02:13

Star Fish

posted under by Arciel | Edit This

Di suatu pagi, seorang pemuda berjalan menyusuri pantai, dia memperhatikan seorang anak laki laki yang mengambil sesuatu dari pasir dan dengan lembut melemparkannya kembali ke lautan.

Sambil mendekati anak tersebut, dia bertanya,"Nak, apa yang engkau lakukan?"

Anak tersebut menjawab,"Melemparkan bintang laut ini kembali ke lautan". "Matahari akan segera bersinar dan gelombang laut akan segera reda, jika aku tidak melempar mereka kembali ke laut, mereka akan mati".

"Nak," kata pemuda itu, "tidakkah, kamu menyadari bahwa pantai ini panjang dan ratusan bintang laut yang terdampar di sana? Kamu tidak memberikan perbedaan apa-apa"

Setelah mendengar dengan sopan, anak tersebut membungkuk dan mengambil satu bintang laut, dan melemparkannya kembali ke laut. Kemudian, sambil tersenyum kepada pemuda itu, ia berkata," Aku memberikan perbedaan terhadap bintang laut tadi"

06:22

Honesty is Best Image

posted under by Arciel | Edit This

Disuatu desa terpencil dipinggiran kota , tinggalah seorang anak laki-laki bersama 6 saudaranya, kehidupan keluarga ini terlihat sangatlah sederhana, orang tuanya hanya seorang buruh tani, kakak dan adiknya semua masih bersekolah sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang hanya mengurusi keluarga. Untuk membantu keuangan keluarganya setiap hari selepas pulang sekolah , ia pergi kepasar untuk berjualan asongan.

Pada suatu hari saat anak ini sedang menjajakan dagangannya, tiba-tiba ia melihat sebuah bungkusan kertas koran yang cukup besar , terjatuh dipinggir jalan, lalu diambilnya bungkusan tersebut, kemudian dibukanya bungkusan itu, namun betapa kaget dan terkejutnya ia, ternyata isi bungkusan tersebut berisi uang dalam nominal besar.

Tampak diraut wajahnya rasa iba dan bukan kegembiraan, ia tampak kebinggungan, karena ia yakin uang ini pasti ada yang memilikinya , pada saat itu juga anak ini langsung berinisiatif untuk mencari sipemilik bungkusan tersebut, sambil mencari-cari sipemiliknya, tiba-tiba seorang ibu dengan ditemani seorang satpam datang dengan berlinang air mata menghampiri anak kecil itu , lalu ibu ini berkata “dek, bungkusan itu milik ibu, isi bungkusan itu adalah uang”.

Uang untuk biaya rumah sakit,karena anak ibu baru saja mengalami kecelakan korban tabrak lari, saat ini anak ibu dalam keadaan kritis dan harus cepat dioperasi karena terjadi pendarahan otak, kalau tidak cepat ditangani ibu khawatir jiwa anak ibu tidak akan tertolong.

Pagi ini ibu baru saja menjual semua harta yang ibu miliki untuk biaya rumah sakit, Ibu sangat membutuhkan uang ini untuk menyelamatkan jiwa anak ibu.

Lalu anak kecil tersebut berkata,” benar bu, aku sedang mencari pemilik bungkusan ini, karena aku yakin pemilik bungkusan ini sangat membutuhkan. “Ini bu !, milik ibu”. setelah itu anak kecil tersebut langsung berlari pulang , sesampai dirumah ia ceritakan semua kejadian yang baru saja dialami kepada Ibu nya.

Lalu ibunya berkata , “ Benar anak ku ! “, kamu tidak boleh mengambil barang milik orang lain, walau pun itu dijalanan , karena barang itu bukan milik kita. Ibu sangat bangga pada mu nak, walau pun kita miskin , namun kamu KAYA dengan KEBAIKAN dan KEJUJURAN.

Untuk apa kita memiliki kekayaan yang melimpah, sementara kita harus mengorbankan nyawa orang lain . “Kamu sungguh anak yang baik nak” , ibu sangat bersyukur mempunyai anak seperti mu.

Hari ini ibu percaya, kamu sudah menyelamatkan satu jiwa melalui kebaikan dan kejujuran mu, kamu harus jaga terus kejujuranmu , karena kejujuran dapat menyelamatkan banyak orang dan kejujuran adalah mata uang yang berlaku dimana-mana . “Apa yang bukan milik kita, pantang untuk kita ambil”.

(“Matamu adalah pelita tubuhmu, Jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, tetapi jika matamu jahat, gelaplah tubuhmu. Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi gelap. Jika seluruh tubuhmu terang dan tidak ada bagian yang gelap, maka seluruhnya akan terang, sama seperti apabila pelita menerangi engkau dengan cahayanya.” )

06:21

Little Girl with Beautiful Heart

posted under by Arciel | Edit This

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran. Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan. Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya banjir di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.

Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata “boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta” agak ragu2 sejenak “akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?”

Aku menjawab “oh pasti, sayang.”

Sindu tanya sekali lagi, “betul nih ayah ?”

Yah pasti sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.”

Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata: “Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.”

Sindu menjawab : jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok. Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.

Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.

Aku coba membujuk: Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada yah, tak ada keinginan lain, kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu : tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.

Sindu dengan menangis berkata : ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.

Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku : janji kita harus ditepati. Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah gila? Tidak, jawabku, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi. Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.

Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.

Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak : Sindu tolong tunggu saya. Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu botak.

Aku berpikir mungkin”botak” model jaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: “anak anda, Sindu benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia.” Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu, “bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.”

Aku berdiri terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang kasih.

06:18

Broken Jar

posted under by Arciel | Edit This

Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan yang dibawa menyilang pada bahunya. Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan satunya lagi tidak. Tempayan yang utuh selalu dapat membawa air penuh, walaupun melewati perjalanan yang panjang dari mata air ke rumah majikannya. Tempayan retak itu hanya dapat membawa air setengah penuh.

Hal ini terjadi setiap hari selama dua tahun. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan utuh
merasa bangga akan prestasinya karena dapat menunaikan tugas dengan sempurna. Di pihak lain, si tempayan retak merasa malu sekali akan ketidaksempurnaanya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari porsi yang seharusnya ia dapat berikan.

Setiap Orang Memiliki kekurangan

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak berkata
kepada si tukang air, “Saya sungguh malu kepada diri saya sendiri dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya” “mengapa?” tanya si tukang air,”mengapa kamu merasa malu ?””Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah porsi air dari yang seharusnya dapat saya bawa. Adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Karena cacatku itu, saya telah membuat mu rugi.”

Si tukang air merasa kasihan kepada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia menjawab,” Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memperhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.” Tuhan sanggup memakai kelemahan kita untuk maksud yang indah.

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retak memperhatikan dan baru menyadari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali merasa sedih karena separuh air yang dibawanya telah bocor dan kembali tempayan retak itu meminta maaf kepada si tukang air atas kegagalannya. Si tukang air berkata kepada tempayan itu, “Apakah kamu tidak memperhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan di sisimu ? tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan lain yang tidak retak itu ?” Itu karena aku selalu menyadari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini, aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk dapat menghias meja majikan kita. Tanpa adanya kamu , majikan kita tidak akan dapat menghias rumahnya seindah sekarang.”

Setiap orang memiliki cacat dan kelemahan sendiri. Kita semua adalah tempayan
retak, namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk maksud
tertentu. Dimata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma, Jangan takut akan kekuranganmu. Kenalilah kelemahanmu dan kamu dapat menjadi sarana keindahan Tuhan.
Ketahuilah dalam kelemahan kita, kita menemukan kekuatan kita.

06:16

Seven Words

posted under by Arciel | Edit This

Aku tahu aku berbeda dari anak-anak lain. Dan aku amat membencinya. Ketika aku mulai bersekolah, teman-teman selalu mengejekku, maka aku semakin tahu perbedaan diriku. Aku dilahirkan dengan cacat. Langit-langit mulutku terbelah.Ya, aku adalah seorang gadis kecil dengan bibir sumbing, hidung bengkok, gigi yang tak rata. Bila berbicara suaraku sumbang, sengau dan kacau. Bahkan aku tak bisa meniup balon bila tak kupejet hidungku erat-erat.

Jika aku minum menggunakan sedotan, air akan mengucur begitu saja lewat hidungku. Bila ada teman sekolahku bertanya, “Bibirmu itu kenapa?” Aku katakan bahwa ketika bayi aku terjatuh dan sebilah pecahan beling telah membelah bibirku.

Sepertinya aku lebih suka alasan ini daripada mengatakan bahwa aku cacat semenjak lahir. Saat berusia tujuh tahun aku yakin tidak ada orang selain keluargaku yang mencintai aku. Bahkan tidak ada yang mau menyukaiku.

Saat itu aku naik ke kelas dua dan bertemu dengan bu Leonard. Aku tak tahu apa nama lengkapnya. Aku hanya memanggilnya bu Leonard. Beliau berparas bundar, cantik dan selalu harum. Tangannya gemuk. Rambutnya coklat keperakan. Matanya hitam lembut yang senantiasa tampak tersenyum meski bibirnya tidak. Setiap anak menyukainya. Tetapi tak ada yang menyintainya lebih daripada aku. Dan aku punya alasan tersendiri untuk itu.

Pada suatu ketika sekolah melakukan test kemampuan pendengaran; yaitu mendengar kata yang dibisikkan dengan satu telinga ditutup bergantian. Terus terang sulit bagiku untuk mendengar suara-suara dengan satu telinga. Tidak ada orang yang tahu akan cacatku yang satu ini. Aku tak mau gagal pada test ini lalu menjadi satu-satunya anak dengan segala cacat di sekujur tubuhnya.

Maka aku mencari akal untuk menyusun rencana curang. Aku perhatikan setiap murid yang ditest. Test berlangsung demikian: setiap murid diminta berjalan ke pintu kelas, membalikkan tubuh, menutup satu telinganya dengan jari, kemudian bu guru akan membisikkan sesuatu dari mejanya tulisnya. Lalu murid diminta untuk mengulangi perkataan bu guru. Hal yang sama dilakukan pada telinga yang satunya. Aku menyadari ternyata tak ada seorang pun yang mengawasi apakah telinga itu ditutup dengan rapat atau tidak. Kalau begitu aku akan berpura-pura saja menutup telingaku. Selain itu aku tahu dari cerita murid-murid yang lain bu guru biasanya membisikkan kata-kata seperti, “Langit itu biru” atau “Apakah kau punya sepatu baru?”.

Kini tiba pada giliran terakhir; giliranku. Aku berjalan ke luar kelas, membalikkan tubuh lalu menutup telingaku yang cacat itu dengan kuat tetapi kemudian perlahan-lahan merenggangkannya sehingga aku bisa mendengar kata-kata yang dibisikkan oleh bu guru.

Aku menunggu dengan berdebar-debar kata-kata apa yang akan dibisikkan oleh bu Leonard. Dan bu Leonard, bu guru yang cantik dan harum, bu guru yang aku cintai itu, membisikkan tujuh buah kata yang aku telah mengubah hidupku selamanya. Ia berbisik dengan lembut, “Maukah kau jadi putriku, wahai gadis manis?” Tanpa sadar aku berbalik, berlari, memeluk bu Leonard erat-erat, dan membiarkan seluruh air mataku tumpah di tubuhnya.

06:13

Angel or Demon?

posted under by Arciel | Edit This

Mahluk yang paling menakjubkan adalah manusia, karena dia bisa memilih untuk menjadi “setan atau malaikat”.
–John Scheffer-

Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya? Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bisa beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya?

Kenakalan remaja saat ini tidak lagi enteng. Tawuran telah menjadikan puluhan remaja meninggal. Saya berdoa semoga lamunan itu salah semua. Tapi mengingat peristiwa buruk itu bisa saja terjadi, saya mengunci seluruh pintu dan jendela rumah. Di rumah ini, pukul sepuluh pagi seperti ini, saya hanya seorang diri. Kang Yayan, suami saya, ke kantor. Yudi sekolah, Yuni yang sekolah sore pergi les Inggris, dan Bi Nia sudah seminggu tidak masuk.

Jadi kalau lelaki yang selalu memperhatikan rumah saya itu menodong, saya bisa apa? Pintu pagar rumah memang terbuka. Siapa saja bisa masuk.

Tapi mengapa anak muda itu tidak juga masuk? Tidakkah dia menunggu sampai tidak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega saat anak muda itu berdiri di samping tiang telepon. Saya punya pikiran lain. Mungkin dia sedang menunggu seseorang, pacarnya, temannya, adiknya, atau siapa saja yang janjian untuk bertemu di tiang telepon itu. Saya memang tidak mesti berburuk sangka seperti tadi. Tapi dizaman ini, dengan peristiwa-peristiwa buruk, tenggang rasa yang semakin menghilang, tidakkah rasa curiga lebih baik daripada lengah?

Saya masih tidak beranjak dari persembunyian, di antara kain gorden, di samping kaca nako. Saya masih was-was karena anak muda itu sesekali masih melihat ke rumah. Apa maksudnya? Ah, bukankah banyak pertanyaan di dunia ini yang tidak ada jawabannya.

Terlintas di pikiran saya untuk menelepon tetangga. Tapi saya takut jadi ramai. Bisa-bisa penduduk se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya kalau anak itu ditanya-tanya secara baik, coba kalau belum apa-apa ada yang memukul.

Tiba-tiba anak muda itu membalikkan badan dan masuk ke halaman rumah. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memang mengidap penyakit jantung. Tekad saya untuk menelepon tetangga sudah bulat, tapi kaki saya tidak bisa melangkah. Apalagi begitu anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah melihatnya dan punya pengalaman buruk dengannya. Tapi anak muda itu tidak lama di teras rumah. Dia hanya memasukkan sesuatu ke celah di atas pintu dan bergegas pergi. Saya masih belum bisa mengambil benda itu karena kaki saya masih lemas.

Saya pernah melihat anak muda yang gelisah itu di jembatan penyeberangan, entah seminggu atau dua minggu yang lalu. Saya pulang membeli bumbu kue waktu itu. Tiba-tiba di atas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya hampir jatuh. Si penabrak yang tidak lain adalah anak muda yang gelisah dan mondar-mandir di depan rumah itu, meminta maaf dan bergegas mendahului saya. Saya jengkel, apalagi begitu sampai di rumah saya tahu dompet yang disimpan di kantong plastik, disatukan dengan bumbu kue, telah raib.

Dan hari ini, lelaki yang gelisah dan si penabrak yang mencopet itu, mengembalikan dompet saya lewat celah di atas pintu. Setelah saya periksa, uang tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang selalu saya simpan di dompet bila bepergian, dan surat-surat penting, tidak ada yang berkurang.

Lama saya melihat dompet itu dan melamun. Seperti dalam dongeng. Seorang anak muda yang gelisah, yang siapa pun saya pikir akan mencurigainya, dalam situasi perekonomian yang morat-marit seperti ini, mengembalikan uang yang telah digenggamnya. Bukankah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memang tak lebih dari sebuah dongengan?

Bersama dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya menemukan surat yang dilipat tidak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari kemudian tidak lepas dari pikiran dan hati saya itu. Isinya seperti ini:

—–

“Ibu yang baik…, maafkan saya telah mengambil dompet Ibu. Tadinya saya mau mengembalikan dompet Ibu saja, tapi saya tidak punya tempat untuk mengadu, maka saya tulis surat ini, semoga Ibu mau membacanya.

Sudah tiga bulan saya berhenti sekolah. Bapak saya di-PHK dan tidak mampu membayar uang SPP yang berbulan-bulan sudah nunggak, membeli alat-alat sekolah dan memberi ongkos. Karena kemampuan keluarga yang minim itu saya berpikir tidak apa-apa saya sekolah sampai kelas 2 STM saja. Tapi yang membuat saya sakit hati, Bapak kemudian sering mabuk dan judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu.

Adik saya yang tiga orang, semuanya keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya membantu mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras.

Saya sadar, kalau keadaan seperti ini, saya harus berjuang lebih keras. Saya mau melakukannya. Dari pagi sampai malam saya bekerja. Tidak saja jualan koran, saya juga membantu nyuci piring di warung nasi dan kadang (sambil hiburan) saya ngamen. Tapi uang yang pas-pasan itu (Emak sering gagal belajar menabung dan saya maklum), masih juga diminta Bapak untuk memasang judi kupon gelap. Bilangnya nanti juga diganti kalau angka tebakannya tepat. Selama ini belum pernah tebakan Bapak tepat. Lagi pula Emak yang taat beribadah itu tidak akan mau menerima uang dari hasil judi, saya yakin itu.

Ketika Bapak semakin sering meminta uang kepada Emak, kadang sambil marah-marah dan memukul, saya tidak kuat untuk diam. Saya mengusir Bapak. Dan begitu Bapak memukul, saya membalasnya sampai Bapak terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Mesti bagaimana saya?

Saat Emak sakit dan Bapak semakin menjadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya semakin menggumpal, tapi saya tidak tahu sakit hati oleh siapa. Hanya untuk membawa Emak ke dokter saja saya tidak sanggup. Bapak yang semakin sering tidur entah di mana, tidak perduli. Hampir saya memukulnya lagi.

Di jalan, saat saya jualan koran, saya sering merasa punya dendam yang besar tapi tidak tahu dendam oleh siapa dan karena apa. Emak tidak bisa ke dokter. Tapi orang lain bisa dengan mobil mewah melenggang begitu saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Dan di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, orang-orang mengeluarkan ratusan ribu untuk sekali makan.

Maka tekad saya, Emak harus ke dokter. Karena dari jualan koran tidak cukup, saya merencanakan untuk mencopet. Berhari-hari saya mengikuti bus kota, tapi saya tidak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin malah membasahi baju. Saya gagal jadi pencopet.

Dan begitu saya melihat orang-orang belanja di toko, saya melihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Maka saya ikuti Ibu. Di atas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu dan cepat mengambil dompet. Saya gembira ketika mendapatkan uang 300 ribu lebih.

Saya segera mendatangi Emak dan mengajaknya ke dokter. Tapi Ibu…, Emak malah menatap saya tajam. Dia menanyakan, dari mana saya dapat uang. Saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa itu tabungan saya, atau meminjam dari teman. Tapi saya tidak bisa berbohong. Saya mengatakan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya begitu saya selesai bercerita.

Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tidak pernah saya merasakan kebingungan seperti ini. Saya ingin berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan uang 300 ribu lebih sebenarnya saya bisa makan-makan, mabuk, hura-hura. Tidak apa saya jadi pencuri. Tidak perduli dengan Ibu, dengan orang-orang yang kehilangan. Karena orang-orang pun tidak perduli kepada saya. Tapi saya tidak bisa melakukannya. Saya harus mengembalikan dompet Ibu. Maaf.”

—–

Surat tanpa tanda tangan itu berulang kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung dan gelisah itu. Di setiap stopan tempat puluhan anak-anak berdagang dan mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Tapi anak muda itu tidak pernah kelihatan lagi. Siapapun yang berada di stopan, tidak mengenal anak muda itu ketika saya menanyakannya.

Lelah mencari, di bawah pohon rindang, saya membaca dan membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat sederhana itu membuat saya tidak tenang. Ada sesuatu yang mempengaruhi pikiran dan perasaan saya. Saya tidak lagi silau dengan segala kemewahan. Ketika Kang Yayan membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tidak segembira biasanya.Saya malah mengusulkan oleh-oleh yang biasa saja.

Kang Yayan dan kedua anak saya mungkin aneh dengan sikap saya akhir-akhir ini. Tapi mau bagaimana, hati saya tidak bisa lagi menikmati kemewahan. Tidak ada lagi keinginan saya untuk makan di tempat-tempat yang harganya ratusan ribu sekali makan, baju-baju merk terkenal seharga jutaan, dan sebagainya.

Saya menolaknya meski Kang Yayan bilang tidak apa sekali-sekali. Saat saya ulang tahun, Kang Yayan menawarkan untuk merayakan di mana saja. Tapi saya ingin memasak di rumah, membuat makanan, dengan tangan saya sendiri. Dan siangnya, dengan dibantu Bi Nia, lebih seratus bungkus nasi saya bikin. Diantar Kang Yayan dan kedua anak saya, nasi-nasi bungkus dibagikan kepada para pengemis, para pedagang asongan dan pengamen yang banyak di setiap stopan.

Di stopan terakhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Yayan dan kedua anak saya untuk makan bersama. Diam-diam air mata mengalir dimata saya.

Yuni menghampiri saya dan bilang, “Mama, saya bangga jadi anak Mama.” Dan saya ingin menjadi Mama bagi ribuan anak-anak lainnya.

06:11

Robe of Happiness

posted under by Arciel | Edit This
Suatu ketika, tersebutlah seorang raja yang kaya raya. Kekayaannya sangat melimpah. Emas, permata, berlian, dan semua batu berharga telah menjadi miliknya. Tanah kekuasaannya, meluas hingga sejauh mata memandang. Puluhan istana, dan ratusan pelayan siap menjadi hambanya.

Karena ia memerintah dengan tangan besi, apapun yang diinginkannya hampir selalu diraihnya. Namun, semua itu tak membuatnya merasa cukup. Ia selalu merasa kekurangan. Tidurnya tak nyenyak, hatinya selalu merasa tak bahagia. Hidupnya, dirasa sangatlah menyedihkan.

Suatu hari, dipanggillah salah seorang prajurit tebaiknya. Sang Raja lalu berkata, “Aku telah punya banyak harta. Namun, aku tak pernah merasa bahagia. Karena itu, ujar sang raja, “aku akan memerintahkanmu untuk memenuhi keinginanku. Pergilah kau ke seluruh penjuru negeri, dari pelosok ke pelosok, dan temukan orang yang paling berbahagia di negeri ini. Lalu, bawakan pakaiannya kepadaku.”

“Carilah hingga ujung-ujung cakrawala dan buana. Jika aku bisa mendapatkan pakaian itu, tentu, aku akan dapat merasa bahagia setiap hari. Aku tentu akan dapat membahagiakan diriku dengan pakaian itu. Temukan sampai dapat! ” perintah sang Raja kepada prajuritnya. “Dan aku tidak mau kau kembali tanpa pakaian itu. Atau, kepalamu akan kupenggal !!

Mendengar titah sang Raja, prajurit itupun segera beranjak. Disiapkannya ratusan pasukan untuk menunaikan tugas. Berangkatlah mereka mencari benda itu. Mereka pergi selama berbulan-bulan, menyusuri setiap penjuru negeri. Seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, seperti perintah Raja. Di telitinya setiap kampung dan desa, untuk mencari orang yang paling berbahagia, dan mengambil pakaiannya.

Sang Raja pun mulai tak sabar menunggu. Dia terus menunggu, dan menunggu hingga jemu. Akhirnya, setelah berbulan-bulan pencarian, prajurit itu kembali. Ah, dia berjalan tertunduk, merangkak dengan tangan dan kaki di lantai, tampak seperti sedang memohon ampun pada Raja. Amarah Sang Raja mulai muncul, saat prajurit itu datang dengan tangan hampa.
“Kemari cepat!!. “Kau punya waktu 10 hitungan sebelum kepalamu di penggal. Jelaskan padaku mengapa kau melanggar perintahku. Mana pakaian kebahagiaan itu!” gurat-gurat kemarahan sang raja tampak memuncak.
Dengan airmata berlinang, dan badan bergetar, perlahan prajurit itu mulai angkat bicara. “Duli tuanku, aku telah memenuhi perintahmu. Aku telah menyusuri penjuru negeri, seluas cakrawala, hingga ke ujung-ujung buana, untuk mencari orang yang paling berbahagia. Akupun telah berhasil menemukannya.

Kemudian, sang Raja kembali bertanya, “Lalu, mengapa tak kau bawa pakaian kebahagiaan yang dimilikinya?

Prajurit itu menjawab, “Ampun beribu ampun, duli tuanku, orang yang paling berbahagia itu, TIDAK mempunyai pakaian yang bernama kebahagiaan.”
***
Teman, bisa jadi, memang tak ada pakaian yang bernama kebahagiaan. Sebab, kebahagiaan, seringkali memang tak membutuhkan apapun, kecuali perasaan itu sendiri. Rasa itu hadir, dalam bentuk-bentuk yang sederhana, dan dalam wujud-wujud yang bersahaja.

Seringkali memang, kebahagiaan tak di temukan dalam gemerlap harta dan permata. Seringkali memang, kebahagiaan, tak hadir dalam indahnya istana-istana megah. Dan ya, kebahagiaan, seringkali memang tak selalu ada pada besarnya penghasilan kita, mewahnya rumah kita, gemerlap lampu kristal yang kita miliki, dan indahnya jalinan sutra yang kita sandang.

Seringkali malah, kebahagiaan hadir pada kesederhanaan, pada kebersahajaan. Seringkali rasa itu muncul pada rumah-rumah kecil yang orang-orang di dalamnya mau mensyukuri keberadaan rumah itu. Seringkali, kebahagiaan itu hadir, pada jalin-jemalin syukur yang tak henti terpanjatkan pada Ilahi.

Sebab, teman, kebahagiaan itu memang adanya di hati, di dalam kalbu ini. Kebahagiaan, tak berada jauh dari kita, asalkan kita mau menjumpainya. Ya, asalkan kita mau mensyukuri apa yang kita punyai, dan apa yang kita miliki.
Adakah “pakaian-pakaian kebahagiaan” itu telah Anda sandang dalam hati? Temukan itu dalam diri.

06:05

Little Wing

posted under by Arciel | Edit This
Ini adalah kisah yang dialami oleh sebuah keluarga burung. Si induk menetaskan beberapa telor menjadi burung-burung kecil yang indah dan sehat. Si induk pun sangat bahagia dan merawat mereka semua dengan penuh kasih sayang.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Burung-burung kecil inipun mulai dapat bergerak lincah. Mereka mulai belajar mengepakkan sayap, mencari-cari makanan untuk kemudian mematuknya.

Dari beberapa anak burung ini tampaklah seekor burung kecil yang berbeda dengan saudaranya yang lain. Ia tampak pendiam dan tidak selincah saudara-saudaranya. Ketika saudara-saudaranya belajar terbang, ia memilih diam di sarang daripada lelah dan terjatuh, ketika saudara-saudaranya berkejaran mencari makan, ia memilih diam dan menantikan belas kasihan saudaranya. Demikian hal ini terjadi seterusnya.
Saat sang induk mulai menjadi tua dan tak sanggup lagi berjuang untuk menghidupi anak-anaknya, si anak burung ini mulai merasa sedih. Seringkali ia melihat dari bawah saudara-saudaranya terbang tinggi di langit. Ketika saudara-saudarnya dengan lincah berpindah dari dahan satu ke dahan yang lain di pohon yang tinggi, ia harus puas hanya dengan berada di satu dahan yang rendah. Ia pun merasa sangat sedih.
Dalam kesedihannya, ia menemui induknya yang sudah tua dan berkata, “Ibu, aku merasa sangat sedih, mengapa aku tidak bisa terbang setinggi saudara-saudaraku yang lain, mengapa akau tidak bisa melompat-lompat di dahan yang tinggi aku hanya bisa berdiam di dahan yang rendah?”
Si induk pun merasa sedih dan dengan air mata ia berkata, “Anakku, engkau dilahirkan dengan sayap yang sempurna seperti saudaramu, tapi engkau memilih merangkak menjalani hidup ini sehingga sayapmu menjadi kerdil.”
Hidup adalah kumpulan dari setiap pilihan yang kita buat. Pilihan kita hari ini menentukan bagaimana hidup kita di masa depan.Kita memiliki kebebasan memilih tetapi setelah itu kita akan dikendalikan oleh pilihan kita, jadi berpikirlah sebelum berbuat, sadari setiap konsekuensi dari pilihan yang kita buat.
Semoga bermanfaat

06:04

Wooden Table

posted under by Arciel | Edit This
Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. Selain itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan mata yang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan garpu kerap jatuh ke bawah. Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak.

Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan dengan semua ini. “Kita harus lakukan sesuatu, ” ujar sang suami. “Aku sudah bosan membereskan semuanya untuk pak tua ini.” Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Disana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat semuanya menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga memberikan mangkuk kayu untuk si kakek.

Sering, saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat keriput si kakek. Namun, kata yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan makanan lagi. Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam.

Suatu malam, sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan mainan kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. “Kamu sedang membuat apa?”. Anaknya menjawab, “Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu untuk makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat tempat kakek biasa makan.” Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. Mereka tak mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua pipi mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini mengerti, ada sesuatu yang harus diperbaiki. Malam itu, mereka menuntun tangan si kakek untuk kembali makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda. Kini, mereka bisa makan bersama lagi di meja utama.
~Author Unknown
***
Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka akan selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. Mereka ada peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat dewasa kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap “bangunan jiwa” yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak.

Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita, untuk masa depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk mereka lah kita akan selalu belajar, bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan tabungan masa depan.

07:27

Dream Stealer

posted under by Arciel | Edit This
Ada seorang gadis muda yang sangat suka menari. Kepandaiannya menari
sangat menonjol dibanding dengan rekan-rekannya, sehingga dia seringkali
menjadi juara di berbagai perlombaan yang diadakan. Dia berpikir, dengan apa
yang dimilikinya saat ini, suatu saat apabila dewasa nanti dia ingin menjadi
penari kelas dunia. Dia membayangkan dirinya menari di Rusia, Cina, Amerika,
Jepang, serta ditonton oleh ribuan orang yang memberi tepuk tangan
kepadanya.

Suatu hari, dikotanya dikunjungi oleh seorang pakar tari yang berasal dari
luar negeri. Pakar ini sangatlah hebat, dan dari tangan dinginnya telah
banyak dilahirkan penari-penari kelas dunia. Gadis muda ini ingin sekali
menari dan menunjukkan kebolehannya di depan sang pakar tersebut, bahkan
jika mungkin memperoleh kesempatan menjadi muridnya.

Akhirnya kesempatan itu datang juga. Si gadis muda berhasil menjumpai sang
pakar di belakang panggung, seusai sebuah pagelaran tari.

Si gadis muda bertanya "Pak, saya ingin sekali menjadi penari kelas dunia.
Apakah anda punya waktu sejenak, untuk menilai saya menari ? Saya ingin tahu
pendapat anda tentang tarian saya".

"Oke, menarilah di depan saya selama 10 menit", jawab sang pakar.
Belum lagi 10 menit berlalu, sang pakar berdiri dari kursinya, lalu
berlalu meninggalkan si gadis muda begitu saja, tanpa mengucapkan sepatah
kata pun. Betapa hancur si gadis muda melihat sikap sang pakar. Si gadis
langsung berlari keluar. Pulang kerumah, dia langsung menangis
tersedu-sedu. Dia menjadi benci terhadap dirinya sendiri. Ternyata tarian
yang selama ini dia bangga-banggakan tidak ada apa-apanya di hadapan sang
pakar. Kemudian dia ambil sepatu tarinya, dan dia lemparkan ke dalam
gudang. Sejak saat itu, dia bersumpah tidak pernah akan lagi menari.
Puluhan tahun berlalu. Sang gadis muda kini telah menjadi ibu dengan tiga
orang anak. Suaminya telah meninggal. Dan untuk menghidupi keluarganya, dia
bekerja menjadi pelayan dari sebuah toko di sudut jalan.

Suatu hari, ada sebuah pagelaran tari yang diadakan di kota itu. Nampak
sang pakar berada di antara para menari muda di belakang panggung. Sang
pakar nampak tua, dengan rambutnya yang sudah putih. Si ibu muda dengan tiga
anaknya juga datang ke pagelaran tari tersebut. Seusai acara, ibu ini
membawa ketiga anaknya ke belakang panggung, mencari sang pakar, dan
memperkenalkan ketiga anaknya kepada sang pakar. Sang pakar masih
mengenali ibu muda ini, dan kemudian mereka bercerita secara akrab.

Si ibu bertanya, "Pak, ada satu pertanyaan yang mengganjal di hati saya.
Ini tentang penampilan saya sewaktu menari di hadapan anda bertahun-tahun
yang silam. Sebegitu jelekkah penampilan saya saat itu, sehingga anda
langsung pergi meninggalkan saya begitu saja, tanpa mengatakan sepatah
katapun?". "Oh ya, saya ingat peristiwanya. Terus terang, saya belum pernah melihat
tarian seindah yang kamu lakukan waktu itu. Saya rasa kamu akan menjadi
penari kelas dunia. Saya tidak mengerti mengapa kamu tiba-tiba berhenti dari
dunia tari", jawab sang pakar.

Si ibu muda sangat terkejut mendengar jawaban sang pakar. "Ini tidak adil", seru si ibu muda.
"Sikap anda telah mencuri semua impian saya. Kalau memang tarian saya
bagus, mengapa anda meninggalkan saya begitu saja ketika saya baru menari
beberapa menit. Anda seharusnya memuji saya, dan bukan mengacuhkan saya
begitu saja. Mestinya saya bisa menjadi penari
kelas dunia. Bukan hanya menjadi pelayan toko !".

Si pakar menjawab lagi dengan tenang "Tidak .... Tidak, saya rasa saya
telah berbuat dengan benar. ANDA TIDAK HARUS MINUM ANGGUR SATU BAREL UNTUK
MEMBUKTIKAN ANGGUR ITU ENAK. Demikian juga saya. Saya tidak harus nonton
anda 10 menit untuk membuktikan tarian anda bagus. Malam itu saya juga
sangat lelah setelah pertunjukkan. Maka sejenak saya tinggalkan anda, untuk
mengambil kartu nama saya, dan berharap anda mau menghubungi
saya lagi keesokan hari. Tapi anda sudah pergi ketika saya keluar. Dan
satu hal yang perlu anda camkan, bahwa ANDA MESTINYA FOKUS PADA IMPIAN ANDA,
BUKAN PADA UCAPAN ATAU TINDAKAN SAYA. Lalu pujian? Kamu mengharapkan pujian?
Ah, waktu itu kamu sedang bertumbuh. PUJIAN ITU SEPERTI PEDANG BERMATA DUA.
ADA KALANYA MEMOTIVASIMU, BISA PULA MELEMAHKANMU. Dan faktanya saya melihat
bahwa sebagian besar PUJIAN YANG DIBERIKAN PADA SAAT SESEORANG SEDANG
BERTUMBUH, HANYA AKAN MEMBUAT DIRINYA PUAS DAN PERTUMBUHANNYA BERHENTI. SAYA
JUSTRU LEBIH SUKA MENGACUHKANMU, AGAR HAL ITU BISA MELECUTMU BERTUMBUH LEBIH
CEPAT LAGI. Lagipula, pujian itu sepantasnya datang dari keinginan saya
sendiri. TIDAK PANTAS ANDA MEMINTA PUJIAN DARI ORANG LAIN".

"Anda lihat, ini sebenarnya hanyalah masalah sepele. Seandainya anda pada
waktu itu tidak menghiraukan apa yang terjadi dan tetap menari, mungkin hari
ini anda sudah menjadi penari kelas dunia. MUNGKIN ANDA SAKIT HATI PADA
WAKTU ITU, TAPI SAKIT HATI ANDA AKAN CEPAT HILANG BEGITU ANDA BERLATIH
KEMBALI. TAPI SAKIT HATI KARENA PENYESALAN ANDA HARI INI TIDAK AKAN PERNAH
BISA HILANG SELAMA-LAMANYA ...".

01:05

Pass Book

posted under by Arciel | Edit This
Priya menikah dengan Hitesh. Pada pesta pernikahan, ibu Priya memberinya sebuah buku tabungan. Di dalamnya berisi tabungan sejumlah Rs.1000 (Rp 246.000). Dia berkata, "Priya, terimalah buku tabungan ini. Gunakan sebagai buku catatan dari kehidupan pernikahanmu. Jika ada satu peristiwa bahagia atau yang bisa dikenang, masukkan sejumlah uang tabungan di dalamnya. Tulis kejadian yang kamu alami di baris catatan yang ada di sampingnya. Semakin besar kenangan terhadap peristiwa itu, masukkan uang tabungan yang lebih besar. Ibu sudah melakukan di awal pernikahanmu ini.. Lakukan selanjutnya bersama Hitesh. Saat kamu melihat kembali tahun-tahun yang telah berlalu, kamu akan mengetahui betapa bahagianya kehidupan pernikahan yang kamu miliki."

Priya memberitahukan hal ini kepada Hitesh setelah pesta usai. Mereka berdua setuju bahwa ini adalah ide yang sangat bagus dan mereka tidak sabar menanti saatnya untuk memasukkan tambahan uang tabungan ke dalam buku itu.

Ini yang mereka lakukan setelah beberapa waktu :
- 7 Februari : Rs 100 (Rp 24.600), perayaan ultah pertama untuk Hitesh setelah menikah.
- 1 Maret : Rs 300 (Rp 73.800), gaji Priya naik
- 20 Maret : Rs 200 (Rp 49.200), berlibur ke Bali
- 15 April : Rs 2.000 (Rp 492.000), Priya hamil
- 1 Juni ; Rs 1,000 (Rp 246.000), Hitesh dipromosikan ... dan seterusnya ...

Akan tetapi setelah beberapa tahun berlalu, mereka mulai beradu pendapat dan bertengkar untuk hal-hal yang sepele. Mereka saling diam. Mereka menyesal telah menikahi orang yang paling buruk di dunia ... tidak ada lagi cinta ... sesuatu yang sangat tipikal di masa ini.

Suatu hari Priya berkata pada ibunya, "Ibu, kami tidak bisa bertahan lagi. Kami setuju untuk bercerai. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana saya telah memutuskan menikah dengan orang ini !"

Ibunya menjawab, "Baiklah, apa pun yang kamu ingin kerjakan kalau sudah tidak bisa bertahan.. Tetapi sebelum kamu melangkah lebih jauh, tolong lakukan hal ini. Ingat buku tabungan yang ibu berikan saat pesta pernikahan kalian? Ambil semua uangnya dan belanjakan sampai habis. Kamu tidak bisa terus menyimpan catatan di buku tabungan itu untuk sebuah pernikahan yang buruk."

Priya berpikir bahwa itu benar. Jadi dia pergi ke bank, menunggu di antrian dan berencana menutup buku tabungan itu. Ketika menunggu, dia melihat catatan yang ada di buku tabungan di tangannya. Dia melihat, melihat, dan melihat. Kemudian ingatan akan semua kebahagiaan dan sukacita di masa-masa yang telah lewat muncul kembali di pikirannya. Air mata menggenang dan berurai di pipinya. Kemudian dia bergegas meninggalkan bank dan pulang.

Ketika sampai di rumah, Priya memberikan buku tabungan itu pada Hitesh, dan memintanya untuk memasukkan sejumlah uang ke tabungan itu sebelum mereka bercerai.

Hari esoknya, Hitesh mengembalikan buku tabungan itu pada Priya. Dia menemukan tambahan tabungan sebesar Rs 5000 (Rp 1.230.000) dengan catatan di dalam buku tabungan: 'Ini adalah hari dimana saya menyadari betapa saya mencintaimu sepanjang tahun-tahun yang telah kita lewati. Betapa besar kebahagiaan telah kamu bawa untukku." Mereka berdua berpelukan dan menangis, dan meletakkan buku tabungan itu kembali di tempat semula.

Anda tahu berapa uang yang terkumpul saat mereka pensiun? Saya tidak bertanya pada mereka. Saya percaya uang bukan masalah lagi setelah mereka berhasil melalui tahun-tahun yang indah di sepanjang kehidupan pernikahan mereka..

* * * * *

"Saat engkau jatuh, jangan melihat tempat di mana kamu jatuh, tetapi lihatlah tempat di mana kamu mulanya tergelincir. "

= Hidup adalah memperbaiki kesalahan-kesalahan =

05:27

Greatest Archivement

posted under by Arciel | Edit This
Suatu ketika di ruang kelas sekolah menengah, terlihat suatu percakapan yang menarik.Seorang Pak Guru, dengan buku di tangan, tampak menanyakan sesuatu kepada murid-muridnya di depan kelas.Sementara itu, dari mulutnya keluar sebuah pertanyaan. " Anak-anak, kita sudah hampir memasuki saat-saat terakhir bersekolah di sini.Setelah 3 tahun, pencapaian terbesar apa yang membuat kalian bahagia ? Adakah hal-hal besar yang kalian peroleh selama ini ?"

Murid-murid tampak saling pandang.Terdengar suara lagi dari Pak Guru," Ya, ceritakanlah satu hal terbesar yang terjadi dalam hidup kalian ..."Lagi-lagi semua murid saling pandang, hingga kemudian tangan Pak Guru itu menunjuk pada seorang murid." Nah, kamu yang berkacamata, adakah hal besar yang kamu temui ? Berbagilah dengan teman-temanmu ..."Sesaat, terlontar sebuah cerita dari si murid," Seminggu yang lalu, adalah saat-saat yang sangat besar buat saya.Orang tua saya, baru saja membelikan sebuah motor, persis seperti yang saya impikan selama ini."Matanya berbinar, tangannya tampak seperti sedang menunggang sesuatu. " Motor sport dengan lampu yang berkilat, pasti tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu !"

Pak Guru tersenyum. Tangannya menunjuk beberapa murid lainnya. Maka, terdengarlah beragam cerita dari murid-murid yang hadir. Ada anak yang baru saja mendapatkan sebuah mobil. Ada pula yang baru dapat melewatkan liburan di luar negeri. Sementara, ada murid yang bercerita tentang keberhasilannya mendaki gunung. Semuanya bercerita tentang hal-hal besar yang mereka temui dan mereka dapatkan. Hampir semua telah bicara,hingga terdengar suara dari arah belakang. " Pak Guru ... Pak, saya belum bercerita." Rupanya, ada seorang anak di pojok kanan yang luput dipanggil. Matanya berbinar. Mata yang sama seperti saat anak-anak lainnya bercerita tentang kisah besar yang mereka punya.

" Maaf, silahkan, ayo berbagi dengan kami semua," ujar Pak Guru kepada murid berambut lurus itu.
" Apa hal terbesar yang kamu dapatkan ?" ujar Pak Guru mengulang pertanyaannya kembali. " Keberhasilan terbesar buat saya, dan juga buat keluarga saya adalah ... saat nama keluarga kami tercantum dalam Buku Telepon yang baru terbit 3 hari yang lalu." Sesaat senyap. Tak sedetik, terdengar tawa-tawa kecil yang memenuhi ruangan kelas itu. Ada yang tersenyum simpul, terkikik-kikik, bahkan tertawa terbahak mendengar cerita itu.

Dari sudut kelas, ada yang berkomentar, " Ha ? Saya sudah sejak lahir menemukan nama keluarga saya di Buku Telepon. Buku Telepon ? Betapa menyedihkan ... hahaha ..." Dari sudut lain, ada pula yang menimpali, " Apa tak ada hal besar lain yang kamu dapat selain hal yang lumrah semacam itu ?" Lagi-lagi terdengar derai-derai tawa kecil yang masih memenuhi ruangan. Pak Guru berusaha menengahi situasi ini, sambil mengangkat tangan. " Tenang sebentar anak-anak, kita belum mendengar cerita selanjutnya. Silahkan teruskan, Nak ..."

Anak berambut lurus itu pun kembali angkat bicara. " Ya, memang itulah kebahagiaan terbesar yang pernah saya dapatkan. Dulu, Papa saya bukanlah orang baik-baik. Karenanya, kami sering berpindah-pindah rumah. Kami tak pernah menetap, karena selalu merasa di kejar polisi." Matanya tampak menerawang. Ada bias pantulan cermin dari kedua bola mata anak itu, dan ia melanjutkan." Tapi, kini Papa telah berubah. Dia telah mau menjadi Papa yang baik buat keluarga saya. Sayang, semua itu tidak butuh waktu dan usaha. Tak pernah ada Bank dan Yayasan yang mau memberikan pinjaman modal buat bekerja. Hingga setahun lalu, ada seseorang yang rela meminjamkan modal buat Papa saya.

Dan kini, Papa berhasil. Bukan hanya itu, Papa juga membeli sebuah rumah kecil buat kami. Dan kami tak perlu berpindah-pindah lagi." " Tahukah kalian, apa artinya kalau nama keluarga saya ada di Buku Telepon ? Itu artinya, saya tak perlu lagi merasa takut setiap malam dibangunkan Papa untuk terus berlari. Itu artinya, saya tak perlu lagi kehilangan teman-teman yang saya sayangi. Itu juga berarti, saya tak harus tidur di dalam mobil setiap malam yang dingin. Dan itu artinya, saya, dan juga keluarga saya, adalah sama derajatnya dengan keluarga-keluarga lainnya." Matanya kembali menerawang. Ada bulir bening yang mengalir. " Itu artinya, akan ada harapan-harapan baru yang saya dapatkan nanti ..."

Kelas terdiam. Pak Guru tersenyum haru. Murid-murid tertunduk. Mereka baru saja menyaksikan sebuah fragmen tentang kehidupan. Mereka juga baru saja mendapatkan hikmah tentang pencapaian besar, dan kebahagiaan.

Mereka juga belajar satu hal : " Bersyukurlah dan berbahagialah setiap kali kita mendengar keberhasilan orang lain.Sekecil apapun ...Sebesar apapun ..."

17:22

Overcome the Injustice

posted under by Arciel | Edit This
Ada
seorang anak perempuan kecil bernama Kinh, dia lahir di Vietnam utara
zaman dahulu. Orang tuanya berharap kelahiran seorang pria, namun yang
lahir adalah perempuan, walaupun demikian mereka tetap bahagia dan
memberikan nama kecil Kinh kepadanya. Kinh berarti "respek, yang
disanjung tinggi". Sebuah nama indah. Anda menghormati orang lain,
binatang, termasuk menghormati kehidupan tumbuhan dan mineral.
Menghormati kehidupan, menghormati kehidupanmu juga kehidupan mereka
dekat denganmu. Kinh seorang perempuan cilik cantik, seperti setangkai
bunga. Kinh sering bersama ibunya berkunjung ke wihara dekat desanya
untuk memberikan persembahan bunga teratai kepada Buddha dan
mendengarkan ceramah dharma yang diberikan oleh biksu. Kinh senang
mendengar dharma.

Kink punya niat besar untuk menjadi biksu,
karena dia melihat bahwa biksu hidup bahagia dan bisa menolong banyak
orang. Dia ingin menjadi biksu, karena berlatih, tinggal di wihara,
semua tampak begitu indah dan damai. Ia senang dengan sikap para biksu,
pergi dan datang dengan penuh kelembutan, menyentuh segala sesuatu
dengan penuh hormat. Ia begitu senang terhadap dharma walaupun ia masih
sangat kecil. Dia bertanya-tanya apakah bisa menjadi seorang biksu,
tentu saja mereka jawab tidak, tidak untuk perempuan. Ajaran Buddha
baru saja masuk ke Vietnam dan hanya ada wihara untuk biksu, mungkin
ada wihara untuk biksuni namun sangat langka. Pada waktu itu belum ada
pesawat terbang, tidak ada bus, jadi Kinh tidak terpikir untuk pergi ke
tempat lain. Dia tidak bahagia karena tidak bisa menjadi biksu hanya
karena dia seorang perempuan. Tampaknya dia frustasi, dia percaya bahwa
perempuan juga bisa berlatih seperti seorang biksu, hidup bahagia dalam
dharma seperti mereka.

Kinh tumbuh menjadi seorang perempuan
cantik dan orang tuanya ingin dia menikah dengan seorang pria di desa
tetangga. Pada zaman dahulu, pernikahan diatur oleh orang tua, dan anak
wajib menuruti, karena itu adalah kebijaksanaan orang tua, mereka tahu
siapa yang cocok buatmu. Harapan tertinggi orang tua adalah melihat
anak perempuanya menikah dengan seorang pria yang punya masa depan
cerah. Ada sebuah keluarga dari desa tetangga mengirim surat lamaran,
pria itu bernama Sung Tin yang berarti "cendekiawan kebaikan, murid
kebaikan", saya tidak tahu seberapa baik pria itu, seberapa cerah masa
depannya, tampaknya pria ini terlahir di keluarga cukup berada dan
status sosial tinggi. Tampaknya pria ini memiliki masa depan cerah,
karena dia adalah seorang murid yang baik dan mungkin saja telah lulus
ujian dan menjadi pegawai tinggi pemerintahan. Para pelajar zaman
dahulu sangat mendambakan kelulusan ujian dan dipilih menjadi menteri
oleh raja, atau ketua propinsi, dan sebagainya.

Kinh harus
menuruti kehendak orang tuanya untuk menjadi istri Sung Tin, walaupun
niat sesungguhnya ingin menjadi biksuni. Tidak ada jalan lain baginya,
waktu itu sangatlah berbeda dengan zaman sekarang ini, jika seorang
perempuan ingin menjadi biksuni, dia bisa saja menelepon dan mencari
tahu di mana ada wihara untuk biksuni, namun Kinh tidak punya
kesempatan untuk bertanya. Oleh karena itu, ia mengubur keingiannya
dalam-dalam dan menuruti kehendak orang tuanya untuk menikah dengan
Sung Tin. Tentu saja sang istri wajib menyokong pendidikan suaminya,
menjaga dan mendukung suaminya agar lulus ujian, itulah kewajiban
seorang istri pada zaman itu.

Keluarga Sung Tin cukup kaya, jadi
Kinh tidak perlu bekerja keras untuk menyokong suaminya. Namun perlu
anda ketahui bahwa banyak istri yang masih muda harus menjual beras di
pasar atau memanggul beras pada musim panas demi mendapatkan uang untuk
mendukung suaminya untuk sekolah. Tentu saja kondisi demikian tidak
terjadi pada Kinh karena dia menikah ke sebuah keluarga kaya. Jadi Kinh
hanya mengerjakan pekerjaan dapur, bersih-bersih, memasak, menjahit
pakaian, dan sebagainya. Kinh dididik oleh orang tuanya menjadi seorang
yang bisa merawat rumah dengan telaten. Suatu hari ketika Kinh sedang
menambal pakaian, suaminya sedang belajar di sisinya kemudian
ketiduran. Seorang pelajar berupaya untuk belajar sebanyak-banyaknya,
suaminya juga demikian, belajar siang dan malam hari, pada hari itu
suaminya belajar di sisinya dan ketiduran.

Ketika Kinh melihat
Sung Tin, dia melihat ada beberapa kumis yang tidak tercukur rapi,
dengan penuh cinta kasih ia menggunakan sepasang gunting mencoba untuk
meratakan cukurannya. Namun, tiba-tiba suaminya terbangun dan dalam
keadaan begitu, suaminya menyangka bahwa Kinh mencoba membunuhnya, oleh
karena itu ia berteriak. Saya tidak tahu seberapa dalam cinta mereka
berdua, seberapa dalam mereka saling mengerti, namun inilah yang
terjadi. Orang tuanya datang dan bertanya, "Mengapa engkau berteriak?"
Ia menjawab, "Ketika aku sedang ketiduran, ketika aku bangun, aku
melihat dia menggunakan sepasang gunting seperti itu, jadi saya tidak
tahu." Orang tuanya bilang, "Bisa saja seorang istri tidak setia akan
membunuh suaminya, karena jatuh hati pada pria lain, oleh karena itu
kami tidak ingin kamu sebagai menantu kami lagi. Kami akan mengirim
anda pulang ke rumah." Kinh mencoba untuk memberi penjelasan, namun
orang tua Sung Tin tidak percaya.

Ketika saya berlatih melihat
secara mendalam atas kejadian ini, saya melihat bahwa pengusiran itu
terjadi bukan karena kecurigaan, namun penyebabnya adalah kecemburuan.
Setelah menikah, pria itu selalu menghabiskan waktu bersama istrinya,
dan orang tuanya merasa kehilangan anaknya. Wanita yang baru masuk ke
keluarga itu telah memonopoli seluruh kehidupan anaknya, jadi
kecemburuan muncul dalam diri orang tuanya tanpa disadari. Jadi, mereka
menulis surat untuk keluarga Kinh dan meminta mereka untuk menjemput
balik anak perempuannya. Bayangkan betapa pedih derita keluarga itu.
Bagi satu sisi keluarga, anak perempuannya sangat sempurna, jujur,
setia. Ini sebuah ketidakadilan, dan ini merupakan ketidakadilan
pertama yang harus dia dera, terima, dan telan mentah-mentah. Akhirnya
mereka membawa pulang Kinh, mereka percaya bahwa Kinh tidak punya niat
untuk membunuh suaminya, ini sungguh sebuah kemalangan, dan mereka
bertiga sangat menderita.

[Gong]

Namun Kinh mendapat
pelajaran berharga dari kehidupan suami-istri. Dia melihat bahwa banyak
orang hidup dalam persepsi keliru. Bahkan dalam keluarga kaya
sekalipun, mereka saling menyebabkan penderitaan. Cinta Kinh dalam
keluarga itu tidak bisa membuat dirinya bahagia, tidak bisa membuat
dirinya mekar seperti bunga. Cinta seperti itu, kehidupan seperti itu
tidak memberikan kepuasaan kebutuhan hidup terdalamnya. Tiba-tiba niat
untuk menjadi biksuni kembali muncul. Dia menghabiskan beberapa malam
untuk berpkir bagaimana menjadi biksuni agar bisa berlatih di wihara,
agar dia bisa sepenuh hati terjun ke dalam dharma dan mendedikasikan
sepanjang hayatnya untuk berlatih dharma.

Suatu malam ia
memutuskan untuk menyamarkan dirinya menjadi seorang pria supaya bisa
diterima di sebuah wihara. Tentu saja dia tidak pergi ke wihara dekat
dengan desanya karena takut ada orang yang mengenalinya, kalau ketahuan
maka tentu saja akan ditentang oleh keluarganya. Oleh karena itu, dia
pergi sangat jauh karena cukup banyak wihara di tempat-tempat lain. Ia
berjalan kaki sekitar 100 mil agar tidak ketahuan orang tuanya. Dia
tidak memberitahu siapapun termasuk sahabatnya atas niatnya itu. Kalau
saja ia memberitahu sahabatnya, tentu saja orang tuanya akan pergi
mencari di setiap wihara dan membawanya pulang, dia akan ketahuan
seketika itu juga, dia menjaga ketat rahasia itu.

Suatu hari,
Kinh kabur dan menghilang dengan meniggalkan beberapa barangnya beserta
sepucuk surat yang berisi, "Ibunda dan Ayahnda, Aku punya sebuah niat
yang sangat aku cinta, aku akan mengerjakannya, mohon maafkan saya
karena tidak bisa tinggal di rumah untuk menjaga kalian berdua, karena
ketetapan hati saya sudah begitu kuat." Anda tahu bahwa tekad itu
adalah Bodhicitta, tekad besar untuk berlatih dharma dan menghadirkan
kebahagiaan bagi banyak orang, di banyak tempat orang menderita dan
terjebak dalam persepsi keliru, mereka melakukan ketidakadilan terhadap
sesamanya setiap hari. Ia tidak ingin mengulangi kehidupan yang sama
lagi, dia ingin menjadi biskuni. Setelah berjalan sekitar 100 mil, dia
menemukan sebuah wihara bernama Phap Van, "Awan dharma", tidak jauh
dari Hanoi.

Ia menyamar sebagai seorang pria, ia memohon untuk
bertemu dengan kepala wihara. Dia ikut mendengarkan ceramah dharma dan
sangat tersentuh, dia menunggu sampai semua orang pulang, ia mendekati
biksu itu dan mengutarakan niatnya untuk bergabung menjadi anggota
sangha monastik, samanera. Biksu itu pun minta dia duduk dan berkata,
"Anak muda, mengapa engkau ingin masuk anggota sangha?" Dia berkata,
"Oh guru, Aku melihat segala sesuatu tidak kekal, tidak ada yang bisa
berlangsung selamanya. Semua ini seperti mimpi, bagaikan kilat. Ketika
saya memandang ke langit, aku meliat awan berbentuk anjing, begitu
cepat awan itu berubah wujud, sekarang aku melihat awan itu sudah
berubah bentuknya menjadi pakaian. Semua orang mencoba untuk memperoleh
ketenaran, memperoleh keuntungan dari dunia ini dan tampaknya mereka
tidak bahagia. Aku ingin kebahagiaan sesungguhnya, aku percaya bahwa
hanya dharma bisa memberikan aku kedamaian dan kebahagiaan." Setelah
mengutakan alasan itu, biksu itu mengucapkan selamat kepadanya, "Anak
muda engkau telah mengerti ajaran tentang ketidakkekalan aku berharap
kamu bisa sukses dalam latihan biksu. Kinh diizinkan untuk menetap di
wihara itu, tiga bulan kemudian ia ditahbiskan menjadi samanera.

Nama dharmanya adalah Kinh Tam. Ia mempertahankan nama Kinh, "rasa
hormat" dan biksu itu menambahkan Tam "Intisari" di belakang namanya.
"Intisari rasa hormat". Semua muridku mendapat nama belakang
"Intisari", "Sumber paling inti", "Pintu hati (inti)" dan semua adalah
inti "hati", jadi mereka memiliki nama belakang sama.
Kinh Tam
selalu berlatih dengan baik dan rajin. Ketika belajar sutra, ia sangat
cepat mengerti dan memperoleh manfaat besar dalam kehidupan monastik.
Gurunya sangat mencintainya dan selalu percaya dia adalah seolah anak
laki-laki. Samanera muda itu sangat rupawan, walaupun dia menyamar
sebagai seorang pria, walaupun dia tidak mengenakan perhiasan emas atau
parfum dan sejenisnya, dia tampak begitu menawan, seorang samanera
rupawan, kondisi demikian membawa dampak bahaya baginya. Tidak jauh
dari wihara itu ada sebuah desa, ada seorang gadis dari keluarga kaya,
dia selalu datang ke wihara bersama ibunya setiap bulan gelap dan
penuh, mereka mempersembahkan bunga, dupa dan sebagainya. Gadis itu
melihat samanera muda itu, seketika itu juga dia jatuh cinta padanya.

Aku
tidak yakin jatuh cinta pada pandangan pertama gadis itu karena wajah
cantik samanera itu, wajahnya tentu saja menawan, namun ada sesuatu
lain di balik samanera muda itu, ia berlatih perhatian murni sangat
baik, kita memanggilnya "samanera", ia berlatih meditasi jalan, minum,
dan melakukan segala sesuatu dengan penuh perhatian, oleh karena itulah
ia tampak begitu rupawan. Mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat
tidak begitu rupawan, mereka selalu tergesa-gesa, lari ke sini dan ke
sana dengan begitu cepat, mereka tidak punya kebebasan sama sekali.
Wajah relaks, kedamaian yang tertampak di wajahmu tercerminkan dari
cara kamu melakukan segala sesuatu, apakah melalui cara kamu duduk,
berjalan dan oleh karena itulah gadis kaya itu langsung jatuh cinta
pada "samanera" itu pada pandangan pertama.

Gadis kaya itu
bernama Mau, Mau berarti "warna", warna apa? Saya tidak tahu, saya
tidak menyalahkan gadis itu karena dia jatuh cinta pada samanera itu
karena tampang rupawannya. Anda boleh menyebut dia "tampan", namun dia
lebih tampan daripada sekedar tampan, dia tampak menawan karena ada
kedamaian dalam hatinya. Jadi, jika ada seorang gadis yang jatuh cinta
pada biksu, ini tentu saja bukan hal yang luar biasa, hal demikian
selalu saja terjadi. Saya ingat, suatu ketika ada seorang pria datang
ke Plum Village dan bertanya kepada Sister Jina, "Anda begitu cantik,
mengapa anda mau menjadi biksuni? Sungguh sayang sekali." Setelah
berdiam sejenak dan berpikir, Sister Jina membalas, "Jika engkau
melihat bahwa saya ini cantik, itu dikarenakan saya sudah menjadi
biksuni, apabila saya tidak menjadi biksuni, mungkin saya tidak
secantik yang engkau lihat".

Saya rasa itu kejadian nyata,
ketika engkau menjadi biksu atau biksuni, engkau menjadi cantik dan
tampan. Engkau dihiasi oleh kedamaian, perhatian penuh kesadaran,
latihan dharma dan oleh sebab itulah engkau memancarkan sejenis
kecantikan yang sangat sulit ditemukan dalam masyarakat. Jadi, saya
tidak menyalahkan Mau sama sekali. Jika saya adalah Mau, mungkin saya
juga bisa jatuh cinta pada samanera itu. Mau mencoba untuk berbicara
dengan samanera itu, mencoba untuk mencari kesempatan untuk berbicara
berdua, namun samanera itu selalu menghindar, Mau sangat frustasi.
Kadang-kadang Mau mencoba untuk menebak ke mana samanera itu akan
pergi, dan menunggu dia di sana, namun ketika samanera itu melihat
gadis itu, ia langsung berubah haluan dan pergi. Mau mencoba berulang
kali menyatakan cintanya terhadap samanera muda itu, namun tekad dalam
hatinya sangat kuat untuk terus berlatih sebagai monastik.

Mau
sangat frustasi, dia tidak tahu bagaimana mentransformasikan perasaan
cintanya, dia tidak mengerti dharma, latihannya sangat dangkal, hanya
pergi ke wihara memberikan persembahan pisang, nasi pulut manis, bunga
dan bersujud di depan altar. Dia tidak tahu bagaimana berlatih untuk
menjaga nafsu keinginannya, kemarahannya, dan sebagainya. Apabila
engkau ke wihara, seharusnya engkau belajar dharma, engkau perlu
merubah dirimu dengan cara berlatih dharma, jangan seperti gadis Mau.
Cinta nafsunya begitu besar kepada samanera itu, dia begitu frustasi.
Suatu hari, ketika orang tuanya tidak ada di rumah, dia memanggil
pelayan pria masuk ke kamarnya, pelayan itu tinggal di rumahnya,
mengurus kebun dan pekerjaan rumah, pada malam itu bulan purnama, Mau
tidak sanggup menahan cinta nafsunya lagi, dia memanggil pelayannya dan
mengizinkannya untuk melakukan hubungan badan dengannya, kemudian Mau
membayangkan bahwa pelayan itu adalah samanera muda itu. Dalam kisah
sejarah disebutkan dengan jelas bahwa Mau setengah sadar, dia
membanyangkan pelayan itu sebagai samanera muda.

Kemalangan pun
telah terjadi, dan beberapa bulan kemudian Mau merasa dia telah hamil,
ia mencoba untuk menutupinya agar tidak ketahuan orang tuanya, namun
semakin lama semakin jelas, orang tuanya bertanya, "Anakku, apa yang
terjadi pada dirimu? Engkau tidak mau makan, engkau tidak mau makan
nasi, namun hanya makan makanan asam saja." Mau membalas, "Tidak ada
apa-apa, saya baik-baik saja, saya sehat, mungkin darah saya perlu
pemurnian." Beberapa hari kemudian tetua desa memanggil seluruh sesepuh
desa bersama orang tua Mau, seluruh desa sudah mengetahui bahwa seorang
gadis hamil tanpa suami. Mereka memanggil Mau dan bertanya siapa ayah
sang anak diperutnya.

Mau berpikir lama, pelayan itu sudah
diusir dari rumahnya, walaupun saya berkata jujur, tidak ada orang mau
percaya. Kepala desa bilang bahwa Mau harus bicara jujur. Seandainya
Mau menyebut samanera muda itu, maka dia punya kesempatan untuk
menjadikan dia sebagai suami resminya, jadi dia berpikir sebaiknya
bilang bahwa ia tidur bersama samanera Kinh Tam yang berlatih di Wihara
Phap Van. Jadi Mau bilang, "Para tetua, saya sering pergi ke wihara dan
jatuh cinta pada seorang samanera bernama Kinh tam. Kami berdua tak
sanggup membendung cinta yang begitu besar, oleh karena itu kami
melakukan kesalahan ini, mohon maafkan kami berdua"

Para sesepuh
desa memanggil seluruh warga wihara, biksu, samanera dan beberapa orang
yang tinggal di wihara itu. Ketika Kinh Tam tiba, dia diberitahu bahwa
Mau menyatakan dia telah tidur bersamanya sehingga sekarang sudah
hamil, dan para sesepuh desa bilang, "Kinh Tam, engkau samanera muda,
bertekad untuk menjadi biksu, mengapa engkau tidak berlatih peraturan
kamu dengan baik? Engkau tidur bersama gadis muda di desa. Apa lagi
yang bisa engkau jelaskan?" Samanera muda itu membalas, "Saya menjaga
peraturan saya dengan baik, saya tidak pernah tidur bersama siapapun di
desa ini, mohon pertimbangkan baik-baik, sangat tidak adil bagiku,
mohon pengertian, mohon berbelas kasih. Aku tidak pernah melakukan hal
begitu." Ketika sesepuh itu kembali konfirmasi kepada Mau, ia
bersikeras menyatakan bahwa samanera itu telah tidur bersamanya dan
akhirnya hamil. Samanera muda itu tetap menolak, "Saya seorang
samanera, berlatih ketat dalam peraturan, saya tidak pernah berbuat
demikian, Buddha, Dharma, dan Sangha menjadi saksi atas kejujuranku."

Akhirnya,
mereka harus menggunakan hukuman cambuk. "Engkau harus berbicara jujur,
kalau tidak engkau akan dicambuk 30 kali. Engkau harus mengaku telah
tidur bersama Mau." Mereka mengikat samanera muda itu di sebuah tiang
dan mencambuknya 30 kali. Hukuman seperti inilah yang dilakukan pada
zaman dahulu. Cambuk itu sangat keras dan darah pun mulai mengalir
membasahi jubahnya. Namun dia tetap tidak menyerah, dia tetap bilang
bahwa "Ini kekeliruan, aku tidak bersalah, mohon pertimbangkan ulang."
Mau melihat kejadian itu dan ia bilang, "30 cambuk cukup." Mau merasa
kasihan melihat samanera muda itu, karena dia orang kaya maka bisa
memohon keringanan. Samanera itu diizinkan pulang, ketika tiba di
wihara, orang lain ingin membantu merawat lukanya, namun dia bilang,
"Jangan, aku bisa menjaga diriku sendiri, saya bisa membalut lukaku,
aku akan merawat luka ini sendiri," karena dia tidak ingin orang lain
mengetahui rahasianya bahwa dia sebenarnya adalah seorang wanita, dia
bukanlah seorang pria.

Setelah merawat lukanya yang disebabkan
oleh cambukkan, dia pergi menghadap gurunya, kemudian gurunya bilang,
"Anakku, aku tidak tahu, aku tidak pasti, aku tidak tahu apakah engkau
telah berbuat demikian atau tidak, aku sungguh tidak tahu, jika engkau
telah berbuat seperti itu, aku harap engkau memulai lembaran baru
secara mendalam setiap hari, jika engkau tidak melakukannya, mohon
berlatih kesabaran (Kshanti Paramita) dan mencoba untuk menemukan suka
cita di dalam latihan." Ini yang disampaikan oleh gurunya. Oleh karena
kejadian itu, para komunitas wihara memohon Kinh Tam diasingkan ke
ruang dekat gerbang wihara dan tidak tinggal bersama monastik lainnya.
Anda tahu bahwa Kinh Tam diperintah untuk tinggal sendirian di ruang
terpisah, ruang dekat gerbang wihara sehingga masyarakat tidak bisa
menyalahkan sangha secara keseluruhan, karena dia berada dalam status
tersangka.

Seandainya saya adalah guru Kinh Tam, saya tidak tahu
apakah saya juga akan mengizinkan Kinh Tam untuk tetap tinggal bersama
dalam satu gedung dengan sangha atau tidak. Saya tidak tahu karena
zaman dahulu berbeda dengan zaman sekarang ini, orang zaman dahulu
penuh dengan kecurigaan dan sebagainya. Saya punya cukup pengertian
untuk mengetahui apakah murid saya melakukan sesuatu yang buruk atau
tidak karena saya mencoba untuk menjalin komunikasi baik dengan muridku
dan berlandaskan pengertian dalam, perhatian murni, saya bisa tahu
apakah murid saya melakukannya atau tidak, karena saya bukan menjadi
guru untuk menyalahkannya, namun saya akan berada di sana untuk
membantunya, jadi muridku akan berkata jujur kepadaku.

Ketika
bayi itu lahir, Mau tidak tahu harus berbuat apa. Dia tidak ingin orang
tahu bahwa bayi itu adalah bayi sang pelayan rumahnya, kalau orang lain
tahu, maka ini akan membawa reputasi buruk kepada keluarganya. Dia
lebih baik memilih mati daripada harus mengatakan bahwa dia telah tidur
dengan pelayan rumahnya. Kejadian seperti ini tidak sanggup dia hadapi,
demikian juga keluarganya tak sanggup menerima kenyataan itu. Engkau
telah berbuat kesalahan, engkau telah bertindak keliru, namun engkau
tak sanggup mengaku kesalahan itu dan hanya melemparkan tanggung jawab
kepada orang lain, hal demikian selalu terjadi setiap hari. Akhirnya
Mau membawa bayinya kepada Kinh Tam, dia membawa bayinya ke ruang dekat
gerbang wihara dan bilang, "Ini anakmu, terimalah" Kemudian Mau
meletakkan bayi itu di tangga dan pergi. Bayi itu terus menangis, Kinh
Tam merasa, "Bayi itu diletakkan di situ begitu saja, jika saya tidak
merawatnya, siapa lagi yang akan merawatnya? Saya berlatih belas kasih
dan pengertian, jika saya tidak menjaga dan melindunginya, siapa yang
mau melakukannya?" Jadi Kinh Tam bilang, "Biarkahlah aku yang
merawatnya!" dan dia memungut bayi itu.

[Gong]

Bayi itu kelaparan dan Kinh Tam tak punya susu, jadi dia
terpaksa membawa bayi itu ke desa dan mencoba untuk meminta susu.
Setiap hari dia pergi ke masyarakat dan meminta susu untuk bayi itu.
Ada orang yang sangat tersentuh oleh tindakannya dan ada pula mereka
yang bilang, "Bagaimana mungkin dia berlatih sebagai monastik apabila
ia melakukan hal demikian, tidur dengan wanita dan wanita itu
menyerahkan bayi kemudian dia harus menerima tanggung jawab merawat
bayi, mencoba untuk mengasuh anak itu sebagai ayah, bagaimana mungkin
seseorang berlatih dharma seperti itu?" Kinh Tam sedih karena
masyarakat tidak mengerti situasinya, sementara dia tetap berlatih
kesabaran karena dia merasa damai dan bersuka cita hidup dalam dharma.

Jika
dia ingin menyingkirkan ketidakadilan, tentu saja bukan tugas mudah,
kalau mau gampang, Kinh Tam tinggal mengumumkan bahwa dirinya adalah
seorang wanita, sesegera itu juga dia akan terbebas dari segala tuduhan
maupun penderitaan. Mengapa dia tidak melakukannya? Karena dia sangat
cinta dharma, dia ingin terus berlatih sebagai monastik, oleh karena
itu dia tidak mau menyerah begitu saja. Ketika engkau sangat senang
dengan sesuatu, engkau terdorong untuk mempertahankannya walaupun
ketidakadilan jatuh kepadamu. Dia dicambuk, salah paham, dituduh oleh
banyak orang, namun tetap bisa terus berjalan dengan penuh ketenangan,
kebahagiaan dalam monastik dan berlatih dharma.

Zaman sekarang
ini, banyak orang yang hidup bersama dalam sangha dan mereka berhadapan
dengan banyak kesulian dan ingin meninggalkan sangha. Mereka tidak
punya kesabaran besar seperti itu. Mereka tidak sanggup memikul beban
ketidakadilan yang jatuh padanya, karena tekad dan kebahagiaan mereka
tidak memadai. Oleh karena itu, kuncinya adalah apabila anda menghadapi
banyak masalah, maka cobalah untuk menghargainya segitu banyak, apakah
hatimu besar atau tidak. Apabila hatimu kecil, maka engkau tidak
sanggup memikul ketidakadilan yang jatuh padamu. Pengertian dan cinta
kasih dapat membantu hatimu tumbuh menjadi lebih besar dan lebih besar
lagi. Hal ini merupakan latihan empat hati tak terukur, cinta kasih,
belas kasih, suka cita, dan kesetaraan. Hanya karena hatimu bisa tumbuh
sebesar kosmos, perkembangan hatimu tidak akan pernah berujung. Jika
engkau seperti sungai, engkau bisa menerima banyak kotoran dan tidak
akan memberi efek apa pun bagimu, engkau bisa melakukan transformasi
kotoran itu dengan mudah.

Ceramah dharma sebelum ini, saya
meminjam perumpamaan yang diberikan oleh Buddha, jika engkau
mencelupkan kotoran pada stoples kecil yang berisi air, maka air itu
terpaksa harus dibuang, tidak ada orang yang bisa minum air itu, namun
apabila engkau mencelupkan sejumlah kotoran yang sama ke sebuah sungai
besar, masyarakat dari kota tetap bisa minum dari sungai itu, karena
sungai itu begitu sangat luas. Sungai itu tidak menderita hanya
gara-gara segumpal kecil kotoran, air dan lumpur di sungai itu hanya
membutuhkan satu malam untuk merubah segumpal kecil kotoran itu. Jadi,
jika hatimu sebesar sungai itu, engkau akan sanggup memikul seberapa
besar maupun kecil ketidakadilan dan engkau tetap bisa hidup dengan
kebahagiaan, dan engkau sanggup melakukan transformasi ketidakadilan
itu hanya dalam waktu satu malam. Jika engkau menderita, itu berarti
hatimu terlalu kecil. Ini merupakan cermaah tentang kesabaran dalam
ajaran Buddha. Engkau tidak mencoba-coba untuk memikulnya, engkau tidak
membekap penderitaanmu, engkau hanya berlatih untuk membesarkan hatimu sebesar sungai, kemudian engkau tidak perlu memikul dan juga tidak
perlu menderita.

Ada banyak cara untuk membesarkan hatimu,
caranya yaitu dengan melihat secara mendalam untuk memperoleh
pengertian. Pada saat engkau mengerti, belas kasihmu akan timbul, dan
belas kasih itu akan memperkenankanmu terus berjalan, tidak menderita,
tidak melihat orang lain dengan mata penuh kejengkelan dan kebencian.
Inilah praktik kesabaran yang sesungguhnya, engkau tidak perlu
menderita. Kesabaran dalam konteks ajaran Buddha adalah tidak mencoba
untuk menelan atau membekap ketidakadilan, namun mencoba untuk memeluk seluruh ketidakadilan dengan menggunakan hati besarmu. Jadi, setiap hati engkau harus pergi ke hatimu, sentuhlah hatimu, tanyalah padanya, "Hatiku, sayangku, apakah engkau sudah sedikit tumbuh lebih besar setelah satu malam berlalu?" Kita berkunjung ke hati setiap hari untuk
melihat apakah hati kita masih terus tumbuh tanpa batas, tumbuh menjadi
mulia. "Hati yang tumbuh" merupakah istilah yang digunakan oleh Buddha
ketika beliau mengajarkan tentang empat pikiran tak terukur.

Hati
belas kasihmu menjadi semakin besar, tumbuh semakin besar setiap waktu,
hati cinta kasihmu, hati suka citamu, hati kesetaraanmu. Oleh karena
itu paramita diterjemahkan sebagai "titik tertinggi, batas" yang juga
berarti tidak ada titik lebih tinggi atau melebihi batas ini, seperti
titik paling utara atau selatan yang disebut kutub utara atau kutub
selatan. Inilah titik tertinggi, inilah batasnya, namun bagaimana belas
kasih, cinta kasih, suka cita, dan kesetaraan kita bisa tahu bahwa
tidak ada batas, oleh karena itulah empat pikiran ini disebut empat
pikiran tak terukur, karena pikiran ini akan terus berkembang dan
berkembang tanpa berhenti. Mereka tumbuh membesar menjadi sebesar
sungai, kemudian menjadi samudra, kemudian terus tumbuh. Semakin besar
hatimu, maka kemampuan memikul dan menerima ketidakadilan tanpa
mengalami penderitaan.

Beberapa hari setelah Kinh Tam menerima
bayi itu, dia mencoba untuk merawat dan memberikan makan, kemudian
gurunya memanggilnya, "Anakku, mengapa engkau melakukan hal demikian?
Engkau tidak tidur dengan perempuan itu dan bayi ini bukanlah bayimu,
mengapa engkau menerimanya? Perbuatanmu tampaknya tidak memberi
reputasi baik bagi Sangha." Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan
seandainya saya sendiri adalah gurunya, saya tidak tahu harus bertindak
apa terhadap dia, takut marbat jatuh. Namun Kinh Tam bersujud di
hadapan gurunya dan menjawab, "Guruku, aku sudah belajar dari sutra
bahwa jika seseorang membangun stupa tujuh tingkat, dan jika seseorang
membangun seribu stupa, kebajikan yang tidak sepadan dengan perbuatan
menyelamatkan kehidupan makhluk hidup. Oleh karena itulah saya menerima
bayi ini dan mencoba untuk merawatnya." Inilah yang dijawab oleh
samanera muda itu kepada gurunya.

Samanera itu meninabobokan
bayi itu, kadang-kadang ada masyarakat yang mendengar suara lonceng
besar dan lantunan gatha, "Dengar-dengar, bunyi nan indah ini membawaku
kembali kepada diriku yang sesungguhnya. Semoga bunyi lonceng ini
menembus ke dalam kosmos.," dan sebagainya, dan pada kesempatan lain
masyarakat juga bisa mendengar, "Bayiku, tidurlah, tidurlah dengan
nyenyak." Dua hal demikian silih berganti terdengar. Saya percaya bahwa
samanera itu berlatih dengan tekun, menyanyikan nina bobo sebaik
melantunkan gatha, karena dua hal tersebut mengandung cita rasa dharma
di dalamnya.

Ketika anak laki-laki itu tumbuh cukup besar, Kinh
Tam sakit keras, dan dia tahu akan segera meninggal dunia dalam
beberapa hari ini, jadi dia menulis surat untuk orang tuanya dan dia
menulis alamat lengkap di surat itu, dia meminta anak laki-laki itu
pergi ke desa asalnya dan memberikan surat itu kepada orang tuanya
setelah ia meninggal dunia. Dia juga menulis sepucuk surat untuk
gurunya, jadi ada dua pucuk surat. Setelah Kinh Tam meninggal dunia,
anak laki-laki itu melakukan semua tugasnya, dia memberikan surat itu
kepada gurunya dan kemudian memohon izin untuk pergi ke desa asal Kinh
Tam dan memberikan surat untuk orang tuanya. Setelah membaca surat itu,
gurunya sangat terkejut dan meminta dua orang biksuni untuk memeriksa,
dan dua orang biksuni itu melaporkan bahwa samanera itu ternyata adalah
bukanlah laki-laki, namun seorang perempuan. Semua masyarakat sangat
terkejut, sang guru mengirim kabar kepada sesepuh desa, kepala desa
sangat terkejut juga. Mereka mengadakan pertemuan dan mengirim delegasi
ke wihara untuk melakukan verifikasi. Setelah proses verifikasi, para
sesepuh desa mengumumkan fakta sesungguhnya dan kemudian meminta
keluarga Mau untuk tanggung jawab.

Keluarga Mau harus membayar
denda sangat mahal kepada masyarakat, membiayai seluruh proses upacara
kematian di wihara. Kisah ini tercatat jelas dalam puisi bahasa
Vietnam, bahkan kita juga punya dua pucuk surat lengkap itu. Kinh Tam
memohon orang tuanya untuk memaafkannya, memohon maaf karena tidak
memberikan kabar atas keberadaanya, hanya karena ia ingin berlatih
dengan sungguh-sungguh sebagai seorang monastik, Kinh Tam mengisahkan
bahwa dia tidak hanya berlatih untuk dirinya sendiri saja namun ia
berlatih demi seluruh keluarga dan seluruh makhluk, dia berharap semua
orang memaklumi dan memaafkannya, kemudian memohon keluarganya untuk menerima anak lelaki itu dan menjadikannya bagian dari keluarga
walaupun dia anak yang diadopsi. Orang tua Kinh Tam menangis dan terus
menangis, sudah sekian tahun tidak ada kabar apa pun darinya, tiba-tiba
pagi itu menerima surat yang memberitakan bahwa ia telah tiada, mereka
tidak bisa menahan tangisannya, mereka bergegas berangkat ke Wihara
Phap Van, mereka juga memberitahu keluarga mantan suaminya, dan Sung
Tin ikut berangkat. Mereka menghabiskan beberap hari untuk tiba di
Wihara, mereka melihat umbul-mbul yang bertuliskan nama anaknya,
upacara kematian dengan prosesi sangat panjang, seluruh warga
masyarakat datang menghadiri upacara itu, mereka sangat tesentuh dan
tak bisa menyembunyikan tangisannya.

Apabila engkau berlatih,
berlatihlah seperti itu, cara yang sangat sempurna berlatih dengan
demikian. Walaupun ketidakadilan jatuh padamu, engkau tetap punya
energi untuk berlanjut di jalur itu. Engkau tidak menyalahkan orang
lain atas penderitaanmu. Berlatih seperti itu merupakan latihan nyata.
Ketika keluarga Kinh Tam tiba, mereka ikut dalam upacara kematian dan
diterima sebagai tamu luar biasa oleh wihara dan warga desa, setelah
itu seluruh warga masyarakat mengadakan upacara pelimpahan jasa kepada
Kihn Tam dan berlatih giai oan. Giai oan berarti "membuka simpul
ketidakadilan" dan dikisahkan pada akhir cerita itu bahwa Buddha muncul
dan menyatakan bahwa Kinh Tam telah mencapai pencerahan, dan sekarang
dia memanifestasikan diri sebagai Avalokiteshvara, namanya Quan Am Thi
Kinh. Dia merupakan Avalokiteshvara Vietnam dan hampir semua orang
Vietnam tahu kisah ini. Di wihara, bahkan banyak orang menghapal puisi
itu dan menjadikan teladan sempurna untuk berlatih kesabaran.

Ada
suatu waktu, kita semua merasa menjadi korban dari ketidakadilan, kita
begitu menderita, bahkan ketidakadilan yang disebabkan oleh orang yang
paling kita cintai, kita ingin menjernihkan ketidakadilan itu, bahkan
kita ingin berteriak. Kita ingin berlatih untuk membuka simpul yang
telah kita pikul sejak lama di masa lalu. Oleh sebab itu kita selalu
siap berbicara dengan orang lain tentang penderitaan dan ketidakadilan
yang kita pikul. Mungkin di dalam lubuk hati kita yang paling dalam,
kita ingin keadilan hadir dengan berbagai cara, mungkin kita
menggunakan cara militer sebagai solusi, kadang kita ingin menggunakan
senapan, kadang kita menggunakan kayu pemukul, kadang kita menggunakan angkatan bersenjata. Sebagai sebuah negara, apabila engkau merasa menjadi korban dari ketidakadilan, engkau tergoda untuk menggunakan kekuatan militer sebagai solusinya, namun engkau bukanlah sebuah negara, engkau condong menggunakan cara lain untuk membalas dendam, menggunakan kayu pemukul, membayar orang lain untuk memukul,
menggunakan senapan, atau engkau memanipulasi situasi, engkau
menggunakan pengaruh politik untuk memperbaiki ketidakadilan yang
terjadi padamu.

Namun, berdasarkan ajaran Buddha, engkau hanya
bisa meluruskan ketidakadilan dalam dirimu dan menembus ketidakadilan
dalam dirimu dengan cara melakukan transformasi ketidakadilan. Caranya
adalah dengan berlatih empat pikiran tak terukur, maitri yaitu cinta
kasih, karuna yaitu belas kasih, mudita yaitu suka cita, dan upeksha
yaitu kesetaraan, dan untuk menumbuhkan empat kualitas ini, engkau
perlu berlatih melihat secara mendalam, yaitu tenang (samatha) dan
melihat (vipasyana). Engkau mencoba sebaik-baiknya untuk tetap tenang
dan terkonsentrasikan. Engkau berupaya untuk melihat secara mendalam
sifat asli penderitaan, dan tiba-tiba pengertian bisa hadir dan hatimu
mulai membesar. Tiba-tiba engkau merasa ada kekuatan untuk memikul
ketidakadilan, engkau bisa tetap bertahan hidup, engkau bisa hidup
bersama ketidakadilan, dan engkau bisa mentransformasi ketidakadilan.

Buddha
bersabda bahwa apabila engkau terpanah oleh sebuah panah, maka engkau
menderita, namun apabila panah kedua ke titik yang sama, maka engkau
tidak hanya menderita dua kali lipat, tapi bisa jadi tiga puluh kali
lipat lebih sakit. Ketika engkau menderita dan engkau akan marah,
penderitaanmu tidak hanya berlipat ganda, tapi bisa berlipat tiga puluh
kali lebih besar. Engkau memperbesar penderitaanmu melalui
ketidaktahuan, kemarahan, frustasi, dan kebencianmu. Mengapa engkau
begitu menderita? Mengapa engkau rela menerima panah kedua? Ketika
panah pertama, apabila engkau punya latihan dan pengertian, engkau
tidak akan begitu menderita dan engkau bisa mencabut panah itu dengan
cepat, namun ketidaktahuan, kurang latihan, kita menjadi marah, benci,
putus asa menguasai kita, oleh karena itulah penderitaan sungguh tak
bisa ditahan. Ajaran Buddha ini tercatat dalam Samyutta Nikaya
(Samyutta Nikaya: 4: 210) tentang panah pertama dan kedua, panah kedua
adalah ketidaktahuan.

Pada hari sebelumnya kita menggunakan
perumpamaan seorang anak kecil yang merobek kupu-kupu, anak kecil itu
tidak tahu bahwa dia sedang menyebabkan begitu banyak ketidakadilan dan
penderitaan pada kupu-kupu itu. Anak kecil itu hanya ingin
bermain-main, dia tidak tahu bahwa merobek kupu-kupu akan menyebabkan
derita besar bagi serangga itu. Anak kecil itu berbuat demikian karena
ketidaktahuannya, ketika kita memberitahu kepada anak kecil itu,
"Sayangku, tahukah kamu kalau kupu-kupu kecil ini tidak bisa pulang
bertemu orang tuanya? Bagaimana kalau kamu tidak bisa pulang ke rumah
bertemu orang tuamu malam ini? Orang tuamu akan sangat kuatir." Apabila
engkau memberitahu anak kecil dengan cara demikian, maka lain kali
mereka tidak akan merobek serangga lagi dengan kedua tangganya. Anak
kecil akan bisa melindungi kehidupan. "Tuhan, maafkanlah mereka karena
mereka tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan." Manusia menyebabkan
manusia lain menerita, mereka tidak tahu apa yang sedang mereka
lakukan, mereka melakukan itu atas dasar kemarahan dan kebencian,
mereka tidak punya kebahagiaan dalam dirinya, mereka terbungkus oleh
ketidaktahuan, kebencian, kemarahan, oleh karena itu mereka membuat
orang disekelilingnya menderita. Kita juga bisa melakukan hal demikian
namun kita tidak sadar.

19:40

The Doll

posted under by Arciel | Edit This
* Hari terakhir sebelum Natal, aku terburu-buru ke supermarket untuk
membeli
hadiah2 yang semula tidak direncanakan untuk dibeli. Ketika melihat
orang
banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan waktu selamanya, sedang
masih
banyak tempat yang harus kutuju" "Natal benar2 semakin menjengkelkan
dari
tahun ke tahun. Kuharap aku bisa berbaring, tidur, dan hanya terjaga
setelahnya" Walau demikian, aku tetap berjalan menuju bagian mainan,
dan di
sana aku mulai mengutuki harga-harga, berpikir apakah sesudahnya semua
anak
akan sungguh-sungguh bermain dengan mainan yang mahal.

* Saat sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak laki2 berusia
sekitar
5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut boneka itu dan
terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk siapa boneka itu. Anak
itu
mendekati seorang perempuan tua di dekatnya: 'Nenek, apakah engkau
yakin aku
tidak punya cukup uang?'

Perempuan tua itu menjawab: 'Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup uang
untuk
membeli boneka ini, sayang.' Kemudian Perempuan itu meminta anak itu
menunggu di sana sekitar 5 menit sementara ia berkeliling ke tempat
lain.
Perempuan itu pergi dengan cepat. Anak laki2 itu masih menggenggam
boneka
itu di tangannya.

* Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada siapa dia
ingin memberikan
boneka itu.'Ini adalah boneka yang paling disayangi adik perempuanku
dan dia
sangat menginginkannya pada Natal ini. Ia yakin Santa Claus akan
membawa
boneka ini untuknya' Aku menjawab mungkin Santa Claus akan membawa
boneka
untuk adiknya, dan supaya ia jangan khawatir. Tapi anak laki2 itu
menjawab
dengan sedih 'Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini ke
tempat
dimana adikku berada saat ini.

Aku harus memberikan boneka ini kepada mama sehingga mama dapat
memberikan
kepadanya ketika mama sampai di sana.' Mata anak laki2 itu begitu sedih
ketika mengatakan ini 'Adikku sudah pergi kepada Tuhan.

Papa berkata bahwa mama juga segera pergi menghadap Tuhan, maka kukira
mama
dapat membawa boneka ini untuk diberikan kepada adikku.' Jantungku
seakan
terhenti.

* Anak laki2 itu memandangku dan berkata: 'Aku minta papa untuk
memberitahu
mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk menunggu hingga aku
pulang dari supermarket.' Kemudian ia menunjukkan fotonya yang sedang
tertawa. Kamudian ia berkata: 'Aku juga ingin mama membawa foto ini
supaya
tidak lupa padaku. Aku cinta mama dan kuharap ia tidak meninggalkan aku
tapi
papa berkata mama harus pergi bersama adikku.'

Kemudian ia memandang dengan sedih ke boneka itu dengan diam.

* Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil beberapa catatan dan
berkata
kepada anak itu. 'Bagaimana jika kita periksa lagi, kalau2 uangmu
cukup?'
'Ok' katanya. 'Kuharap punyaku cukup.' Kutambahkan uangku pada uangnya
tanpa
setahunya dan kami mulai menghitung. Ternyata cukup untuk boneka itu,
dan
malah sisa. Anak itu berseru: 'Terima Kasih

Tuhan karena memberiku cukup uang' Kemudian ia memandangku dan
menambahkan:
'Kemarin sebelum tidur aku memohon kepada Tuhan untuk memastikan bahwa
aku
memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini sehingga mama bisa
memberikannya kepada adikku. DIA mendengarkan aku.

Aku juga ingin uangku cukup untuk membeli mawar putih buat mama, tapi
aku
tidak berani memohon terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA memberiku
cukup
untuk membeli boneka dan mawar putih.' 'Kau tahu, mamaku suka mawar
putih'

* Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku berlalu dengan
keretaku.
Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati yang sepenuhnya berbeda dari
saat
memulainya. Aku tidak dapat menghapus anak itu dari pikiranku. Kemudian
aku
ingat artikel di koran lokal 2 hari yang lalu, yang menyatakan seorang
pria
mengendarai truk dalam kondisi mabuk dan menghantam sebuah mobil yang
berisi
seorang wanita muda dan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu meninggal
seketika, dan ibunya dalam kondisi kritis. Keluarganya harus memutuskan
apakah harus mencabut alat penunjang kehidupan, karena wanita itu tidak
akan
mampu keluar dari kondisi koma. Apakah mereka keluarga dari anak laki2
ini?

* 2 hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca di koran
bahwa
wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat menghentikan diriku dan
pergi
membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke rumah duka tempat
jenasah
dari wanita muda itu diperlihatkan kepada orang2 untuk memberikan
penghormatan terakhir sebelum penguburan. Wanita itu di sana, dalam
peti
matinya, menggenggam setangkai mawar putih yang cantik dengan foto anak
laki2 dan boneka itu ditempatkan di atas dadanya. Kutinggalkan tempat
itu
dengan menangis, merasa hidupku telah berubah selamanya. Cinta yang
dimiliki
anak laki2 itu kepada ibu dan adiknya, sampai saat ini masih sulit
untuk
dibayangkan. Dalam sekejap mata, seorang pria mabuk mengambil semuanya
dari
anak itu.