19:40

The Doll

posted under by Arciel | Edit This
* Hari terakhir sebelum Natal, aku terburu-buru ke supermarket untuk
membeli
hadiah2 yang semula tidak direncanakan untuk dibeli. Ketika melihat
orang
banyak, aku mulai mengeluh: "Ini akan makan waktu selamanya, sedang
masih
banyak tempat yang harus kutuju" "Natal benar2 semakin menjengkelkan
dari
tahun ke tahun. Kuharap aku bisa berbaring, tidur, dan hanya terjaga
setelahnya" Walau demikian, aku tetap berjalan menuju bagian mainan,
dan di
sana aku mulai mengutuki harga-harga, berpikir apakah sesudahnya semua
anak
akan sungguh-sungguh bermain dengan mainan yang mahal.

* Saat sedang mencari-cari, aku melihat seorang anak laki2 berusia
sekitar
5 tahun, memeluk sebuah boneka. Ia terus membelai rambut boneka itu dan
terlihat sangat sedih. Aku bertanya-tanya untuk siapa boneka itu. Anak
itu
mendekati seorang perempuan tua di dekatnya: 'Nenek, apakah engkau
yakin aku
tidak punya cukup uang?'

Perempuan tua itu menjawab: 'Kau tahu bahwa kau tidak punya cukup uang
untuk
membeli boneka ini, sayang.' Kemudian Perempuan itu meminta anak itu
menunggu di sana sekitar 5 menit sementara ia berkeliling ke tempat
lain.
Perempuan itu pergi dengan cepat. Anak laki2 itu masih menggenggam
boneka
itu di tangannya.

* Akhirnya, aku mendekati anak itu dan bertanya kepada siapa dia
ingin memberikan
boneka itu.'Ini adalah boneka yang paling disayangi adik perempuanku
dan dia
sangat menginginkannya pada Natal ini. Ia yakin Santa Claus akan
membawa
boneka ini untuknya' Aku menjawab mungkin Santa Claus akan membawa
boneka
untuk adiknya, dan supaya ia jangan khawatir. Tapi anak laki2 itu
menjawab
dengan sedih 'Tidak, Santa Claus tidak dapat membawa boneka ini ke
tempat
dimana adikku berada saat ini.

Aku harus memberikan boneka ini kepada mama sehingga mama dapat
memberikan
kepadanya ketika mama sampai di sana.' Mata anak laki2 itu begitu sedih
ketika mengatakan ini 'Adikku sudah pergi kepada Tuhan.

Papa berkata bahwa mama juga segera pergi menghadap Tuhan, maka kukira
mama
dapat membawa boneka ini untuk diberikan kepada adikku.' Jantungku
seakan
terhenti.

* Anak laki2 itu memandangku dan berkata: 'Aku minta papa untuk
memberitahu
mama agar tidak pergi dulu. Aku meminta papa untuk menunggu hingga aku
pulang dari supermarket.' Kemudian ia menunjukkan fotonya yang sedang
tertawa. Kamudian ia berkata: 'Aku juga ingin mama membawa foto ini
supaya
tidak lupa padaku. Aku cinta mama dan kuharap ia tidak meninggalkan aku
tapi
papa berkata mama harus pergi bersama adikku.'

Kemudian ia memandang dengan sedih ke boneka itu dengan diam.

* Aku meraih dompetku dengan cepat dan mengambil beberapa catatan dan
berkata
kepada anak itu. 'Bagaimana jika kita periksa lagi, kalau2 uangmu
cukup?'
'Ok' katanya. 'Kuharap punyaku cukup.' Kutambahkan uangku pada uangnya
tanpa
setahunya dan kami mulai menghitung. Ternyata cukup untuk boneka itu,
dan
malah sisa. Anak itu berseru: 'Terima Kasih

Tuhan karena memberiku cukup uang' Kemudian ia memandangku dan
menambahkan:
'Kemarin sebelum tidur aku memohon kepada Tuhan untuk memastikan bahwa
aku
memiliki cukup uang untuk membeli boneka ini sehingga mama bisa
memberikannya kepada adikku. DIA mendengarkan aku.

Aku juga ingin uangku cukup untuk membeli mawar putih buat mama, tapi
aku
tidak berani memohon terlalu banyak kepada Tuhan. Tapi DIA memberiku
cukup
untuk membeli boneka dan mawar putih.' 'Kau tahu, mamaku suka mawar
putih'

* Beberapa menit kemudian, neneknya kembali dan aku berlalu dengan
keretaku.
Kuselesaikan belanjaku dengan suasana hati yang sepenuhnya berbeda dari
saat
memulainya. Aku tidak dapat menghapus anak itu dari pikiranku. Kemudian
aku
ingat artikel di koran lokal 2 hari yang lalu, yang menyatakan seorang
pria
mengendarai truk dalam kondisi mabuk dan menghantam sebuah mobil yang
berisi
seorang wanita muda dan seorang gadis kecil. Gadis kecil itu meninggal
seketika, dan ibunya dalam kondisi kritis. Keluarganya harus memutuskan
apakah harus mencabut alat penunjang kehidupan, karena wanita itu tidak
akan
mampu keluar dari kondisi koma. Apakah mereka keluarga dari anak laki2
ini?

* 2 hari setelah pertemuan dengan anak kecil itu, kubaca di koran
bahwa
wanita muda itu meninggal dunia. Aku tak dapat menghentikan diriku dan
pergi
membeli seikat mawar putih dan kemudian pergi ke rumah duka tempat
jenasah
dari wanita muda itu diperlihatkan kepada orang2 untuk memberikan
penghormatan terakhir sebelum penguburan. Wanita itu di sana, dalam
peti
matinya, menggenggam setangkai mawar putih yang cantik dengan foto anak
laki2 dan boneka itu ditempatkan di atas dadanya. Kutinggalkan tempat
itu
dengan menangis, merasa hidupku telah berubah selamanya. Cinta yang
dimiliki
anak laki2 itu kepada ibu dan adiknya, sampai saat ini masih sulit
untuk
dibayangkan. Dalam sekejap mata, seorang pria mabuk mengambil semuanya
dari
anak itu.

0 comments

Make A Comment