19:30

The Reflections

posted under by Arciel | Edit This
Suatu ketika, saya melihat sepasang suami istri. Yah, katakanlah Tuan Eko dan Nyonya Igit. Mereka mengadakan garage sale untuk menjual barang-barang mereka yang sudah tidak mereka butuhkan lagi. Suami istri ini sudah setengah baya, dan anak-anak mereka telah meninggalkan rumah untuk hidup mandiri dalam keluarga mereka masing-masing. Sekaranglah saatnya untuk membereskan rumah dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan lagi.
Saat mengumpulkan barang-barang yang akan dijual, mereka menemukan sebuah cermin tua yang merupakan hadiah dari teman mereka pada saat mereka melangsungkan pernikahan 25 tahun silam. Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu tidak pernah digunakan sama sekali.Bingkainya yang berwarna Biru aqua membuat cermin itu tampak buruk dan tidak pantas ditempatkan di ruangan manapun dalam rumah mereka. Namun, karena tak ingin menyakiti orang yang menghadiahkannya, maka disimpanlah cermin itu di loteng rumah. Setelah puluhan tahun berlalu, mereka berpikir bahwa orang yang menghadiahkan itu tentu sudah lupa dengan cermin itu. Mreka mengeluarkan dari gudang, dan meletakkannya bersama dengan barang lainnya untuk dijuan keesokan harinya.
Garage sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah mereka penuh dengan orang-orang yang datang melihat barang bekas yang dijual. Satu per satu barang bekas itu mulai terjual. Mulai perabot rumah tangga, buku-buku, alat berkebun, pakaian, mainan anak, hingga radio antik yang sudah tidak berfungsi lagi tetap diserbu pembeli.
Seorang pria tua menghampiri Tuan Eko. "Berapa harga cermin itu?" katanya sambil menunjuk cermin yang tak terpakai tadi.
Tuan Eko tercengang, "Wah, saya sendiri tidak berharap menjual cermin itu. Apakah anda sungguh ingin membelinya?" katanya.
"Ya tentu saja. Kondisinya masih sangat bagus," jawab pria itu.
Tuan Eko tidak tahu pasti harga yang pantas untuk cermin jelek seperti itu. Setelah berkonsultasi dengan Nyonya Igit, Tn.Eko berkata "Hmm... Anda bisa membeli cermin itu dengan harga Rp.15.000,-"
Dengan wajah yang berseri-seri, pria itu mengeluarkan uang Rp.20.000,- dari dompetnya dan memberikan uang itu kepada Nyonya Igit.
"Terima kasih," kata Tuan Eko dan Nyonya Igit bersamaan sambil memberikan kembaliannya, "sekarang cermin ini jadi milik anda. Apa perlu dibungkus?"
"Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang," jawab sang pembeli.
Nyonya Igit mempersilahkannya, dan pria itu bergegas engambil cerminnya dan meletakkannya diatas meja di depan Nyonya Igit. Dia mulai mengupas pinggiran bingkai cermin itu. Dengan satu tarikan dia melepaskan lapisan pelindungnya. Dan muncullah warna keemasan dari baliknya. Bingkai cermin itu ternyata berlapiskan emas murni yang sangat indah, dan warn biru yang selama ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu! "Ya, tepat seperti yang saya duga. Terima kasih!" sorak pria itu dengan gembira.
Tuan Eko dan Nyonya Igit tidak bisa berkata apa-apa melihat cermin mereka dibawa oleh pemilik barunya yang akan menempatkannya ditempat yang lebih layak daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu..

ARTINYA???!!!

Kisah diatas menggambarkan bagaimana kita melihat hidup kita. Terkadang kita merasa hidup kita membosankan, tidak seindah yang kita inginkan. Kita melihat hidup kita berupa rangkaian rutinitas yang harus kita jalani. Bangun pagi, pergi sekolah/kuliah/kerja, pulang, tidur, bangun pagi, pergi sekolah/kuliah/kerja, pulang, tidur. Itu saja yang kita jalani setiap hari. Sama halnya dengan Tuan Eko dan Nyonya Igit yang hanya melihat plastik pelapis dari bingkai cermin mereka, sehingga mereka merasa cermin itu jelek dan tidak cocok digantung di dinding. Padahal dibalik lapisan itu, ada warna emas yang indah. Padahal dibalik rutinitas hidup kita, ada banyak hal yang dapat memperkaya hidup kita. Setiap saat yang kita lewati, hanya bisa kita alami satu kali seumur hidup kita. Setiap detik yang kita jalani hanya berlaku satu kali dalam hidup kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita. Akankah kita menyia-nyiakan dengan terpaku pada rutinitas? Akankan kita membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti apa yang kita inginkan? Inginkah kita menyadari keindahan hidup kita setelah segalanya terlambat? Tentu saja tidak.. Sebab itu, marilah kita mulai meluangkan waktu untuk memandang hidup kita dan mencoba menemukan nilai-nilai yang ada dari kehidupan itu..


* * *

0 comments

Make A Comment