisi  tersebut, batu batanya tidak lagi lurus. Setelah saya&lt;br /&gt;ratakan kembali, sisi  yang pertama kembali menjadi terlalu tinggi.&lt;br /&gt;Coba saja  sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai bhikkhu, saya mempunyai kesabaran dan waktu yang banyak,  sebanyak&lt;br /&gt;yang saya butuhkan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang  sempurna,&lt;br /&gt;tidak perduli berapa lamanya saya bekerja. Akhirnya, saya  menyelesaikan&lt;br /&gt;tembok saya yang pertama dan berdiri di depan untuk  mengaguminya. Saat&lt;br /&gt;itulah saya menyadari celaka! saya melupakan dua batu  bata. Semua batu&lt;br /&gt;bata terpasang sempurna dengan lurus, tapi yang dua ini  terpasang miring.&lt;br /&gt;Kelihatan sangat jelek. Merusak pemandangan ke seluruh  tembok. Kelihatan&lt;br /&gt;kacau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu, semennya sudah mengeras, tidak  bisa lagi mencabut dua batu bata&lt;br /&gt;tersebut, maka saya bertanya kepada kepala  vihara apakah saya bisa&lt;br /&gt;merobohkan saja dinding tersebut dan memulai dari  awal kalau perlu,&lt;br /&gt;meledakkannya. Saya membuat kesalahan dan sangat malu.  Kepala vihara&lt;br /&gt;berkata tidak perlu, temboknya dibiarkan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu  saya mengajak pengunjung pertama untuk melihat-lihat pembangunan&lt;br /&gt;vihara, saya  selalu berusaha mencoba menghindari mereka untuk melihat&lt;br /&gt;tembok  tersebut.&lt;br /&gt;Saya tidak suka orang-orang melihatnya. Pada suatu hari, sekitar  tiga atau&lt;br /&gt;empat bulan setelah saya membuat tembok tersebut, saya mengantarkan &lt;br /&gt;seorang pengunjung dan dia melihatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tembok yang indah, katanya  dengan santai.&lt;br /&gt;Pak, saya menjawab dengan kaget, Apakah kacamata anda  ketinggalan di&lt;br /&gt;mobil?&lt;br /&gt;Apakah mata anda tidak beres? Tidakkah anda melihat  dua batu bata yang&lt;br /&gt;merusak keseluruhan tembok itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang  dikatakannya kemudian mengubah sudut pandang saya secara&lt;br /&gt;keseluruhan mengenai  tembok itu, mengenai diri saya dan mengenai berbagai&lt;br /&gt;aspek-aspek lain  mengenai hidup. Dia berkata, Ya. Saya bisa melihat dua&lt;br /&gt;batu bata miring  itu.&lt;br /&gt;Tapi saya juga melihat 998 batu bata yang terpasang sempurna di  sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersadar. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan ini, saya  bisa&lt;br /&gt;melihat batu bata- batu bata yang lain, selain dua batu bata tersebut.  Di&lt;br /&gt;atas, bawah, kiri dan kanan batubata tersebut adalah batu bata yang &lt;br /&gt;terpasang dengan baik, sempurna.&lt;br /&gt;Lagipula, batu bata yang terpasang  sempurna jauh lebih, lebih banyak&lt;br /&gt;daripada dua batu bata yang jelek tadi.  Sebelumnya, mata saya akan&lt;br /&gt;berfokus hanya kepada dua kesalahan tadi.&lt;br /&gt;Saya  menjadi buta terhadap hal-hal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sebabnya mengapa saya tidak  tahan melihat tembok itu, atau&lt;br /&gt;memperlihatkannya kepada orang lain. Itulah  sebabnya mengapa saya ingin&lt;br /&gt;menghancurkannya. Sekarang saya dapat melihat  batu bata lain yang baik,&lt;br /&gt;temboknya juga tidaklah terlalu jelek.&lt;br /&gt;Buktinya  satu pengunjung berkata, Tembok yang indah. Tembok itu masih ada&lt;br /&gt;di sana  sampai sekarang, dua puluh tahun kemudian, tapi saya sudah lupa di&lt;br /&gt;mana  tepatnya kedua batu bata yang terpasang miring itu. Saya benar-benar&lt;br /&gt;tidak  dapat melihatnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-Berapa orang yang mengakhiri hubungan cinta atau  bahkan bercerai karena&lt;br /&gt;apa yang mereka lihat pada pasangannya hanyalah dua  batu bata jelek?&lt;br /&gt;-Berapa banyak yang menjadi depresi bahkan melakukan bunuh  diri, karena&lt;br /&gt;yang bisa mereka lihat pada dirinya hanyalah dua batu bata  jelek.&lt;br /&gt;-Sebenarnya, ada banyak, banyak sekali batu bata baik yang terpasang &lt;br /&gt;sempurna di atas, bawah, kiri dan kanannya tapi seringkali kita tidak &lt;br /&gt;bisa melihatnya.&lt;br /&gt;-Namun, setiap kali kita memandang, mata kita hanya  berfokus pada&lt;br /&gt;kesalahan.&lt;br /&gt;Hanya kesalahan yang terlihat, dan kita merasa  hanya kesalahan yang ada,&lt;br /&gt;maka kita ingin untuk menghancurkannya. Dan kadang,  menyedihkan, kita&lt;br /&gt;benar-benar menghancurkan tembok yang indah  tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua memiliki dua batu bata jelek, tapi batu bata-batu  bata yang&lt;br /&gt;terpasang sempurna di diri kita jauh lebih banyak daripada  kesalahannya.&lt;br /&gt;Sekali kita bisa melihat ini, keadaan sebenarnya tidaklah  terlihat terlalu&lt;br /&gt;buruk. Tidak hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri,  termasuk dengan&lt;br /&gt;kesalahan-kesalahan kita, namun kita juga bisa  menikmati&lt;br /&gt;hidup bersama dengan pasangan.&lt;br /&gt;Mungkin ini adalah kabar buruk  bagi pengacara peceraian, tapi ini adalah&lt;br /&gt;kabar baik bagi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya  telah menceritakan hal ini berkali-kali. Pada suatu kesempatan,&lt;br /&gt;seorang  pekerja bangunan datang dan menceritakan sebuah rahasia &lt;br /&gt;profesinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami pekerja bangunan selalu membuat kesalahan, katanya,  tapi kami&lt;br /&gt;mengatakan kepada klien bahwa ini adalah fitur unik yang tidak  terdapat di&lt;br /&gt;rumah lain pada perumahan yang sejenis.&lt;br /&gt;Dan kami menagih  bayaran extra ribuan dollar untuk itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi fitur unik di rumah anda  mungkin berawal dari sebuah kesalahan. Sama&lt;br /&gt;halnya, apa yang anda sangka  sebagai kesalahan pada diri anda, pasangan&lt;br /&gt;anda, atau dalam hidup secara  umum, dapat menjadi fitur unik, memperkaya&lt;br /&gt;waktu anda di sini, sewaktu anda  berhenti berfokus padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"The best way to cheer yourself up is to try  to cheer somebody else up."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-90503736325347603?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/90503736325347603/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=90503736325347603' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/90503736325347603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/90503736325347603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/09/imperfect-wall.html' title='Imperfect Wall'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-5919056171669604513</id><published>2008-08-25T23:39:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T23:46:12.409-07:00</updated><title type='text'>Buddha and the Frog</title><content type='html'>&lt;p&gt; Ini sebuah kisah Zen. Alkisahnya, ada seekor kodok yang baru saja pergi dari berjalan-jalan di daratan. Ketika kembali berenang di kolam, dia bertemu dengan seekor ikan mas yang telah mengenalnya. “Halo Tuan Kodok, Anda dari mana saja?”, “Oh, saya baru saja datang dari berjalan-jalan di daratan”,jawab Sang Kodok. “Daratan? Apa itu daratan? Saya belum pernah mendengar ada tempat yang bernama daratan”. “Daratan ialah tempat di mana Anda dapat berjalan-jalan diatasnya”, Sang Kodok mencoba menerangkan tentang daratan pada Si Ikan Mas. “Oh ya, dapat berjalan-jalan diatasnya? Saya tidak percaya bahwa Anda baru saja dari daratan. Menurut saya, tidak ada tempat yang disebut daratan”, Si Ikan Mas membantah dengan sengit. “Baiklah jika Anda tidak percaya, yang pasti saya tadi memang datang dari daratan”, balas Sang Kodok dengan sabar. “Tetapi, Tuan Kodok, coba katakan pada saya, apakah daratan itu dapat dibuat gelembung, jika saya bernafas didalamnya?” “Tidak”. “Apakah saya dapat menggerakkan sirip-sirip saya didalamnya?” “Tidak”. “Apakah tembus cahaya?” “Tidak”. “Apakah saya dapat bergerak mengikuti gelombang?” “Tidak, tentu saja”, jawab Sang Kodok dengan sabar. “Nah, Tuan Kodok, saya sudah menanyakan Anda tentang daratan, dan semua jawaban Anda adalah “Tidak”, dan itu berarti daratan itu tidak ada”, Si Ikan Mas menjawab dengan perasaan puas. “Baiklah, jika Anda berkesimpulan seperti itu. Yang jelas, saya tadi memang datang dari daratan dan daratan itu nyata adanya”,Sang Kodok menjawab sambil berlalu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Si Ikan Mas, karena dia adalah seekor ikan yang hidupnya di air, maka dia tidak pernah mengetahui bahwa ada dunia lain selain dunia airnya. Kareena dia hanya mengenal dunia air, maka semua pertanyaan ynag diajukan tentang daratan, tetap berkaitan dengan dunia air. Sebaliknya Sang Kodok, dia dapat hidup di dua dunia, dunia air dan daratan. Karenanya, Sang Kodok mengerti bahwa ada dunia lain selain dunia air tempat para ikan hidup. Dia mengerti sepenuhnya dunia air, dia juga mengerti sepenuhnya daratan, karena dia sudah mengalami pengalaman empiris di dua dunia itu. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Demikian pula dengan Buddha. Buddha mengerti sepenuhnya alam duniawi beserta segala fenomenanya dan Nibbana sebagai pembebasan dari segala fenomena. Karena Beliau telah mengalami pengalaman empiris kehidupan duniawi dan pencapaian Nibbana. Kita adalah si ikan mas yang keras kepala. Sepanjang kita belum pernah mengalami pencapaian Nibbana, seberapa hebatnya Buddha menerangi tentang Nibbana, kita tak kan mengerti. Bukan berarti Buddha gagal mencerahi kita. Kebodohan kita sendirilah yang menghalangi pencerahan yang mestinya terjadi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mutiara pencerahan itu ada dalam diri kita. Buddha telah menunjukkan jalannya. Kini yang perlu kita lakukan hanyalah meneguhkan hati untuk menjalani jalan yang telah ditunjukkan tersebut. Mengalami sendiri pencapaian Nibbana dan mengerti apakah Nibbana itu dengan sepenuhnya. Dan menjadi orang yang menmenangi pertarungan yang sejati. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-5919056171669604513?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/5919056171669604513/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=5919056171669604513' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/5919056171669604513'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/5919056171669604513'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/buddha-and-frog.html' title='Buddha and the Frog'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-2672441578069210002</id><published>2008-08-25T23:18:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T23:22:53.488-07:00</updated><title type='text'>Whisper and Stone</title><content type='html'>&lt;p&gt;Suatu ketika, tersebutlah seorang pengusaha muda dan kaya. Ia baru saja membeli&lt;br /&gt;mobil mewah, sebuah Jaguar yang mengkilap. Kini, sang pengusaha, sedang&lt;br /&gt;menikmati perjalanannya dengan mobil baru itu. Dengan kecepatan penuh, dipacunya&lt;br /&gt;kendaraan itu mengelilingi jalanan tetangga sekitar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di pinggir jalan, tampak beberapa anak yang sedang bermain sambil melempar&lt;br /&gt;sesuatu. Namun, karena berjalan terlalu kencang, tak terlalu diperhatikannya&lt;br /&gt;anak-anak itu. Tiba-tiba, dia melihat sesuatu yang melintas dari arah&lt;br /&gt;mobil-mobil yang di parkir di jalan. Tapi, bukan anak-anak itu yang tampak&lt;br /&gt;melintas. Aah…, ternyata, ada sebuah batu yang menimpa Jaguar itu. Sisi pintu&lt;br /&gt;mobil itupun koyak, tergores batu yang dilontarkan seseorang.&lt;span id="more-125"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cittt….ditekannya rem mobil kuat-kuat. Dengan geram, di mundurkannya mobil itu&lt;br /&gt;menuju tempat arah batu itu di lemparkan. Jaguar yang tergores, bukanlah perkara&lt;br /&gt;sepele. Apalagi, kecelakaan itu dilakukan oleh orang lain, begitu pikir sang&lt;br /&gt;pengusaha dalam hati. Amarahnya memuncak. Dia pun keluar mobil dengan&lt;br /&gt;tergesa-gesa. Di tariknya seorang anak yang paling dekat, dan di pojokkannya&lt;br /&gt;anak itu pada sebuah mobil yang diparkir.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Apa yang telah kau lakukan!!! Lihat perbuatanmu pada mobil kesayanganku!!”&lt;br /&gt;Lihat goresan itu”, teriaknya sambil menunjuk goresan di sisi pintu. “Kamu tentu&lt;br /&gt;paham, mobil baru semacam itu akan butuh banyak ongkos di bengkel kalau sampai&lt;br /&gt;tergores.” Ujarnya lagi dengan geram, tampak ingin memukul anak itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sang anak tampak ketakutan, dan berusaha meminta maaf. “Maaf Pak, Maaf. Saya&lt;br /&gt;benar-benar minta maaf. Sebab, saya tidak tahu lagi harus melakukan apa.” Air&lt;br /&gt;mukanya tampak ngeri, dan tangannya bermohon ampun. “Maaf Pak, aku melemparkan&lt;br /&gt;batu itu, karena tak ada seorang pun yang mau berhenti….”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan air mata yang mulai berjatuhan di pipi dan leher, anak tadi menunjuk ke&lt;br /&gt;suatu arah, di dekat mobil-mobil parkir tadi. “Itu disana ada kakakku. Dia&lt;br /&gt;tergelincir, dan terjatuh dari kursi roda. Aku tak kuat mengangkatnya, dia&lt;br /&gt;terlalu berat. Badannya tak mampu kupapah, dan sekarang dia sedang kesakitan..”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kini, ia mulai terisak. Dipandanginya pengusaha tadi. Matanya berharap pada&lt;br /&gt;wajah yang mulai tercenung itu. “Maukah Bapak membantuku mengangkatnya ke kursi&lt;br /&gt;roda? Tolonglah, kakakku terluka, tapi dia terlalu berat untukku.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak mampu berkata-kata lagi, pengusaha muda itu terdiam. Kerongkongannya&lt;br /&gt;tercekat. Ia hanya mampu menelan ludah. Segera, di angkatnya anak yang cacat&lt;br /&gt;itu menuju kursi rodanya. Kemudian, diambilnya sapu tangan mahal miliknya, untuk&lt;br /&gt;mengusap luka di lutut anak itu. Memar dan tergores, sama seperti sisi pintu&lt;br /&gt;Jaguar kesayangannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah beberapa saat, kedua anak itu pun berterima kasih, dan mengatakan bahwa&lt;br /&gt;mereka akan baik-baik saja. “Terima kasih, dan semoga Tuhan akan membalas&lt;br /&gt;perbuatanmu.” Keduanya berjalan beriringan, meninggalkan pengusaha yang masih&lt;br /&gt;nanar menatap kepergian mereka. Matanya terus mengikuti langkah sang anak yang&lt;br /&gt;mendorong kursi roda itu, melintasi sisi jalan menuju rumah mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Berbalik arah, pengusaha tadi berjalan sangat perlahan menuju Jaguar miliknya.&lt;br /&gt;Disusurinya jalan itu dengan lambat, sambil merenungkan kejadian yang baru saja&lt;br /&gt;di lewatinya. Kerusakan yang dialaminya bisa jadi bukanlah hal sepele. Namun, ia&lt;br /&gt;memilih untuk tak menghapus goresan itu. Ia memilih untuk membiarkan goresan&lt;br /&gt;itu, agar tetap mengingatkannya pada hikmah ini. Ia menginginkan agar pesan itu&lt;br /&gt;tetap nyata terlihat&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Janganlah melaju dalam hidupmu terlalu cepat, karena, seseorang akan&lt;br /&gt;melemparkan batu untuk menarik perhatianmu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teman, sama halnya dengan kendaraan, hidup kita akan selalu berputar, dan dipacu&lt;br /&gt;untuk tetap berjalan. Di setiap sisinya, hidup itu juga akan melintasi berbagai&lt;br /&gt;macam hal dan kenyataan. Namun, adakah kita memacu hidup kita dengan cepat,&lt;br /&gt;sehingga tak pernah ada masa buat kita untuk menyelaraskannya untuk melihat&lt;br /&gt;sekitar?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tuhan, akan selalu berbisik dalam jiwa, dan berkata lewat kalbu kita. Kadang,&lt;br /&gt;kita memang tak punya waktu untuk mendengar, menyimak, dan menyadari setiap&lt;br /&gt;ujaran-Nya. Kita kadang memang terlalu sibuk dengan bermacam urusan, memacu&lt;br /&gt;hidup dengan penuh nafsu, hingga terlupa pada banyak hal yang melintas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teman, kadang memang, ada yang akan “melemparkan batu” buat kita agar kita mau&lt;br /&gt;dan bisa berhenti sejenak. Semuanya terserah pada kita. Mendengar&lt;br /&gt;bisikan-bisikan dan kata-kata-Nya, atau menunggu ada yang melemparkan batu-batu&lt;br /&gt;itu buat kita.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-2672441578069210002?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/2672441578069210002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=2672441578069210002' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/2672441578069210002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/2672441578069210002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/whisper-and-stone.html' title='Whisper and Stone'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-122619899489365961</id><published>2008-08-25T23:12:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T23:15:47.287-07:00</updated><title type='text'>Tiger and Wolf</title><content type='html'>Di sebuah hutan, tinggallah seekor serigala pincang. Hewan itu hidup bersama seekor harimau yang besar berbadan coklat keemasan. Luka yang di derita serigala, terjadi ketika ia berusaha menolong harimau yang di kejar pemburu. Sang serigala berusaha menyelamatkan kawannya. Namun sayang, sebuah panah yang telah di bidik malah mengenai kaki belakangnya. Kini, hewan bermata liar itu tak bisa berburu lagi bersama harimau, dan tinggal di sebuah gua, jauh dari perkampungan penduduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang harimau pun tahu bagaimana membalas budi. Setiap selesai berburu, di mulutnya selalu tersisa sepotong daging untuk dibawa pulang. Walaupun sedikit, sang serigala selalu mendapat bagian daging hewan buruan. Sang harimau paham, bahwa tanpa bantuan sang kawan, ia pasti sudah mati terpanah si pemburu. Sebagai balasannya, sang serigala selalu berusaha menjaga keluarga sang harimau dari gangguan hewan-hewan lainnya. Lolongan serigala selalu tampak mengerikan bagi siapapun yang mendengar. Walaupun sebenarnya ia tak bisa berjalan dan hanya duduk teronggok di pojok gua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya, peristiwa itu telah sampai pula ke telinga seorang pertapa. Sang pertapa, tergerak hatinya untuk datang, bersama beberapa orang muridnya. Ia ingin memberikan pelajaran tentang berbagi dan persahabatan, kepada anak didiknya. Ia juga ingin menguji keberanian mereka, sebelum mereka dapat lulus dari semua pelajaran yang diberikan olehnya. Pada awalnya banyak yang takut, namun setelah di tantang, mereka semua mau untuk ikut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pagi hari, berangkatlah mereka semua. Semuanya tampak beriringan, dipandu sang pertapa yang berjalan di depan rombongan. Setelah seharian berjalan, sampailah mereka di mulut gua, tempat sang harimau dan serigala itu menetap. Kebetulan, sang harimau baru saja pulang dari berburu, dan sedang memberikan sebongkah daging kepada serigala. Melihat kejadian itu, sang pertapa bertanya bertanya kepada murid-muridnya, “Pelajaran apa yang dapat kalian lihat dari sana..?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang murid tampak angkat bicara, “Guru, aku melihat kekuasaan dan kebaikan alam. alam pasti akan memenuhi kebutuhan kita. Karena itu, lebih baik aku berdiam saja, karena toh alam akan selalu memberikan rezekinya kepada ku lewat berbagai cara.” Sang pertapa tampak tersenyum. Sang murid melanjutkan ucapannya, “Lihatlah serigala itu. Tanpa bersusah payah, dia bisa tetap hidup, dan mendapat makanan.” Selesai bicara, murid itu kini memandang sang guru. Ia menanti jawaban darinya. “Ya, kamu tidak salah. Kamu memang memperhatikan, tapi sesungguhnya kamu buta. Walaupun mata lahirmu bisa melihat, tapi mata batinmu lumpuh. Berhentilah berharap menjadi serigala, dan mulailah berlaku seperti harimau.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;**&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah benar bahwa alam ciptakan ikan kepada umat manusia. Adalah benar pula, alam menghamparkan gandum di tanah-tanah petani. Tapi apakah alam ciptakan ikan-ikan itu dalam kaleng-kaleng sardin? Atau, adakah Dia berikan kepada kita gandum-gandum itu hadir dalam bentuk seplastik roti manis? Saya percaya, ikan-ikan itu dihadirkan kepada kita lewat peluh dan kerja keras dari nelayan. Saya juga pun percaya, bahwa gandum-gandum terhidang di meja makan kita, lewat usaha dari para petani, dan kepandaian mereka mengolah alat panggang roti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, acapkali memang dalam kehidupan kita, ada fragmen tentang serigala yang lumpuh dan harimau yang ingin membalas budi. Memang tak salah jika disana kita akan dapat menyaksikan kebesaran dan kasih sayang dari alam. Dari sana pula kita akan mendapatkan pelajaran tentang persahabatan dan kerjasama. Namun, ada satu hal kecil yang patut diingat disana, bahwa: berbagi, menolong, membantu sudah selayaknya menjadi prioritas dalam kehidupan kita. Bukan karena hal itu adalah suatu keterpaksaan, bukan pula karena di dorong rasa kasihan dan ingin membalas budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbagi dan menolong, memang sepatutnya mengalir dalam darah kita. Disana akan ditemukan nilai-nilai dan percikan cahaya alam. Sebab disana, akan terpantul bahwa kebesaran alam hadir dalam tindak dan perilaku yang kita lakukan. Di dalam berbagi akan bersemayan keluhuran budi, keindahan hati dan keagungan kalbu. Teman, jika kita bisa memilih, berhentilah berharap menjadi serigala lumpuh, dan mulailah meniru teladan harimau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-122619899489365961?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/122619899489365961/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=122619899489365961' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/122619899489365961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/122619899489365961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/tiger-and-wolf.html' title='Tiger and Wolf'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-2310472549323875523</id><published>2008-08-25T23:01:00.002-07:00</published><updated>2008-08-25T23:07:29.427-07:00</updated><title type='text'>Gold and Brass</title><content type='html'>Di sebuah negeri, hiduplah dua orang pengrajin yang tinggal bersebelahan.&lt;br /&gt;Seorang diantaranya, adalah pengrajin emas, sedang yang lainnya pengrajin&lt;br /&gt;kuningan. Keduanya telah lama menjalani pekerjaan ini, sebab, ini adalah&lt;br /&gt;pekerjaan yang diwariskan secara turun-temurun. Telah banyak pula barang yang&lt;br /&gt;dihasilkan dari pekerjaan ini. Cincin, kalung, gelang, dan untaian rantai&lt;br /&gt;penghias, adalah beberapa dari hasil kerajinan mereka. &lt;p&gt;Setiap akhir bulan, mereka membawa hasil pekerjaan ke kota. Hari pasar, demikian&lt;br /&gt;mereka biasa menyebut hari itu. Mereka akan berdagang barang-barang logam itu,&lt;br /&gt;sekaligus membeli barang-barang keperluan lain selama sebulan. Beruntunglah,&lt;br /&gt;pekan depan, akan ada tetamu agung yang datang mengunjungi kota, dan bermaksud&lt;br /&gt;memborong barang-barang yang ada disana. Kabar ini tentu membuat mereka senang.&lt;br /&gt;Tentu, berita ini akan membuat semua pedagang membuat lebih banyak barang yang&lt;br /&gt;akan dijajakan.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-182"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siang-malam, terdengar suara logam yang ditempa. Setiap dentingnya, layaknya&lt;br /&gt;nafas hidup bagi mereka. Tungku-tungku api, seakan tak pernah padam. Kayu bakar&lt;br /&gt;yang tampak membara, seakan menjadi penyulut semangat keduanya. Percik-percik&lt;br /&gt;api yang timbul tak pernah di hiraukan mereka. Keduanya sibuk dengan pekerjaan&lt;br /&gt;masing-masing. Sudah puluhan cincin, kalung, dan untaian rantai penghias yang&lt;br /&gt;siap dijual. Hari pasar makin dekat. Dan lusa, adalah waktu yang tepat untuk&lt;br /&gt;berangkat ke kota.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hari pasar telah tiba, dan keduanya pun sampai di kota. Hamparan terpal telah&lt;br /&gt;digelar, tanda barang dagangan siap dijajakan. Keduanya pun berjejer&lt;br /&gt;berdampingan. Tampaklah, barang-barang logam yang telah dihasilkan. Namun, ah&lt;br /&gt;sayang, ada kontras yang mencolok diantara keduanya. Walaupun terbuat dari logam&lt;br /&gt;mulia, barang-barang yang dibuat oleh pengrajin emas tampak kusam. Warnanya tak&lt;br /&gt;berkilau. Ulir-ulirnya kasar, dengan pokok-pokok simpul rantai yang tak rapi.&lt;br /&gt;Seakan, sang pembuatnya adalah seorang yang tergesa-gesa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ah, biar saja,” demikian ucapan yang terlontar saat pengrajin kuningan&lt;br /&gt;menanyakan kenapa perhiasaannya kawannya itu tampak kusam. “Setiap orang akan&lt;br /&gt;memilih daganganku, sebab, emas selalu lebih baik dari kuningan,” ujar pengrajin&lt;br /&gt;emas lagi, “Apalah artinya loyang buatanmu dibanding logam mulia yang kupunya,&lt;br /&gt;aku akan membawa uang lebih banyak darimu.” Pengrajin kuningan, hanya tersenyum.&lt;br /&gt;Ketekunannya mengasah logam, membuat semuanya tampak lebih bersinar.&lt;br /&gt;Ulir-ulirnya halus. Lekuk-lekuk cincin dan gelang buatannya terlihat seperli&lt;br /&gt;lingkaran yang tak putus. Liku-liku rantai penghiasnya pun lebih sedap di&lt;br /&gt;pandang mata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketekunan, memang sesuatu yang mahal. Hampir semua orang yang lewat, tak menaruh&lt;br /&gt;perhatian kepada pengrajin emas. Mereka lebih suka mendatangi, dan&lt;br /&gt;melihat-melihat cincin dan kalung kuningan. Begitupun tetamu agung yang berkenan&lt;br /&gt;datang. Mereka pun lebih menyukai benda-benda kuningan itu dibandingkan dengan&lt;br /&gt;logam mulia. Sebab, emas itu tidaklah cukup mereka tertarik, dan mau membelinya.&lt;br /&gt;Sekali lagi, terpampang kekontrasan di hari pasar itu. Pengrajin emas yang&lt;br /&gt;tertegun diam, dan pengrajin kuningan yang tersenyum senang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hari pasar telah usai, dan para tetamu telah kembali pulang. Kedua pengrajin itu&lt;br /&gt;pun telah selesai membereskan dagangan. Dan agaknya, keduanya mendapat pelajaran&lt;br /&gt;dari apa yang telah mereka lakukan hari itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teman, ketekunan memang sesuatu yang mahal. Tak banyak orang yang bisa menjalani&lt;br /&gt;pekerjaan ini. Begitupun juga kemuliaan dan harga diri, tak banyak orang yang&lt;br /&gt;menyadari, bahwa kedua hal itu, kadang tak berasal dari apa yang kita sandang&lt;br /&gt;hari ini. Setidaknya, tindak-laku kedua pengrajin itu, adalah potongan siluet&lt;br /&gt;kehidupan kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketekunan, adalah titian panjang yang licin berliku. Seringkali, jalan panjang&lt;br /&gt;itu membuat kita terpelincir, dan jatuh. Seringkali pula, titian itu menjadi&lt;br /&gt;saringan penentu bagi setiap orang yang hendak menuju kebahagiaan di ujung&lt;br /&gt;simpulnya. Namun, percayalah, ada balasan bagi setiap ketekunan. Di ujung sana,&lt;br /&gt;akan ada sesuatu yang menunggu setiap orang yang mau menekuni jalan itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Emas dan kuningan, bisa jadi punya nilai yang berbeda. Namun, apakah kemuliaan&lt;br /&gt;dinilai hanya dari apa disandang keduanya? Apakah harga diri hanya ditunjukkan&lt;br /&gt;dari simbol-simbol yang tampak di luar? Sebab, kita sama-sama belajar dari&lt;br /&gt;pengrajin kuningan, bahwa loyang, kadang bernilai lebih dibanding logam mulia.&lt;br /&gt;Dan juga bahwa kemuliaan, adalah buah dari ketekunan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bisa jadi saat ini kita pandai, kaya, punya kedudukan yang tinggi, dan hidup&lt;br /&gt;sempurna layaknya emas mulia. Namun, adakah semua itu berharga jika ulir-ulir&lt;br /&gt;hati kita kasar dan kusam? Adakah itu mulia jika, lekuk-lekuk kalbu kita koyak&lt;br /&gt;dan penuh dengan tonjolan-tonjolan kedengkian? Adakah itu semua punya harga,&lt;br /&gt;jika, pokok-pokok simpul jiwa yang kita punya, tak di penuhi dengan&lt;br /&gt;simpul-simpul ikhlas dan perangai yang luhur?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teman, mari kita asah kalbu dan hati kita agar bersinar mulia. Mari, kita bentuk&lt;br /&gt;ulir dan lekuk-lekuk jiwa kita dengan ketekunan agar menampilkan cahaya-Nya.&lt;br /&gt;Susunlah simpul-simpul itu, dengan jalinan keluhuran budi dan perilaku. Tempalah&lt;br /&gt;dengan kesungguhan diri, agar hati kita tak keras, dan menjadi lembut, luwes&lt;br /&gt;serta mampu memenuhi hati orang lain.&lt;/p&gt; Percayalah, akan ada imbalan untuk semua itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-2310472549323875523?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/2310472549323875523/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=2310472549323875523' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/2310472549323875523'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/2310472549323875523'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/gold-and-brass.html' title='Gold and Brass'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-8986082144070287472</id><published>2008-08-25T22:51:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T22:53:40.462-07:00</updated><title type='text'>The sculptor</title><content type='html'>Suatu ketika, hiduplah seorang pematung. Pematung ini, bekerja pada seorang raja&lt;br /&gt;yang masyhur dengan tanah kekuasaannya. Wilayah pemerintahannya sangatlah luas.&lt;br /&gt;Hal itu membuat siapapun yang mengenalnya, menaruh hormat pada raja ini. &lt;p&gt;Sang pematung, sudah lama sekali bekerja pada raja ini. Tugasnya adalah membuat&lt;br /&gt;patung-patung yang diletakkan menghiasi taman-taman istana. Pahatannya indah,&lt;br /&gt;karena itulah, ia menjadi kepercayaan raja itu sejak lama. Ada banyak raja-raja&lt;br /&gt;sahabat yang mengagumi keindahan pahatannya saat mengunjungi taman istana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suatu hari, sang raja mempunyai rencana besar. Baginda ingin membuat patung dari&lt;br /&gt;seluruh keluarga dan pembantu-pembantu terbaiknya. Jumlahnya cukup banyak, ada&lt;br /&gt;100 buah. Patung-patung keluarga raja akan di letakkan di tengah taman istana,&lt;br /&gt;sementara patung prajurit dan pembantunya akan di letakkan di sekeliling taman.&lt;br /&gt;Baginda ingin, patung prajurit itu tampak sedang melindungi dirinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span id="more-192"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sang pematung pun mulai bekerja keras, siang dan malam. Beberapa bulan kemudian,&lt;br /&gt;tugas itu hampir selesai. Sang Raja kemudian datang memeriksa tugas yang di&lt;br /&gt;perintahkannya. “Bagus. Bagus sekali, ujar sang Raja. “Sebelum aku lupa, buatlah&lt;br /&gt;juga patung dirimu sendiri, untuk melengkapi monumen ini.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mendengar perintah itu, pematung ini pun mulai bekerja kembali. Setelah beberapa&lt;br /&gt;lama, ia pun selesai membuat patung dirinya sendiri. Namun sayang, pahatannya&lt;br /&gt;tak halus. Sisi-sisinya pun kasar tampak tak dipoles dengan rapi. Ia berpikir,&lt;br /&gt;untuk apa membuat patung yang bagus, kalau hanya untuk di letakkan di luar&lt;br /&gt;taman. “Patung itu akan lebih sering terkena hujan dan panas,” ucapnya dalam&lt;br /&gt;hati, pasti, akan cepat rusak.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Waktu yang dimintapun telah usai. Sang raja kembali datang, untuk melihat&lt;br /&gt;pekerjaan pematung. Ia pun puas. Namun, ada satu hal kecil yang menarik&lt;br /&gt;perhatiannya. “Mengapa patung dirimu tak sehalus patung diriku? Padahal, aku&lt;br /&gt;ingin sekali meletakkan patung dirimu di dekat patungku. Kalau ini yang terjadi,&lt;br /&gt;tentu aku akan membatalkannya, dan menempatkan mu bersama patung prajurit yang&lt;br /&gt;lain di depan sana.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menyesal dengan perrbuatannya, sang pematung hanya bisa pasrah. Patung dirinya,&lt;br /&gt;hanya bisa hadir di depan, terkena panas dan hujan, seperti harapan yang&lt;br /&gt;dimilikinya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teman, seperti apakah kita menghargai diri sendiri? Seperti apakah kita&lt;br /&gt;bercermin pada diri kita? Bagaimanakah kita menempatkan kebanggaan atas diri&lt;br /&gt;kita? Ada kalanya memang, ada orang-orang yang selalu pesimis dengan dirinya&lt;br /&gt;sendiri. Mereka, kerap memandang rendah kemuliaan yang mereka miliki.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, apakah kita mau dimasukkan ke dalam bagian itu. Saya percaya, tak banyak&lt;br /&gt;orang yang menghendaki dirinya mau dimasukkan sebagai orang yang pesimis. Kita&lt;br /&gt;akan lebih suka menjadi orang yang bernilai lebih. Sebab, Allah pun menciptakan&lt;br /&gt;kita tak dengan cara yang main-main. Allah menciptakan kita dengan kemuliaan&lt;br /&gt;mahluk yang sempurna.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan teman, sesungguhnya, kita sedang memahat patung diri kita saat ini. Tapi&lt;br /&gt;patung seperti apakah yang sedang kita buat? Patung yang kasar, yang tak halus&lt;br /&gt;pahatannya, ataukah patung yang indah, yang memancarkan kemuliaan-Nya? Patung&lt;br /&gt;yang bernilai mahal, yang menjadi hiasan terindah, atau patung yang berharga&lt;br /&gt;murah yang tak layak diletakkan di tempat utama?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memang, tak ada yang tahu akan ditempatkan dimana patung-patung diri kita kelak.&lt;br /&gt;Karena hanya Allah lah Maha Tahu. Karenanya, bentuklah patung-patung itu dengan&lt;br /&gt;indah. Pahatlah dengan halus, agar kita bisa ditempatkan di tempat yang terbaik,&lt;br /&gt;di sisi-Nya. Poleslah setiap sisinya dengan kearifan budi, dan kebijakan hati,&lt;br /&gt;agar memancarkan keindahan. Susuri setiap lekuknya dengan kesabaran, dan&lt;br /&gt;keikhlasan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pahatan yang kita torehkan saat ini, akan menentukan tempat kita di akhirat&lt;br /&gt;kelak. Bentuklah “patung” diri Anda dengan indah!&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-8986082144070287472?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/8986082144070287472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=8986082144070287472' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8986082144070287472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8986082144070287472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/sculptor.html' title='The sculptor'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-4047885892873970593</id><published>2008-08-25T22:46:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T22:50:48.083-07:00</updated><title type='text'>Stonemason</title><content type='html'>&lt;pre&gt;Cerita tukang batu Hiduplah seorang ahli batu yang sangat&lt;br /&gt;terkenal di China. Hasil karyanya tersohor di segenap penjuru negeri.&lt;br /&gt;Batu-batu permata dan intan yang berkilauan itu, dipajang menjadi&lt;br /&gt;perhiasan jemari dan kaki para raja. Hampir semua batu indah&lt;br /&gt;di dunia ini, pernah diolah tangannya. Giok, rubi, dan&lt;br /&gt;safir, terpajang di segenap sudut-sudut rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sang ahli sudah sangat tua. Kini, ia berusaha&lt;br /&gt;mencari pengganti dan penerus karya-karyanya. Belasan orang berusaha&lt;br /&gt;berguru. Tapi, tak ada yang cocok buat pekerjaan itu.&lt;br /&gt;Hingga akhirnya ia menemukan seorang pemuda yang tampak bersemangat,&lt;br /&gt;dan bersedia menjalani ujian.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-199"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;"Anak muda, ujian pertama ini tidak sulit," ucap sang ahli membuka pembicaraan.&lt;br /&gt;"Mudah saja. Begini, jika kamu mampu mengambil batu dalam genggamanku, maka kamu&lt;br /&gt;layak mewarisi semua ilmuku. Namun, jika tanganku yang lebih cepat menutup, maka&lt;br /&gt;kamu harus mengulang ujian itu besok." Anak muda itu mendengarkan dengan&lt;br /&gt;seksama. Ia mengangguk pelan, "Baiklah, itu pekerjaan mudah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian itu pun dimulai. Sang ahli, meletakkan sebuah batu di atas genggaman.&lt;br /&gt;Disodorkannya ke arah muka si anak muda. "Ayo, ambil". Hap. Tampak kedua tangan&lt;br /&gt;yang beradu cepat. Sang pemuda berusaha meraih batu dalam gengaman itu. Ah, dia&lt;br /&gt;kalah sigap. Tangan sang ahli telah lebih dulu menutup. "Kamu belum berhasil&lt;br /&gt;anak muda. Cobalah besok." Sang pemuda tampak kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, anak muda itu kembali mencoba. Ujian pun berulang. Lagi-lagi,&lt;br /&gt;dia gagal. Gerakannya masih terlalu lambat. Ia pun harus kembali mengulang ujian&lt;br /&gt;itu. Dua, tiga hari dilaluinya, tak juga berhasil. Sembilan hari telah&lt;br /&gt;terlewati, tapi batu itu masih belum berpindah tangan. Pemuda itu mulai tampak&lt;br /&gt;putus asa, dan dia berjanji, kalau besok masih belum berhasil, dia akan berhenti&lt;br /&gt;dan tak mau menjadi ahli permata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari penantian itu pun tiba. Keduanya telah duduk berhadapan. Sang ahli&lt;br /&gt;bertanya, "Kamu sudah siap?" Sang ahli meletakkan sebongkah batu di atas&lt;br /&gt;gengamannya. Namun, tiba-tiba anak muda itu berteriak, "Hei, tunggu dulu. Itu&lt;br /&gt;bukan batu yang biasa kita gunakan!" Alih-alih meraih batu itu, sang anak muda&lt;br /&gt;malah menanyakan tentang batu. Wajah keheranan itu dibalas dengan senyuman dari&lt;br /&gt;sang ahli batu. "Anak muda, kamu lulus ujian pertama dariku. Selamat!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup di dunia, kadangkala seperti pertunjukan sulap. Apa yang ada di depan&lt;br /&gt;mata, seringkali bukan apa yang kita dapatkan. Harapan yang kita inginkan,&lt;br /&gt;acapkali meleset. Banyak yang tertipu, banyak pula yang salah duga dan salah&lt;br /&gt;kira. Sebab, di sana memang penuh kepalsuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, sering kita mendengar istilah, siapa cepat dia dapat. Kita pun terpacu&lt;br /&gt;untuk sepakat dengan perkataan itu. Kemudian, segalanya berubah menjadi begitu&lt;br /&gt;bergegas. Adu cepat dan adu sigap. Namun, adakah yang tercepat selalu yang jadi&lt;br /&gt;pemenang? Kadangkala jawabannya tidak semudah itu. Saya percaya, tak selamanya&lt;br /&gt;kita memaknai hidup ini dengan cara-cara seperti itu. Ada kalanya kita perlu&lt;br /&gt;bertanya kepada hati tentang makna hidup yang sebenarnya. Setidaknya, kali ini&lt;br /&gt;saya percaya, mereka yang cermatlah yang akan memenangkan pertarungan hidup.&lt;br /&gt;Mereka-mereka yang belajar tentang ketelitianlah yang lulus dari ujian&lt;br /&gt;kehidupan. Tak selamanya, si cepat adalah si juara.&lt;/pre&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-4047885892873970593?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/4047885892873970593/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=4047885892873970593' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/4047885892873970593'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/4047885892873970593'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/stonemason.html' title='Stonemason'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-3614256352655533805</id><published>2008-08-25T22:42:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T22:46:16.231-07:00</updated><title type='text'>King's Gift</title><content type='html'>&lt;p&gt;Suatu ketika, hiduplah seorang petani bersama keluarganya. Mereka menetap di sebuah kerajaan yang besar, dengan raja yang adil dan bijaksana. Beruntunglah siapa saja yang tinggal disana. Tanahnya subur, keadaannya pun aman dan sentosa. Semuanya hidup berdampingan, tanpa pernah mengenal perang ataupun bencana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setiap pagi, sang petani selalu pergi ke sawah. Tak lupa ia membawa bajak dan kerbau peliharaannya. Walaupun sudah tua, namun bajak dan kerbau itu selalu setia menemaninya bekerja. Sisi-sisi kayu dan garu bajak itu tampak mengelupas, begitupun kerbau yang sering tampak letih jika bekerja terlalu lama. "Inilah hartaku yang paling berharga", demikian gumam petani itu dalam hati, sembari melayangkan pandangannya ke arah bajak dan kerbaunya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tak seperti biasa, tiba-tiba ada serombongan pasukan yang datang menghampiri petani itu. Tampak pemimpin pasukan yang maju, lalu berkata, "Berikan bajak dan kerbaumu kepada kami. "Ini perintah Raja!". Suara itu terdengar begitu keras, mengagetkan petani itu yang tampak masih kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;span id="more-233"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Petani itu lalu menjawab, "Untuk apa, sang Raja menginginkan bajak dan kerbauku? "Ini adalah hartaku yang paling berharga, bagaimana aku bisa bekerja tanpa itu semua. Petani itu tampak menghiba, memohon agar diberikan kesempatan untuk tetap bekerja. "Tolonglah, kasihani anak dan istriku…berilah kesempatan sampai besok. Aku akan membicarakan dengan keluargaku…"&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Namun, pemimpin pasukan berkata lagi, "Kami hanya menjalankan perintah dari Baginda. Terserah, apakah kau mau menjalankannya atau tidak. Namun, ingatlah, kekuasaannya sangat kuat. "Petani semacam kau tak akan mampu melawan perintahnya." Akhirnya, pasukan itu berbalik arah, dan kembali ke arah istana.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di malam hari, petani pun menceritakan kejadian itu dengan keluarganya. Mereka tampak bingung dengan keadaan ini. Hati bertanya-tanya, "Apakah baginda sudah mulai kehilangan kebijaksanaannya? Kenapa baginda tampak tak melindungi rakyatnya dengan mengambil bajak dan kerbau kita? Gundah, dan resah melingkupi keluarga itu. Namun, akhirnya, mereka hanya bisa pasrah dan memilih untuk menyerahkan kedua benda itu kepada raja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keesokan pagi, sang petani tampak pasrah. Bersama dengan bajak dan kerbaunya, ia melangkah menuju arah istana. Petani itu ingin memberikan langsung hartanya yang paling berharga itu kepada Raja. Tibalah ia di halaman Istana, dan langsung di terima Raja. "Baginda, hamba hanya bisa pasrah. Walaupun hamba merasa sayang dengan harta itu, namun hamba ingin membaktikan diri kepada Baginda. Duli Paduka, terimalah pemberian ini…."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Baginda Raja tersenyum. Sambil menepuk kedua tangannya, ia tampak memanggil pengawal. "Pengawal, buka selubung itu!! Tiba-tiba, terkuaklah selubung di dekat taman. Ternyata, disana ada sebuah bajak yang baru dan kerbau yang gemuk. Kayu-kayu bajak itu tampak kokoh, dengan urat-urat kayu yang mengkilap. Begitupun kerbau, hewan itu begitu gemuk, dengan kedua kaki yang tegap.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sang Petani tampak kebingungan. Baginda mulai berbicara, "Sesungguhnya, aku telah mengenal dirimu sejak lama. Dan aku tahu kau adalah petani yang rajin dan baik. Namun, aku ingin mengujimu dengan hal ini. Ternyata, kau memang benar-benar hamba yang baik. Engkau rela memberikan hartamu yang paling berharga untukku. Maka, terimalah hadiah dariku. Engkau layak menerimanya…."&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Petani itu pun bersyukur dan ia pun kembali pulang dengan hadiah yang sangat besar, buah kebaikan dan baktinya pada sang Raja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;***&lt;br /&gt;Teman, bisa jadi, tak banyak orang yang bisa berlaku seperti petani tadi. Hanya sedikit orang yang mau memberikan harta yang terbaik yang dimilikinya kepada yang lain. Namun, petani tersebut adalah satu dari orang-orang yang sedikit itu. Dan ia, memberikan sedikit pelajaran buat kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesungguhnya, Allah sering meminta kita memberikan terbaik yang kita punya untuk-Nya. Allah, sering memerintahkan kita untuk mau menyampaikan yang paling berharga, hanya ditujukan pada-Nya. Bukan, bukan karena Allah butuh semua itu, dan juga bukan karena Allah kekurangan. Namun karena sesungguhnya Allah Maha Kaya, dan Allah sedang menguji setiap hamba-Nya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah sedang menguji, apakah hamba-Nya adalah bagian dari orang-orang yang beriman dan mau bersyukur. Allah sedang menguji, apakah ada dari hamba-hamba-Nya yang mau menafkahkan harta di jalan-Nya. Dan Allah, pasti akan memberikan balasan atas upaya itu dengan pemberian yang tak akan kita bayangkan. Imbalan dan pahala yang akan kita terima, sesungguhya akan mampu membuat kita paham, bahwa Allah memang Maha Pemberi Kemuliaan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan teman, mari kita berikan yang terbaik yang kita punya kepada-Nya. Marilah kita tujukan waktu, kerja dan usaha kita yang terbaik hanya kepada-Nya. Karena sesungguhnya memang, kita tak akan pernah menyadari balasan apa yang akan kita terima atas semua itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Allah selalu punya banyak cara-cara rahasia untuk memberikan kemuliaan bagi hamba-Nya. Dan Dia akan selalu memberikan pengganti yang lebih baik untuk semua yang ikhlas kita berikan pada-Nya&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-3614256352655533805?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/3614256352655533805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=3614256352655533805' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/3614256352655533805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/3614256352655533805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/kings-gift.html' title='King&apos;s Gift'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-3997140273067326065</id><published>2008-08-25T20:07:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T20:15:08.663-07:00</updated><title type='text'>Little Puppy</title><content type='html'>&lt;p&gt;Seekor anak anjing yang kecil mungil sedang berjalan-jalan di ladang pemiliknya. Ketika dia mendekati kandang kuda, dia mendengar binatang besar itu memanggilnya. Kata kuda itu : “Kamu pasti masih baru di sini, cepat atau lambat kamu akan mengetahui kalau pemilik ladang ini mencintai saya lebih dari binatang lainnya, sebab saya bisa mengangkut banyak barang untuknya, saya kira binatang sekecil kamu tidak akan bernilai sama sekali baginya”, ujarnya dengan sinis.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anjing kecil itu menundukkan kepalanya dan pergi, lalu dia mendengar seekor sapi di kandang sebelah berkata : “Saya adalah binatang yang paling terhormat di sini sebab nyonya di sini membuat keju dan mentega dari susu saya. Kamu tentu tidak berguna bagi keluarga di sini”, dengan nada mencemooh.&lt;span id="more-38"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Teriak seekor domba : “Hai sapi, kedudukanmu tidak lebih tinggi dari saya, saya memberi mantel bulu kepada pemilik ladang ini. Saya memberi kehangatan kepada seluruh keluarga. Tapi omonganmu soal anjing kecil itu, kayanya kamu memang benar. Dia sama sekali tidak ada manfaatnya di sini.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Satu demi satu binatang di situ ikut serta dalam percakapan itu, sambil menceritakan betapa tingginya kedudukan mereka di ladang itu. Ayam pun berkata bagaimana dia telah memberikan telur, kucing bangga bagaimana dia telah mengenyahkan tikus-tikus pengerat dari ladang itu. Semua binatang sepakat kalau si anjing kecil itu adalah mahluk tak berguna dan tidak sanggup memberikan kontribusi apapun kepada keluarga itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Terpukul oleh kecaman binatang-binatang lain, anjing kecil itu pergi ke tempat sepi dan mulai menangis menyesali nasibnya, sedih rasanya sudah yatim piatu, dianggap tak berguna, disingkirkan dari pergaulan lagi…..&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada seekor anjing tua di situ mendengar tangisan tersebut, lalu menyimak keluh kesah si anjing kecil itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Saya tidak dapat memberikan pelayanan kepada keluarga disini, sayalah hewan yang paling tidak berguna disini.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kata anjing tua itu : “Memang benar bahwa kamu terlalu kecil untuk menarik pedati, kamu tidak bisa memberikan telur, susu ataupun bulu, tetapi bodoh sekali jika kamu menangisi sesuatu yang tidak bisa kamu lakukan. Kamu harus menggunakan kemampuan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk membawa kegembiraan. ”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Malam itu ketika pemilik ladang baru pulang dan tampak amat lelah karena perjalanan jauh di panas terik matahari, anjing kecil itu lari menghampirinya, menjilat kakinya dan melompat ke pelukannya. Sambil menjatuhkan diri ke tanah, pemilik ladang dan anjing kecil itu berguling-guling di rumput disertai tawa ria.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya pemilik ladang itu memeluk dia erat-erat dan mengelus-elus kepalanya, serta berkata : “Meskipun saya pulang dalam keadaan letih, tapi rasanya semua jadi sirna, bila kau menyambutku semesra ini, kamu sungguh yang paling berharga di antara semua binatang di ladang ini, kecil kecil kamu telah mengerti artinya kasih……. ..”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jangan sedih karena kamu tidak dapat melakukan sesuatu seperti orang lain karena memang tidak memiliki kemampuan untuk itu, tetapi apa yang kamu dapat lakukan, lakukanlah itu dengan sebaik-baiknya. …&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan jangan sombong jika kamu merasa banyak melakukan beberapa hal pada orang lain, karena orang yang tinggi hati akan direndahkan dan orang yang rendah hati akan ditinggikan.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-3997140273067326065?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/3997140273067326065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=3997140273067326065' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/3997140273067326065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/3997140273067326065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/little-puppy.html' title='Little Puppy'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-2473922057616900328</id><published>2008-08-25T20:06:00.001-07:00</published><updated>2008-08-25T20:06:57.208-07:00</updated><title type='text'>What We Proud of?</title><content type='html'>&lt;p&gt;Seorang pria yang bertamu ke rumah Sang Guru tertegun keheranan. Dia melihat Sang Guru sedang sibuk bekerja; ia mengangkuti air dengan ember dan menyikat lantai rumahnya keras-keras. Keringatnya bercucuran deras. Menyaksikan keganjilan ini orang itu bertanya, “Apa yang sedang Anda lakukan?”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sang Guru menjawab, “Tadi saya kedatangan serombongan tamu yang meminta nasihat. Saya memberikan banyak nasihat yang bermanfaat bagi mereka.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mereka pun tampak puas sekali. Namun, setelah mereka pulang tiba-tiba saya merasa menjadi orang yang hebat. Kesombongan saya mulai bermunculan. Karena itu, saya melakukan ini untuk membunuh perasaan sombong saya.” &lt;span id="more-40"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sombong adalah penyakit yang sering menghinggapi kita semua, yang benih-benihnya terlalu kerap muncul tanpa kita sadari. Di tingkat terbawah, sombong disebabkan oleh faktor materi. Kita merasa lebih kaya, lebih rupawan, dan lebih terhormat daripada orang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di tingkat kedua, sombong disebabkan oleh faktor kecerdasan. Kita merasa lebih pintar, lebih kompeten, dan lebih berwawasan dibandingkan orang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Di tingkat ketiga, sombong disebabkan oleh faktor kebaikan. Kita sering menganggap diri kita lebih bermoral, lebih pemurah, dan lebih tulus dibandingkan dengan orang lain.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Yang menarik, semakin tinggi tingkat kesombongan, semakin sulit pula kita mendeteksinya. Sombong karena materi sangat mudah terlihat, namun sombong karena pengetahuan, apalagi sombong karena kebaikan, sulit terdeteksi karena seringkali hanya berbentuk benih-benih halus di dalam batin kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akar dari kesombongan ini adalah ego yang berlebihan. Pada tataran yang lumrah, ego menampilkan dirinya dalam bentuk harga diri (self-esteem) dan kepercayaan diri (self-confidence) . Akan tetapi, begitu kedua hal ini berubah menjadi kebanggaan (pride), Anda sudah berada sangat dekat dengan kesombongan. Batas antara bangga dan sombong tidaklah terlalu jelas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita sebenarnya terdiri dari dua kutub, yaitu ego di satu kutub dan kesadaran sejati di lain kutub. Pada saat terlahir ke dunia, kita dalam keadaan telanjang dan tak punya apa-apa. Akan tetapi, seiring dengan waktu, kita mulai memupuk berbagai keinginan, lebih dari sekadar yang kita butuhkan dalam hidup. Keenam indra kita selalu mengatakan bahwa kita memerlukan lebih banyak lagi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perjalanan hidup cenderung menggiring kita menuju kutub ego. Ilusi ego inilah yang memperkenalkan kita kepada dualisme ketamakan (ekstrem suka) dan kebencian (ekstrem tidak suka). Inilah akar dari segala permasalahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perjuangan melawan kesombongan merupakan perjuangan menuju kesadaran sejati. Untuk bisa melawan kesombongan dengan segala bentuknya, ada dua perubahan paradigma yang perlu kita lakukan. Pertama, kita perlu menyadari bahwa pada hakikatnya kita bukanlah makhluk fisik, tetapi makhluk spiritual. Kesejatian kita adalah spiritualitas, sementara tubuh fisik hanyalah sarana untuk hidup di dunia. Kita lahir dengan tangan kosong, dan (ingat!) kita pun akan mati dengan tangan kosong.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pandangan seperti ini akan membuat kita melihat semua makhluk dalam kesetaraan universal. Kita tidak akan lagi terkelabui oleh penampilan, label, dan segala “tampak luar” lainnya. Yang kini kita lihat adalah “tampak dalam”. Pandangan seperti ini akan membantu menjauhkan kita dari berbagai kesombongan atau ilusi ego.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kedua, kita perlu menyadari bahwa apa pun perbuatan baik yang kita lakukan, semuanya itu semata-mata adalah juga demi diri kita sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita memberikan sesuatu kepada orang lain adalah juga demi  kita sendiri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam hidup ini berlaku hukum kekekalan energi. Energi yang kita berikan kepada dunia tak akan pernah musnah. Energi itu akan kembali kepada kita dalam bentuk yang lain. Kebaikan yang kita lakukan pasti akan kembali kepada kita dalam bentuk persahabatan, cinta kasih, makna hidup, maupun kepuasan batin yang mendalam. Jadi, setiap berbuat baik kepada pihak lain, kita sebenarnya sedang berbuat baik kepada diri kita sendiri. Kalau begitu, apa yang kita sombongkan?&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-2473922057616900328?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/2473922057616900328/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=2473922057616900328' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/2473922057616900328'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/2473922057616900328'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/what-we-proud-of.html' title='What We Proud of?'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-1972338375691320583</id><published>2008-08-25T20:05:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T20:06:07.821-07:00</updated><title type='text'>Traces</title><content type='html'>&lt;p&gt;Banyak orang masuk ke dalam kehidupan kita, satu demi satu datang&lt;br /&gt;dan pergi silih berganti. Ada yang tinggal untuk sementara waktu dan&lt;br /&gt;meninggalkan jejak-jejak di dalam hati kita dan tak sedikit yang&lt;br /&gt;membuat  diri kita berubah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alkisah seorang tukang lentera di sebuah desa kecil,  setiap petang&lt;br /&gt;lelaki tua ini berkeliling membawa sebuah tongkat obor  penyulut&lt;br /&gt;lentera dan memanggul sebuah tangga kecil. Ia berjalan keliling  desa&lt;br /&gt;menuju ke tiang lentera dan menyandarkan tangganya pada tiang&lt;br /&gt;lentera, naik dan menyulut sumbu dalam kotak kaca lentera itu hingga&lt;br /&gt;menyala lalu turun, kemudian ia panggul tangganya lagi dan berjalan&lt;br /&gt;menuju tiang lentera berikutnya. &lt;span id="more-46"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begitu seterusnya dari satu tiang  ke tiang berikutnya, makin jauh&lt;br /&gt;lelaki tua itu berjalan dan makin jauh dari  pandangan kita hingga&lt;br /&gt;akhirnya menghilang ditelan kegelapan malam. Namun  demikian, bagi&lt;br /&gt;siapapun yang melihatnya akan selalu tahu kemana arah  perginya pak&lt;br /&gt;tua itu dari lentera-lentera yang  dinyalakannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penghargaan tertinggi adalah menjalani kehidupan  sedemikian rupa&lt;br /&gt;sehingga pantas mendapatkan ucapan: “Saya selalu tahu kemana  arah&lt;br /&gt;perginya dari jejak-jejak yang ditinggalkannya. ”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seperti halnya  perjalanan si lelaki tua dari satu lentera ke lentera&lt;br /&gt;berikutnya, kemanapun  kita pergi akan meninggalkan jejak. Tujuan&lt;br /&gt;yang jelas dan besarnya rasa  tanggung jawab kita adalah jejak-jejak&lt;br /&gt;yang ingin diikuti oleh putera puteri  kita dan dalam prosesnya akan&lt;br /&gt;membuat orang tua kita bangga akan jejak yang  pernah mereka&lt;br /&gt;tinggalkan bagi kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tinggalkanlah jejak yang  bermakna, maka bukan saja kehidupan anda&lt;br /&gt;yang akan menjadi lebih baik tapi  juga kehidupan mereka yang&lt;br /&gt;mengikutinya.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-1972338375691320583?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/1972338375691320583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=1972338375691320583' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/1972338375691320583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/1972338375691320583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/traces.html' title='Traces'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-5865570596881394221</id><published>2008-08-25T19:53:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T19:59:53.519-07:00</updated><title type='text'>The Sun</title><content type='html'>&lt;p&gt;Seorang wanita bertanya pada seorang pria tentang cinta dan harapan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia dan pria&lt;br /&gt;berkata ingin menjadi matahari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wanita tidak mengerti kenapa pria ingin jadi matahari, bukan kupu&lt;br /&gt;kupu atau kumbang yang bisa terus menemani bunga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wanita berkata ingin menjadi rembulan dan pria berkata ingin tetap&lt;br /&gt;menjadi matahari. Wanita semakin bingung karena matahari dan bulan&lt;br /&gt;tidak bisa bertemu, tetapi pria ingin tetap jadi matahari. &lt;span id="more-57"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wanita berkata ingin menjadi Phoenix yang bisa terbang ke langit&lt;br /&gt;jauh di atas matahari dan pria berkata ia akan selalu menjadi&lt;br /&gt;matahari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Wanita tersenyum pahit dan kecewa. Wanita sudah berubah 3x namun&lt;br /&gt;pria tetap keras kepala ingin jadi matahari tanpa mau ikut berubah&lt;br /&gt;bersama wanita. Maka wanita pun pergi dan tak pernah lagi kembali&lt;br /&gt;tanpa pernah tahu alasan kenapa pria tetap menjadi matahari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pria merenung sendiri dan menatap matahari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat wanita jadi bunga, pria ingin menjadi matahari agar bunga dapat&lt;br /&gt;terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarnya untuk bunga&lt;br /&gt;agar ia tumbuh, berkembang dan terus hidup sebagai bunga yang&lt;br /&gt;cantik. Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh dan&lt;br /&gt;pada akhirnya kupu kupu yang akan menari bersama bunga. Ini disebut&lt;br /&gt;kasih yaitu memberi tanpa pamrih.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat wanita jadi bulan, pria tetap menjadi matahari agar bulan dapat&lt;br /&gt;terus bersinar indah dan dikagumi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi&lt;br /&gt;saat semua makhluk mengagumi bulan siapakah yang ingat kepada&lt;br /&gt;matahari. Matahari rela memberikan cahaya nya untuk bulan walaupun&lt;br /&gt;ia sendiri tidak bisa menikmati cahaya bulan, dilupakan jasanya dan&lt;br /&gt;kehilangan kemuliaan nya sebagai pemberi cahaya agar bulan&lt;br /&gt;mendapatkan kemuliaan tersebut. Ini disebut dengan Pengorbanan,&lt;br /&gt;menyakitkan namun sangat layak untuk cinta.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saat wanita jadi Phoenix yang dapat terbang tinggi jauh ke langit&lt;br /&gt;bahkan di atas matahari, pria tetap selalu jadi matahari agar&lt;br /&gt;Phoenix bebas untuk pergi kapan pun ia mau dan matahari tidak akan&lt;br /&gt;mencegahnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Matahari rela melepaskan phoenix untuk pergi jauh, namun matahari&lt;br /&gt;akan selalu menyimpan cinta yang membara di dalam hatinya hanya&lt;br /&gt;untuk phoenix.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Matahari selalu ada untuk Phoenix kapan pun ia mau kembali walau&lt;br /&gt;phoenix tidak selalu ada untuk matahari. Tidak akan ada makhluk lain&lt;br /&gt;selain Phoenix yang bisa masuk ke dalam matahari dan mendapatkan&lt;br /&gt;cinta nya. Ini disebut dengan Kesetiaan, walaupun ditinggal pergi&lt;br /&gt;dan dikhianati namun tetap menanti dan mau memaafkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pria tidak pernah menyesal menjadi matahari bagi wanita.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-5865570596881394221?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/5865570596881394221/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=5865570596881394221' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/5865570596881394221'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/5865570596881394221'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/sun.html' title='The Sun'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-5513124726962574245</id><published>2008-08-25T19:50:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T19:53:42.766-07:00</updated><title type='text'>Hero's Journey</title><content type='html'>&lt;p&gt;Bila Anda pernah melahap cerita-cerita hikayat atau mitos — baik dari dunia Barat seperti mitos Hercules atau Odysseus, dari dunia dongeng seperti kisah Snow White dan Cinderella — Anda akan menemukan sebuah benang merah dari cerita-cerita tersebut. Kesamaan tersebut terletak pada jalan hidup para pahlawan-pahlawan yang oleh ahli mitologi Joseph Campbell disebut Hero’s Journey. &lt;span id="more-62"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jalan hidup para pahlawan tersebut, menurut Campbell, selalu melewati 6 tahap penting: innocence, the call, initiation, allies, breakthrough, dan celebration. Pada tahap innocence, mereka adalah orang biasa. Kemudian mereka tiba-tiba mendapatkan panggilan hidup (the call) yang tidak bisa ditolak. Panggilan tersebut mengharuskan mereka melewati cobaan-cobaan berat (initiation). Untuk melewati cobaan tersebut, mereka sering dibantu beberapa teman-teman setia (allies) yang akhirnya membawa mereka mencapai terobosan (breakthrough) dan keberhasilan (celebration).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keenam tahap tersebut bisa juga dianalogikan dengan perjalanan hidup manusia, mulai dari keberadaan di dalam rahim ibu (innocence), kelahiran (the call), kerentanan sebagai seorang bayi (initiation), keberadaan orang tua sebagai pelindung (allies), belajar mandiri (breakthrough), dan menjadi mandiri (celebration). Tahap tersebut kemudian berulang lagi ketika kita menginjak usia remaja, dewasa, paro baya, dan usia senja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kisah para pahlawan tersebut memang kisah fiktif, tetapi kisah mereka adalah kisah kita semua. Kita mengidolakan mereka karena di alam bawah sadar, kita bisa mengidentifikasikan kisah-kisah mereka dengan pergelutan kita sendiri. Dan tentu saja kisah para pahlawan tersebut juga merupakan kisah para inovator dan wiraswasta. Untuk berhasil, tidak ada jalan pintas. Jangan pernah percaya akan janji-janji yang bisa menawarkan Anda kesuksesan dengan cepat tanpa cucuran keringat (dan sering keringat tersebut adalah keringat dingin). Semua kisah sukses harus melewati tahapan-tahapan tersebut yang jelas tidak semuanya memberikan kegembiraan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dalam dunia inovasi dan kewiraswastaan, tahap innocence bisa diibaratkan dengan kehidupan kita yang sebelumnya tenang-tenang saja mengikuti arus. Tiba-tiba sebuah ide cemerlang atau krisis datang, yang juga sekaligus menandai kedatangan fase the call. Ide atau krisis tersebut hadir sedemikian kuatnya sehingga kita terpaksa bertindak. Namun kita ternyata menghadapi banyak halangan dan cobaan. Ide yang kita anggap bagus, ketika coba dijual ke orang lain, ternyata hanya disambut dengan cibiran atau sikap masa bodo. Itulah tanda-tanda bahwa kita telah masuk ke tahap initiation. Tahap ini sangat berbahaya karena banyaknya calon pahlawan yang kembali menjadi orang biasa karena tidak berhasil melewati fase ini. Di sinilah dibutuhkan allies untuk membantu kita. Sukses tidak bisa datang dengan berjuang seorang diri. Snow White membutuhkan tujuh kurcaci, Frodo membutuhkan Sam dan kelompok yang dipimpin penyihir Gandalf, dan Kwee Ceng membutuhkan Oey Yong. Anda juga harus mencari para pendukung setia Anda. Tanpa itu, perjalanan berat tersebut mungkin tidak bisa Anda lalui.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika Anda berhasil menemukan allies, dengan bantuan mereka, Anda baru bisa mencapai fase breakthrough. Ide atau inovasi Anda mulai diterima, walau belum secara luas. Tetapi dengan ketabahan dan strategi yang benar, ide Anda akan semakin diterima sehingga bisa mencapai tingkatan terakhir, celebration.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Untuk perusahaan, perjalanan yang sama dalam memperkenalkan produk baru ke pasaran juga harus melewati siklus serupa. Inovasi baru belum tentu diterima pasar dengan tangan terbuka. Tahap inisiasi dalam bentuk the chasm-nya Gordon Moore selalu penuh dengan jebakan (baca juga: Inovasi, Lewatilah Jurang Ini!). Untuk melewati jebakan tersebut, perusahaan harus menjalin aliansi dan kerja sama dengan pihak-pihak luar untuk mempercepat penetrasi produknya. Aliansi tersebut juga bisa melibatkan para calon konsumen dengan melibatkan mereka dalam proses pengembangan produk baru, misalnya melalui prototyping atau mengundang para lead users. Setelah aliansi terjalin, dan diiringi dengan strategi peluncuran produk baru yang benar, keberhasilan baru akan mendekat.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perjalanan melewati keenam tahap tersebut tentu membutuhkan waktu. Anda mungkin tidak sabar dan ingin cepat-cepat tiba di tujuan. Tetapi itu tidak mungkin. Karena itu, berusahalah melewati setiap tahap dengan gembira karena setiap tahap sebenarnya menawarkan kita hadiah besar. Tahap innocence memberi kita kesempatan melakukan refleksi diri. The call memberi kita motivasi untuk bergerak maju. Initiation memberi kita pelajaran berharga, termasuk pelajaran melalui kegagalan dan cucuran air mata. Tahap ini juga sering memaksa kita mendefinisi ulang hidup dan prioritas kita. Allies memberikan kita dukungan untuk terus maju dan membantu kita melihat masalah melalui perspektif yang berbeda. Breakthrough membawa kita ke dunia dan pengalaman baru. Dan tahap terakhir celebration memberi kita kepuasan jiwa dan kegembiraan. Setelah itu, Anda akan masuk lagi ke tahap innocence yang memungkinkan Anda menyaring pelajaran dari perjalanan terdahulu untuk membantu perjalanan Anda yang berikutnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena itu, ketika Anda bercermin, lihatlah diri seorang pahlawan dalam cermin tersebut. Jalan hidup para pahlawan adalah jalan hidup Anda juga. Jalanilah hidup seperti mereka. Maju terus tetapi jangan pernah mengharapkan perjalanan yang mulus. Perjalanan penuh rintangan adalah ujian buat Anda agar semakin kuat dan dewasa. Jangan takut juga menempuh jalan yang jarang ditempuh orang lain. Para inovator selalu menempuh jalan yang jarang dilewati orang lain. Camkanlah selalu kata-kata indah dalam puisi terkenal Robert Fross, The Road Less Taken:&lt;/p&gt;&lt;em&gt;&lt;em&gt;"Two roads diverged in a wood, and I&lt;br /&gt;I took the one less traveled by&lt;br /&gt;And that has made all the difference&lt;/em&gt;."&lt;/em&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-5513124726962574245?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/5513124726962574245/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=5513124726962574245' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/5513124726962574245'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/5513124726962574245'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/heros-journey.html' title='Hero&apos;s Journey'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-345580529304231036</id><published>2008-08-25T19:47:00.001-07:00</published><updated>2008-08-25T19:47:43.053-07:00</updated><title type='text'>King and Alchemist</title><content type='html'>&lt;p&gt;Pernahkah anda mendengar istilah Alkemi? Alkemi dikenal sebagai sebuah ilmu yang mampu mengubah besi menjadi emas. Dalam banyak kisah, beberapa orang menganggapnya sebagai sebuah sihir belaka, tetapi yang lain percaya bahwa ilmu itu benar-benar ada. Dan, siapa yang tak tergiur untuk bisa menguasai ilmu alkemi? Hanya dengan kemampuan alkemi, ia bisa mengubah besi menjadi emas dan tentu menjadi kaya-raya. &lt;span id="more-64"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Alkisah, di sebuah negara di Timur ada seorang Raja yang hendak mencari orang yang benar-benar mengerti tentang alkemi. Sudah banyak orang datang pada Raja, tetapi ketika diuji, mereka ternyata tidak mampu mengubah besi menjadi emas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Suatu ketika seorang menteri berkata pada Raja bahwa di sebuah desa terdapat seseorang yang hidup sederhana dan bersahaja. Orang-orang di sana mengatakan bahwa ia menguasai ilmu alkemi. Segera saja Raja mengirimkan utusan untuk memanggil orang itu. Sesampainya di istana, Raja mengutarakan maksudnya ingin mempelajari ilmu alkemi. Raja akan memberikan apa yang diminta oleh orang itu. Tetapi apa jawab orang desa itu, “Tidak. Saya tidak mengetahui sedikit pun ilmu yang Baginda maksudkan.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Raja berkata, “Setiap orang memberitahu aku bahwa engkau mengetahui ilmu itu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tidak, Baginda,” jawabnya bersikeras. “Baginda mendapatkan orang yang keliru.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Raja mulai murka dan mengancam. “Dengarkan baik-baik!” kata Raja. “Bila kau tak mau mengajariku ilmu itu, aku akan memenjarakanmu seumur hidup.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Apa pun yang Baginda hendak lakukan, lakukanlah. Baginda mendapatkan orang yang keliru”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Baiklah. Aku memberimu waktu enam minggu untuk memikirkannya. Dan, selama itu kau akan dipenjara. Jika pada akhir minggu ke enam kau masih berkeras hati, aku akan memenggal kepalamu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Akhirnya orang itu dimasukkan ke dalam penjara. Setiap pagi Raja datang ke penjara dan bertanya, “Apakah kau telah berubah pikiran? Maukah kau mengajariku alkemi? Kematianmu sudah dekat, berhati-hatilah. Ajari aku pengetahuan itu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Orang itu selalu menjawab, “Tidak Baginda. Carilah orang lain. Carilah orang lain yang memiliki apa yang Baginda inginkan, saya&lt;br /&gt;bukanlah orang yang Baginda cari.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setiap malam ada seorang pelayan yang melayani orang itu dalam penjara. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pelayan itu berkata bahwa Raja mengirimnya untuk melayani orang itu sebaik-baiknya. Pelayan itu menyapu lantai serta membersihkan ruangan penjara itu. Pelayan itu juga selalu mengantarkan makanan dan minuman untuk orang itu, memberikan simpati kepadanya, melakukan apa saja yang diminta oleh orang itu, dan bekerja apa saja selayaknya seorang pelayan. Pelayan itu selalu menanyakan, “Apakah anda sakit? Apakah ada sesuatu yang dapat saya lakukan untuk anda? Apakah anda lelah? Bolehkah saya membersihkan tempat tidur anda? Maukah anda bila saya mengipasi anda hingga anda tertidur, udara di sini panas sekali.” Dan, segala sesuatu yang bisa pelayan itu lakukan, maka ia lakukan saat itu juga.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hari terus belalu. Dan, kini tinggal satu hari lagi sebelum kepala orang itu dipenggal. Pagi hari Raja mengunjungi dan&lt;br /&gt;berkata, “Waktumu tinggal sehari. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ini kesempatan bagimu untuk menyelamatkan nyawamu sendiri.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi orang itu tetap saja berkata, “Tidak Baginda. Yang Baginda cari bukanlah hamba.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pada malam hari, sebagaimana biasa pelayan itu datang. Orang itu memanggil pelayan itu untuk duduk dekat dirinya kemudian diletakkan tangannya di bahu pelayan itu dan berkata, “Wahai orang yang malang. Wahai pelayan yang malang. Engkau telah berlaku sunguh baik terhadap diriku. Kini aku akan membisikkan di telingamu sebuah kata tentang alkemi. Sebuah kata yang akan membuatmu mampu mengubah besi menjadi emas.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Pelayan itu berkata, “Aku tak tahu apa yang kau maksudkan dengan alkemi. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Saya hanya ingin melayani anda. Saya sungguh sedih bahwa besok anda akan dihukum mati. Itu sungguh mengoyak hatiku. Saya harap saya bisa memberikan jiwa saya untuk menyelamatkan anda. Seandainya saya bisa, sungguh saya sangat bersyukur.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sang alkemi menjawab, “Lebih baik aku mati daripada memberikan ilmu alkemi ini kepada orang yang tidak layak menerimanya. Ilmu yang baru saja aku berikan kepadamu dalam simpati, dalam penghargaan, dan dalam cinta, tak akan kuberikan kepada Raja yang akan mengambil nyawaku besok. Mengapa demikian? &lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena engkau pantas menerimanya, sedangkan Raja itu tidak.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Esok harinya, Raja memanggil sang alkemi dan memberikan peringatan terakhir. &lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Ini adalah kesempatan terakhirmu. Kau harus mengajariku ilmu alkemi, bila tidak lehermu harus dipenggal.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sang alkemi menjawab, “Tidak Baginda, anda mendapatkan orang yang keliru.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Raja pun, “Baiklah. Aku putuskan kau untuk bebas, karena kau telah memberikan alkemi itu padaku.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sang alkemi keheranan, “Kepadamu? Saya tidak memberikannya pada Baginda Raja. Saya telah memberikannya pada seorang pelayan.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;“Tahukah kau, bahwa orang yang melayanimu setiap malam adalah aku,” jawab sang Raja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Renungan Editor: Banyak orang menginginkan emas dalam hidupnya dengan mempelajari alkemi. Tetapi saat ia mencapai tujuannya, bukan emas yang ia temukan, justru ia sendiri menjadi emas itu.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-345580529304231036?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/345580529304231036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=345580529304231036' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/345580529304231036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/345580529304231036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/king-and-alchemist.html' title='King and Alchemist'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-3947938383181755166</id><published>2008-08-25T19:40:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T19:42:49.379-07:00</updated><title type='text'>Mother's Lies</title><content type='html'>&lt;p&gt;Cerita bermula ketika aku masih kecil, aku terlahir sebagai seorang anak laki-laki di sebuah keluarga yang miskin. Bahkan untuk makan saja, seringkali kekurangan. Ketika makan, ibu sering memberikan bahagian nasinya untukku. Sambil memindahkan nasi ke mangkukku, ibu berkata : “Makanlah nak, aku tidak lapar” ———-KEBOHONGAN IBU YANG PERTAMA&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika saya mulai tumbuh dewasa, ibu yang gigih sering meluangkan waktu senggangnya untuk pergi memancing di kolam dekat rumah, ibu berharap dari ikan hasil pancingan, ia dapat memberikan sedikit makanan bergizi untuk pertumbuhan. Sepulang memancing, ibu memasak sup ikan yang segar dan mengundang selera. Sewaktu aku memakan sup ikan itu, ibu duduk disamping kami dan memakan sisa daging ikan yang masih menempel di tulang yang merupakan bekas sisa tulang ikan yang aku makan. Aku melihat ibu seperti itu, hati juga tersentuh, lalu menggunakan suduku dan memberikannya kepada ibuku. Tetapi ibu dengan cepat menolaknya, ia berkata : “Makanlah nak, aku tidak suka makan ikan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DUA &lt;span id="more-66"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sekarang aku sudah masuk Sekolah Menengah, demi membiayai sekolah abang dan kakakku, ibu pergi ke koperasi untuk membawa sejumlah kotak mancis untuk ditempel, dan hasil tempelannya itu membuahkan sedikit uang untuk menutupi kepentingan hidup. Di kala musim sejuk tiba, aku bangun dari tempat tidurku, melihat ibu masih bertumpu pada lilin kecil dan dengan gigihnya melanjutkan pekerjaannya menempel kotak mancis. Aku berkata : “Ibu, tidurlah, sudah malam, besok pagi ibu masih harus kerja.” Ibu tersenyum dan berkata : “Cepatlah tidur nak, aku tidak penat” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TIGA&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika ujian tiba, ibu meminta cuti kerja supaya dapat menemaniku pergi ujian. Ketika hari sudah siang, terik matahari mulai menyinari, ibu yang tegar dan gigih menunggu aku di bawah terik matahari selama beberapa jam. Ketika bunyi loceng berbunyi, menandakan ujian sudah selesai. Ibu dengan segera menyambutku dan menuangkan teh yang sudah disiapkan dalam botol yang dingin untukku. Teh yang begitu kental tidak dapat dibandingkan dengan kasih sayang yang jauh lebih kental. Melihat ibu yang dibanjiri peluh, aku segera memberikan gelasku untuk ibu sambil menyuruhnya minum. Ibu berkata : “Minumlah nak, aku tidak haus!” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE EMPAT&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah kepergian ayah karena sakit, ibu yang malang harus merangkap sebagai ayah dan ibu. Dengan berpegang pada pekerjaan dia yang dulu, dia harus membiayai keperluan hidup sendiri. Kehidupan keluarga kita pun semakin susah dan susah. Tiada hari tanpa penderitaan. Melihat kondisi keluarga yang semakin parah, ada seorang pakcik yang baik hati yang tinggal di dekat rumahku pun membantu ibuku baik masalah besar maupun masalah kecil. Tetangga yang ada di sebelah rumah melihat kehidupan kita yang begitu sengsara, seringkali menasehati ibuku untuk menikah lagi. Tetapi ibu yang memang keras kepala tidak mengindahkan nasehat mereka, ibu berkata : “Saya tidak butuh cinta” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE LIMA&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah aku, kakakku dan abangku semuanya sudah tamat dari sekolah dan bekerja, ibu yang sudah tua sudah waktunya pencen. Tetapi ibu tidak mahu, ia rela untuk pergi ke pasar setiap pagi untuk jualan sedikit sayur untuk memenuhi keperluan hidupnya. Kakakku dan abangku yang bekerja di luar kota sering mengirimkan sedikit uang untuk membantu memenuhi keperluan ibu, tetapi ibu berkeras tidak mau menerima uang tersebut. Malahan mengirim balik uang tersebut. Ibu berkata : “Saya ada duit” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE ENAM&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah lulus dari ijazah, aku pun melanjutkan pelajaran untuk buat master dan kemudian memperoleh gelar master di sebuah universiti ternama di Amerika berkat sebuah biasiswa di sebuah syarikat swasta. Akhirnya aku pun bekerja di syarikat itu. Dengan gaji yang lumayan tinggi, aku bermaksud membawa ibuku untuk menikmati hidup di Amerika. Tetapi ibu yang baik hati, bermaksud tidak mahu menyusahkan anaknya, ia berkata kepadaku : “Aku tak biasa tinggal negara orang” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE TUJUH&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah memasuki usianya yang tua, ibu terkena penyakit kanser usus, harus dirawat di hospital, aku yang berada jauh di seberang samudera atlantik terus segera pulang untuk menjenguk ibunda tercinta. Aku melihat ibu yang terbaring lemah di ranjangnya setelah menjalani pembedahan. Ibu yang kelihatan sangat tua, menatap aku dengan penuh kerinduan. Walaupun senyum yang tersebar di wajahnya terkesan agak kaku karena sakit yang ditahannya. Terlihat dengan jelas betapa penyakit itu menjamahi tubuh ibuku sehingga ibuku terlihat lemah dan kurus kering. Aku menatap ibuku sambil berlinang air mata. Hatiku perit, sakit sekali melihat ibuku dalam keadaan seperti ini. Tetapi ibu dengan tegarnya berkata : “Jangan menangis anakku, Aku tidak kesakitan” ———-KEBOHONGAN IBU YANG KE DELAPAN.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah mengucapkan kebohongannya yang kelapan, ibuku tercinta menutup matanya untuk yang terakhir kalinya. Dari cerita di atas, saya percaya teman-teman sekalian pasti merasa tersentuh dan ingin sekali mengucapkan : “Terima kasih ibu..!” Coba dipikir-pikir teman, sudah berapa lamakah kita tidak menelepon ayah ibu kita? Sudah berapa lamakah kita tidak menghabiskan waktu kita untuk berbincang dengan ayah ibu kita? Di tengah-tengah aktiviti kita yang padat ini, kita selalu mempunyai beribu-ribu alasan untuk meninggalkan ayah ibu kita yang kesepian. Kita selalu lupa akan ayah dan ibu yang ada di rumah. Jika dibandingkan dengan pasangan kita, kita pasti lebih peduli dengan pasangan kita. Buktinya, kita selalu risau akan kabar pasangan kita, risau apakah dia sudah makan atau belum, risau apakah dia bahagia bila di samping kita. Namun, apakah kita semua pernah merisaukan kabar dari orangtua kita? Risau apakah orangtua kita sudah makan atau belum? Risau apakah orangtua kita sudah bahagia atau belum? Apakah ini benar? Kalau ya, coba kita renungkan kembali lagi… Di waktu kita masih mempunyai kesempatan untuk membalas budi orangtua kita, lakukanlah yang terbaik. Jangan sampai ada kata “MENYESAL” di kemudian hari.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-3947938383181755166?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/3947938383181755166/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=3947938383181755166' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/3947938383181755166'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/3947938383181755166'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/mothers-lies.html' title='Mother&apos;s Lies'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-601162284033033981</id><published>2008-08-25T19:28:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T19:37:52.354-07:00</updated><title type='text'>Mind Focus</title><content type='html'>&lt;p&gt;“Anak-anak, coba tuliskan tiga kelebihanmu, ” kata seorang guru yang hari itu menjadi pembimbing retreat bagi anak-anak sekolah dasar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Menit demi menit berlalu namun anak-anak itu seakan masih bingung.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan setengah berakting, sang guru kemudian bersuara keras : “Ayo, tuliskan! Kalau ngga, kertasmu saya sobek lo.” Anak-anak manis itu seketika menjadi salah tingkah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Beberapa di antara mereka, memang tampak mulai menulis. Salah satu di antara mereka menulis di atas kertas, “Kadang-kadang nurutin kata ibu. Kadang-kadang bantu ibu. Kadang-kadang nyuapin adik makan.” &lt;span id="more-69"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Penuh rasa penasaran, sang guru bertanya kepadanya : “Kenapa tulisnya kadang-kadang? “. Dengan wajah penuh keluguan, sang bocah hanya berkata : “Emang cuma kadang-kadang, pak guru”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ketika semua anak telah menuliskan kelebihan dirinya, sang guru kemudian melanjutkan instruksi berikutnya : “Sekarang anak-anak, coba tuliskan tiga kelemahanmu atau hal-hal yang buruk dalam dirimu.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seketika ruangan kelas menjadi gaduh. Anak-anak tampak bersemangat. Salah satu dari mereka angkat tangan dan bertanya : “Tiga saja, pak guru?”. “Ya, tiga saja!” jawab pak guru. Anak tadi langsung menyambung : “Pak guru, jangankan tiga, sepuluh juga bisa!”.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Apa pelajaran yang bisa kita petik dari cerita sederhana itu? Saya menangkap setidaknya ada beberapa hal penting yang bisa kita pelajari. Salah satunya, kita sering tidak menyadari apa kelebihan diri kita karena lingkungan dan orang di sekitar kita jauh lebih sering mengkomunikasikan kepada kita kejelekan dan kekurangan kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Baru-baru ini, saya dan istri saya menyaksikan di sebuah televisi swasta pertunjukkan seni dari para penyandang cacat. Kami benar-benar terharu. Ada orang buta yang begitu piawai bermain piano atau kecapi. Pria tanpa lengan dan wanita muda yang tuli dapat menari dengan begitu indahnya. “Luar biasa, dia bisa menari dengan penuh penghayatan. Yang membuat saya heran, dia kan tuli tapi kok bisa mengikuti irama lagu dengan sangat tepat?”, kata istri saya terkagum-kagum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seorang pria buta yang bernyanyi dengan nada merdu sempat berkata, “Saudaraku, saya memiliki dua mata seperti Anda. Namun yang ada di depan saya hanyalah kegelapan. Ibu saya mengatakan saya bisa bernyanyi, dan ia memberi saya semangat untuk bernyanyi.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Benarlah apa yang dikatakan Alexander Graham Bell : “Setelah satu pintu tertutup, pintu lainnya terbuka; tetapi kerap kali kita terlalu lama memandangi dan menyesali pintu yang telah tertutup sehingga kita tidak melihat pintu yang telah dibuka untuk kita.”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Fokuskan perhatian pada kelebihan kita dan bukan kelemahan kita.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-601162284033033981?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/601162284033033981/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=601162284033033981' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/601162284033033981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/601162284033033981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/mind-focus.html' title='Mind Focus'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-8566434965589886385</id><published>2008-08-25T19:24:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T19:25:30.360-07:00</updated><title type='text'>Greatest Human Strength</title><content type='html'>&lt;p&gt;Manusia memiliki kekuatan yang luar biasa untuk menciptakan mahakarya.&lt;br /&gt;Kekuatan terbesar dalam diri manusia itu terdapat pada pikiran. Tetapi&lt;br /&gt;kita jarang membuktikan kekuatan pikiran tersebut, sebab kita sering&lt;br /&gt;terjebak dalam zona nyaman atau kebiasaan tertentu. Sehingga selamanya&lt;br /&gt;tidak dapat mencari kemungkinan yang lebih baik atau perubahan nasib&lt;br /&gt;yang berarti.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Oleh karena itu milikilah target yang lebih tinggi untuk merangsang&lt;br /&gt;kekuatan dalam pikiran tersebut. Sebab target atau sasaran baru yang&lt;br /&gt;dipikirkan itu akan menggerakkan diri kita untuk melaksanakan tindakan.&lt;br /&gt;Apalagi jika diyakini target tersebut bakal tercapai, maka diri kita&lt;br /&gt;akan lebih siap menghadapi tantangan yang ada. &lt;span id="more-71"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Setelah tindakan-tindakan baru yang lebih konstruktif dikerjakan hingga&lt;br /&gt;berulang-ulang, maka tanpa disadari kita sudah banyak melakukan hal-hal&lt;br /&gt;penting hinga kita tiba di zona baru, dimana kita berhasil mencapai&lt;br /&gt;target yang didambakan. Itulah mengapa dikatakan bahwa manusia mempunyai&lt;br /&gt;potensi yang sangat besar dalam pikiran bawah sadar. Kekuatan pikiran&lt;br /&gt;bawah sadar itu dapat dibangkitkan melalui 2 cara, yaitu: autosuggestion&lt;br /&gt;dan visualization.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Autosuggestion&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Keinginan-keinginan kita merupakan informasi penting untuk pikiran bawah&lt;br /&gt;sadar. Sebab keinginan yang terekam kuat dalam pikiran bawah sadar&lt;br /&gt;sangat besar dapat menjadi daya dorong yang akan menggerakkan diri kita&lt;br /&gt;untuk berbuat sesuatu yang luar biasa. Keinginan yang sangat besar dan&lt;br /&gt;terekam dalam pikiran bawah sadar itulah yang dinamakan autosuggestion.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Autosuggestion seharusnya dilakukan dengan penuh rasa percaya,&lt;br /&gt;melibatkan emosi dalam diri, dilakukan penuh konsentrasi terhadap obyek&lt;br /&gt;yang positif, dan berulang-ulang. Selanjutnya, pikiran bawah sadar&lt;br /&gt;inilah yang akan mendikte gerak-gerik tubuh kita. Kekuatan yang&lt;br /&gt;ditimbulkan oleh pikiran bawah sadar itu sangat dahsyat entah digunakan&lt;br /&gt;untuk melakukan perbuatan buruk atau baik. Kadangkala niat untuk&lt;br /&gt;melakukan sesuatu secara otomatis muncul dari pikiran bawah sadar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Autosuggestion akan mengetuk kesadaran (heartknock) . Karena dilakukan&lt;br /&gt;berulang-ulang dan rutin, suatu ketika kata-kata tersebut akan menembus&lt;br /&gt;pikiran bawah sadar. Lalu pikiran bawah sadar itupun memompa semangat.&lt;br /&gt;Energi itu dapat dimanfaatkan untuk mewujudkan impian hidup kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mungkin kegiatan autosuggestion ini akan dianggap aneh oleh orang lain.&lt;br /&gt;Tetapi itulah salah satu cara untuk mengubah diri dari dalam. Biasakan&lt;br /&gt;mendengar pola pikir positif dan melakukan kebiasaan-kebiasaan yang&lt;br /&gt;konstruktif. Jadi jangan ragu untuk melakukan budaya-budaya yang&lt;br /&gt;potensial, menumbuhkan optimisme dan kreatifitas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ada 5 (P) petunjuk dalam melakukan autosuggestion, yaitu;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Positive : pada saat melakukan autosuggestion, pikirkan hal-hal yang&lt;br /&gt;positif saja.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Powerful : lakukan dengan penuh keyakinan sebab dapat memberikan&lt;br /&gt;kekuatan untuk berbuat sesuatu yang luar biasa.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Precise : keinginan yang hendak dicapai harus sudah dapat&lt;br /&gt;dideskripsikan, karena pikiran bawah sadar hanya bisa menyusun&lt;br /&gt;berdasarkan kategori.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Present Tense: dalam bentuk keinginan saat ini, bukan keinginan di&lt;br /&gt;masa lalu atau akan datang.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;- Personal : lakukan perubahan positif terhadap diri sendiri terlebih&lt;br /&gt;dahulu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Visualization&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila kita menginginkan sesuatu maka pikiran bawah sadar akan&lt;br /&gt;menggambarkan apa yang didambakan itu. Dengan cara memvisualisasikan&lt;br /&gt;impian terlebih dahulu, terciptalah banyak sekali karya-karya&lt;br /&gt;spektakuler di dunia ini. Marcus Aurelius Antonius, seorang kaisar&lt;br /&gt;Romawi jaman dahulu mengatakan, “A man’s life is what his thought make&lt;br /&gt;of it - Kehidupan manusia ialah bagaimana mereka memikirkannya. ”&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sesuatu yang selalu divisualisasikan manusia akan mudah terekam dalam&lt;br /&gt;pikiran bawah sadar. Lalu muncul kekuatan pikiran tersebut, yang&lt;br /&gt;berperan sebagai penghubung antara jiwa dengan tubuh. Sehingga tubuhpun&lt;br /&gt;bereaksi dengan mengerahkan seluruh potensi yang sebelumnya tidak pernah&lt;br /&gt;digunakan, dalam bentuk kreatifitas atau tindakan. Memvisualisasikan&lt;br /&gt;impian memungkinkan seluruh impian tercapai oleh pikiran bawah sadar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tuhan Yang Maha Esa menganugerahkan potensi yang sama besar kepada&lt;br /&gt;manusia. Tidak ada ruginya membayangkan betapa berpotensinya diri kita&lt;br /&gt;untuk mencapai impian-impian. Berikut ini beberapa langkah dalam&lt;br /&gt;memvisualisasikan impian, yaitu:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;1. Mendefinisikan impian&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Mendefinisikan impian artinya memberikan batasan atau standar akan&lt;br /&gt;impian yang hendak dicapai. Kemudian, gambarkanlah semua impian&lt;br /&gt;seolah-olah Anda sudah sepatutnya meraih impian tersebut. Meskipun&lt;br /&gt;tindakan ini terkesan sederhana, tetapi dari gambaran impian itulah kita&lt;br /&gt;akan mencoba berbuat sesuatu untuk melakukan perubahan dan akhirnya&lt;br /&gt;dapat meraih cita-cita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;2. Menentukan target waktu&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dambakan impian itu terwujud sesuai target yang telah ditentukan, sebab&lt;br /&gt;impian tanpa target waktu hanya akan menjadi mimpi sesaat. Impian dengan&lt;br /&gt;target waktu akan menggerakkan kesadaran untuk tidak segan-segan&lt;br /&gt;melakukan perubahan. Maka mulailah dari sekarang, Be the best, do the&lt;br /&gt;best, and then let God take care the rest ?Jadilah yang terbaik, lakukan&lt;br /&gt;yang terbaik, biarlah Tuhan yang menentukan. Potensi yang kita miliki&lt;br /&gt;kelihatannya sangat sayang jika tidak dioptimalkan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;3. Melakukan berulang-ulang&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Melakukan ulangan artinya mengkondisikan diri kita untuk lebih sering&lt;br /&gt;ingat akan impian kita. Jika sering ingat, maka perlahan-lahan impian&lt;br /&gt;itu akan tertanam di alam pikiran bawah sadar. Bila pesan sudah diterima&lt;br /&gt;oleh SCM (sub-conscience mind), maka dia akan menggerakkan diri kita&lt;br /&gt;untuk menciptakan keputusan atau menjadikan kita lebih kreatif.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Jika impian lebih sering diimajinasikan ternyata dapat melipatgandakan&lt;br /&gt;kekuatan dari pikiran bawah sadar. Imajinasi yang diulang-ulang ini akan&lt;br /&gt;secara tidak langsung merangsang ilusi akan kenyataan yang luar biasa&lt;br /&gt;tentang potensi kita sebagai umat manusia. Sehingga diri kita akan&lt;br /&gt;berusaha keras mencapai impian yang&lt;/p&gt; divisualisasikan. Begitulah seterusnya kekuatan pikiran bawah sadar&lt;br /&gt;bekerja dan dibangkitkan, hingga perubahan besar terjadi dalam diri kita&lt;br /&gt;pada suatu waktu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-8566434965589886385?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/8566434965589886385/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=8566434965589886385' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8566434965589886385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8566434965589886385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/greatest-human-strength.html' title='Greatest Human Strength'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-7420916019503936093</id><published>2008-08-25T19:23:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T19:24:02.607-07:00</updated><title type='text'>Anger Management</title><content type='html'>&lt;p&gt;Hanya seorang yang pemarah yang bisa betul-betul bersabar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Seseorang yang tidak bisa merasa marah -tidak bisa disebut penyabar; karena dia hanya tidak bisa marah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedang seorang lagi yang sebetulnya merasa marah, tetapi mengelola kemarahannya untuk tetap berlaku baik dan adil adalah seorang yang berhasil menjadikan dirinya bersabar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan bila Anda mengatakan bahwa untuk bersabar itu-sulit, Anda sangat tepat; karena kesabaran kita diukur dari kekuatan kita untuk tetap mendahulukan yang benar dalam perasaan yang membuat kita seolah-olah berhak untuk berlaku melampaui batas.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kesabaran bukanlah sebuah sifat, tetapi sebuah akibat. &lt;span id="more-76"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perhatikanlah bahwa kita lebih sering menderita karena kemarahan kita, daripada karena hal-hal yang membuat kita merasa marah. Perhatikanlah juga bahwa kemarahan kita sering melambung lebih tinggi daripada nilai dari sesuatu yang menyebabkan kemarahan kita itu, sehingga kita sering bereaksi berlebihan dalam kemarahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Hanya karena Anda menyadari dengan baik –tentang kerugian yang bisa disebabkan oleh reaksi Anda dalam kemarahan, Anda bisa menjadi berhati-hati dalam bereaksi terhadap apa pun yang membuat Anda merasa marah. Kehati-hatian dalam bereaksi terhadap yang membuat Anda marah itu lah yang menjadikan Anda tampil sabar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kemarahan adalah sebuah bentuk nafsu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nafsu adalah kekuatan yang tidak pernah netral, karena ia hanya mempunyai dua arah gerak; yaitu bila ia tidakmemuliakan,pasti ia&lt;br /&gt;menghinakan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nafsu juga bersifat dinamis, karena ia menolak untuk berlaku tenang bila Anda merasa tenang. Ia akan selalu memperbaruhi kekuatannya untuk membuat Anda memperbaruhi kemapanan Anda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka perhatikanlah ini dengan cermat; bila Anda berpikir dengan jernih dalam memilih tindakan dan cara bertindak dalam kemarahan, nafsu itu akan menjadi kekuatan Anda untuk meninggalkan kemapananAndayang sekarang -untuk menuju sebuah kemapanan baru yang lebih tinggi.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Tetapi, bila Anda berlaku sebaliknya, maka ke bawahlah arah pembaruan dari kemapanan Anda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Itu sebabnya, kita sering menyaksikan seorang berkedudukan tinggi yang terlontarkan dari tingkat kemapanannya, dan kemudian direndahkan karena dia tidak berpikir jernih dalam kemarahan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan bila nafsunya telah menjadikannya seorang yang tidak bisa direndahkan lagi, dia disebut sebagai budak nafsu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kualitas reaksi Anda terhadap yang membuat Anda marah, adalah penentu kelas Anda.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kebijakan para pendahulu kita telah menggariskan bahwa untuk menjadi marah itu mudah, dan patut bagi semua orang. Tetapi, untuk bisa marah kepada orang yang tepat, karena sebab yang tepat, untuk tujuan yang tepat, pada tingkat kemarahan yang tepat, dan dengan cara yang tepat -itu tidak untuk orang-orang kecil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Maka seberapa besar-kah Anda menginginkan diri Anda jadinya?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Memang pernah ada orang yang mengatakan bahwa siapa pun yang membuat Anda marah-telah mengalahkan Anda. Pengamatan itu tepat-hanya bila Anda mengijinkan diri Anda berlaku dengan cara-cara yang merendahkan diri Anda sendiri karena kemarahan yang disebabkan oleh orang itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Itu sebabnya, salah satu cara untuk membesarkan diri adalah menghindari sikap dan perilaku yang mengecilkan diri.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kita sering merasa marah karena orang lain berlaku persis seperti kita.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Perhatikanlah, bahwa orang tua yang sering marah kepada anak-anaknya yang bertengkar -adalah orang tua yang juga sering bertengkar dengan pasangannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila kita cukup adil kepada diri kita sendiri, dan mampu untuk sekejap menikmati kedamaian kita akan melihat dengan jelas bahwa kita sering menuntut orang lain untuk berlaku seperti yang tidak kita lakukan.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan dengannya, bukankah kemarahan Anda juga penunjuk jalan bagi Anda untuk menemukan perilaku-perilaku baik yang sudah Anda tuntutdariorang lain,tetapi yang masih belum Anda lakukan?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Lalu, mengapakah Anda berlama-lama dalam kemarahan yang sebetulnya adalah tanda yang nyata bahwa Anda belum memperbaiki diri?&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Katakanlah, tidak ada orang yang cukup penting yang bisa membuat saya marah dan berlaku rendah.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Bila Anda seorang pemimpin, dan Anda telah menerima tugas untuk meninggikan orang lain; maka tidak ada badai, gempa, atau air bah yang bisa membuat Anda mengurangi nilai Anda bagi kepantasan untuk mengemban tugas itu.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Ingatlah, bahwa orang-orang yang berupaya mengecilkan Anda itu-adalah sebetulnya orang-orang kecil.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Karena, orang-orang besar akan sangat berhati-hati dengan perasaan hormat Anda kepada diri Anda sendiri. Bila mereka marah pun kepada Anda, mereka akan berlaku dengan cara-cara yang mengundang Anda untuk menjadi pribadi yang lebih baik.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Sedangkan orang kecil? Orang-orang kecil membuat orang lain merasa kecil agar mereka bisa merasa besar.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Anda mengetahui kebesaran yang dijanjikan untuk Anda. Maka besarkan-lah orang lain.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-7420916019503936093?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/7420916019503936093/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=7420916019503936093' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/7420916019503936093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/7420916019503936093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/anger-management.html' title='Anger Management'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-8425839716051241709</id><published>2008-08-25T18:50:00.000-07:00</published><updated>2008-08-25T18:51:17.179-07:00</updated><title type='text'>Pay It Forward</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:Default MultiLingual;font-size:85%;"&gt;Saat terlintas keraguan apakah mungkin perbuatan baik yang&lt;br /&gt;kecil dan sederhana yang kita lakukan kepada orang lain akan&lt;br /&gt;mampu mempengaruhi kehidupan mereka, mungkin Film "PAY IT FORWARD" bisa menjadi pendorong yang memberikan kita semangat untuk selalu tidak jemu-jemu berbuat baik kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisahnya bercerita tentang seorang anak umur delapan tahun&lt;br /&gt;bernama Trevor yang berpikir jika dia melakukan kebaikan kepada tiga orang disekitarnya, lalu jika ke tiga orang tersebut meneruskan kebaikan yang mereka terima itu dengan&lt;br /&gt;melakukan kepada tiga orang lainnya dan begitu seterusnya,&lt;br /&gt;maka dia yakin bahwa suatu saat nanti dunia ini akan dipenuhi oleh orang-orang yang saling mengasihi.&lt;br /&gt;Dia menamakan ide tersebut: "PAY IT FORWARD"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, Trevor memutuskan bahwa tiga orang yang&lt;br /&gt;akan menjadi bahan eksperimen adalah mamanya sendiri (yang menjadi single parent), seorang pemuda gembel yang selalu dilihatnya dipinggir jalan dan seorang teman sekelas yang selalu diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Percobaan pun dimulai :&lt;br /&gt;Trevor melihat bahwa mamanya yang sangat kesepian, tidak&lt;br /&gt;punya teman untuk berbagi rasa, telah menjadi pecandu minuman&lt;br /&gt;keras. Trevor berusaha menghentikan kecanduan mamanya&lt;br /&gt;dengan cara rajin mengosongkan isi botol minuman keras yang ada dirumah mereka, dia juga mengatur rencana supaya mamanya bisa berkencan dengan guru sekolah Trevor.&lt;br /&gt;Sang mama yang melihat perhatian si anak yang begitu besar&lt;br /&gt;menjadi terharu, saat sang mama mengucapkan terima kasih, Trevor berpesan kepada mamanya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Default MultiLingual;font-size:85%;"&gt;"PAY IT FORWARD, MOM"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang mama yang terkesan dengan yang dilakukan Trevor,&lt;br /&gt;terdorong untuk meneruskan&lt;br /&gt;kebaikan yang telah diterimanya itu dengan pergi ke rumah&lt;br /&gt;ibunya (nenek si Trevor), hubungan mereka telah rusak selama bertahun-tahun dan mereka tidak pernah bertegur sapa, kehadiran sang putri untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan diantara mereka membuat nenek Trevor begitu terharu, saat nenek Trevor&lt;br /&gt;mengucapkan terima kasih, si anak berpesan :"PAY IT FORWARD, MOM"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang nenek yang begitu bahagia karena putrinya mau&lt;br /&gt;memaafkan dan menerima dirinya kembali, &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Default MultiLingual;font-size:85%;"&gt;meneruskan kebaikan tersebut dengan menolong seorang &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Default MultiLingual;font-size:85%;"&gt;pemuda yang sedang ketakutan karena dikejar segerombolan orang&lt;br /&gt;untuk bersembunyi di mobil si nenek, ketika para pengejarnya &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Default MultiLingual;font-size:85%;"&gt;sudah pergi, si pemuda mengucapkan terima kasih, si nenek berpesan : "PAY IT FORWARD, SON".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pemuda yang terkesan dengan kebaikan si nenek, terdorong&lt;br /&gt;meneruskan kebaikan&lt;br /&gt;tersebut dengan memberikan nomor antriannya di rumah sakit&lt;br /&gt;kepada seorang gadis&lt;br /&gt;kecil yang sakit parah untuk lebih dulu mendapatkan&lt;br /&gt;perawatan, ayah si gadis&lt;br /&gt;kecil begitu berterima kasih kepada si pemuda ini, si&lt;br /&gt;pemuda berpesan kepada ayah si gadis kecil : "PAY IT FORWARD, SIR"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayah si gadis kecil yang terkesan dengan kebaikan si&lt;br /&gt;pemuda, terdorong meneruskan kebaikan tersebut dengan memberikan&lt;br /&gt;mobilnya kepada seorang wartawan TV yang mobilnya terkena&lt;br /&gt;kecelakaan pada saat&lt;br /&gt;sedang meliput suatu acara, saat si wartawan berterima&lt;br /&gt;kasih, ayah si gadis berpesan: "PAY IT FORWARD"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang wartawan yang begitu terkesan terhadap kebaikan ayah&lt;br /&gt;si gadis, bertekad untuk mencari tau dari mana asal muasalnya&lt;br /&gt;istilah "PAY IT FORWARD" tersebut, jiwa&lt;br /&gt;kewartawanannya mengajak dia untuk&lt;br /&gt;menelusuri mundur untuk mencari informasi mulai dari ayah&lt;br /&gt;si gadis, pemuda yang&lt;br /&gt;memberi antrian nomor rumah sakit, nenek yang memberikan&lt;br /&gt;tempat persembunyian,&lt;br /&gt;putri si nenek yang mengampuni, sampai kepada si Trevor&lt;br /&gt;yang mempunyai ide tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkesan dengan apa yang dilakukan oleh Trevor, Si wartawan&lt;br /&gt;mengatur agar Trevor&lt;br /&gt;bisa tampil di Televisi supaya banyak&lt;br /&gt;orang yang tergugah dengan apa yang telah&lt;br /&gt;dilakukan oleh anak kecil ini. Saat&lt;br /&gt;kesempatan untuk tampil di Televisi terlaksana, Trevor&lt;br /&gt;mengajak semua pemirsa yang sedang melihat acara tersebut untuk BERSEDIA MEMULAI DARI DIRI MEREKA SENDIRI UNTUK MELAKUKAN KEBAIKAN KEPADA ORANG-ORANG DISEKITAR MEREKA agar dunia ini menjadi dunia yang penuh kasih.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Default MultiLingual;font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;Namun umur Trevor sangat singkat, dia ditusuk pisau saat&lt;br /&gt;akan menolong teman sekolahnya yang selalu diganggu oleh para berandalan,selesai penguburan Trevor,&lt;br /&gt;betapa terkejutnya sang Mama melihat ribuan orang tidak&lt;br /&gt;henti-hentinya datang dan berkumpul di halaman rumahnya sambil meletakkan bunga dan menyalakan lilin&lt;br /&gt;tanda ikut berduka cita terhadap kematian Trevor. Trevor&lt;br /&gt;sendiripun sampai akhir&lt;br /&gt;hayatnya tidak pernah menyadari dampak yang diberikan&lt;br /&gt;kepada banyak orang hanya dengan&lt;br /&gt;melakukan kebaikan penuh kasih kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkinkah saat kita terkagum-kagum menikmati kebaikan&lt;br /&gt;Tuhan didalam hidup kita,&lt;br /&gt;dan kita bertanya-tanya kepada Tuhan&lt;br /&gt;bagaimana cara untuk mengungkapkan rasa terima kasih&lt;br /&gt;kepadaNya, jawaban Tuhan hanya sesederhana ini: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Default MultiLingual;font-size:85%;"&gt;"PAY IT FORWARD to OTHERS around YOU (Teruskanlah itu kepada orang lain yang ada disekitarmu)"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Kata Bijak Hari Ini.&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Keharuman bunga tak dapat tersebar melawan arah hembusan angin, begitu juga harumnya kayu cendana, bunga tagara dan melati. Tetapi&lt;br /&gt;harumnya kebajikan dapat&lt;br /&gt;melawan arah hembusan angin. Keharuman nama orang yang&lt;br /&gt;bajik akan menyebar segenap penjuru.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;tt&gt;&lt;br /&gt;&lt;/tt&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-8425839716051241709?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/8425839716051241709/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=8425839716051241709' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8425839716051241709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8425839716051241709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/pay-it-forward.html' title='Pay It Forward'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-8912402861369686790</id><published>2008-08-24T19:20:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T19:21:48.597-07:00</updated><title type='text'>Greed to say Enough</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:78%;color:#333333;"&gt;&lt;span style="font-size: 7pt; color: rgb(51, 51, 51);"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;color:#333333;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="color:#333333;"&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 51, 51);" lang="SV"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;p style="margin-left: 39.75pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#333333;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Alkisah, seorang petani menemukan sebuah mata air ajaib. Mata air itu bisa mengeluarkan kepingan uang emas yang tak terhingga banyaknya. Mata air itu bisa membuat si petani menjadi kaya raya seberapapun yang diinginkannya, sebab kucuran uang emas itu baru akan berhenti bila si petani mengucapkan kata “cukup”. Seketika si petani terperangah melihat kepingan uang emas berjatuhan di depan hidungnya. Diambilnya beberapa ember untuk menampung uang kaget itu. Setelah semuanya penuh, dibawanya ke gubug mungilnya untuk disimpan disana. Kucuran uang terus mengalir sementara si petani mengisi semua karungnya, seluruh tempayannya, bahkan mengisi penuh rumahnya. Masih kurang! Dia menggali sebuah lubang besar untuk menimbun emasnya. Belum cukup, dia membiarkan mata air itu terus mengalir hingga akhirnya petani itu mati tertimbun bersama ketamakannya karena dia tak pernah bisa berkata cukup.&lt;br /&gt;Kata yang paling sulit diucapkan oleh manusia barangkali adalah kata “cukup”. Kapankah kita bisa berkata cukup? Hampir semua pegawai merasa gajinya belum bisa dikatakan sepadan dengan kerja kerasnya. Pengusaha hampir selalu merasa pendapatan perusahaannya masih dibawah target. Istri mengeluh suaminya kurang perhatian. Suami berpendapat istrinya kurang pengertian. Anak-anak menganggap orang tuanya kurang murah hati. Semua merasa kurang dan kurang. Kapankah kita bisa berkata cukup?&lt;br /&gt;Cukup bukanlah soal berapa jumlahnya. Cukup adalah persoalan kepuasan hati. Cukup hanya bisa diucapkan oleh orang yang bisa mensyukuri. Tak perlu takut berkata cukup. Mengucapkan kata cukup bukan berarti kita berhenti berusaha dan berkarya. “Cukup” jangan diartikan sebagai kondisi stagnasi, mandeg dan berpuas diri. Mengucapkan kata cukup membuat kita melihat apa yang telah kita terima, bukan apa yang belum kita dapatkan. Jangan biarkan kerakusan manusia membuat kita sulit berkata cukup. Belajarlah mencukupkan diri dengan apa yang ada pada diri kita hari ini, maka kita akan menjadi manusia yang berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#333333;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial;"&gt;Belajarlah untuk berkata “Cukup”&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-8912402861369686790?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/8912402861369686790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=8912402861369686790' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8912402861369686790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8912402861369686790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/greed-to-say-enough.html' title='Greed to say Enough'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-4742531148364834379</id><published>2008-08-24T19:18:00.000-07:00</published><updated>2008-08-24T19:20:44.884-07:00</updated><title type='text'>Simplicity of Happiness</title><content type='html'>&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:100%;color:#333333;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-size: 12pt; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial;" lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt; &lt;p style="margin-left: 39.75pt; line-height: 14.4pt;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;font-size:85%;color:#333333;"&gt;&lt;span style="font-size: 10pt; color: rgb(51, 51, 51); font-family: Arial;" lang="SV"&gt;Dari jam mahal ditangannya sudah menunjukkan pukul 07.30 pagi, sementara sudah hampir 10 menit mobil sama sekali tidak bergerak  dan didepannya antrean mobil sedemikian panjang. Dari mobil mewah seri terbarunya Pak Hartawan,, seorang yang sangat kaya nampak gelisah. Sesekali badannya ditegakkan dan melongok ke depan. Sopir pribadinya pun mengamati dari spion tengah tentang kegelisahan sang Majikan. Dari sudut kanan depan tiba-tiba datang seorang wanita dengan pakaian sangat kumal. Wanita itu tidak memiliki tangan, sementara di pundaknya digantungkan sebuah tas untuk tempat recehan sedekah dari pengendara mobil.&lt;br /&gt;’Jangan dikasih Man!, nanti kebiasaan”, perintah Pak Hartawan kepada Pardiman sopirnya.&lt;br /&gt;Sopirnyapun pura-pura cuek dan sibuk mengetuk-ngetuk setir, sambil sesekali melirik dari sudut matanya. 3 Menit berlalu namun pengemis wanita itu tetap berdiri disamping mobil seakan-akan memang sangat berhasrat untuk mendapatkan sedekah.&lt;br /&gt;”Ah dasar pemalas !, ya udah Man kasih aja recehan, biar cepet pergi!” sekali lagi Pak Hartawan memb erika n perintah sambil memainkan gadget terbarunya.&lt;br /&gt;”Nggak ada recehan Pak”, jawab Pardiman.&lt;br /&gt;”Ya sudah, kasih aja uang pecahan yang paling kecil”, jawab Pak Hartawan.&lt;br /&gt;Akhirnya Pardiman mengambil satu lembar lima puluh ribuan yang merupakan pecahan terkecil di kotak uang dibawah tombol AC.&lt;br /&gt; Mendapatkan sedekah lima puluh ribu rupiah, pengemis wanita ini kegirangan, bukan main bahagianya, bahkan saking senangnya sampai lupa berterima kasih.&lt;br /&gt; ”Lihat tuh Man, dasar orang tak tahu diri sudah dikasih malah nggak bilang terima kasih. Bagaimana bisa menjadi orang bahagia kalau nggak pernah menghargai pemberian orang lain”.&lt;br /&gt; Jalanan masih saja macet dan sudah lebih dari satu jam. Di samping kanan badan jalan, Pak Hartawan melihat pengemis wanita tadi sedang makan dengan lahap bersama 4 orang anak kecil. Wajahnya menampakkan gurat kebahagiaan yang tiada tara, sesekali dia melempar senyum senang sambil menatapi mobil yang sedang macet. Pak Hartawan melihat dengan mata nanar.&lt;br /&gt;”Betapa bahagianya pengemis itu, hanya dengan lima puluh ribu rupiah dia bisa makan dan mungkin mentraktir 4 orang anaknya sambil tertawa dengan bahagia.”. Pak Hartawan melihat wajahnya sendiri di kaca spion tengah mobilnya.&lt;br /&gt;”Apa kurangnya aku ini, aku berada dalam mobil mewah, tidak kepanasan. Di dompetku ada uang, ada ATM dengan saldo milyaran. Aku punya harta yang berlimpah ruah. Tapi sudah satu jam ini aku gelisah luar biasa, tidak ada satu hal kebahagiaanpun yang aku nikmati”.&lt;br /&gt;Dilihatnya Pardiman yang sudah mulai terkantuk-kantuk namun tetap bersiul-siul kecil menyenandungkan lagu dangdut  kesukaannya.&lt;br /&gt;”Betapa mudah mereka untuk bahagia”.&lt;br /&gt; Dari sudut di ruang hatinya terdengar bisikan&lt;br /&gt;”Ternyata bahagia tidak ada kaitannya dengan kepemilikan. Mungkin bahagia adalah bagaimana kita memandang sesuatu dan belajar mensyukuri terhadap apa yang kita dapatkan dan menikmatinya”&lt;br /&gt;Pak Hartawan tersenyum seakan menemukan sebuah kebahagiaan yang sederhana. Dibukanya pintu kaca mobil dan berteriak memanggil si pengemis wanita.&lt;br /&gt; Setelah pengemis itu dekat dengan pintu mobil, Pak Hartawan mengambil dompet dan mengambil 5 lembar ratusan ribu, dia ingin melihat kebahagiaan yang lebih besar. Diulurkan uang 5 lembar kepada sang pengemis.&lt;br /&gt;Pengemis itu justru mundur satu langkah dan berkata,&lt;br /&gt; ”Maaf Pak, kami sudah kenyang!”.&lt;br /&gt;Selesai berujar pengemis itu pergi dan tidak menerima pemberian Pak Hartawan, dan dia melanjutkan kembali bercanda di seberang jalan dengan 4 orang anaknya. Membiarkan Pak Hartawan terbengong-bengong menyaksikan kesederhanaan sebuah kebahagiaan.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-4742531148364834379?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/4742531148364834379/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=4742531148364834379' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/4742531148364834379'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/4742531148364834379'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/simplicity-of-happiness.html' title='Simplicity of Happiness'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-8886205297786897199</id><published>2008-08-13T20:44:00.001-07:00</published><updated>2008-08-13T20:44:56.677-07:00</updated><title type='text'>Broken Ruby</title><content type='html'>Alkisah, di sebuah kerajaan, raja memiliki sebuah batu rubi yang sangat indah. Raja sangat menyayangi, mengaguminya, dan berpuas hati karena merasa memiliki sesuatu yang indah dan berharga. Saat permaisuri akan melangsungkan ulang tahunnya, raja ingin memberikan hadiah batu rubi itu kepada istri tercintanya. Tetapi saat batu itu dikeluarkan dari tempat penyimpanan, terjadi kecelakaan sehingga batu itu terjatuh dan tergores retak cukup dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja sangat kecewa dan bersedih. Dipanggillah para ahli batu-batu berharga untuk memperbaiki kerusakan tersebut. Beberapa ahli permata telah datang ke kerajaan, tetapi mereka menyatakan tidak sanggup memperbaiki batu berharga tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mohon ampun, Baginda. Goresan retak di batu ini tidak mungkin bisa diperbaiki. Kami tidak sanggup mengembalikannya seperti keadaan semula.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian sang baginda memutuskan mengadakan sayembara, mengundang seluruh ahli permata di negeri itu yang mungkin waktu itu terlewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian datanglah ke istana seorang setengah tua berbadan bongkok dan berbaju lusuh, mengaku sebagai ahli permata. Melihat penampilannya yang tidak meyakinkan, para prajurit menertawakan dia dan berusaha mengusirnya. Mendengar keributan, sang raja memerintahkan untuk menghadap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ampun Baginda. Mendengar kesedihan Baginda karena kerusakan batu rubi kesayangan Baginda, perkenankanlah hamba untuk melihat dan mencoba memperbaikinya. ”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, niat baikmu aku kabulkan,” kata baginda sambil memberikan batu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melihat dengan seksama, sambil menghela napas, si tamu berkata, “Saya tidak bisa mengembalikan batu ini seperti keadaan&lt;br /&gt;semula, tetapi bila diperkenankan, saya akan membuat batu rubi retak ini menjadi lebih indah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun sang raja meragukan, tetapi karena putus asa tidak ada yang bisa dilakukan lagi dengan batu rubi itu, raja akhirnya setuju. Maka, ahli permata itupun mulai memotong dan menggosok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, dia menghadap raja. Dan ternyata batu permata rubi yang retak telah dia pahat menjadi bunga mawar yang sangat indah. Baginda sangat gembira, “Terima kasih rakyatku. Bunga mawar adalah bunga kesukaan permaisuri, sungguh cocok sebagai hadiah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si ahli permata pun pulang dengan gembira. Bukan karena besarnya hadiah yang dia terima, tetapi lebih dari itu. Karena dia telah&lt;br /&gt;membuat raja yang dicintainya berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Netter yang luar biasa…. Di tangan seorang yang ahli, benda cacat bisa diubah menjadi lebih indah dengan cara menambah nilai lebih yang diciptakannya. Apalagi mengerjakannya dengan penuh ketulusan dan perasaan cinta untuk membahagiakan orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;TIDAK ADA MANUSIA YANG SEMPURNA DI DUNIA INI&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shi Shang Mei You Shi Quan Shi Mei De Ren&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira demikian pula bagi manusia, tidak ada yang sempurna, selalu ada kelemahan besar ataupun kecil. Tetapi jika kita memiliki&lt;br /&gt;kesadaran dan tekad untuk mengubahnya, maka kita bisa mengurangi kelemahan-kelemahan yang ada sekaligus mengembangkan kelebihan-kelebihan yang kita miliki sehingga keahlian dan karakter positif akan terbangun. Dengan terciptanya perubahan-perubahan positif tentu itu merupakan kekuatan pendorong yang akan membawa kita pada kehidupan yang lebih sukses dan bernilai!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-8886205297786897199?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/8886205297786897199/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=8886205297786897199' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8886205297786897199'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8886205297786897199'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/08/broken-ruby.html' title='Broken Ruby'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-4810790035079207437</id><published>2008-07-18T21:54:00.000-07:00</published><updated>2008-07-18T21:55:05.398-07:00</updated><title type='text'>Listen</title><content type='html'>&lt;div id="ln0"&gt;Anda pasti tahu bagaimana rasanya menerima telepon di tengah malam. Tapi, malam itu semuanya terasa berbeda. Aku terlonjak dari tidurku ketika telepon di samping tempat tidur berdering-dering. Aku berusaha melihat jam beker dalam gelap. Cahaya illuminasi dari jam itu menunjukkan tepat tengah malam. Dengan panik aku segera mengangkat gagang telepon. “Hallo?” dadaku berdegup kencang. Aku memegang gagang telepon itu erat-erat. Kini suamiku terbangun dan menatap wajahku lekat-lekat.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln0');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln1"&gt;“Mama?” terdengar suara di seberang sana. Aku masih bisa mendengar bisikannya di tengah-tengah dengung telepon. Pikiranku langsung tertuju pada anak gadisku. Ketika suara itu semakin jelas, aku meraih dan menarik-narik pergelangan tangan suamiku. “Mama, aku tahu ini sudah larut malam. Tapi jangan…jangan berkata apa-apa dahulu sampai aku selesai bicara. Dan, sebelum mama menanyai aku macam-macam, ya aku mengaku ma. Malam ini aku mabuk. Beberapa hari ini aku lari dari rumah, dan…”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln1');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln2"&gt;Aku tercekat. Nafasku tersenggal-senggal. Aku lepaskan cengkeraman pada suamiku dan menekan kepalaku keras-keras. Kantuk masih mengaburkan pikiranku. Dan, aku berusaha agar tidak panik. Ada sesuatu yang tidak beres.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln2');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln3"&gt;“…Dan aku takut sekali. Yang ada dalam pikiranku bagaimana aku telah melukai hati mama. Aku tak mau mati di sini. Aku ingin pulang. Aku tahu tindakanku lari dari rumah adalah salah. Aku tahu mama benar-benar cemas dan sedih. Sebenarnya aku bermaksud menelepon mama beberapa hari yang lalu, tapi aku takut… takut…”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln3');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln4"&gt;Ia menangis tersedan-sedan. Sengguknya benar-benar membuat hatiku iba. Terbayang aku akan wajah anak gadisku. Pikiranku mulai jernih, “Begini…”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln4');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln5"&gt;“Jangan ma, jangan bicara apa-apa. Biarkan aku selesai bicara.” ia meminta. Ia tampak putus asa. Aku menahan diri dan berpikir apa yang harus aku katakan. Sebelum aku menemukan kata-kata yang tepat, ia melanjutkan, “Aku hamil ma. Aku tahu tak semestinya aku mabuk sekarang, tapi aku takut. Aku sungguh-sungguh takut!” Tangis itu memecah lagi. Aku menggigit bibirku dan merasakan pelupuk mataku mulai basah. Aku melihat pada suamiku yang bertanya perlahan, “Siapa itu?”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln5');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln6"&gt;Aku menggeleng-gelengkan kepala. Dan ketika aku tidak menjawab pertanyaannya, ia meloncat meninggalkan kamar dan segera kembali sambil membawa telepon portable. Ia mengangkat telepon portable yang tersambung pararel dengan teleponku. Terdengar bunyi klik. Lalu suara tangis suara di seberang sana terhenti dan bertanya, “Mama, apakah mama masih ada di sana? Jangan tutup teleponnya ma. Aku benar-benar membutuhkan mama sekarang. Aku merasa kesepian.”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln6');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln7"&gt;Aku menggenggam erat gagang telepon dan menatap suamiku, meminta pertimbangannya. “Mama masih ada di sini. Mama tidak akan menutup telepon,” kataku.&lt;br /&gt;&lt;div id="ln0"&gt;“Semestinya aku sudah bilang pada mama. Tapi bila kita bicara, mama hanya menyuruhku mendengarkan nasehat mama. Selama ini mamalah yang selalu berbicara. Sebenarnya aku ingin bicara pada mama, tetapi mama tak mau mendengarkan. Mama tak pernah mau mendengarkan perasaanku. Mungkin mama anggap perasaanku tidaklah penting. Atau mungkin mama pikir mama punya semua jawaban atas persoalanku. Tapi terkadang aku tak membutuhkan nasehat mama. Aku hanya ingin mama mau mendengarkan aku.”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln0');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln1"&gt;Aku menelan ludahku yang tercekat di kerongkongan.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln1');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln2"&gt;Pandanganku tertuju pada pamflet “Bagaimana Berbicara Pada Anak Anda” yang tergeletak di sisi tempat tidurku. “Mama mendengarkanmu,” aku berbisik.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln2');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln3"&gt;“Tahukah mama, sekarang aku mulai cemas memikirkan bayi yang ada di perutku dan bagaimana aku bisa merawatnya. Aku ingin pulang. Aku sudah panggil taxi.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln3');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln4"&gt;Aku mau pulang sekarang.”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln4');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln5"&gt;“Itu baik sayang,” kataku sambil menghembuskan nafas yang meringankan dadaku. Suamiku duduk mendekat padaku. Ia meremas jemariku dengan jemarinya. “Tapi ma, sebenarnya aku bermaksud pulang dengan menyetir sendiri mobil sendiri” “Jangan,” cegahku. Ototku mengencang dan aku mengeratkan genggaman tangan suamiku. “Jangan. Tunggu sampai taxinya datang. Jangan tutup telepon ini sampai taxi itu datang.”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln5');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln6"&gt;“Aku hanya ingin pulang ke rumah, mama.”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln6');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln7"&gt;“Mama tahu. Tapi, tunggulah sampai taxi datang.Lakukan itu untuk mamamu.”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln7');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln8"&gt;Lalu aku mendengar senyap di sana. Ketika aku tak mendengar suaranya, aku gigit bibir dan memejamkan mata. Bagaimana pun aku harus mencegahnya mengemudikan mobil itu sendiri. “Nah, itu taxinya datang.” Lalu aku dengar suara taxi berderum di sana. Hatiku terasa lega. “Aku pulang ma,” katanya untuk terakhir kali. Lalu ia tutup telepon itu.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln8');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln9"&gt;Airmata meleleh dari mataku. Aku berjalan keluar menuju kamar anak gadisku yang berusia 16 tahun. Suamiku menyusul dan memelukku dari belakang. Dagunya ditaruh di atas kepalaku.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln9');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln10"&gt;Aku menghapus airmata dari pipiku. “Kita harus belajar mendengarkan,” kataku pada suamiku. Ia terdiam sejenak, dan bertanya, “Kau pikir, apakah gadis itu sadar kalau ia telah menelepon nomor yang salah?” Aku melihat gadisku sedang tertidur nyenyak. Aku berkata pada suamiku, “Mungkin itu tadi bukan nomor yang salah.”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln10');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln11"&gt;“Ma? Pa? Apa yang terjadi?,” terdengar gadisku menggeliat dari balik selimutnya. Aku mendekati gadisku yang kini terduduk dalam gelap, “Kami baru saja belajar,” jawabku.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln11');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln12"&gt;“Belajar apa?” tanyanya. Lalu ia kembali berbaring dan matanya terpejam lagi.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln12');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln13"&gt;“Mendengarkan,” bisikku sambil mengusap pipinya.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-4810790035079207437?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/4810790035079207437/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=4810790035079207437' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/4810790035079207437'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/4810790035079207437'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/07/listen.html' title='Listen'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-7118915332170261348</id><published>2008-07-18T00:44:00.001-07:00</published><updated>2008-07-18T00:44:50.447-07:00</updated><title type='text'>Point of living things</title><content type='html'>&lt;div id="ln0"&gt;Ada seseorang yang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai dan membuangnya ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh sang pewawancara,&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln0');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln1"&gt;dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln1');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln2');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln3"&gt;ada seorang anak yg menjadi pekerja di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yg mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tersebut. Selain memperbaiki sepeda tersebut, si anak ini juga membersihkan sepeda sampai bersih mengkilap. Anak2 lain mentertawakan perbuatannya. Keesokan harinya saat pemilik sepeda mengambil sepedanya anak ini diminta bekerja di tempatnya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln3');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln4"&gt;Ternyata untuk menjadi orang yg berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln4');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln5');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln6"&gt;Seorang anak berkata kepada ibunya “ ibu hari ini sangat cantik”. Ibu menjawab “ Mengapa?” sang anak menjawab “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah marah “&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln6');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln7"&gt;Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah , hanya tidak perlu marah marah.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln7');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln8');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln9"&gt;Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya berkata “ tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur” petani menjawab “ aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku”. Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln9');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln10');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln11"&gt;Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya, “ jika sebuah bola jatuh kedalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya?” ada yg menjawab, “cari di rerumputan yang cekung kedalam.” Dan ada yg menjawab, “cari di rumput yang paling tinggi.” Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat, “setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln11');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln12"&gt;Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat loncat.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln12');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln13');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln14"&gt;Katak yg tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan. “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggalah denganku.” Katak di pinggir jalan menjawab” aku sudah terbiasa, malas untuk pindah,” beberapa hari kemudian katak ‘sawah’ menjenguk katak ‘pinggir jalan’ dan menemukan bahwa si katak ‘pinggir jalan’ dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yg lewat.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln14');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln15"&gt;Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln15');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln16');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln17"&gt;Ada segerombolan orang yg berjalan di padang pasir. Semua berjalan dengan langkah berat dan sangat menderita. Hanya satu orang yg berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya,” mengapa engakau begitu santai?” die menjawab sambil tertawa, “karena barang bawaan saya sedikit.”&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln17');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln18"&gt;Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-7118915332170261348?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/7118915332170261348/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=7118915332170261348' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/7118915332170261348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/7118915332170261348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/07/point-of-living-things.html' title='Point of living things'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-8000147320347571884</id><published>2008-07-17T07:45:00.000-07:00</published><updated>2008-07-17T07:46:12.651-07:00</updated><title type='text'>Heaven on mother's feet</title><content type='html'>&lt;div id="ln0"&gt;Ibu…&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln0');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln1');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln2"&gt;Ini adalah tulisan yang sangat indah.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln2');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln3"&gt;Bacalah dengan lambat, cernalah setiap kata dan nikmati lah&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln3');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln4"&gt;Jangan tergesa. Ini adalah harta karun&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln4');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln5');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln6"&gt;Bagi yang beruntung masih mempunyai ibu, ini indah&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln6');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln7"&gt;Bagi yang sudah tidak punya, ini lebih indah lagi&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln7');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln8"&gt;Bagi para ibu, kamu akan mencintainya&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln8');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln9');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln10');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln11"&gt;Sang ibu muda, melangkahkan kakinya di jalan kehidupan.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln11');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln12"&gt;’Apakah jalannya jauh?’ tanyanya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln12');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln13"&gt;Pemandunya menjawab: ’Ya, dan jalannya berat.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln13');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln14"&gt;Kamu akan jadi tua sebelum mencapai akhir perjalanan ini...&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln14');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln15"&gt;Tapi akhirnya lebih bagus dari pada awalnya.’&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln15');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln16');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln17');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln18');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln19"&gt;Tetapi ibu muda itu sedang bahagia. Ia tidak percaya bahwa akan ada yang lebih baik&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln19');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln20"&gt;Dari pada tahun-tahun ini.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln20');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln21"&gt;Karena itu dia main dengan anak-anaknya, mengumpulkan bunga-bunga untuk mereka&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln21');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln22"&gt;Sepanjang jalan dan memandikan mereka di aliran sungai yang jernih.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln22');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln23"&gt;Mata hari bersinar atas mereka. Dan ibu muda itu berseru:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln23');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln24"&gt;‘Tak ada yang bisa lebih indah daripada ini.’&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln24');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln25');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln26');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln27"&gt;Lalu malam tiba bersama badai.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln27');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln28"&gt;Jalannya gelap, anak-anak gemetar ketakutan dan ketakutan.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln28');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln29"&gt;Ibu itu memeluk mereka dan menyelimuti mereka dengan mantolnya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln29');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln30"&gt;Anak-anak itu berkata: ’Ibu, kami tidak takut, karena ibu ada dekat.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln30');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln31"&gt;Tak ada yang dapat menyakiti kami.’&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln31');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln32');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln33');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln34"&gt;Dan fajar menjelang. Ada bukit menjulang di depan mereka. Anak-anak memanjat dan&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln34');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln35"&gt;menjadi lelah. Ibunya juga lelah. Tetapi ia terus berkata kepada anak-anaknya:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln35');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln36"&gt;’Sabar sedikit lagi, kita hampir sampai.’ Demikianlah anak-anak itu memanjat terus.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln36');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln37"&gt;Saat sampai di puncak, mereka berkata: ’Ibu, kami tak mungkin melakukannya tanpa ibu.’&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln37');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln38');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln39"&gt;Dan sang ibu, saat ia berbaring malam hari dan menatap bintang-bintang, berkata:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln39');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln40"&gt;’Hari ini lebih baik dari pada yang lalu. Karena anak-anakku sudah belajar daya tahan&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln40');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln41"&gt;Menghadapi beban hidup. Kemarin malam aku memberi mereka keberanian. Hari ini saya&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln41');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln42"&gt;Memberi mereka kekuatan.’&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln42');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln43');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln44');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln45"&gt;Keesokan harinya, ada awan aneh yang menggelapkan bumi.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln45');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln46"&gt;Awan perang, kebencian dan kejahatan.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln46');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln47"&gt;Anak-anak itu meraba-raba dan tersandung-sandung dalam gelap.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln47');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln48"&gt;Ibunya berkata: ‘Lihat keatas. Arahkan matamu kepada sinar.’&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln48');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln49"&gt;Anak-anak menengadah dan melihat diatas awan-awan ada kemuliaan abadi&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln49');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln50"&gt;Yang menuntun mereka melalui kegelapan.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln50');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln51"&gt;Dan malam harinya ibu itu berkata: ’Ini hari yang terbaik.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln51');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln52"&gt;Karena saya sudah memperlihatkan Allah kepada anak-anakku.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln52');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln53');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln54');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln55');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln56');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln57"&gt;Hari berganti minggu, bulan, dan tahun.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln57');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln58"&gt;Ibu itu menjadi tua, dia kecil dan bungkuk.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln58');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln59"&gt;Tetapi anak-anaknya tinggi dan kuat dan berjalan dengan gagah berani.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln59');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln60"&gt;Saat jalannya sulit, mereka membopongnya; karena ia seringan bulu.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln60');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln61"&gt;Akhirnya mereka sampai ke sebuah bukit. Dan di kejauhan mereka melihat&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln61');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln62"&gt;Sebuah jalan yang bersinar dan pintu gerbang emas terbuka lebar.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln62');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln63"&gt;Ibu berkata: ’Saya sudah sampai pada akhir perjalananku.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln63');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln64"&gt;Dan sekarang saya tahu, akhir ini lebih baik dari pada awalnya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln64');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln65"&gt;Karena anak-anakku dapat berjalan sendiri dan&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln65');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln66"&gt;anak-anak mereka ada di belakang mereka.’&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln66');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln67');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln68');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln69');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln70"&gt;Dan anak-anaknya menjawab: ”Ibu selalu akan berjalan bersama kami...&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln70');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln71"&gt;Meski ibu sudah pergi melewati pintu gerbang itu.’&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln71');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln72"&gt;Mereka berdiri, melihat ibu mereka berjalan sendiri...&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln72');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln73"&gt;dan pintu gerbang itu menutup sesudah ia lewat.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln73');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln74"&gt;Dan mereka berkata: ”Kita tak dapat melihat ibu lagi.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln74');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln75"&gt;Tetapi dia masih bersama kita.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln75');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln76"&gt;Ibu seperti ibu kita, lebih dari sekedar kenangan.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln76');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln77"&gt;Ia senantiasa hadir dan hidup.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln77');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln78');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln79');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln80');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln81"&gt;Ibumu selalu bersamamu….&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln81');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln82"&gt;Ia adalah bisikan daun saat kau berjalan di jalan&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln82');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln83"&gt;Ia adalah bau pengharum di kaus kakimu yang baru dicuci&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln83');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln84"&gt;Dialah tangan sejuk di keningmu saat engkau sakit.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln84');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln85"&gt;Ibumu hidup dalam tawa candamu.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln85');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln86"&gt;Ia terkristal dalam tiap tetes air mata.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln86');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln87"&gt;Dia lah tempat engkau datang, dia rumah pertamamu.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln87');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln88"&gt;Dia adalah peta yang kau ikuti pada tiap langkahmu/&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln88');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln89"&gt;Ia adalah cinta pertama dan patah hati pertamamu.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln89');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln90"&gt;Tak ada di dunia yang dapat memisahkan kalian.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln90');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln91');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln92"&gt;Tidak waktu, ruang, bahkan tidak juga kematian!&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln92');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln93');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln94"&gt;Teruskan pada semua ibu dan anak-anak yang kau kenal.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln94');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln95"&gt;Semoga kita tidak pernah mengandaikan begitu saja ibu kita…&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln95');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln96');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln97"&gt;Teruskan juga pada para laki-laki…. Karena mereka juga punya ibu.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/890697822199923771-8000147320347571884?l=novellance.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://novellance.blogspot.com/feeds/8000147320347571884/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=890697822199923771&amp;postID=8000147320347571884' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8000147320347571884'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/890697822199923771/posts/default/8000147320347571884'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://novellance.blogspot.com/2008/07/heaven-on-mothers-feet.html' title='Heaven on mother&apos;s feet'/><author><name>Arciel</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05451548080947372355</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://bp0.blogger.com/_6LoScgzuTzw/R2zJtWIhnqI/AAAAAAAAACc/ff7ROMSapnA/S220/DSCN2038.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-890697822199923771.post-7659579774448970278</id><published>2008-06-14T08:28:00.000-07:00</published><updated>2008-06-14T08:29:16.430-07:00</updated><title type='text'>True love doesn't have a happy ending, because true love never</title><content type='html'>&lt;div id="ln0"&gt;100 hari yang berharga&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln0');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln1"&gt;Peter dan Tina sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln1');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln2"&gt;apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln2');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln3"&gt;sedang asik bercanda ria dengan kekasih mereka masing-masing.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln3');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln4"&gt;Tina: "Duh bosen banget. Aku harap aku juga punya pacar yang bisa&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln4');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln5"&gt;berbagi waktu denganku."&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln5');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln6"&gt;Peter: "kayaknya cuma tinggal kita berdua deh yang jomblo. cuma kita&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln6');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln7"&gt;berdua saja yang tidak punya pasangan sekarang."&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln7');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln8"&gt;(keduanya mengeluh dan berdiam beberapa saat)&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln8');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln9"&gt;Tina: "Kayaknya aku ada ide bagus deh. kita adakan permainan yuk?"&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln9');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln10"&gt;Peter: "Eh? permainan apaan?"&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln10');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln11"&gt;Tina: "Eng... gampang sih permainannya. Kamu jadi pacarku dan aku&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln11');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln12"&gt;jadi pacarmu tapi hanya untuk 100 hari saja. gimana menurutmu?"&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln12');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln13"&gt;Peter: "baiklah... lagian aku juga gada rencana apa-apa untuk&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln13');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln14"&gt;beberapa bulan ke depan."&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln14');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln15"&gt;Tina: "Kok kayaknya kamu gak terlalu niat ya... semangat dong! hari&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln15');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln16"&gt;ini akan jadi hari pertama kita kencan. Mau jalan-jalan kemana nih?"&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln16');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln17"&gt;Peter: "Gimana kalo kita nonton saja? Kalo gak salah film The Troy&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln17');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln18"&gt;lagi maen deh. katanya film itu bagus"&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln18');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln19"&gt;Tina: "OK dech.... Yuk kita pergi sekarang. tar pulang nonton kita&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln19');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln20"&gt;ke karaoke ya...&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln20');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln21"&gt;ajak aja adik kamu sama pacarnya biar seru."&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln21');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln22"&gt;Peter : "Boleh juga..."&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln22');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln23"&gt;(mereka pun pergi nonton, berkaraoke dan Peter mengantarkan Tina&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln23');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln24"&gt;pulang malam harinya)&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln24');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln25"&gt;Hari ke 2:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln25');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln26"&gt;Peter dan Tina menghabiskan waktu untuk ngobrol dan bercanda di&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln26');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln27"&gt;kafe,&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln27');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln28"&gt;suasana kafe yang remang-remang dan alunan musik yang syahdu membawa&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln28');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln29"&gt;hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Peter membeli&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln29');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln30"&gt;sebuah kalung perak berliontin bintang untuk Tina.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln30');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln31"&gt;Hari ke 3:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln31');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln32"&gt;Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk mencari kado untuk seorang&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln32');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln33"&gt;sahabat Peter.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln33');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln34"&gt;Setelah lelah berkeliling pusat perbelanjaan, mereka memutuskan&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln34');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln35"&gt;membeli sebuah miniatur mobil mini. Setelah itu mereka beristirahat&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln35');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln36"&gt;duduk di foodcourt, makan satu potong kue dan satu gelas jus berdua&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln36');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln37"&gt;dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln37');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln38"&gt;Hari ke 7:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln38');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln39"&gt;Bermain bowling dengan teman-teman Peter.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln39');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln40"&gt;Tangan tina terasa sakit karena tidak pernah bermain bowling&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln40');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln41"&gt;sebelumnya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln41');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln42"&gt;Peter memijit-mijit tangan Tina dengan lembut.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln42');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln43"&gt;Hari ke 25:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln43');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln44"&gt;Peter mengajak Tina makan malam di Ancol Bay.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln44');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln45"&gt;Bulan sudah menampakan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln45');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln46"&gt;bintang dalam pelukannya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln46');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln47"&gt;Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir angin&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln47');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln48"&gt;berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi Tina&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln48');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln49"&gt;memandang langit, dan melihat bintang jatuh.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln49');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln50"&gt;Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln50');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln51"&gt;Hari ke 41:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln51');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln52"&gt;Peter berulang tahun. Tina membuatkan kue ulang tahun untuk Peter.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln52');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln53"&gt;Bukan kue buatannya yang pertama, tapi kasih sayang yang mulai&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln53');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln54"&gt;timbul dalam hatinya membuat kue buatannya itu menjadi yang terbaik.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln54');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln55"&gt;Peter terharu menerima kue itu, dan dia mengucapkan suatu harapan&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln55');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln56"&gt;saat meniup lilin ulang tahunnya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln56');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln57"&gt;Hari ke 67:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln57');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln58"&gt;Menghabiskan waktu di Dufan. Naik halilintar, makan es krim&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln58');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln59"&gt;bersama,dan mengunjungi stand permainan. Peter menghadiahkan sebuah&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln59');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln60"&gt;boneka teddy bear untuk Tina, dan Tina membelikan sebuah pulpen&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln60');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln61"&gt;untuk Peter.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln61');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln62"&gt;Hari ke 72:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln62');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln63"&gt;Pergi Ke PRJ. Melihat meriahnya pameran lampion dari negeri China.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln63');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln64"&gt;Tina penasaran untuk mengunjungi salah satu tenda peramal.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln64');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln65"&gt;Sang peramal hanya mengatakan "Hargai waktumu bersamanya mulai&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln65');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln66"&gt;sekarang"&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln66');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln67"&gt;kemudian peramal itu meneteskan air mata.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln67');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln68"&gt;Hari ke 84:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln68');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln69"&gt;Peter mengusulkan agar mereka refreshing ke pantai.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln69');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln70"&gt;Pantai Anyer sangat sepi karena bukan waktunya liburan bagi orang&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln70');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln71"&gt;lain.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln71');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln72"&gt;Mereka melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln72');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln73"&gt;berpegangan tangan,&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln73');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln74"&gt;merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln74');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln75"&gt;mereka.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln75');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln76"&gt;Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin berpisah&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln76');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln77"&gt;lagi.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln77');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln78"&gt;Hari ke 99:&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln78');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln79"&gt;Peter memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan santai dan&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln79');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln80"&gt;sederhana.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln80');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln81"&gt;Mereka berkeliling kota dan akhirnya duduk di sebuah taman kota.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln81');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln82"&gt;15:20 pm&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln82');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln83"&gt;Tina: "Aku haus. Istirahat dulu yuk sebentar. "&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln83');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln84"&gt;Peter: "Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aku mau teh botol&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln84');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln85"&gt;saja. Kamu mau minum apa?"&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln85');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln86"&gt;Tina: "Aku saja yang beli. kamu kan capek sudah menyetir keliling&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln86');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln87"&gt;kota hari ini. Sebentar ya"&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln87');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln88"&gt;Peter mengangguk. kakinya memang pegal sekali karena dimana-mana&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln88');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln89"&gt;Jakarta selalu macet.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln89');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln90"&gt;15:30 pm&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln90');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln91"&gt;Peter sudah menunggu selama 10 menit and Tina belum kembali juga.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln91');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln92"&gt;Tiba-tiba seseorang yang tak dikenal berlari menghampirinya dengan&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln92');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln93"&gt;wajah panik.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln93');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln94"&gt;Peter : "Ada apa pak?"&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln94');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln95"&gt;Orang asing: "Ada seorang perempuan ditabrak mobil. Kayaknya&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln95');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln96"&gt;perempuan itu adalah temanmu"&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln96');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln97"&gt;Peter segera berlari bersama dengan orang asing itu.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln97');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln98"&gt;Disana, di atas aspal yang panas terjemur terik matahari&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln98');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln99"&gt;siang,tergeletak tubuh Tina bersimbah darah, masih memegang botol&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln99');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln100"&gt;minumannya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln100');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln101"&gt;Peter segera melarikan mobilnya membawa Tina ke rumah sakit&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln101');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln102"&gt;terdekat.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln102');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln103"&gt;Peter duduk diluar ruang gawat darurat selama 8 jam 10 menit.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln103');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln104"&gt;Seorang dokter keluar dengan wajah penuh penyesalan.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln104');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln105"&gt;23:53 pm&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln105');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln106"&gt;Dokter: "Maaf, tapi kami sudah mencoba melakukan yang terbaik.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln106');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln107"&gt;Dia masih bernafas sekarang tapi Yang kuasa akan segera menjemput.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln107');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln108"&gt;Kami menemukan surat ini dalam kantung bajunya."&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln108');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln109"&gt;Dokter memberikan surat yang terkena percikan darah kepada Peter dan&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln109');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln110"&gt;dia segera masuk ke dalam kamar rawat untuk melihat Tina. Wajahnya&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln110');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln111"&gt;pucat tetapi terlihat damai.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln111');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln112"&gt;Peter duduk disamping pembaringan tina dan menggenggam tangan Tina&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln112');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln113"&gt;dengan erat.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln113');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln114"&gt;Untuk pertama kali dalam hidupnya Peter merasakan torehan luka yang&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln114');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln115"&gt;sangat dalam di hatinya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln115');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln116"&gt;Butiran air mata mengalir dari kedua belah matanya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln116');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln117"&gt;Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Tina untuknya.&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln117');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln118"&gt;Dear Peter...&lt;/div&gt; &lt;script type="text/javascript"&gt;                 var curDiv = document.getElementById('ln118');                 curDiv.innerHTML = convert2url(curDiv.innerHTML);                 var links = curDiv.getElementsByTagName('a');                 for(var i = links.length; i &gt;= 0; --i) {                     if(links[i]) links[i].innerHTML = links[i].innerHTML.substr(0,30) + "...";                 }             &lt;/script&gt;&lt;div id="ln119"&gt;ke 100 hari kita s
