07:29
Think Simple
posted under
by Arciel
|
Edit This
Terpetik sebuah kisah, seorang pemburu berangkat ke hutan dengan membawa busur dan tombak. Dalam hatinya dia berkhayal mau membawa hasil buruan yang
paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing
pelacak atau jaring penjerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang
memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.
Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di
atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau
pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si
pemburu berpikir, "untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar?
Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?"
Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di
depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, "Ah,
hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia." Agak lama
pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang
mendekat, pemburupun mulai siaga penuh, tetapi ternyata, ah... kijang.
Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa
yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang
ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang
tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia
berteriak, "Rusa!!!" sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit
sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.
Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh
sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya
pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil
dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia
memperoleh sesuatu yang berharga.
Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya
tidak mendapatkan apa-apa. Demikian juga dengan seseorang yang bergumul
dengan pasangan hidup yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka
tampan yang baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan
tidak menemukan siapa-siapa.
Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa pertimbangan logika yang sehat.
Kita tentunya perlu mempunyai harapan dan idealisme supaya tidak asal
tabrak. Tetapi hendaknya kita ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar manusia
dengan perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum mempercayakan perkara
besar dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia yang perfect yang memenuhi
semua idealisme kita. Berpikirlah sederhana.
paling besar, yaitu seekor rusa. Cara berburunya pun tidak pakai anjing
pelacak atau jaring penjerat, tetapi menunggu di balik sebatang pohon yang
memang sering dilalui oleh binatang-binatang buruan.
Tidak lama ia menunggu, seekor kelelawar besar kesiangan terbang hinggap di
atas pohon kecil tepat di depan si pemburu. Dengan ayunan parang atau
pukulan gagang tombaknya, kelelawar itu pasti bisa diperolehnya. Tetapi si
pemburu berpikir, "untuk apa merepotkan diri dengan seekor kelelawar?
Apakah artinya dia dibanding dengan seekor rusa besar yang saya incar?"
Tidak lama berselang, seekor kancil lewat. Kancil itu sempat berhenti di
depannya bahkan menjilat-jilat ujung tombaknya tetapi ia berpikir, "Ah,
hanya seekor kancil, nanti malah tidak ada yang makan, sia-sia." Agak lama
pemburu menunggu. Tiba-tiba terdengar langkah-langkah kaki binatang
mendekat, pemburupun mulai siaga penuh, tetapi ternyata, ah... kijang.
Ia pun membiarkannya berlalu. Lama sudah ia menunggu, tetapi tidak ada rusa
yang lewat, sehingga ia tertidur. Baru setelah hari sudah sore, rusa yang
ditunggu lewat. Rusa itu sempat berhenti di depan pemburu, tetapi ia sedang
tertidur. Ketika rusa itu hampir menginjaknya, ia kaget. Spontan ia
berteriak, "Rusa!!!" sehingga rusanya pun kaget dan lari terbirit-birit
sebelum sang pemburu menombaknya. Alhasil ia pulang tanpa membawa apa-apa.
Banyak orang yang mempunyai idealisme terlalu besar untuk memperoleh
sesuatu yang diinginkannya. Ia berpikir yang tinggi-tinggi dan bicaranya
pun terkadang sulit dipahami. Tawaran dan kesempatan-kesempatan kecil
dilewati begitu saja, tanpa pernah berpikir bahwa mungkin di dalamnya ia
memperoleh sesuatu yang berharga.
Tidak jarang orang-orang seperti itu menelan pil pahit karena akhirnya
tidak mendapatkan apa-apa. Demikian juga dengan seseorang yang bergumul
dengan pasangan hidup yang mengharapkan seorang gadis cantik atau perjaka
tampan yang baik, pintar dan sempurna lahir dan batin, harus puas dengan
tidak menemukan siapa-siapa.
Berpikir sederhana, bukan berarti tanpa pertimbangan logika yang sehat.
Kita tentunya perlu mempunyai harapan dan idealisme supaya tidak asal
tabrak. Tetapi hendaknya kita ingat bahwa seringkali Tuhan mengajar manusia
dengan perkara-perkara kecil terlebih dahulu sebelum mempercayakan perkara
besar dan lagipula tidak ada sesuatu di dunia yang perfect yang memenuhi
semua idealisme kita. Berpikirlah sederhana.
Comment Form under post in blogger/blogspot