17:38
Imperfect Wall
posted under
by Arciel
|
Edit This
Setelah kami membeli tanah untuk vihara kami di tahun 1983, kami
kehabisanuang.
Kami berhutang. Belum ada bangunan di atas tanah, gubuk pun tidak. Pada
minggu-minggu pertama, kami tidur di atas pintu tua yang dibeli dengan
murah dari tempat loak; kami menaruhnya di atas tumpukan batu bata di
setiap sudutnya untuk meninggikan posisinya di atas tanah. (Tidak ada
matras, tentunya kami adalah bhikkhu hutan).
Kepala vihara mempunyai pintu terbaik, yang rata. Pintu saya bergelombang
dengan lubang di tengahnya tempat pegangan pintu. Saya senang karena
pegangan pintunya telah dicopot, tapi itu meninggalkan sebuah lubang di
tengah-tengah pintu pembaringan saya. Saya bercanda dengan mengatakan
sekarang saya tidak perlu meninggalkan
pembaringan untuk ke toilet! Namun sejujurnya, angin dingin masuk melalui
lubang tersebut. Saya tidak bisa tidur beberapa malam itu.
Kami hanyalah bhikkhu miskin yang membutuhkan bangunan. Kami tidak bisa
membayar tukang, bahan-bahan bangunannya sudah cukup mahal. Jadi saya
belajar untuk bertukang: bagaimana menyiapkan fondasi, menyemen dengan
batu bata, membangun atap, langit-langit semuanya. Saya dulunya ahli
fisika teoritis dan guru sekolah tinggi (SMU) sewaktu masih umat awam,
tidak terbiasa kerja kasar.
Setelah beberapa tahun, saya sudah cukup mahir dalam bertukang, bahkan
saya menyebut rekan-rekan bhikkhu sebagai BBC (Buddhist Building Company -
Perusahaan Bangunan Buddhis, pent). Tapi saat saya memulainya, pekerjaan
itu sangat sulit.
Kelihatannya memang mudah untuk menembok dengan sebuah batu bata: seonggok
semen di bawah, ketok sini, ketok sana . Sewaktu saya mencoba
melakukannya,
saya ketok satu sisi untuk meratakannya, sisi yang lain jadi menaik. Lalu
saya ketok sisi tersebut, batu batanya tidak lagi lurus. Setelah saya
ratakan kembali, sisi yang pertama kembali menjadi terlalu tinggi.
Coba saja sendiri!
Sebagai bhikkhu, saya mempunyai kesabaran dan waktu yang banyak, sebanyak
yang saya butuhkan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna,
tidak perduli berapa lamanya saya bekerja. Akhirnya, saya menyelesaikan
tembok saya yang pertama dan berdiri di depan untuk mengaguminya. Saat
itulah saya menyadari celaka! saya melupakan dua batu bata. Semua batu
bata terpasang sempurna dengan lurus, tapi yang dua ini terpasang miring.
Kelihatan sangat jelek. Merusak pemandangan ke seluruh tembok. Kelihatan
kacau.
Saat itu, semennya sudah mengeras, tidak bisa lagi mencabut dua batu bata
tersebut, maka saya bertanya kepada kepala vihara apakah saya bisa
merobohkan saja dinding tersebut dan memulai dari awal kalau perlu,
meledakkannya. Saya membuat kesalahan dan sangat malu. Kepala vihara
berkata tidak perlu, temboknya dibiarkan saja.
Sewaktu saya mengajak pengunjung pertama untuk melihat-lihat pembangunan
vihara, saya selalu berusaha mencoba menghindari mereka untuk melihat
tembok tersebut.
Saya tidak suka orang-orang melihatnya. Pada suatu hari, sekitar tiga atau
empat bulan setelah saya membuat tembok tersebut, saya mengantarkan
seorang pengunjung dan dia melihatnya.
Tembok yang indah, katanya dengan santai.
Pak, saya menjawab dengan kaget, Apakah kacamata anda ketinggalan di
mobil?
Apakah mata anda tidak beres? Tidakkah anda melihat dua batu bata yang
merusak keseluruhan tembok itu?
Apa yang dikatakannya kemudian mengubah sudut pandang saya secara
keseluruhan mengenai tembok itu, mengenai diri saya dan mengenai berbagai
aspek-aspek lain mengenai hidup. Dia berkata, Ya. Saya bisa melihat dua
batu bata miring itu.
Tapi saya juga melihat 998 batu bata yang terpasang sempurna di sini.
Saya tersadar. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan ini, saya bisa
melihat batu bata- batu bata yang lain, selain dua batu bata tersebut. Di
atas, bawah, kiri dan kanan batubata tersebut adalah batu bata yang
terpasang dengan baik, sempurna.
Lagipula, batu bata yang terpasang sempurna jauh lebih, lebih banyak
daripada dua batu bata yang jelek tadi. Sebelumnya, mata saya akan
berfokus hanya kepada dua kesalahan tadi.
Saya menjadi buta terhadap hal-hal lainnya.
Itulah sebabnya mengapa saya tidak tahan melihat tembok itu, atau
memperlihatkannya kepada orang lain. Itulah sebabnya mengapa saya ingin
menghancurkannya. Sekarang saya dapat melihat batu bata lain yang baik,
temboknya juga tidaklah terlalu jelek.
Buktinya satu pengunjung berkata, Tembok yang indah. Tembok itu masih ada
di sana sampai sekarang, dua puluh tahun kemudian, tapi saya sudah lupa di
mana tepatnya kedua batu bata yang terpasang miring itu. Saya benar-benar
tidak dapat melihatnya lagi.
-Berapa orang yang mengakhiri hubungan cinta atau bahkan bercerai karena
apa yang mereka lihat pada pasangannya hanyalah dua batu bata jelek?
-Berapa banyak yang menjadi depresi bahkan melakukan bunuh diri, karena
yang bisa mereka lihat pada dirinya hanyalah dua batu bata jelek.
-Sebenarnya, ada banyak, banyak sekali batu bata baik yang terpasang
sempurna di atas, bawah, kiri dan kanannya tapi seringkali kita tidak
bisa melihatnya.
-Namun, setiap kali kita memandang, mata kita hanya berfokus pada
kesalahan.
Hanya kesalahan yang terlihat, dan kita merasa hanya kesalahan yang ada,
maka kita ingin untuk menghancurkannya. Dan kadang, menyedihkan, kita
benar-benar menghancurkan tembok yang indah tersebut.
Kita semua memiliki dua batu bata jelek, tapi batu bata-batu bata yang
terpasang sempurna di diri kita jauh lebih banyak daripada kesalahannya.
Sekali kita bisa melihat ini, keadaan sebenarnya tidaklah terlihat terlalu
buruk. Tidak hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan
kesalahan-kesalahan kita, namun kita juga bisa menikmati
hidup bersama dengan pasangan.
Mungkin ini adalah kabar buruk bagi pengacara peceraian, tapi ini adalah
kabar baik bagi anda.
Saya telah menceritakan hal ini berkali-kali. Pada suatu kesempatan,
seorang pekerja bangunan datang dan menceritakan sebuah rahasia
profesinya.
Kami pekerja bangunan selalu membuat kesalahan, katanya, tapi kami
mengatakan kepada klien bahwa ini adalah fitur unik yang tidak terdapat di
rumah lain pada perumahan yang sejenis.
Dan kami menagih bayaran extra ribuan dollar untuk itu!
Jadi fitur unik di rumah anda mungkin berawal dari sebuah kesalahan. Sama
halnya, apa yang anda sangka sebagai kesalahan pada diri anda, pasangan
anda, atau dalam hidup secara umum, dapat menjadi fitur unik, memperkaya
waktu anda di sini, sewaktu anda berhenti berfokus padanya.
"The best way to cheer yourself up is to try to cheer somebody else up."
kehabisanuang.
Kami berhutang. Belum ada bangunan di atas tanah, gubuk pun tidak. Pada
minggu-minggu pertama, kami tidur di atas pintu tua yang dibeli dengan
murah dari tempat loak; kami menaruhnya di atas tumpukan batu bata di
setiap sudutnya untuk meninggikan posisinya di atas tanah. (Tidak ada
matras, tentunya kami adalah bhikkhu hutan).
Kepala vihara mempunyai pintu terbaik, yang rata. Pintu saya bergelombang
dengan lubang di tengahnya tempat pegangan pintu. Saya senang karena
pegangan pintunya telah dicopot, tapi itu meninggalkan sebuah lubang di
tengah-tengah pintu pembaringan saya. Saya bercanda dengan mengatakan
sekarang saya tidak perlu meninggalkan
pembaringan untuk ke toilet! Namun sejujurnya, angin dingin masuk melalui
lubang tersebut. Saya tidak bisa tidur beberapa malam itu.
Kami hanyalah bhikkhu miskin yang membutuhkan bangunan. Kami tidak bisa
membayar tukang, bahan-bahan bangunannya sudah cukup mahal. Jadi saya
belajar untuk bertukang: bagaimana menyiapkan fondasi, menyemen dengan
batu bata, membangun atap, langit-langit semuanya. Saya dulunya ahli
fisika teoritis dan guru sekolah tinggi (SMU) sewaktu masih umat awam,
tidak terbiasa kerja kasar.
Setelah beberapa tahun, saya sudah cukup mahir dalam bertukang, bahkan
saya menyebut rekan-rekan bhikkhu sebagai BBC (Buddhist Building Company -
Perusahaan Bangunan Buddhis, pent). Tapi saat saya memulainya, pekerjaan
itu sangat sulit.
Kelihatannya memang mudah untuk menembok dengan sebuah batu bata: seonggok
semen di bawah, ketok sini, ketok sana . Sewaktu saya mencoba
melakukannya,
saya ketok satu sisi untuk meratakannya, sisi yang lain jadi menaik. Lalu
saya ketok sisi tersebut, batu batanya tidak lagi lurus. Setelah saya
ratakan kembali, sisi yang pertama kembali menjadi terlalu tinggi.
Coba saja sendiri!
Sebagai bhikkhu, saya mempunyai kesabaran dan waktu yang banyak, sebanyak
yang saya butuhkan. Saya pastikan setiap batu bata terpasang sempurna,
tidak perduli berapa lamanya saya bekerja. Akhirnya, saya menyelesaikan
tembok saya yang pertama dan berdiri di depan untuk mengaguminya. Saat
itulah saya menyadari celaka! saya melupakan dua batu bata. Semua batu
bata terpasang sempurna dengan lurus, tapi yang dua ini terpasang miring.
Kelihatan sangat jelek. Merusak pemandangan ke seluruh tembok. Kelihatan
kacau.
Saat itu, semennya sudah mengeras, tidak bisa lagi mencabut dua batu bata
tersebut, maka saya bertanya kepada kepala vihara apakah saya bisa
merobohkan saja dinding tersebut dan memulai dari awal kalau perlu,
meledakkannya. Saya membuat kesalahan dan sangat malu. Kepala vihara
berkata tidak perlu, temboknya dibiarkan saja.
Sewaktu saya mengajak pengunjung pertama untuk melihat-lihat pembangunan
vihara, saya selalu berusaha mencoba menghindari mereka untuk melihat
tembok tersebut.
Saya tidak suka orang-orang melihatnya. Pada suatu hari, sekitar tiga atau
empat bulan setelah saya membuat tembok tersebut, saya mengantarkan
seorang pengunjung dan dia melihatnya.
Tembok yang indah, katanya dengan santai.
Pak, saya menjawab dengan kaget, Apakah kacamata anda ketinggalan di
mobil?
Apakah mata anda tidak beres? Tidakkah anda melihat dua batu bata yang
merusak keseluruhan tembok itu?
Apa yang dikatakannya kemudian mengubah sudut pandang saya secara
keseluruhan mengenai tembok itu, mengenai diri saya dan mengenai berbagai
aspek-aspek lain mengenai hidup. Dia berkata, Ya. Saya bisa melihat dua
batu bata miring itu.
Tapi saya juga melihat 998 batu bata yang terpasang sempurna di sini.
Saya tersadar. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan ini, saya bisa
melihat batu bata- batu bata yang lain, selain dua batu bata tersebut. Di
atas, bawah, kiri dan kanan batubata tersebut adalah batu bata yang
terpasang dengan baik, sempurna.
Lagipula, batu bata yang terpasang sempurna jauh lebih, lebih banyak
daripada dua batu bata yang jelek tadi. Sebelumnya, mata saya akan
berfokus hanya kepada dua kesalahan tadi.
Saya menjadi buta terhadap hal-hal lainnya.
Itulah sebabnya mengapa saya tidak tahan melihat tembok itu, atau
memperlihatkannya kepada orang lain. Itulah sebabnya mengapa saya ingin
menghancurkannya. Sekarang saya dapat melihat batu bata lain yang baik,
temboknya juga tidaklah terlalu jelek.
Buktinya satu pengunjung berkata, Tembok yang indah. Tembok itu masih ada
di sana sampai sekarang, dua puluh tahun kemudian, tapi saya sudah lupa di
mana tepatnya kedua batu bata yang terpasang miring itu. Saya benar-benar
tidak dapat melihatnya lagi.
-Berapa orang yang mengakhiri hubungan cinta atau bahkan bercerai karena
apa yang mereka lihat pada pasangannya hanyalah dua batu bata jelek?
-Berapa banyak yang menjadi depresi bahkan melakukan bunuh diri, karena
yang bisa mereka lihat pada dirinya hanyalah dua batu bata jelek.
-Sebenarnya, ada banyak, banyak sekali batu bata baik yang terpasang
sempurna di atas, bawah, kiri dan kanannya tapi seringkali kita tidak
bisa melihatnya.
-Namun, setiap kali kita memandang, mata kita hanya berfokus pada
kesalahan.
Hanya kesalahan yang terlihat, dan kita merasa hanya kesalahan yang ada,
maka kita ingin untuk menghancurkannya. Dan kadang, menyedihkan, kita
benar-benar menghancurkan tembok yang indah tersebut.
Kita semua memiliki dua batu bata jelek, tapi batu bata-batu bata yang
terpasang sempurna di diri kita jauh lebih banyak daripada kesalahannya.
Sekali kita bisa melihat ini, keadaan sebenarnya tidaklah terlihat terlalu
buruk. Tidak hanya kita bisa berdamai dengan diri sendiri, termasuk dengan
kesalahan-kesalahan kita, namun kita juga bisa menikmati
hidup bersama dengan pasangan.
Mungkin ini adalah kabar buruk bagi pengacara peceraian, tapi ini adalah
kabar baik bagi anda.
Saya telah menceritakan hal ini berkali-kali. Pada suatu kesempatan,
seorang pekerja bangunan datang dan menceritakan sebuah rahasia
profesinya.
Kami pekerja bangunan selalu membuat kesalahan, katanya, tapi kami
mengatakan kepada klien bahwa ini adalah fitur unik yang tidak terdapat di
rumah lain pada perumahan yang sejenis.
Dan kami menagih bayaran extra ribuan dollar untuk itu!
Jadi fitur unik di rumah anda mungkin berawal dari sebuah kesalahan. Sama
halnya, apa yang anda sangka sebagai kesalahan pada diri anda, pasangan
anda, atau dalam hidup secara umum, dapat menjadi fitur unik, memperkaya
waktu anda di sini, sewaktu anda berhenti berfokus padanya.
"The best way to cheer yourself up is to try to cheer somebody else up."
Comment Form under post in blogger/blogspot